Disadari atau tidak, diakui maupun tidak, setiap ‘aku’ telah hidup berdampingan dengan kesalahan yang bahkan sudah tidak dirasakan kejanggalannya. Demikianlah tanda-tanda kemerosotan peradaban.


Disadari atau tidak, diakui maupun tidak, setiap ‘aku’ telah hidup berdampingan dengan kesalahan yang bahkan sudah tidak dirasakan kejanggalannya. Demikianlah tanda-tanda kemerosotan peradaban.


https://madeandi.wordpress.com/2009/12/17/tukang-parkir-pasar-sukawati/
Pengalaman menyetir di Bali, bagi mereka yang terbiasa mengendarai mobil di negara maju, bisa jadi luar biasa. Orang yang tadinya sudah cukup terampil berkendara di Wollongong, misalnya, bisa jadi terlihat seperti orang yang baru belajar nyetir kalau harus berhadapan dengan medan jalanan di Denpasar dan sekitarnya. Inilah yang terjadi dengan Asti beberapa hari lalu. Kelihaiannya di Wollongong terlihat tidak berarti ketika harus mengendarai mobil dari Tabanan ke Gianyar melalui Denpasar. Setiap saat sport jantung karena selalu saja terjadi hal-hal yang tidak diduga: orang yang nyalip dari kiri, sepeda motor yang memotong jalan seenaknya, kendaraan yang melanggar lampu merah, klakson yang berbunyi tiada henti, jarak antar mobil yang hanya beberapa senti, dan sebagainya. Semua itu membuatnya tegang luar biasa. Tidak hanya Asti, saya yang duduk di sampingnya tidak henti-hentinya turut menginjak rem dalam angan-angan. Singkat kata, siang menjelang sore itu sangat menegangkan, melelahkan. Keringat bercucuran.
Di Jatimulya, Bekasi, saya mampir di sebuah jasa Vermak Jeans di pinggir jalan untuk memotong celana jeans yang baru saja dibeli. Saya selalu mengatakan celana jeans itu kepanjangan, walaupun yang sesungguhnya terjadi adalah kaki saya yang kependekan. Tapi ini bukanlah cerita tentang ukuran tubuh, tetapi tentang abang yang bekerja sebagai tukang vermak jeans.
https://madeandi.wordpress.com/2009/12/12/natal-bulan-dan-laut/
Sebagai seorang blogger, saya sering merasa kehabisan ide dan kehilangan kata-kata untuk dituliskan. Sering sekali seperti tidak ada hal penting dalam hidup sehingga tidak ada yang layak ditulis. Sayapun sering menelantarkan blog ini, mati suri dalam waktu yang cukup lama.
Dalam interaksi saya dengan orang lain dan pengamatan saya terhadap lingkungan, saya kadang menemukan hal menakjubkan. Suatu saat saya berpikir tentang fenomena Natal. Hari keagamaan ini sudah dirayakan sekian tahun, lebih dari seribu tahun. Menariknya selalu saja ada film baru yang dibuat tentang tema Natal. Bagi yang menggali, Natal tidak pernah kering sebagai sumber inspirasi padahal dari dulu Natal tetaplah maknanya.
Fenomena lain adalah tentang bulan. Bulan berperilaku sama sejak jutaan tahun. Bagi mereka yang aktif, bulan tetap bisa menjadi puisi ketika usianya sudah tak terhitung. Di abad 21, tetap ada puisi tentang bulan seakan bulan baru muncul kemarin sore. Bagi orang yang kreatif, benda boleh sama perilakunya, tetapi inspirasi yang ditimbulkannya bisa senantiasa mengalir.
Laut juga serupa. Keberadaannya entah sudah berapa juta tahun. Tetap saja ada pelukis yang menjadikannya tema dan pujangga menjadikannya puisi. Laut, selama airnya masih ada, memang tidak akan pernah lelah menjadi sumber inspirasi.
Saya bertanya pada diri sendiri, betulkah saya kehabisan ide untuk sekedar mengisi blog yang sederhana ini?
Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.
Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menawarkan cara-cara baru dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak saja dalam urusan kerja, TIK bahkan mempengaruhi cara kita menjaga persahabatan. Selain itu, cara bersilaturahmi atau menjaga hubungan kekerabatanpun berkembang karena TIK. Mengucapkan selamat hari raya kini berbeda caranya dibandingkan 15 tahun lalu. Jarang orang menggunakan kartu ucapan yang dikirim oleh Pak Pos. Ucapan selamat disampaikan dengan sms atau email. Kalaupun ada kartu, itu pastilah kartu elektronik alias e-card.
Kini, mengucapkan selamat hari raya bukanlah sesutu yang istimewa karena usaha yang diperlukan sangat minimal. Hanya dengan sekali klik, ucapan sudah diterima oleh kolega yang terpisah bahkan di seberang benua. Oleh karena itulah saya kadang merasa bahwa sekedar mengirim ucapan, sudah tidak istimewa lagi. Kalau pengiriman ucapan selamat sangatlah mudah dilakukan, maka isi ucapan itu yang harus dibuat istimewa.
Continue reading “Sekali kreatif, tetap [dipaksa harus] kreatif”

Di sebuah kamar kecil berukuran tak lebih dari 2,5 meter kali 2,5 meter, saya melihat seorang kawan sedang tertegun melihat setumpukan kertas di atas meja. Saya tidak melihat wajahnya terpesona apalagi terkesima. Dari air mukanya dan mimiknya yang hambar, saya bisa meyakini bahwa dia tidak bergitu kagum pada apa yang dilihatnya.
“Mung koyo ngene iki kok bisa menang, Ndi!” demikian katanya yang kira-kira berarti tulisan jelek begini kok bisa menang! Dia baru saja menyelesaikan membaca tulisan saya yang berjudul “Menggugat Korea” yang dinyatakan sebagai salah satu pemenang lomba Essay tentang Korea bulan Oktober tahun 2000. Kawan saya ini tidak salah, tulisan saya memang tidak istimewa. Dia tidak lebih dari sekedar gumaman seorang manusia biasa yang melihat kenyataan dan kemudian menuliskannya. Tulisan itu bukanlah analisis seorang pakar, tak juga terlihat pintar dengan berbagai istilah yang sulit. Tulisan itu adalah ungkapan jujur yang sederhana, tidak lebih tidak kurang.

Lihat ceritanya di balebanjar

Jumat malam, 9 Oktober 2009
Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.
Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.