Sepuluh tahun mengenal dunia

Gadis itu memakai baju terusan batik berwarna merah hati, rambutnya rapi tertata, kulitnya putih bersih. Sambil tersenyum dia menawarkan handuk kecil putih yang berasap. Aku baru pertama kali melihat pemandangan ini, aku yang udik tidak pernah melihat handuk panas berkepul asap yang baru saja disodorkan kepadaku. Untuk apa benda kecil ini? Ternyata itu adalah handuk untuk membersihkan tangan dan wajah. Memang segar rasanya setelah menyapu wajah dengan handuk panas itu. Pengalaman yang sangat berkesan. Pramugari muda yang cantik itu telah memberiku kenangan yang kuat.

Continue reading “Sepuluh tahun mengenal dunia”

Selamat Galungan & Kuningan

galungan

Menuliskan Sejarah

The Champion
The Champion

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.

“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.

Continue reading “Menuliskan Sejarah”

Bertahanlah Indonesia!

belanegarari.files.wordpress.com
belanegarari.files.wordpress.com

Bencana menjadi cerita keseharian. Dia tidak lagi menyeramkan seperti ketika aku berlari bertelanjang dada, resah membentur dinding rumah tua saat linuh kecil datang menghampiri di tahun 1980an. Di negeri ini, duka nestapa dan air mata tak lagi sakral, tak lagi berbisa untuk mengundang iba dan belas kasihan. Tangisan seperti suara angin yang mengalir tiada henti. Air mata yang membahasi wajah-wajah polos ataupun berdosa merambat pasti tak ubahnya parit kecil di desa Tegaljadi yang tak pernah berhenti. Dengan apa lagi harus kugambarkan duka ini, karena kata-kata sudah kehilangan ketajaman maknanya.

Continue reading “Bertahanlah Indonesia!”

Membuat MP3 dari Video Youtube

a madeandi's life
a madeandi's life

Saya jarang sekali posting masalah teknis di blog ini. Kali ini rasanya menarik untuk diceritakan karena terkait banyak hal lain yang tidak teknis. Semoga bermanfaat untuk pembaca.

Asti, istri saya, mendapat kesempatan menari Cendrawasih di sebuah acara penggalangan dana kanker payudara di University of Wollongong, Australia. Yang menarik diceritakan adalah Asti diminta menyiapkan gamelan (musik) dalam format mp3. Sedangkan kami hanya memiliki VCD tari Bali di rumah. Saya harus mencari akal dan mendapatkan mp3 dalam waktu beberapa hari. Jika mau membeli mungkin tidak sedikit yang menjualnya. Hanya saja masih saja ada rasa iseng mendapatkan sesuatu tanpa harus membeli. Sayapun mulai mencari-cari. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Tante Google, saya menemukan bahwa ada software gratis yang bernama Freez Sofware yang bisa mengubah video FLV menjadi mp3.

Continue reading “Membuat MP3 dari Video Youtube”

Percakapan dekat tungku

http://3.bp.blogspot.com
http://3.bp.blogspot.com

Made Kondang tak banyak paham soal psikologi hubungan mertua dan menantu. Yang pasti diketahuinya, Men Dagdag, tetangganya, dan menantunya sering ribut, bertengkar sampai menghebohkan seisi desa. Agak jauh dari rumahnya, Men Koplar tak beda perangainya dengan mantunya. Urusan uyah lengis tak urung jadi bahan pertengkaran. Sampai-sampai Kondang hampir percaya, mertua dan menantu mungkin memang seharusnya begitu.

Continue reading “Percakapan dekat tungku”

Selamat Ulang Tahun Lita

litamorfosis

Hari ini Lita berusia empat tahun. Usia saat mana makhluk manusia sedang menunjukkan apa yang orang Bali sebut sebagai guna. Sedeng meguna, demikian katanya. Lucunya sangat, cantiknya bernilai, senyumnya meluluhkan hati yang penuh amarah. Demikianlah anak di usia empat tahun. Begitulah anak yang sedeng meguna.

Continue reading “Selamat Ulang Tahun Lita”

Wanita lain [4]

naughtyHubungan kami sesungguhnya sudah lama. Tidak saja kami berpelukan dan berciuman serta berinteraksi fisik lainnya, ada emosi yang terlibat. Ini yang dinamakan cinta, aku yakin itu. Cinta yang kata orang tak bersyarat.

Ketika Asti tidak ada, aku memanjakannya. Aku jadikan diriku budak atas gagasan-gagasan nakalnya yang liar. Hari Jumat, kami menjadi penguasa rumah karena Asti tidak ada. Dapur, kamar mandi, kamar dan ruang tamu menjadi ajang eksplorasi kreativitas dan kenakalannya. [bersambung]

Wanita lain [3]

bajuAsti sudah lenyap sejak jam 6 pagi saat hari masih berkabut dan dingin seperti tak kenal belas kasihan. Aku mendapati diri hanya berdua dengannya. Dia masih terkulai lemas di sofa, masih dengan selimut oranye dan bantal putih berbunga merah menyala. Matanya sayu dan nampak malas.

Setelah merayunya, akhirnya dia menuruti keinginanku. Berjalan ia menuju kamar mandi lalu diangkatnya tangannya menyerahkan diri sepenuhnya. Aku melukari pakaiannya satu persatu dengan perlahan. Inilah ritual hampir setiap pagi ketika Asti tidak ada dan tidak melihat kami… [bersambung]

Tujuh September


fineartamerica.com
fineartamerica.com

Kadang orang bisa kehabisan kata untuk menuturkan sesuatu yang sesungguhnya hebat tetapi terjadi berulang-ulang dan menjadi rutinitas. Di saat Tukul muncul dengan gaya khasnya di Empat Mata, hampir semua orang berbicara tentangnya. Saat stasiun televisi memutuskan untuk menayangkan Empat Mata setiap hari, lambat laun orang menjadi kehilangan gairahnya. Hampir tidak ada lagi kejutan, hampir tidak ada lagi sesuatu yang baru, meskipun sebenarnya Tukul tetaplah lucu. Sesuatu yang menjadi rutinitas kadang bisa menimbulkan kebosanan, betapapun hebatnya.

Tujuh September tahun ini tepat duabelas tahun lalu saya bertemu Asti untuk pertama kalinya. Sebagai anak muda yang dilanda cinta ketika itu kami biasa memperingati hari penting ini bahkan hampir setiap bulan 🙂 Kini, ketika cinta beranjak dewasa, saat pelukan bukan lagi sesuatu yang layak disembunyikan dan saat bercinta bukan lagi sebuah larangan, kadang kami lupa. Lupa dengan gairah lama, karena rutinitas yang mendesak. Mungkin terlalu sedikit waktu tersedia untuk saling memuji, cinta dan kemesraan juga diinvasi oleh kewajiban-kewajiban teknis memandikan Lita, menyuapi makannya, mengantar sekolah, masak, nyuci, bersih-bersih rumah.

Continue reading “Tujuh September”