Lelaki Penakut


10464257_10153965116879274_8188614003230359520_nJika kautanya pada geromboloan burung gereja yang bertengger malas di bubungan bale bengong atau yang nakal trenginas mencuri setangkup nasi setengah basi yang terpapar di bawah pohon kamboja, mungkin kamu akan dapatkan jawaban biasa. Mereka pasti akan bersorak satu kata bahwa aku adalah lelaki periang yang tak kenal takut. Mereka mungkin akan mengumandangkan satu mantera tentang aku yang percaya diri, tenang dan tak gentar akan hiruk pikuk dunia. Burung-burung itu mungkin salah.

Sempatkanlah bertanya pada sebaris serai yang tumbuh hijau di dekat padmasari, mungkin akan kaudapatkan jawaban berbeda. Aku, berbeda dengan dugaan segerombolan burung gereja itu, sejatinya adalah lelaki penakut. Aku takut kehilanganmu. Takut menjadi sendiri dan terpenjara dalam gemerlap kaca dan batu-batu istana yang dingin tanpamu. Aku takut melewatkan waktu menyusuri koridor panjang di rumah ini yang ternyata membuat bulu roma menari di tengah malam sepi. Aku takut menutup pintu rumah kita yang menimbulkan berisik karena aku takut para Dewa terusik lalu bertanya padaku dan tidak bisa aku jawab tanpa harus menguping kebijaksanaanmu. Aku takut mendengar tangisku sendiri yang memantul-mantul di dinding batu yang memandangku dengan ancaman dan senyum mencibir menyalahkan. Aku takut menghadapi ini tanpamu.

Aku tidak mau menyaksikan sendiri hijau talas yang meliuk-liuk menikmati buliran air yang menggelinding di licin daunnya. Aku ingin menyaksikannya bersamamu sambil duduk berkelakar mencabuti rumput liar yang mendesak berebut ruang dengan mutiara hijau yang kita sayangi. Aku ingin seperti pohon kamboja itu, yang kian tua kian kekar. Aku ingin menawanmu tak saja dengan harum kembangku tapi juga dengan keriput kulitku yang memancarkan wibawa. Aku ingin mendekapmu di pelukanku, persis seperti pohon tanduk rusa yang menjuntai manja di dahan kamboja tua nan wibawa itu. Maka dekaplah aku dan nikmati rapuh ragaku karena serpihan itu yang akan membuatmu bertahan hidup. Aku ingin seperti kamboja yang menua bersamamu.

Aku tak akan sematkan bunga di rambutmu atau suntingkan setangkai cempaka di telingamu karena akulah bunga itu dan akulah cempaka itu. Aku tak mampu janjikan keidahan untukmu karena kamu adalah air bagi segarku dan pupuk bagi suburku. Keindahan adalah kebersatuan kita. Keindahan adalah penciptaan yang niscaya karena aku bertahan memelukmu, mendekapmu dan mebiarkanmu tumbuh subur karena serpihan rapuh tubuhku. Bagaimana mungkin kujanjikan keindahan padamu karena kamulah prasyarat keindahan yang hendak aku lahirkan. Aku ingin melahirkan keindahan bersamamamu.

Namun kadang aku terpenjara pada kebodohan diri, pada gemerlap keindahan sesaat yang harusnya aku tahu kapan harus dihentikan. Terima kasih telah menjadi anggrek yang mekar lalu layu di tembok pemandian kita. Layumu jadi tanda bahwa keabadian adalah sebentuk usaha, bukan pemberian. Abadi yang kita idam-idamkan adalah sebuah keputusan sadar untuk menyiram dengan sabar. Abadi adalah kerelaan memandang setangkai anggrek kering yang gugur dengan senyum harapan. Bahwa anggrek putih ungu itu bisa saja terhempas dan sirna tetapi kita percaya bahwa dia akan tumbuh lagi, lebih besar, lebih banyak dan lebih segar. Seperti itulah dirimu bagiku. Penyaji kesebaran dan menyimpan harapan. Kamu membebaskanku dari rasa takut. Maka kini tanyalah pada burung gereja itu. Mereka mungkin sudah tahu kerapuhanku tapi percayalah, rapuhku melahirkan serpihan kesuburan bagimu untuk bertumbuh dan akhirnya bermekaran. Ketika berjalinan bersama, kita adalah pencipta kesempurnaan dari serpihan-serpihan ketidaksempurnaan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s