Wanita lain [2]

thrublurryeyes.com
ytimg.com

Sabtu malam, Asti sudah terlelap di sampingku yang masih terjaga. Kulihat lampu di ruang tamu nampak temaram. Samar-samar terdengar suara percakapan dari sebuah film di TV. Aku tahu, masih ada seorang perempuan yang menikmati acara TV di luar sana. Aku bangun hati-hati, Asti tak terjaga. Tanpa takut membuat gaduh, aku jalan ke luar ruangan tanpa perlu berjingkat. Aku yakin Asti tidak akan bangun.

Continue reading “Wanita lain [2]”

Wanita lain [1]

vivanews.com
vivanews.com

Hari Jumat jam 3 sore, tidak seperti biasa, Asti, istriku, sudah pulang kerja. Langkah-langkah yang sedikit terburu dengan hentakan sepatu menginjak tangga terdengar hingga ke dalam rumah. Kami berdua yang masih di kamar menyadari hal ini. Dia menarik tubuhku dengan wajah panik dan mengajakku bersembunyi di balik selimut. “Let’s hide!” katanya.

Continue reading “Wanita lain [1]”

Surat untuk Pangeran

istanakunang.wordpress.com/
istanakunang.wordpress.com/

Paduka Pangeran,

Ijinkan hamba menyampaikan secarik kertas ini yang bertuliskan kata-kata sederhana. Kalimat-kalimat ini bukanlah sloka para pujangga yang akan membuai hati paduka yang sedang lara. Dia juga bukanlah mantra-mantra sakti mandraguna yang serta merta mencipta semburat senyum di wajah paduka yang telah lama dirundung nestapa. Untaian kalimat itu bukan obat yang diperolah baginda raja dari hasil bertapa di bawah pohon jakaranda. Dia tidak mengobati seketika.

Continue reading “Surat untuk Pangeran”

Bingung

Made Kondang, lelaki berotak desa itu tak henti-hentinya dirundung bingung. Dasar otaknya yang mungkin hanya separuh volume otak teman-temannya, tak banyak perkara yang mampu dia cerna dengan seksama. Kali ini adalah perihal awig-awig, aturan adat di Banjar Selem, banjar tetangganya.

Continue reading “Bingung”

Merdeka

Beyond Borders
Beyond Borders

Yogyakarta, Agustus 1996

Saya sedang terjebak dalam dunia sempit saya, tidak peduli pada sekitar karena sedang punya karya yang menyenangkan. Dua kawan dekat saya datang menghampiri dan hampir tidak saya ketahui. Mereka heran bertanya, apa yang sedang saya lakukan. Di tangan saya ada setumpuk kertas minyak tembus pandang, warnanya merah, ada juga yang putih. Potongannya kecil kurus menjuntai seperti rumbai-rumbai. Sementara itu di sebelahnya terdapat tumpukan kertas merah dan putih yang sama, namun dengan potongan yang berpola. Di sebelahnya lagi terongok sekaleng lem kertas yang tutupnya terbuka. Mereka tidak mengerti apa yang akan saya lakukan dengan perangkat dan bahan itu.

Continue reading “Merdeka”

Bakat

Tinggal dan besar di sebuah desa di Bali di tahun 1980an kadang membuat dunia terasa sempit. Terkait dengan seni, tidak banyak hal yang bisa dieksplorasi kecuali seni khas Bali yang sudah ada dan diwariskan turun temurun. Metetabuhan (gamelan) adalah salah satu hal yang tidak pernah mati di desa saya, Tegaljadi dan menjadi satu dari sangat sedikit alternatif seni yang bisa dinikmati dan dipentaskan.

Continue reading “Bakat”

Pertemuan kembali

Aku ingin menulis sesuatu yang abadi, seperti halnya yang tertuang dalam kitab-kitab suci yang mewarnai peradaban manusia. Aku ingin menulis sesuatu yang ketika dibaca esok hari tidak menimbulkan malu, sekaligus tetap bercahaya seratus tahun kemudian. Seperti itulah aku ingin menceritakan pertemuan kita pagi tadi. Ingin kuceritakan dengan bahasa yang tidak lekang oleh waktu dan hanya dimengerti oleh jiwa yang terbuka. Seperti halnya ayat-ayat suci yang selalu menyisakan ruang penafsiran sehingga tidak termakan waktu.

Continue reading “Pertemuan kembali”

Reinkarnasi

reluctant-messenger.com
reluctant-messenger.com

Made Kondang tidak mau masuk surga, apalagi mencapai moksa. Dia jelas tidak mau. Selain karena yakin dirinya tidak layak untuk surga, Made Kondang masih punya mimpi yang di kehidupannya sekarang belum tercapai. Saat reinkarnasi nanti, Kondang ingin memperbaiki kehidupannya. Dia ingin menjalani apa yang sekarang tidak bisa dijalaninya.

Made Kondang punya mimpi-mimpi yang indah. Yang jelas dia bosan dengan kehidupannya sekarang yang monoton dan tidak berguna. Dia memimpikan sebuah kehidupan yang dinamis, bergairah dan heboh. Ingin sekali dia mewarnai dunia dan namanya disebut-sebut dalam kasus yang menggetarkan bangsa-bangsa. Apa daya, Kondang hanyalah seorang petani penggarap. Dia hanya bisa bermimpi.

Continue reading “Reinkarnasi”

Moon Walk

Saya telah lama terjebak dalam dunia ‘kanan’, berperan sebagai anak yang baik-baik saja. Saat tumbuh menjadi seorang anak kecil di desa yang letaknya bahkan tak tercatat di peta nasional, ukuran kebaikan seorang anak di desa saya sangatlah sederhana. Kalau sisiran rambut saya rapi, dibelah samping dan licin mengkilat oleh minyak kelapa lalu baju dimasukkan rapi, meskipun tidak sedang sekolah, maka saya sudah layak disebut anak baik. Jika saya menyapa orang yang saya temui di jalan dan menyalami mereka yang mampir ke rumah, maka saya sudah layak disebut anak teladan. Jika saya bertamu ke rumah orang atau berkunjung ke tempat-tempat umum (termasuk rumah sakit) dan menaggalkan sendal jepit lusuh saya lalu bertelanjang kaki menapaki lantai, maka saya sudah bisa disebut disiplin. Begitulan ukuran kebaikan dan keteladanan seorang anak kecil yang tumbuh di Desa Tegaljadi di tahun 1980an.

Continue reading “Moon Walk”

She is nobody

She is nobody
She is nobody

The leader is a woman. This woman is nobody. She was born and raised in a forgotten corner of the world. She is not a politician, not a public figure. She is not a famous one either. She is an ordinary woman but she is the rock of her family. She is a strong woman. She is a literally strong woman. In the 70s and early 80s, she worked in a traditional rock mining somewhere you could not even see in the premium Google Earth.

Early in the morning at around 4 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice field as if she learned the footpath by hearth. She walked, she jumped, she ran in the darkness and she never fell down. Her feet had eyes that can see in the darkness. She did it everyday for the live of her family. She is a persistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday.

Continue reading “She is nobody”