Vermak Jeans


Di Jatimulya, Bekasi, saya mampir di sebuah jasa Vermak Jeans di pinggir jalan untuk memotong celana jeans yang baru saja dibeli. Saya selalu mengatakan celana jeans itu kepanjangan, walaupun yang sesungguhnya terjadi adalah kaki saya yang kependekan. Tapi ini bukanlah cerita tentang ukuran tubuh, tetapi tentang abang yang bekerja sebagai tukang vermak jeans.

Waktu sudah malam, saya melihat toko sekitar sudah tutup. Sayapun mampir untuk bertanya kalau-kalau vermak jeans tersebut juga mau tutup. “Saya tunggu mas” demikian kata si abang. Saya yang waktu itu belum membawa celana yang hendak dipotong melesat pulang dan datang kembali dalam waktu singkat. Si abang, yang sampai kini tidak saya ketahui namanya, masih setia menanti. Diapun bekerja dengan sigap, mengukur kaki saya, memotong celana dan kemudian menjahitnya. Terampil sekali orang ini, bekerja cepat tanpa basa-basi dan penuh keyakinan.

Sudah menjadi kebiasaan, saya selalu menyempatkan berbicara dan berbasa-basi. Abang ini dari Aceh dan malam itu hendak pulang ke Bogor di rumah keluarganya. Sementara itu waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kalau benar katanya bahwa Bogor ditempuh dalam waktu dua jam, berarti jam 12 paling cepat dia baru akan bertemu (atau tidak bertemu, karena sudah larut) dengan keluarganya. Tanpa bermaksud untuk mendramatisir, perjuangan orang ini tentu saja tidak mudah. Mengendari motor dari Bekasi ke Bogor saat hari telah larut tidak saja melelahkan tetapi juga berbahaya.

Sambil tetap bekerja, si abang bercerita tentang Aceh dan pariwisata Sumatra. Dengan rinci dia menjelaskan tempat-tempat yang bisa dikunjungi mulai dari Lampung hingga Aceh. Singkatnya, dia sangat merekomendasikan saya untuk mengunjugi Sumatra suatu ketika. Si abang ini bicaranya sopan, runut dan nampak terpelajar. Sebagai tukang vermak jeans, pengetahuannya tetang geografi Sumatra sangatlah baik. Dia juga mengisahkan perjalanan hidupnya sejak bekerja sebagai buruh di perusahan sepatu Nike dengan gaji Rp 1500 sehari di awal tahun 90an. Menyadari karirnya yang tidak bisa berkembang, dia memutuskan untuk keluar dan memulai usaha sendiri.

Ketika saya tanya apakah pernah mengikuti pendidikan formal sebagai tukang jahit, dia menyatakan tidak. “Saya ortodok saja Mas” katanya. Saya mengerti, maksudnya tentulah “otodidak”, bukan “ortodok”. Tentu saja saya tidak merasa perlu mengoreksinya. Kalau saja Polisi berhak salah dalam menangkap orang, abang tukang vermak jeans ini tentu juga punya hak untuk bersalah. Menariknya, dalam menjelaskan keputusannya untuk memulai usaha sendiri, dia sempat mengutip pendapat Mario Teguh yang populer di TV dengan Golden Ways-nya itu. Sepertinya abang ini pengagum Mario Teguh. “Bahasanya sederhana, mudah dimengerti dan selalu membuat kita ingin maju” demikian katanya bersemangat.

Si abang ini juga menceritakan bahwa dia pernah memiliki sembilan cabang vermak jeans di berbagai tempat. Hanya saja, katanya, karena usaha ini adalah usaha yang gampang, karyawannya bertahan paling lama setahun dan selanjutnya keluar untuk berusaha sendiri. Dia menceritakan ini tanpa nada menyesal, justru terbersit kesan senang. Kini dia memutuskan untuk membuka tempat cukur rambut dengan cara kongsi dengan orang lain. “Lumayan lah Mas” katanya, “cukup untuk keluarga.” Ketika saya tanya bagaimana mengendalikan usaha tersebut, dia mengatakan modalnya adalah saling percaya. “Saya sih tidak percaya kalau ada orang yang jujur 100% Mas. Tapi setidakjujur-tidakjujurnya seseorang, pastilah masih ada hasilnya. Itulah yang kita pikirkan. Kita tidak usah memikirkan yang hilang, tetapi yang kita dapatkan. Biar tidak pusing Mas” katanya sangat bijaksana. Saya mendengar dengan seksama.

Tidak terasa, tiga jeans selesai digarap. ”Tiga puluh ribu” katanya, ketika saya tanya ongkosnya. Untuk sebuah pekerjaan yang tidak mungkin saya lakukan sendiri dan itupun dikerjakan ketika dia seharusnya sudah melaju ke Bogor, Rp 30.000 untuk tiga potong celana saya rasa sangat masuk akal. Jika celana ini saya potong di Crown Streen Mall di Wollongong, harganya AUD 17.00 untuk tiap celana. Tiga celana artinya AUD 51 yang sama dengan hampir Rp 450.000. Rp 30.000 tentu menjadi terasa tidak ada apa-apanya.

Saya berikan selembar uang Rp 50.000 an dan dikembalikannya Rp 20.000. Karena merasa sangat terbantu, saya berikan selembar Rp 10.000 an dan disambut dengan sedikit kaget oleh si abang. Sebelum dia sempat berkata apa-apa, saya bilang ”ini untuk tambahan karena Abang sudah mau bekerja di luar jam kerja.” Dia menerima uang itu dengan wajah penuh terima kasih. Seperti Obama yang merasa lebih banyak belajar saat naik pesawat biasa dibandingkan naik jet pribadi, sayapun telah mendengar lebih banyak kisah dengan mendatangi Vermak Jeans di Jatimulya dibandingkan ”Alteration” di Crown Street Mall. Meskipun Rp 450.000 memang jauh bedanya dengan Rp 40.000, kisah ini tentu tidak semata-mata soal uang.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

7 thoughts on “Vermak Jeans”

  1. Saya sering bertemu dengan orang luar biasa dalam artian yang membuat takjub seperti yang Bli Andi sampaikan…, membuat kita melihat dunia jauh lebih luas….

    Terkadang bahkan mungkin lebih sering, saya merasa minder, jika orang-orang seperti itu – luar biasa dengan kesederhanaannya.

  2. saya baru tahu ternyata seorang yang pernah “lupa” dengan jadwal ujiannya sendiri dan sekarang telah menjadi seorang dosen muda punya jiwa sosial yang sangat tinggi……
    semoga kisah nyata ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua..

  3. ni di Jatimulya sblh mna nya mas Andi vermak nya? kbetulan lg pgn motong Jeans dan rasanya ada kebanggaan sndiri klo bs menggunakan Jasa org yg Luar Biasa spt yg d critakan mas Andi..

    Hasilnya sndiri gmn mas?

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s