Dipeluk UGM

Wajahnya lesu. Matanya berkaca-kaca dan berusaha keras menahan tangis. Dari wajahnya nampak jelas dia sedih, bingung dan kecewa. Ada ketidakpastian yang menyembul dari pandangan matanya yang gamang. Anak itu adalah bimbingan akademik saya, dia datang mengadukan apa yang terjadi padanya.

Saya memanggilnya khusus karena beberapa waktu sebelumnya saya membaca status di Facebook-nya yang mengharu biru. Anak ini merasa nasib sedang tidak berpihak padanya karena urusan beasiswa dari pemerintah daerah yang tak jelas juntrungannya. Konon dia dinyatakan menerima beasiswa dari pemerintah daerah yang sampai kini belum diterimanya. Urusannya tidak saja dengannya secara pribadi tetapi juga dengan UGM sebagai tempat kuliahnya. Kesepakatannya adalah bahwa pemerintah daerah akan membayar uang kuliah anak ini langsung kepada UGM tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Statusnya, anak ini nunggak uang kuliah kepada UGM karena pemerintah daerah yang tak menunaikan kewajiban.

Continue reading “Dipeluk UGM”

My opinion on reclamation

In a lecture that I gave at the International Week Program organised by the Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada, a participant asked me about reclamation. Here is my answer:

Continue reading “My opinion on reclamation”

Pulang ke Indonesia

Yogyakarta, Awal Agustus 1996

id16Kami bertiga, calon mahasiswa UGM itu, berjongkok di dekat pagar tembok berwarna putih kusam. Pagar itu ada di depan sebuah rumah sederhana, milik seorang lelaki tiga puluhan tahun yang kami hormati. Beliau adalah dosen UGM yang telah menjadi ‘bapak asuh’ bagi kami bertiga dalam beberapa hari ini. Kami yang baru tiba di Jogja untuk menuntut ilmu, ‘diangkat’ anak oleh beliau dan diizinkan tinggal di rumahnya.

Peringatan Hari Kemerdekaan segera tiba dan kami bersemangat mengecat pagar tembok itu dengan warna putih. Kami bertiga, beberapa orang anak kos lain dan lelaki panutan itu bekerja sambil bermain dan berkelakar. Semua cerita dan lelucoh mengalir deras, penggal demi penggal tembok kusam itu berubah putih bersih dan bercahaya. Ini adalah pengalaman baru bagi saya. Mengecat tembok dengan semangat untuk peringatan hari kemerdekaan tidak saya temui di kampung saya di Bali.

Sore sudah mampir, pagar tembok sudah putih sempurna. Cahaya matahari membuatnya cerah berwibawa. Di sisi tembok itu menjulang umbul-umbul merah putih, silih berganti dengan bedera yang berkibar perlahan oleh angin sore yang mulai malas. Saya berdiri menatap, melepas penat yang segera berlalu demi menyaksikan nuansa merah putih yang berwibawa.

Wollongong, November 2013

Now, your thesis is done and you are ready to submit. Congratulation!” tiba-tiba lamunan saya buyar oleh kalimat berwibawa lelaki di depan saya. Kata-katanya mantap memberi selamat dan semangat. Wajah lelaki usia empat puluhan itu nampak serius meskipun selalu ada senyum di bibirnya. Dia duduk tenang dan santai di kursi sambil sesekali memutar tempat duduknya sehingga tubuhnya bergoyang kiri dan kanan secara wajar. Baru sadar lagi, saya memperbaiki posisi duduk di depannya, menyimak dengan seksama. Hari itu tidak biasa, kami tidak sedang membicarakan disertasi saya seperti minggu-minggu sebelumnya. Rupanya urusan disertasi sudah tidak lagi masuk dalam prioritasnya karena memang disertasi saya sudah rampung. Paripurna sudah sebuah tugas besar nan panjang. Hari itu, Prof. Clive Schofield, pembimbing saya, memanggil saya untuk urusan yang lebih dari sekedar disertasi.

Saya hanya tersenyum saja sambil berterima kasih ringan. Ada rasa tidak percaya, akhirnya proyek panjang itu terselesaikan. Pendidikan saya di Australia telah mencapai titik akhir dan saatnya untuk menyudahi perjalanan di Negeri Kangguru ini. Terbayang jelas dalam ingatan ketika saya tiba pertama kali di Sydney tanggal 14 Januari tahun 2004 dan artinya itu sudah berlalu satu dekade. Selama itu pula saya tidak pernah lepas dari Australia, mulai dari S2, penelitian atas prakarsa PBB, S3 dan bahkan Postdoc. Satu dekade ini saya telah menghabiskan waktu di Australia dengan status sebagai mahasiswa dan atau peneliti. Hari itu, saat Clive memanggil saya, drama sepuluh tahun perjuangan itu seperti diputar ulang dengan kecepatan tinggi.

What is your plan?” tanya Clive pada saya yang masih belum bisa menguasai keadaan dengan baik. Saya masih tersenyum saja, tidak berkata banyak. Saya hanya mengatakan “well…” sambil menganggukkan wajah dan tersenyum pertanda ada gejolak dalam hati yang mendesak dan tidak tuntas.

The door is always open for you, Andi” kata Clive. Dia kemudian melanjutkan bahwa jika saya berniat bekerja di University of Wollongong bersama dia maka kesempatan itu terbuka lebar. Ada berbagai topik penelitian yang bisa saya kerjakan dan Clive akan dengan senang hati bekerja dengan saya. Begitu dia menegaskan. “It is your call” katanya sambil tersenyum, menyerahkan pilihan itu kepada saya.

Mendapat tawaran dari seorang ‘Dewa’ di bidangnya untuk bekerja dan meneliti di sebuah institusi terkemuka Australia tentulah sangat menggoda. Di tengah kegalauan dan kekhawatiran untuk kembali ke tanah air karena terbayang akan terjadi perubahan drastis dalam hal budaya meneliti dan juga urusan finansial, tawaran Clive itu adalah godaan yang merangsang. Meski menawarkan itu, nampak jelas Clive mengenal saya dengan baik. Dia tidak memaksa, tidak juga ada kesan menakan.

I cannot thank you enough for everything you have done for me Clive” kata saya memulai dan dia tersenyum. “I appreciate your offer and I will treat this as an open opportunity. You know, I will go home to Indonesia” demikian saya sampaikan lalu berhenti sesaat. Wajahnya tidak terkejut meskipun saya melihat raut muka yang tidak biasa pada Clive. Entah apa itu. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tanpa berkata, tanda mengerti apa yang saya sampaikan.

Clive seperti mendengar kata-kata yang tidak saya ucapkan dalam percakapan diam kami. Dia mungkin mendengar saya bergumam “Aku ingin pulang, mengecat pagar rumah yang mungkin mulai kusam. Aku ingin melihatnya putih cemerlang, di sela kibasan Sang Merah Putih yang tak tunduk oleh tikaman matahari sore yang temaram.”

Yogyakarta, 16 Agustus 2016

Wajah, Paspor dan Warga Negara

Dalam satu adegan film “The Karate Kid”, Dre Parker (Jaden Smith) dipaksa ibunya untuk bercakap-cakap dengan ‘orang China’ yang duduk di bangku seberang. Mereka duduk di satu pesawat dan akan berangkat ke China. Ibu dan anak itu pindah ke China dari Detroit karena alasan pekerjaan. Menurut ibunya, itulah saatnya Dre melatih Bahasa Mandarinnya dan berlatih langsung dengan orang China adalah kesempatan baik. Dari wajahnya, lelaki yang duduk di bangku seberang memang nampak ‘sangat China’. Wajahnya tidak menipu.

Dengan perasaan sedikit dongkol karena dipaksa Ibunya, Dre menyapa lelaki itu dalam Bahasa Mandarin yang terbata. Inti pertanyaanya adalah “siapa nama Anda dan apa kabar?”. Dre bersusah payah mengucapkan kalimat itu karena belum fasih lalu menunggu jawaban ‘orang China’ itu. Jawaban lelaki itu menyentak dan di luar dugaan Dre dan Ibunya. Lelaki itu berkata “Dude I am from Detroit” untuk menegaskan bahwa dia adalah orang Amerika dan bahkan mungkin tidak bisa Bahasa Mandarin sama sekali. Wajahnya ternyata menipu.

Apa yang dilakukan ibu Dre dalam film itu mewakili jutaan umat manusia di muka bumi. Kita mudah sekali menuduh dan menduga kewarganegaraan seseorang dari kenampakan wajahnya. Ketika datang ke Australia untuk pertama kali tahun 2004 saya terkejut melihat sebagian besar mahasiswa UNSW adalah ‘orang China’. Selidik punya selidik, sebagian besar dari mereka adalah keturunan orang China yang sudah puluhan tahun di Australia. Sangat banyak dari mereka yang merupakan kelahiran Australia bahkan termasuk generasi ketiga. Artinya, mahasiswa yang nampak berwajah ‘China’ itu lahir dari orang tua yang juga lahir di Australia. Yang membuat mereka tetap ‘berwajah China’ adalah fakta bahwa orang tua mereka menikah dengan sesama keturunan China.

Seorang kawan Indonesia bahkan pernah menegaskan bahwa “kuliah di UNSW serasa kuliah di Beijing” karena kebanyakan orang China. Pernyataan ini sempat menimbulkan kontroversi karena orang China yang dimaksud ternyata bukanlah warga negara China tetapi keturunan bangsa China yang telah menetap di Australia. Hal ini sempat menimbulkan rasa kurang nyaman bagi teman-teman warga negara Indonesiaa yang juga keturunan China yang bersekolah di UNSW. Menuduh kewarganegaraan dari tampilan wajah adalah kekeliruan serius.

Obama adalah orang non-kulit putih pertama yang menjadi Presiden Amerika. Ke-Amerika-an Obama bahkan pernah diragukan dan sekelompok orang kulit putih pernah menjadikan itu sebagai isu politik untuk mengalahkannya saat pemilu. Sangat menarik sesungguhnya ketika orang kulit putih yang mempersoalkan hal itu karena orang kulit putih juga pendatang di Amerika. Orang kulit putih yang meragukan kewarganegaraan seorang kulit hitam di Amerika Serikat adalah sebuah kelucuan tingkat tinggi karena keduanya adalah ‘tamu’ di tanah Amerika. Ini mirip dengan orang kulit putih di Australia yang merasa tidak nyaman dengan kedatangan orang Asia dan menuduh orang Asia telah merebut kesempatan kerja mereka sebagai ‘tuan rumah’ di Australia. Orang kulit putih dan Asia sama-sama ‘tamu’ di tanah Australia.

Jika Anda berkunjung ke New York dan naik kereta dari Queens ke Manhattan di pagi hari, Anda akan menemukan sebuah dunia yang mungkin berbeda dibandingkan yang Anda bayangkan. Jika Anda rajin menonton film Hollywood yang konvensional, mungkin Anda membayangkan orang Amerika seperti Aston Kutcher atau Taylor Swift. Anda mungkin akan terkejut karena orang Amerika di kereta itu ternyata sebagian besar berkulit hitam atau nampak seperti orang Jawa. Mereka adalah orang Amerika yang mungkin bahkan sudah merupakan keturunan kedua atau ketiga yang lahir di Amerika.

Dalam tugas saya di Kantor Urusan Internasional UGM, saya sering sekali menerima tamu dari universitas di luar negeri, baik itu professor, peneliti atau pejabat universitas. Pada awalnya saya agak terkejut melihat wajah yang muncul. Pejabat tinggi sebuah universitas di Australia ternyata berwajah China. Professor senior yang disegani di sebuah perguruan tinggi Inggris ternyata mirip Shahrukh Khan. Kepala Kantor Urusan Internasional di sebuah perguruan tinggi di ASEAN ternyata dari Jawa. Peneliti handal dari universitas terkemuka di Amerika ternyata keturunan Kenya. Ini mirip dengan pengalaman kawan-kawan Indonesia yang bersekolah di Australia yang ternyata dibimbing oleh orang China, Korea atau Bangladesh. Sejumlah kawan dari Malang yang sekolah di Wollongong, Australia, bahkan dibimbing oleh professor yang berasal dari Surabaya. Demikianlah dunia. Kekurangpahaman akan menimbulkan keterkejutan.

Kita hidup di satu tempat yang oleh Konichi Omahe disebut sebagai dunia tanpa batas alias “borderless world”. Kenampakan wajah bukan lagi penentu kewarganegaraan. Kebangsaan, suku dan etnis tidak lagi didikte oleh wilayah geografis. Kefasihan seseorang akan suatu bahasa tidak lagi mencerminkan paspor yang dipegangnya. Mereka yang tidak memahami dunia dengan baik mungkin akan terkejut ketika seorang berwajah Sunda mengaku warga negara Jerman tetapi mereka yang luas wawasannya tidak akan terkejut. Kenampakan wajah, bahasa, kegemaran akan makanan bukan penenda kewarganegaraan. Kewarganegaraan ditentukan dengan paspor. Wajah Melayu yang berselera masakan Padang bisa saja berpaspor Amerika. Kita tidak pernah tahu sebelum melihat paspornya.

Tips Komunikasi Internasional untuk Pejabat

Belakangan ini saya mengamati orang-orang penting di sekitar saya dalam tugasnya untuk menyampaikan pesan secara oral. Pesan itu bisa berupa pidato resmi di forum-forum besar, bisa berupa sambutan singkat dalam acara yang bersifat terbatas, bisa juga berupa pesan singkat dalam rapat kecil, atau sekedar kelakar dari seorang atasan kepada stafnya. Kesimpulan saya masih sama: kemampuan berbicara dengan baik selalu positif dampaknya dan kemampuan berbicara yang buruk dengan efektif dapat menyembunyikan kualitas baik seseorang.

Continue reading “Tips Komunikasi Internasional untuk Pejabat”

Washing the dishes is a very important life skills

Ibu saya bilang, bisa mengerjakan pekerjan rumah yang ‘remeh temeh’ memang tidah harus. Apalagi kalau bisa membayar orang lain untuk melakukannya. Meski begitu, bisa mengerjakan semua itu tidak pernah salah. Itu mungkin sebabnya saya ‘ditindas’ di masa kecil untuk mencuci piring. Kebiasaan ‘menindas’ itu kini terjadi pada saya dan Lita adalah ‘korbannya’. Selamat menikmati video ini.

http://www.youtube.com/watch?v=4tOKBgK5QJg

Menemukan Bakat Anak Murid

Hari itu saya menerima seorang mahasiswa di ruangan saya. Dia berkonsultasi terkait mata kuliah yang akan diambilnya pada semester mendatang. Ada keraguan saya tangkap dari gerak-geriknya ketika berdiskusi. Pasalnya bisa diduga, nilainya tidak memuaskan. Bukan soal memuaskan saya sebagai dosen wali, nilai itu dirasa tidak memuaskan dirinya. IP-nya tidak sesuai dengan target pribadinya sehingga dia merasa kurang nyaman.

Saya punya banyak waktu hari itu sehingga sempat melayaninya agak lama, bercakap-cakap tentang banyak topik yang tidak selalu terkait dengan akademik. Saya mulai bertanya soal hobinya, soal kebiasaannya dan soal kegiatannya di luar jam kuliah. Dia seorang pelukis dan itu mengejutkan saya. Tidak banyak mahasiswa saya yang memiliki ketertarikan, apalagi keterampilan, melukis. Dia salah satu yang menurut saya istimewa.

Continue reading “Menemukan Bakat Anak Murid”

Anies

Semalam, saya duduk mematung di depan laptop. Saya membaca sesuatu yang tak bisa membuat saya berpaling. Di sebelah saya, Asti, isteri saya, juga duduk dan membaca sesuatu di layar HPnya. Sesaat sebelumnya kami bermain dengan Lita sebelum akhirnya dia harus tidur di kamarnya. Di malam yang tenang itu, kami berdua asyik sendiri menikmati bacaan masing-masing.

Sekali waktu Asti berkomentar dan saya timpali. Ternyata, meskipun kami membaca di media yang berbeda dan tidak ada kesepakatan, bacaan kami sama. Kami sama-sama sedang membaca surat pamit dari Mas Anies Baswedan yang baru saja dibebastugaskan oleh Pak Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Saya lebih banyak diam dan hanya mengiyakan komentar Asti. Mata saya menjelajahi komentar banyak orang tentang digantinya Mas Anies sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Mas Menteri telah menjalani tugasnya selama duapuluh bulan terakhir dan sesungguhnya itu belum paripurna. Mas Anies diberhentikan di tengah jalan. Sebuah keputusan yang mengejutkan banyak orang. Saya tentu salah satunya. Saya tidak punya kepentingan politik, seperti Mas Anies yang juga tidak berafiliasi pada salah satu partai politik tetapi pencopotan Mas Anies menyisakan kesedihan. Kesedihan mendalam itu tergambar jelas pada komentar ribuan penduduk dunia maya yang memberi komentar pada surat pamitnya yang mengharukan.

Dalam suratnya Mas Anies tidak berpamitan kepada presiden tetapi kepada para guru. Orang-orang hebat yang selalu disebutnya sebagai pahlawan. Dan kata pahlawan yang keluar dari mulut Mas Anies berbeda dengan kata ‘pahlawan’ yang diucapkan dalam suasana kaku di lapangan upacara yang sekedar melewatkan ritual. Ucapan pamit itu menggunakan kop resmi, tanda tangan basah dan cap yang formal. Di tangan Mas Anies, ketiga hal yang biasanya mendukung kekakuan itu seperti menyerah, bersimpuh dan menjelma menjadi pesan yang menyentuh hingga jauh ke dalam.

Asti menyentuh tangan saya ketika saya diam dalam renungan yang melempar saya pada kenangan dan juga harapan masa depan. Tanpa bisa saya bendung perasaan saya hanyut bersama luapan dukungan dan doa bagi Mas Anies dari penduduk dunia maya. Saya membacanya takzim. Dari sudut mata saya keluar butiran bening. Saya menangis dan akhirnya terisak tanpa bisa saya kendalikan.

Saya mungkin sekedar cemen. Mungkin juga benar seperti kata sahabat saya bahwa saya adalah seorang dengan pemikiran yang utopis, berjarak jauh dengan realitas. Mungkin benar demikian makanya saya cenderung mudah terharu pada kejutan-kejutan semacam dicopotnya seorang Anies dari posisi menteri. Meski demikian, saya melakukan itu dengan penuh kesadaran. Saya bahkan tidak begitu khawatir tertuduh cemen dan cengeng karena harus menitikkan air mata meratapi sebuah drama politik yang seharusnya tidak mengejutkan.

Bagi saya, tangis saya semalam adalah bayangan duka mendalam akibat terpenjaranya sebuah harapan dan gagasan. Mas Anies bukan seorang menteri yang mendobrak dengan keberingasan yang bisa mengundang sensasi media. Dia adalah seorang yang tegas dalam sikap tetapi santun dalam ekspresi. Mungkin benar juga, Mas Anies bukan seorang yang super cekatan merampungkan hal-hal pragmatis, seperti diduga sebagian teman saya. Mungkin. Tapi yang saya selalu yakini bahkan sampai saat ini adalah kesungguhannya untuk membangun karakter baik dalam pendidikan.

Ketika mengantar Lita ke sekolah di hari pertama sekolah, saya mengikuti pidato Ibu Kepala Sekolah. Belum pernah saya melihat seorang kepala sekolah menyampaikan pesan seorang menteri dengan sebegitu semangat dan penerimaan yang tak bisa disembunyikan. Pesan Mas Menteri itu adalah energi yang menjalar melalui kata-kata Ibu Kepala Sekolah dalam bentuk nasihat-nasihat sederhana namun prinsipil. Saya bersekimpulan, pesan Mas Menteri Anies tidak hanya hadir dalam lembaran surat atau disposisi kaku yang umumnya dilupakan seiring terhempasnya di rak arisp atau bahkan di tong sampah yang tua dan kumal. Pesan seorang Anies, hadir lewat semangat dan senyum kepala sekolah. Hari ini saya diliputi rasa optimisme.

Asti tidak berani menghentikan atau mengganggu saya ketika saya tercenung dalam isakan lirih. Dia tahu saya dan dia tahu betapa saya mengagumi seorang Anies sejak lama. Bagi saya, ini bukan soal kultus individu, ini adalah soal seorang manusia sekolahan seperti saya yang melihat idealisasi sebuah gagasan dan gerak yang menyatu pada seorang individu. Saya tidak terkejut dengan ide-ide Mas Anies karena itu merupakan milik banyak orang yang terdidik. Yang saya kagumi adalah kemampuannya mentransformasi ide dan idealism itu menjadi pesan yang mudah diiyakan, mudah untuk dituruti. Saya menjadi relawan Hari Pertama Sekolah karena saya percaya ide Mas Anies harus didukung. Saya ikut gerakan Turun Tangan karena seperti katanya, saya tidak boleh hanya urun angan. Saya dekat dengan para pengajar muda di Indonesia Mengajar karena saya tahu gagasan besar itu tak bisa tumbuh subur hanya dengan dipuji dan ditonton.

Saya yakin ribuan anak muda yang menjadi pengajar muda di Gerakan Indonesia Mengajar juga terpikat oleh kekuatan gagasan Mas Anies yang memancar lewat rangkain kata yang tersusun sedemikian rupa atau dalam bentuk tulisan-tulisan yang menyentuh dan membangunkan. Benar yang Mas Anies sampaikan, kita tidak bisa menjadi pahlawan sendiri. Dan bahwa kepimimpinan yang baik bukanlah yang menyelesaikan semua persoalan sendiri tetapi yang mampu menggerakkan orang lain untuk berbuat sesuatu. Mas Anies, tidak menyuruh saya untuk mempercayai dia tetapi mempercayai diri saya untuk bisa melakukan sesuatu perubahan meskipun kecil.

Saya tidak membiarkan diri saya mengumpat atau menyalahkan Pak Jokowi. Saya percaya dengan kebaikan beliau. Namun kebaikan saja tidak cukup untuk mempertahankan seorang Anies Baswedan yang memang tidak kuat secara politik. Pastilah ada banyak kalkulasi politik yang tidak akan bisa saya pahami dengan otak surveyor saya yang fakir pengetahuan politik. Yang saya tahu, selalu ada kalkulasi dan yang terjadi mungkin adalah yang terbaik.

Sementar itu, kekaguman dan terutama rasa terima kasih saya kepada Mas Anies tidak berkurang sedikit pun. Melihat kenyataan bahwa dia masuk dengan tegak serta keluar dengan gagah berani tanpa kasus yang berarti telah menguatkan hati saya untuk menjadikannya teladan. Saya mungkin adalah satu saja dari orang Indonesia yang cemen tetapi saya memilih menjadi cemen dengan sadar.

Hati saya ada bersama anak-anak sekolah yang sumringah datang ke sekolah di hari pertama karena sekolahnya ramah tanpa perploncoan. Semangat saya bersama guru-guru yang tidak lagi pusing hidupnya memikirkan cara terbaik memberi kunci jawaban pada anak-anak yang tertekan saat menjalani ujian yang seakan menentukan hidup matinya. Senyum saya bersama Lita dan teman-temannya yang tas sekolahnya tak lagi berat dan membuat tulang belakangnya cidera. Doa saya bersama Mas Anies yang telah berjuang mewujudkan semua itu. Terima kasih Mas Anies. Seperti kata Kaffee di A Few Good Men, “you don’t need to wear a patch on your arm to have honor”. Seorang Anies Baswedan tak harus menyandang pangkat menteri untuk disebut pahlawan dan pengubah.

Ps. Tulisan saya yang lain tentang Anies Baswedan

  1. Indonesia Mengajar
  2. Ketika Anies Baswedan Turun Tangan
  3. Tulisan Tangan Pak Menteri
  4. Pelajaran di Kursi 45
  5. Memetakan Anies Baswedan
  6. Apa Kabar Mahasiswa Aktivis Hari ini?
  7. Moderator

Rahasia di Balik Kedatangan Hassan Wirajuda

Alumni Teknik Geodesi UGM akhirnya bersikap atas silang sengkarut Laut Tiongkok Selatan. Kehebohan media tentang kedatangan kapal nelayan Tiongkok yang ‘mencuri’ ikan di perairan dekat Natuna, terjadinya insiden yang melibatkan petugas Indonesia, ‘provokasi’ petugas Tiongkok yang seakan tidak mengindahkan peringatan Indonesia menjadi warna yang membuat media masa hingar bingar. Suasana memang memanas, terutama pada bulan Maret hingga Juni 2016 dan media memberitakan dengan gegap gempita. Persoalannya, tidak banyak yang benar-benar paham duduk perkaranya.

Continue reading “Rahasia di Balik Kedatangan Hassan Wirajuda”

Kekalahan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan?

Yang ditunggu-tunggu tentang Laut Tiongkok Selatan (LTS) akhirnya tiba. Teka-teki yang menyisakan pertanyaan dan bahkan ketidakpastian akhirnya terungkap dengan terang benderang. Permanent Court of Arbitration (PCA) yang berkedudukan di Den Haag, Belanda akhirnya memutuskan kasus Laut Tiongkok Selatan antara Filipina dan Tiongkok. Putusan PCA ini akan menjadi yurisprudensi, sebuah hukum baru, yang menegaskan, menjelaskan dan mendukung Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) dengan ketentuan-ketentuan yang lebih rinci.

Continue reading “Kekalahan Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan?”