Saya masih sering tercenung terpana mendengar cerita dari ibu mertua soal kakek beliau yang konon sakti. Kakek buyut, begitu semestinya saya memanggil beliau, adalah seorang dalang yang kata ibu, bisa mendalang di dua tempat sekaligus. Di satu malam beliau disaksikan oleh warga sebuah kampung di Jawa Timur, konon pada saat yang sama beliau tengah memukau kerumunan lainnya di kampung yang jauh jaraknya. Kakek buyut, kata ibu saya, memang sakti mandraguna.
Author: Andi Arsana
Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri
Saya sering mendapat pertanyaan dari pejuang beasiswa luar negeri (biasanya Australia Awards Scholarship (AAS) atau dulu dikenal dengan nama ADS) yang bernada seperti ini:
“saya alumni jurusan xxx dari uiversitas yyy. Saat ini saya sedang bekerja di zzz. Jurusan apa yang kira-kira cocok untuk saya dan di universitas mana ya?”
Karena saya tidak bekerja sebagai konsultan pendidikan, pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Lebih tidak mudah lagi karena bidang ilmu si penanya sangat amat jauh dengan apa yang sedang saya pelajari. Awalnya saya senyum-senyum saja menerima pertanyaan seperti ini dan di kesempatan lain ada perasaan kurang nyaman juga. Coba dibayangkan, misalnya, ada orang yang memiliki latar belakang aktuaria (jangan khawatir, saya juga tidak tahu barang apa ini) dan tiba-tiba mengirim email pada saya dan minta nasihat jurusan dan universitas yang tepat. Saya yakin seyakin-yakinnya si penanya ini tidak tahu bahwa saya adalah sarjana Teknik Geodesi yang pekerjaannya bercengkrama dengan peta dan sekali-sekali berurusan dengan perbatasan.
Continue reading “Bagaimana memilih jurusan dan universitas di luar negeri”
Membaca [tentang] Indonesia
Suatu pagi saat di Jogja, seorang kawan masuk sebuah ruangan tempat kami biasa duduk santai di sela-sela pekerjaan. Kawan ini dengan sigap mengambil koran dan membacanya. Menariknya, yang dibaca adalah Koran kemarin. Katanya beliau tidak sempat membaca kemarin karena harus berada di rumah sakit. “Buta rasanya kalau tidak sempat membaca berita” kata beliau. Saya merenungkan ucapan itu. Ini tentu bukan hal aneh, banyak sekali orang merasa buta dan gelisah jika tidak mengetahui apa yang terjadi.
Only when silent we listen
Video kuliah online – tiada jarak di antara kita
Inilah video kuliah online yang saya lakukan dari Wollongong untuk Mahasiswa Master Teknik Industri ITS, seperti yang ulasannya saya tulis beberapa waktu lalu.
Video 1
Video 2
Beasiswa ADS 2013 telah dibuka!
Kemungkinan yang ingin Anda cari adalah Beasiswa ADS 2014 karena untuk 2013 sudah tutup. Pendaftaran ADS 2014 dibuka tanggal 4 Maret hingga 19 Juli 2013. Untuk informasi lebih lanjut silakan baca baca posting ini atau lihat halaman Beasiswa ADS secara langsung atau silkan klik gambar berikut:
Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif

Saat terjadi gonjag-ganjing anggota DPR yang studi banding ke Australia pada tahun 2011, banyak yang berpendapat bahwa studi banding itu tidak perlu. Setidaknya ada dua alasan. Pertama biayanya sangat mahal dan kedua ketersediaan teknologi informasi sudah memungkinkan interaksi tanpa harus datang ke seberang benua. Untuk alasan kedua ini, saya setuju dari awal dan kini lebih setuju lagi.
Tanggal 5 Maret 2012 saya memberi kuliah online untuk mahasiswa program Master Teknik Industri ITS, Surabaya. Sementara saya sendiri berada di Wollongong, Australia. Kuliah yang berlangsung lebih dari satu jam itu berjalan sangat nyaman, lancar dan nyaris tanpa gangguan koneksi internet. Interaksi bisa berlangung sangat baik sehingga saya dan peserta lupa bahwa jarak yang memisahkan kami sesungguhnya sekitar 5000 kilometer dengan empat jam perbedaan waktu. Menariknya, saya bisa memberi kuliah dari unit apartemen saya di Wollongong tanpa perlu menyiapkan perangkat khusus. Saat persiapan kuliah dilakukan, saya bahkan bisa sambil masak lele bumbu sere kesukaan saya. Singkat kata, kuliah online lintas benua itu begitu mudah, sangat sederhana dan tanpa tambahan investasi apapun. Kalaupun ada, investasi ini bernama waktu. Sara rasa ini adalah salah satu bentuk kontribusi kecil yang bisa diberikan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri.
Continue reading “Distance does not matter: Kuliah jarak jauh yang murah dan efektif”
When Andi met Sharon – Bertemu anggota Parlemen Australia

Wollongong, 21 Februari 2012
Sore itu saya sedikit gelisah, duduk di deretan tengah kursi shuttle bus yang mengantarkan saya ke kota Wollongong. Berkali-kali saya lirik jam di pergelangan kiri, waktu menunjukkan pukul 1.40 sore. Hari itu saya memiliki janji pertemuan dengan seseorang di kantornya di Crown Street. Saya menggunakan bus gratis dari Innovation Campus, University of Wollongong di Fairy Meadow.
Saya bergegas meninggalkan halte bus segera setelah keluar dari bus yang melanjutkan perjalanannya di sepanjang Bureli Street. Langkah saya menjadi semakin cepat karena waktu sudah mendekati jam 2 sore. Langkah saya dipandu Google Maps dari layar iPhone dengan titik yang berkedip menuntun hentakan kaki yang teregesa. Memang baru pertama kali saya ke kantor tersebut sehingga saya mengandalkan peta.
Di depan sebuah kantor terlihat sebuah papan tergantung bertuliskan “Sharon Bird – Federal Member for Cunningham”. Langkah saya terhenti, ada perasaan berdebar-debar sebelum melanjutkan langkah memasuki ruangan.
Continue reading “When Andi met Sharon – Bertemu anggota Parlemen Australia”
Road to Australia – Pre-Departure Training

Mereka yang sudah dipastikan mendapat beasiswa ADS tahun 2012 ini boleh bersenang hati, bersyukur atas perjuangan yang berbuah baik. Meski begitu, ini adalah awal sebuah perjalanan panjang yang tidak mudah. Hal pertama yang harus dijalani adalah Pre-Departure Training atau PDT yang durasinya tergantung pada besarnya nilai IELTS saat diuji oleh pihak ADS. Secara umum, durasi PDT adalah 9 bulan bagi yang IELTSnya 5; 6 bulan bagi yang IELTSnya 5,5; 3 bulan bagi yang IELTSnya 6; 8 minggu bagi yang IELTSnya 6.5 tetapi masih ada band di bawah 6; dan 6 minggu bagi yang IELTSnya sudah 6,5 atau lebih dan tidak ada band di bawah 6. Meski demikian, peserta dengan IELTS 6 dan writing di bawah 5,5 akan menjalani PDT selama 6 bulan.
Tujuan utama dari PDT adalah menyiapkan penerima beasiswa agar sanggup mengikuti perkuliahan di Australia baik itu dalam hal akademik maupun budaya. Dalam PDT ada materi English for Academic Purposes dan Cross Culture Understanding. Perlu diingat, secara umum syarat nilai IELTS untuk bisa berangkat ke Australia dengan beasiswa ADS adalah 6,5 dengan masing-masing band minimal 6. Oleh karena itu, tujuan praktis dari PDT adalah menyiapkan para peserta untuk bisa mencapai syarat ini. Meski demikian, tujuan idealnya tentu saja adalah menyiapkan peserta agar siap secara lahir maupun bathin dalam mengikuti pendidikan di Australia yang secara signifikan berbeda dengan Indonesia.
Continue reading “Road to Australia – Pre-Departure Training”
Saya memenuhi syarat, mengapa tidak lulus seleksi beasiswa?

Di minggu kedua Februari 2012 ada sekitar 400 orang Indonesia yang tersenyum girang karena berhasil mendapatkan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS). Kepada lebih dari 300 orang yang juga mengikuti seleksi tahap akhir tetapi belum beruntung lolos, nasihat saya sederhana “coba lagi tahun ini” jika masih tertarik. Pendaftar beasiswa ADS sekitar 4000 sampai 5000 setiap tahunnya (kadang lebih). Seseorang yang berhasil lolos adalah satu dari 10 persen dari keseluruhan pendaftar. Jika dibahasakan dengan perbandingan maka masing-masing penerima adalah satu dari 10 orang yang mendaftar. Kalau dilihat dengan cara ini, kesannya bisa jadi mudah, bahwa 10 persen pendaftar akan diterima dan itu artinya satu dari sepuluh orang pendaftar berpeluang diterima. Lebih mudah lagi jika ini diartikan bahwa untuk bisa diterima ADS, perlu mengalahkan sembilan orang saingan.
Silakan berpikir demikian tetapi kenyataan menunjukkan bahwa lebih dari 3600an orang yang gagal setiap tahun. Maka dari itu, mari berpikir lebih realistis bahwa untuk bisa diterima beasiswa ADS, kita harus lebih baik dari 3600an orang itu. Atau untuk lebih pastinya, jika ingin diterima beasiswa ADS maka jadilah peserta dengan ranking paling rendah 400 karena itulah kuota ADS di Indonesia. Dalam bahasa yang lebih dramatis, pertanyaannya menjadi “apakah saya mampu mengalahkan 3600an orang dalam persaingan ini?”
Continue reading “Saya memenuhi syarat, mengapa tidak lulus seleksi beasiswa?”

