Saya masih duduk di atas motor selepas menurunkan Lita di sekolahnya pagi itu. Setelah salim, Lita segera melesat, hilang di tengah kerumunan teman-temanya. Di depan saya, ada seorang lelaki bermotor baru saja menurunkan dua anak kecil yang juga sekolah di sana. Lelaki itu nampak keren dan sangat lelaki. Jaketnya sporty dengan perawakan tinggi besar. Beliau tidak turun dari motor tetapi dengan tertib memastikan dua anak kecil itu turun dan siap melesat menuju kelas mereka.
Telepon dari Yanti
Lega, akhirnya bisa bertemu Ibu Rektor untuk minta tanda tangan beliau. Beberapa hari ini saya dikejar-kejar mitra UGM dari luar negeri perihal dokumen yang harus saya siapkan dalam rangka sebuah kerjasama. Pasalnya, Ibu Rektor bertugas ke Eropa beberapa hari ini sehingga semua proses terhenti untuk menunggu tanda tangan beliau. Meskipun Senin ini libur Imlek, Bu Rektor berkenan ditemui untuk dimintai tanda tangan. Menariknya, saya menemui beliau saat sedang berlatih pentas Kethoprak. Okay, ini cerita lain.
Doa Malam
Wahai gelap gulita, berdoalah bersamaku. Cakupkan tanganmu di atas ubun-ubun atau lakukanlah seperti yang diajarkan leluhur kepadamu. Kita bertumbuh dari akar yang sama tetapi ritualmu mungkin berbeda. Berdoalah bersamaku dengan caramu karena yang kupentingkan bukan tata cara tetapi makna.
Tragedi di Bandara
Puluhan mobil tidak bergerak di depan kami. Sejauh mata memandang, deretan kendaraan terjebak dalam kemacetan yang parah. Ring Road Utara, Jogja, yang seharusnya membawa kami ke Bandara Adi Sucipto benar-benar padat. Sementara waktu bergerak cepat, seakan lebih cepat dari seharusnya. Saya yang nyetir menjadi gelisah dan tidak sabar. Berkali-kali saya lihat jam tangan dan waktu boarding kian dekat. Kurang dari satu jam waktu boarding, kami masih terjebak di tengah kemacetan yang parah luar biasa. Asti, isteri saya, yang duduk di sebelah kiri saya berusaha tenang meskipun tentu gelisah. Beberapa menit lagi, kami pasti ketinggalan pesawat ke Surabaya.
Beasiswa Australia Awards tahun 2017 dibuka tanggal 1 Februari 2016
STOP Press!
Tulisan ini adalah untuk pembukaan pendaftaran tahun 2016. Jika yang Anda cari adalah informasi untuk pembukaan beasiswa tahun 2017, silakan baca tulisan ini. Meski demikian, tulisan di bawah ini tetap penting untuk dibaca karena memuat banyak informasi dan tips umum. Terima kasih 🙂

Ini hari yang ditunggu-tunggu banyak orang. Pemerintah Australia kembali memberi kesempatan kepada penduduk Indonesia yang memenuhi syarat utuk belajar S2 atau S3 di universitas-universitas terkemuka di Australia. Yang menarik, seluruh biaya akan ditanggung oleh Pemerintah Australia melalui skema Australia Awards Scholarship (AAS). Khusus untuk Indonesia, beasiswa ini juga dikenal dengan Australia Awards Indonesia atau AAI. Beasiswa ini mengalami perubahan nama berapa kali, mulai dari Colombo Plan tahun 1960an, AIDAB di awal tahun 1990an, ADS di tahun 2000an awal dan kini AAS atau AAI. Barangnya tidak jauh beda, hanya pengelolaannya yang sedikit berbeda. Bagi kita, orang Indonesia, yang penting adalah bagaimana memenuhi persyaratan dan mendapatkan kesempatan itu. Untuk AAS tahun 2017, pendaftaran sudah dibuka tanggal 1 Februari 2016 dan ditutup tanggal 30 Maret 2016. Periode pendaftaran memang cukup singkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ada beberapa hal yang perlu diketahui tentang AAS ini:
Continue reading “Beasiswa Australia Awards tahun 2017 dibuka tanggal 1 Februari 2016”
MEA itu apa sih?
Bayangkan, besok setelah kamu menyandang gelar sarjana, seorang berkebangsaan Filipina yang bekerja di sebuah institusi di Singapura menelpon kamu yang tinggal di Sleman, Jogja. Orang itu menawarkan sebuah proyek pemberdayaan masyarakat di sebuah desa pedalaman di Myanmar bagian utara. kamu dihubungi karena melihat CV kamu di Linked In atau Facebook. Jika tertarik menangani proyek itu, kamu diharuskan membentuk tim yang terdiri dari orang Malaysia, Thailand dan Vietnam. Bayangkan, seminggu kemudian kamu ditunggu di sebuah desa di Myanmar dengan tim kamu. Demikianlah Masyarakat Ekonomi ASEAN alias MEA alias ASEAN Economic Society alias AEC.
Payung dari UGM
Belakangan ini, Jogja diguyur hujan hampir setiap sore. Tidak terkecuali sore itu ketika saya pulang kantor saat hari sudah mulai gelap. Hujan turun konstan meskipun tidak lebat. Saya pikir saya bisa menuju parkir mobil tanpa payung meskipun mungkin akan sedikit basah. Saya berjalan dengan langkah mantap di Balairung UGM menuju parkir mobil, bersiap-siap untuk melesat ke rumah.
Saat melewati pos keamanan kampus, ada seorang petugas keamanan perempuan yang mengejar saya. “Pak, hujan lo Pak” kata perempuan itu sopan. “Ya, nih. Tapi nggap apa-apa, saya harus segera pulang” demikian saya menjawab. “Pakai payung saja Pak” katanya sambil dengan sigap mengambilkan payung yang ada di situ dan menyodorkannya pada saya. Petugas ini nampaknya tidak mengenal saya dengan baik tetapi dia merasa perlu melakukan semua itu. “Tapi nanti gimana payungna ini?” saya bertanya karena tidak paham bagaimana saya bisa mengembalikan payung itu. “Bawa saja Pak, besok Bapak kembalikan ke sini” katanya sopan namun jelas dan tegas. Ada senyum dalam penjelasan itu.
Saya selalu bangga dengan UGM. Saya bangga dengan prestasi dan reputasinya yang tinggi dan mendunia. Sore itu saya seperti diingatkan bahwa kepedulian yang tulus seperti ini yang sejatinya menjadi karakter universitas kerakyatan ini. Seraya kita berjuang keras untuk menarik perhatian dan pengakuan dunia, saya senang UGM tidak lupa meneruskan tradisi kebaikan-kebaikan kecil saat diperlukan. Saya rasa itulah sifat UGM yang sesungguhnya. Sederhana, penuh cinta dan peduli. Seperti kata Bung Karno, “Gadjah Mada adalah sumbermu. Gadjah Mada adalah mata airmu. Mengalirlah ke laut pengabdian kepada Rakyat. Bukan kepada kemuktian Diri.” Lewat payung UGM yang melindungi saya sore itu, saya seperti mendengar sayup-sayup petuah dari Sang Proklamator itu.
Tips Wawancara Beasiswa Luar Negeri
Saya sudah cukup sering menulis tips wawancara beasiswa di blog ini. Tidak hanya tips, ada juga prediksi pertanyaan wawancara yang mungkin membantu para pejuang beasiswa luar negeri, terutama yang akan sekolah ke Australia dengan beasiswa Australia Awards atau dikenal juga dengan AAS. Meski demikian, tips itu sebenarnya bersifat universal, berguna juga bagi pejuang beasiswa yang ingin sekolah ke negara lain. Ada beberapa hal yang ingin saya tambahkan dan tekankan, melengkapi tulisan-tulisan terdahulu.
Lelaki Penakut
Jika kautanya pada geromboloan burung gereja yang bertengger malas di bubungan bale bengong atau yang nakal trenginas mencuri setangkup nasi setengah basi yang terpapar di bawah pohon kamboja, mungkin kamu akan dapatkan jawaban biasa. Mereka pasti akan bersorak satu kata bahwa aku adalah lelaki periang yang tak kenal takut. Mereka mungkin akan mengumandangkan satu mantera tentang aku yang percaya diri, tenang dan tak gentar akan hiruk pikuk dunia. Burung-burung itu mungkin salah.
Kuliahmu tidak popular dan tidak nyambung dengan orang lain?
Jumat 15 Januari 2016, UGM kedatangan tamu dari sebuah perusahaan terkemuka dari Singapura. Karena bertepatan dengan saat Jumatan, saya satu-satunya orang yang bisa menyambut dan melayani tamu itu. Delegasi yang terdiri dari 8 orang itu berasal dari sebuah perusahaan investasi dan keuangan terkemuka. Pendiri sekaligus CEO-nya menjelaskan dengan sangat meyakinkan.
Paul adalah salah satu anggota delegasi yang terlihat paling muda. Dari gaya bicaranya, saya teryakinkan dia cerdas dan sangat professional. Usianya jelas belum menyentuh 30 tahun namun terlihat dia menguasai apa yang dilakukannya. Dia juga menaruh perhatian kepada pihak lain dengan baik.
Continue reading “Kuliahmu tidak popular dan tidak nyambung dengan orang lain?”