Mengucapkan salam

Menjelang hari raya seperti Idul Fitri ini, dunia maya dipenuhi oleh lalu lintas ucapan salam dan selamat. Teknologi Informasi memang telah mengubah cara kita bertegur sapa dan mengucapkan salam. Dengan Facebook, mengucapkan selamat ulang tahun kini bukan perkara sulit. Mengingat hari ulang tahun puluhan teman yang 20 tahun lalu memerlukan usaha yang tidak sederhana, kini sangat mudah dilakukan. Facebook dan jejaring sosial lainnya melakukan dengan dengan senang hati untuk kita, tanpa bayaran. Sekretaris paling handal dan tidak pernah mengeluh dewasa ini mungkin bernama Facebook.

Continue reading “Mengucapkan salam”

Wayan

Made Kondang tergopoh-gopoh menemui Nak Lingsir, mengabarkan berita yang menggemparkan. Seorang pemuda di desanya diterima bekerja di kapal pesiar.

“Wayan diterima bekerja Nak Lingsir, sebulan lagi dia berangkat ke Amerika.”
”Astungkara” Nak Lingsir mengucap syukur lalu melanjutkan. ”Wayan memang berbeda dengan kebanyakan anak muda di kampug ini. Banyak orang yang tidak suka melihat kelakuanya, tetapi aku tahu, suatu saat dia akan berhasil. Saat masih kecil dia dikenal sangat kreatif. Dia biasa membuat sabung ayam tiruan dari daun keladi dan taji duri salak. Cerdas sekali bukan? Wayan juga sudah menunjukkan sifat mandiri dan berani mengambil keputusan sendiri. Di saat teman-temannya menangkap capung dengan getah kamboja, dia sudah menggunakan getah nangka, meskipun waktu itu dilarang orang tuanya. Dia juga berani mengambil risiko, pernah mengusir bebek Kak Wi yang terkenal galak itu dari kolamnya. Dia tetap tenang walaupun akhirnya dimarahi. Pemberani sekali dia. Wayan memang sudah menunjukkan kelasnya dari dulu. Saat teman-temannya masih menggunakan sepeda gayung, dia sudah berhasil meyakinkan bapaknya untuk membelikannya motor. Memang luar biasa si Wayan. Aku turut senang mendengar berita ini.”

Continue reading “Wayan”

Misteri Ilahi

Saya pernah menulis di blog ini soal pergulatan batin saya ketika membuat sebuah keputusan penting. Tulisan itu adalah sebuah kontemplasi yg bagi saya sangat mendalam, meskipun bagi orang lain mungkin biasa saja. Keputusan penting itu adalah masalah kebajikan, setidaknya demikian saya memahaminya.

Kisah itu bercerita tentang berbagai kegagalan, terutama bagi Asti, istri saya, dalam mendapatkan beasiswa. Di saat yang sama, saya bersemangat membantu banyak orang untuk mendapatkan beasiswa yang sama. Saya sampai pada satu pertanyaan penting: perlukah dalam hidup membantu sesama, jika ternyata kebaikan itu tidak perpihak pada keluarga saya? Saya telah memenangkan sebuah pertarungan penting: kebajikan harus tetap dijalankan, meskipun di saat yang tidak membahagiakan. Kebaikan idealnya adalah investasi tanpa pamerih, seperti halnya doa yang adalah puja, doa bukan tuntutan untuk sebuah imbalan. Meski sering kali gagal menjalankannya, rasanya nasihat ini sangat layak diperjuangkan.

Continue reading “Misteri Ilahi”

Berbagi laut dengan Tetangga

Selat Singapura & Tg. Berakit

Peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini ditandai dengan sebuah huru-hara. Tiga orang pegawai Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI ditangkap oleh Polis Diraja Malaysia. Meski sesungguhnya penangkapan ini erat kaitannya dengan tindakan pegawai KKP yang menangkap tujuh nelayan Malaysia yang konon mencuri ikan di perairan Indonesia, berita di media massa nampaknya lebih berkonsentrasi pada nasib ketiga karyawan KKP. Bisa dimengerti.

Continue reading “Berbagi laut dengan Tetangga”

Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam

Ho Chi Minh City, 6 Agustus 2010, jam 11.30 pagi

Prof. Hasjim Djalal

Setelah tragedi yang menegangkan itu, akhirnya saya menginjakkan kaki di Vietnam untuk pertama kali. Ho Chi Minh City adalah nama baru untuk Saigon, yang merupakan nama seorang tokoh terkemuka di Vietnam. Itulah sebabnya Vietnam juga dikenal dengan Negeri Paman Ho. Saya sempatkan mengamati situasi, bandara cukup besar, meskipun tata ruangnya tidak sehebat Changi yang memang luar biasa itu. Setelah melewati imigrasi yang cenderung bekerja lambat, saya bergegas ke luar dengan barang bawaan. Saya akan dijemput petugas hotel seperti dijanjikan panitia. Tidak sulit menemukan penjemput saya karena nama saya tertulis pada kertas yang ekstra besar, lebih besar dari yang lain. Pada sebuah kertas kaku yang disangga tiang besi, saya melihat tulisan “Mr. I Made Andi Arsana” terpampang. Tiangnya dipegang oleh seorang lelaki muda yang santun, penuh senyum. Diam-diam saya berharap huruf “M” di awal tulisan itu segera enyah dan berganti huruf lain yang lebih baik. Mungkin huruf “D”. Entahlah, kapan itu akan terjadi. Singkat cerita saya sudah meluncur ke hotel di sebuah mobil yang lumayan mewah. Sopirnya ramah dan tidak bosan bercerita tentang sejarah Vietnam.

Continue reading “Negeri Paman Ho – Sebuah kisah dari Vietnam”

Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara

Bandara Sydney, 5 Agustus 2010, jam 6.17 pagi

Perempuan ramah di depan saya menggeleng sendiri, terlihat seperti sedikit kebingungan. Sayapun terpengaruh, resah datang menyelinap, entah dari mana datangnya. Saya mencium gelagat tak beres. “You are required to have a six-month passport at least. Your passport will expire in three months. You are not allowed to visit Vietnam. I am sorry.” Perempuan itu tentu bisa melihat wajah saya yang pucat pasi. Koper yang sudah dinaikkan di atas timbangan terpaksa harus diturunkan. Perasaan saya tidak karuan, akal sehat sirna lari entah ke mana. Saya kecewa sekaligus penuh sesal, mengapa tidak mengecek sebelumnya bahwa saya perlu paspor yang setidaknya masih berumur enam bulan untuk bisa pergi ke Vietnam. Sementara itu, di tangan saya masih tergenggam gulungan peta. Peta itu harus sampai di Veitnam sore itu juga. Melihat perempuan itu sibuk bertanya pada supervisornya, ada satu harapan muncul. Mudah-mudahan ada yang bisa merafalkan mantra-mantra sehingga saya bisa berangkat ke Ho Chi Minh City, Vietnam sesuai jadwal. Sore ini pembukaan workshop dilakukan dan besok siang saya akan presentasi.

Continue reading “Sebelum Vietnam, sebuah tragedi di Bandara”

Buncis

Teman saya bilang, saya seringkali menunjukkan tabiat ‘kurang kerjaan’ karena memperhatikan hal-hal kecil yang tidak mutu, tidak penting. Teman saya ini rupanya benar, beberapa saat lalu saya memperhatikan buncis. Buncis adalah tanaman suku polong-polongan, yang buahnya berwarna hijau. Ukurannya sedikit lebih besar, tetapi lebih pendek dibandingkan kacang panjang. Yang jelas lebih kaku.

Continue reading “Buncis”

Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara

Beberapa jam terakhir, saya dihubungi beberapa orang terkait seleksi beasiswa Australian Leadership Awards (ALA). Rupanya pengumuman seleksi tahap pertama sudah keluar dan beberapa orang telah dinyatakan lolos ke tahap wawancara. Sebenarnya saya sudah pernah menulis tips wawancara ALA di blog ini tetapi rupanya masih ada yang kurang. Saya akan tambahkan di posting kali ini, mudah-mudahan bermanfaat.

Sebelum lanjut, Anda mungkin bertanya-tanya, apa kualifikasi saya sehingga berani menuliskan tips wawancara ini. Jawaban saya sederhana, saya tidak memiliki kualifikasi resmi. Yang saya tuliskan adalah pengalaman pribadi ketika diwawancarai tiga tahun lalu ditambah hasil bacaan dan ngobrol dengan teman.

Seleksi ALA sangatlah kompetitif. Hanya kandidat luar biasa yang dipanggil untuk wawancara. Oleh karena itu, bersenang hati dan bersyukurlah karena panggilan wawancara itu adalah bentuk lain dari sebuah pengakuan. Kalau ada pengakuan yang patut membuat seseorang senang, maka pengakuan dari ALA adalah salah satunya. Anda telah menyisihkan ratusan atau mungkin ribuan orang hebat lainnya untuk bisa diwawancarai.

Continue reading “Tips Beasiswa: Menghadapi Wawancara”

Knowledge is …

Karena sebuah alasan, saya pernah duduk bercakap-cakap dengan Bapak Nur Hassan Wirajuda, mantan menteri luar negeri RI, di sebuah hotel di Sydney. Kami berada di satu meja selepas menikmati sarapan di lantai 47 Hotel Shangri La Sydney sehingga bisa memandang lengkungan Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House yang ketika itu nampak kecil nun jauh di bawah sana. Banyak sekali hal teknis yang saya tanyakan kepada beliau terkait penelitian saya: batas maritim. Pak Hassan memang ahli yang tepat untuk berkonsultasi soal itu.

Continue reading “Knowledge is …”

Menyimak Kembali Gerakan Mahasiswa Indonesia

Catatan tentang KIPI dan Kongress PPIA 2010

I Made Andi Arsana*

Dalam pembicaraan diselingi kelakar di sebuah warung sederhana di Jogja tahun 1998, seorang kawan mengatakan “kelak kita akan membuka buku sejarah, dan mendapati salah satu bab-nya berjudul ‘Kerusuhan di Gejayan’. Dalam bagian lain, akan ada satu pembahasan penting tentang Angkatan ’98, disejajarkan namanya dengan Angkatan ’45, dan Angkatan ’66. Namaku akan terpampang di sana, sebagai salah satu pemimpin Long March dari Grha Sabha Pramana ke Alun-Alun lalu bergerak di sepanjang Jalan Malioboro. Nama-nama kita akan tercatat sebagai generasi yang menumbangkan orde baru.” Sementara itu, saya dan beberapa kawan lain tersenyum kecil menganggap itu sebuah kelucuan biasa sambil menenggak teh manis, menyeka keringat bercucuran setelah seharian melakukan demonstrasi.

Continue reading “Menyimak Kembali Gerakan Mahasiswa Indonesia”