Jika sudah S2, bolehkah mendaftar S2 lagi lewat Beasiswa AAS?

Sering ada pertanyaan seperti pada judul tulisan ini yang saya terima dari para pejuang beasiswa Australia Awards Scholarship – AAS (dulu disebut Australian Development Scholarship, ADS). Jika pertanyaan ini dilayangkan sebelum 1 Februari 2014 jawaban saya biasanya seperti ini:

Secara formal tidak boleh. Meski demikian, kenyataannya ada orang yang sudah S2 lalu mendaftar AAS/ADS untuk sekolah S2 dan ternyata diterima. Saat mendaftar, dia rupanya dengan sengaja menyembunyikan statusnya yang sudah S2 dan hanya menggunakan ijazah S1. Saya tidak ada dalam posisi menyarankan atau melarang orang lain melakukan itu. Yang pasti, ada unsur ketidakjujuran dan pelanggaran di situ. Saya yakin Anda bisa memutuskan dengan bijaksana.

Continue reading “Jika sudah S2, bolehkah mendaftar S2 lagi lewat Beasiswa AAS?”

Memahami Beasiswa AAS Bagi Orang Biasa

Catatan: Tulisan ini adalah modifikasi dari salah satu bab dari buku saya “Berguru ke Negeri Kangguru” [Beli di sini].

Suatu hari saya mendapat email dari seseorang perihal beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) – dulu Australian Development Scholarship atau ADS. Dia adalah satu dari sekian banyak yang berkirim email untuk perihal yang sama. Saya merasa terkejut, meskipun rasanya saya sudah menulis cukup banyak tentang beasiswa AAS di blog saya, pengirim email ini “tidak tahu harus mulai dari mana”. Kalimat ini saya kutip langsung dari email-nya. Saya menduga bahwa kawan kita ini tidak sendirian mengalami kebingungan seperti itu. Maka, saya menulis dan memperbarui artikel ini khusus dipersembahkan bagi mereka yang ingin mendaftar beasiswa AAS tetapi “tidak tahu harus mulai dari mana”.

Continue reading “Memahami Beasiswa AAS Bagi Orang Biasa”

Lupakan Soal Beasiswa, Kamu Pejuang Malas!

Tentu saja tulisan ini bukan untuk Anda, pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah untuk orang yang tidak Anda kenal. Orang yang memiliki keinginan untuk mendapatkan beasiswa luar negeri tetapi tidak sadar kalau dirinya menderita kemalasan stadium tinggi. Saya menyebutnya pejuang malas dengan ciri-ciri seperti ini:

  1. Menanyakan hal-hal yang sebenarnya ada di website atau buku panduan beasiswa. Mereka malas membaca.
  2. Selalu mengatakan ‘tes TOEFL/IELTS mahal banget’ tapi malas menabung dan tetap rajin nongkrong di cafe 😉
  3. Sibuk berpikir caranya lolos beasiswa meskipun tidak memenuhi syarat. Mereka tidak fokus berusaha agar bisa memenuhi syarat. Anehnya, dengan begitu mereka merasa kreatif.
  4. Mudah bertanya “syarat beasiswanya apa saja?” Seakan itu satu rahasia yang tidak ada di website atau buku panduan (terutama jika ditanyakan lewat email ketika penanya memiliki akses internet yang memadai).
  5. Bertanya “jurusan yg cocok buat saya apa ya?” seakan orang lain lebih paham tentang dirinya. Untuk menggali bakat dan minat sendiri saja mereka malas.
  6. Bahkan bertanya “berkas lamaran dikirim ke mana ya?” Seakan itu sandi rahasia yg tabu ditulis di buku panduan.
  7. Menyangka topik penelitian didapat dengan bertanya “tema tesis yg bagus apa ya?” bukan dari membaca penelitian yang sudah ada.
  8. Latihan essay IELTS 250 kata malas sekali tetapi ngetwit nyinyir pada orang bisa dari sore sampe subuh @dipataruno.
  9. Lupa satu hal penting: jika beasiswa bisa didapat dengan cara yang dipakai mereka, berarti semua orang bisa dapat beasiswa.
  10. Lupa pertanyaan renungan pejuang beasiswa: “Apa bedanya perjuangan saya dengan pejuang lain dan mengapa saya yang harus terpilih?”
  11. Merasa kursus TOEFL dua juta mahal banget tapi selalu semangat ganti HP baru.
  12. Merasa buku IELTS/TOEFL mahal dan lebih baik pinjem sementara tetap kenceng merokok atau rajin ke salon.
  13. Semangat gonta ganti lensa kamera tapi selalu berharap dapat buku petunjuk beasiswa tanpa membeli.
  14. Bangga membeli tas baru bermerek tapi tidak merasa bersalah membaca buku TOEFL hasil fotokopian.
  15. Malu pakai jam tangan imitasi tapi merasa keren bisa download buku TOEFL/IELTS secara ilegal.

Anda tentu tidak memenuhi kriteria di atas karena Anda adalah pejuang hebat. Jika ada orang yang seperti demikian, katakan pada mereka “lupakan soal beasiswa luar negeri karena kamu pejuang malas!”

Catatan: Tips beasiswa lengkap ada di buku saya “Berguru ke Negeri Kangguru” [Beli di sini].

Pesan Anak Penambang Padas

Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal
Kita tidak tahu ke mana hendak melangkah jika lupa dari mana kita berasal

Aku kembali ke Desa Tegaljadi, tempat segala sesuatunya bermula. Di awal tahun 1980, aku adalah seorang anak kecil yang terbaring di sebuah sudut penambangan batu padas. Masih jelas terngiang di telinga suara dentuman palu yang menghantam besi yang diayunkan oleh Bapak dan Ibuku. Mereka adalah penambang padas. Aku ada di sana menemani mereka karena kami tentu saja tidak punya pembantu untuk merawatku. Bongkahan batu padas itulah yang kami tukar dengan bahan makanan di desa tetangga.

Continue reading “Pesan Anak Penambang Padas”

Mengingat 2013

Selamat tahun baru 2014
Selamat tahun baru 2014

Ada satu resolusi yang saya sampaikan saat menghakhiri tahun 2012 yaitu menyelesaikan PhD. Perjalanan panjang itu akhirnya sampai di penggal terakhir dan saya berhasil menyelesaikan thesis di akhir tahun 2013. Meskipun masih harus menunggu hasil final, saya bersyukur ada hal yang telah terselesaikan. Saya mencatat ini sebagai sebuah titik terpenting dalam hidup saya di tahun 2013 ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin menuliskan ingatan saya tentang tahun 2013.

Januari
Saya pindah dari Wollongong untuk tinggal di Sydney. Ini istimewa karena alasan kepindahan ini adalah Asti yang memulai sekolah S2nya di UNSW, Sydney dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Kembalinya saya ke Sydney seperti pulang ke rumah lama karena saya kembali ke suburb yang saya tinggali tahun 2004-2006 silam. Secara akademik, Januari menjadi awal yang baik bagi kolaborasi saya dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technology University (NTU) Singapura karena saya diundang untuk terlibat dalam penelitian. Selain itu saya juga dilibatkan dalam rencana publikasi bekerjasama dengan ANU, Australia.

Continue reading “Mengingat 2013”

Mengingat Wollongong

http://img32.imageshack.us/

Aku ingin datang lagi ke kota kecil itu. Kota yang dijaga sekelompok mercusuar di pantainya yang menawan. Mercusuar yang terlalu berwibawa untuk ditundukkan angin dan terlalu angkuh untuk menyerah pada godaan desah burung camar yang manja. Aku ingin datang ke kota kecil itu lagi, untuk mengenang lagi debar-debar saat menyelesaikan tugas kuliah dari para guru yang bijaksana. Aku ingin mengajakmu, seperti dulu saat kita luluh lantak tertimbun bahan bacaan yang menggunung lalu melarikan diri sesaat mengintip camar yang bermesraan di taman dekat pantai. Aku ingin mengajakmu berteduh di bawah bayangan mercusuar sambil membaca berlembar-lembar pustaka yang seakan tak habis.

Continue reading “Mengingat Wollongong”

Guru Sederhana

http://guru.or.id/

Subuh-subuh dia sudah harus bangun. Meskipun tidak salat, dia harus menyiapkan segala sesuatunya untuk kedua anak lelakinya yang masih bocah. Harus disediakannya makan dan minum untuk sarapan mereka. Di rumah mereka hanya ada empat orang. Pekerjaan lelaki itu membuatnya tidak mampu membayar pembantu. Dia dan istrinya harus mengerjakan semuanya sendiri.

Selepas mencuci piring dan gelas yang kotor, dia harus mengangkat kantong sampah dan membawanya ke tempat penampungan di dekat rumahnya yang sepi dan dingin. Sementara itu istrinya menyiapkan bekal untuk makan siangnya nanti. Kedua anak-anak itu akan diantar ke sekolah dan tempat penitipan anak karena istrinyapun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Continue reading “Guru Sederhana”

Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri

Pernahkah Anda mendengar nama “Universitas Katolik Widya Mandira” ? Jika Anda tidak berasal dari NTT dan kurang gaul seperti saya, mungkin jawabannya adalah “tidak”. Terus terang saya belum pernah mendengar nama universitas ini sampai akhirnya saya bertemu Cilla. Nama lengkapnya Priscilla Maria Assis Hornay. Just in case you are wondering, YES, there is an ‘a’ between ‘n’ and ‘y’ in her last name, so shut it and let’s get down to business! 🙂

Pertemuan saya dengan Cilla di Sydney mengingatkan saya pada banyak pertanyaan yang saya terima perihal beasiswa luar negeri, terutama beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang dulu disebut Australian Development Scholarship (ADS). Pertanyaan itu adalah “bisakah alumni dari universitas swasta yang tidak terkenal mendapatkan beasiswa untuk S2 atau S3 di luar negeri?” Jawabannya tentu saja “bisa” dan pertemuan saya dengan Cilla menegaskan itu.

Continue reading “Alumni universitas swasta yang tidak terkenalpun bisa dapat beasiswa ke luar negeri”

Kembali ke Le Meridien

Hotel Le Meridien, Suatu ketika tahun 2002,
eu-aseanSaya seperti orang hilang di tengah kerumunan itu. Ada rasa sepi menghinggapi di tengah hiruk pikuk suasana. Setiap orang nampak antusias berkeliling melihat-lihat stand pameran siang itu. Tidak sedikit yang terlibat percakapan dengan penunggu stand pameran, bersemangat bertanya ini dan itu, menunjukkan gairah mereka untuk mengetahui lebih jauh dan lebih dalam. Lelaki dan perempuan usia 30an tahun nampak penuh perhatian memberikan informasi kepada pengunjung yang mendekat ke stand masing-masing. Keramahan dan pengetahuan yang mumpuni nampak berpadu dengan apik pada wajah dan senyum mereka. Sementara itu, saya memandang dari satu sudut yang agak jauh, terkesima melihat geliat orang-orang yang antusias melapangkan jalan menimba ilmu. Siang itu saya sedang menghadiri sebuah pameran pendidikan luar negeri di Hotel Le Meridien Jakarta.

Ada rasa ragu ketika berjalan mendekati beberapa stand pameran dan melihat nama-nama universitas terpandang yang terpampang di setiap stand. Beberapa nama universitas itu sudah pernah saya dengar dan sebagian lain nampak asing. Meski tertarik, tidak mudah untuk memulai percakapan dengan penunggu stand pameran karena ada keraguan. Perihal apa yang paling tepat ditanyakan, saya tidak tahu. Maka saya memilih untuk mengamati saja. Di berbagai titik terlihat anak-anak muda berpenampilan mentereng, kadang ditemani ayah ibunya. Mereka bertanya penuh selidik, melapangkan jalan bersekolah di luar negeri. Sejujurnya, ada perasaan malu kalau harus datang ke sebuah stand dan bertanya “apakah universitas ini menyediakan beasiswa bagi yang tidak punya uang seperti saya?”

Continue reading “Kembali ke Le Meridien”

Mari Berburu Beasiswa Luar Negeri

Saya diundang oleh Berita Satu TV untuk dialog soal meraih beasiswa luar negeri. Silakan simak siaran ulangnya lewat Youtube berikut ini.