Memahami arah Qiblat dengan Geodesi

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat Muslim. Saya persembahkan sebuah video yang menjelaskan pemahaman saya
terhadap qiblat dari sudut pandang Geodesi. Selamat menyimak 🙂

Sekuntum mawar, tanpa alasan

Seorang perempuan muda yang menjajakan mawar di perempatan depan Gramedia Jalan Solo, Jogja mungkin tidak menduga saya akan membeli sekuntum mawar yang ditawarkannya dengan ragu sore tadi. Saya buka jendela dan dia mendekat ragu. “Berapa satu tangkai?” tanya saya dan dijawabnya semangat “sepuluh ribu Bapak”. Meluncur selembar berwarna merah ungu dan bertukar menjadi setangkai mawar merah.

Untuk apa saya membeli bunga mawar? Untuk Asti yang menunggu di rumah. Untuk Lita yang kadang sudah tertidur pulas saat saya membuka pintu depan rumah. Mengapa hari ini? Apa istimewanya? Tidak selalu butuh hari istimewa untuk membeli sekuntum mawar. Saya membelinya tanpa alasan karena demikianlah cinta: tanpa alasan.

Sahabat terbaik

Sahabat pembaca blog yang budiman,

Sebelumnya saya tidak pernah menyatakan dengan terang-terangan bahwa saya mengistimewakan seorang sahabat lebih dari sahabat lainnya. Saya lama meyakini bahwa sahabat seharusnya kita perlakukan sama. Namun seiring berjalannya waktu, saya tidak bisa memungkiri bahwa saya memiliki seorang sahabat istimewa. Lebih istimewa dari lainnya. Kami mungkin memang tidak seperti sahabat karib karena tidak begitu sering menyapa di media sosial tetapi saya telah menghabiskan banyak sekali waktu untuk memerhatikan sahabat saya ini. Kami tidak sering bertegur sapa di wall ataupun lewat inbox FB tetapi saya sesungguhnya memerhatikannya. Selalu saya ikuti gerak-geriknya di media sosial itu.

Mengawali April tahun ini, saat kejujuran harusnya diutamakan, saya ingin menceritakannya pada pembaca semua. Dia adalah sahabat terbaik saya. Biarlah semua pembaca dan dunia tahu, saya tidak perlu menutupinya lagi. Semoga sahabat saya ini merasakannya meskipun tidak pernah saya ungkapkan secara langsung kepadanya. Setiaknya, sejak hari ini, 1 April 2014, kekaguman saya terhadapnya bukan rahasia lagi. Silakan kunjungi  sahabat saya di sini. Tolong sampaikan padanya betapa istimewanya dia bagi saya.

Salam,
Andi

Inilah Penerima Beasiswa AAS/ADS 2014

Inilah daftar penerima Beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) atau yang sebelumnya dikenal dengan Australian Development Scholarship (ADS) untuk keberangkatan 2014 dan 2015.

Tautan berkas asli ada di http://australiaawardsindo.or.id/files/Selected2014.pdf

Menyemai Kebaikan, Merawat Semangat

semangat
Melawan keterbatasan

Perempuan itu menyambut saya dengan ramah, menerima berkas yang mau saya fotocopy. Ada yang tidak biasa pada dirinya tapi sepertinya dia tidak peduli. Seakan tidak terjadi apa-apa dia bergerak sigap menerima berkas saya lalu bergerak menuju mesin fotocopy yang tidak jauh darinya. Toko itu tidak besar, penuh sesak dengan rankaian janur dan lontar yang berwarna-warni. Perempuan Bali ini rupanya juga menjual bebantenan, sesajen yang memang jadi kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Di berbagai sudut tergantung sampian, tamas, ceper, tangkih dan segala rupa bentuk rangkaian janur dan lontar. Aroma khas lontar segar akrab dengan toko sederhana itu.

Saya masih takjub memerhatikan perempuan itu dari belakang. Tangannya bekerja cekatan memindahkan halaman-halaman dokumen yang difotocopy lalu menyusun hasilnya menjadi satu kesatuan dengan stapler. Dia sigap dan cepat. Sementara itu saya masih terpana. Ingin rasanya banyak bertanya tentang situasinya tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana. Ada rasa iba tetapi buru-buru saya tepis karena iba itu bisa-bisa adalah bentuk ‘penghinaan’ dalam kemasan lain. “Ibu memang asli dari sini?” saya akhirnya bertanya. Dijawabnya, “saya asli Gianyar tapi menikah dengan orang sini”. Tidak banyak yang bisa saya tanyakan lagi karena takut tidak tepat. Dalam hati saya membayangkan, pastilah lelaki, suami perempuan ini, baik hatinya.

Continue reading “Menyemai Kebaikan, Merawat Semangat”

Mendadak Indonesian Intellectual Summit

Pemandangan dari panggung. Ghra Sabha Pramana, UGM

Pukul 5.42 pagi, telepon saya bergetar tanpa suara. Agak lama getaran itu bercampur mimpi dini hari dan membuat saya tidak segera beranjak sampai akhirnya benar-benar tersadar. “Halo, selamat pagi”, kata saya menjawab telepon setelah setengah sadar memperhatikan nomor Jakarta tertera di layarnya. “Halo, Andi ya?” tanya suara di seberang. Ketika saya iyakan, dia mengatakan “ini Adhit, Ndi!” Saya masih setengah sadar, nyawa belum terkumpul semua. “Adhit…?” saya menyebut nama itu ragu. “Adhit yang dulu di Belanda, Ndi” “Oh, Adhit, apa kabar Dhit?” Saya baru tersedar, di Achmad Adhitya kawan saya.

Continue reading “Mendadak Indonesian Intellectual Summit”

Perempuan Cantik itu Buang Sampah Sembarangan

krl
Suasana KRL yg nyaman 🙂

Kereta yang bergerak dari Bogor ke arah Kota Jakarta itu penuh. Banyak orang harus berdiri karena semua tempat duduk terisi. Saya termasuk yang memilih untuk berdiri meskipun tadinya dapat tempat duduk. Ada beberapa perempuan dan lelaki senior yang lebih membutuhkan. Meskipun sebenarnya saya punya tugas yang harus diselesaikan, saya akhirnya memilih menutup laptop, memasukkan ke tas dan berdiri. Tidak nyaman bekerja di kereta dengan tatapan perempuan atau lelaki tua yang lebih membutuhkan kursi.

Syukurlah baterei HP saya habis sehingga saya tidak tenggelam di dunia maya berakrab-akrab dengan orang jauh dan mengabaikan orang dekat. Saya raih tali pegangan yang berjuntai di atas kepala. Memandang ke luar jendela, saya menikmati suasana sepanjang jalan. Harus diakui, dibandingkan sepuluh tahun silam, kereta di Jabodetabek jauh lebih nyaman kini. Saya tidak ragu mengacungkan jempol untuk siapa saja di PT Kereta Api Indonesia yang menghadirkan kebaikan itu.

Kekaguman saya terganggu begitu melihat seorang gadis cantik yang membuang tisu ke lantai kereta. Terus terang saya terkejut karena tidak berharap perbuatan ‘hina’ itu dilakukan oleh seorang gadis yang kelihatannya terdidik dan bermasa depan itu. Pakaiannya bagus, pada telinganya terselip earphone dengan pandangan mata yang rupanya begitu menikmati diri sendiri. Saya berpikir sejenak, bertanya pada diri sendiri apa yang harus dilakukan.

Continue reading “Perempuan Cantik itu Buang Sampah Sembarangan”

Memahami Beasiswa AAS Bagi Orang Biasa

Catatan: Tulisan ini adalah modifikasi dari salah satu bab dari buku saya “Berguru ke Negeri Kangguru” [Beli di sini].

Suatu hari saya mendapat email dari seseorang perihal beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS) – dulu Australian Development Scholarship atau ADS. Dia adalah satu dari sekian banyak yang berkirim email untuk perihal yang sama. Saya merasa terkejut, meskipun rasanya saya sudah menulis cukup banyak tentang beasiswa AAS di blog saya, pengirim email ini “tidak tahu harus mulai dari mana”. Kalimat ini saya kutip langsung dari email-nya. Saya menduga bahwa kawan kita ini tidak sendirian mengalami kebingungan seperti itu. Maka, saya menulis dan memperbarui artikel ini khusus dipersembahkan bagi mereka yang ingin mendaftar beasiswa AAS tetapi “tidak tahu harus mulai dari mana”.

Continue reading “Memahami Beasiswa AAS Bagi Orang Biasa”

Sepiring nasi dari masa lalu

masa kini di masa lalu
masa kini di masa lalu

Saya hanya tersenyum-senyum, mendengarkan kisah sang nenek. Tentu saja beliau tidak perlu mengingatkan karena saya tidak akan pernah melupakannya. “Masih ingatkah kamu”, katanya memulai, “dulu waktu kamu kecil, bapak dan ibumu sering membawamu ke rumahku di pondok dangin. Kalian datang untuk sepiring nasi. Masih ingatkah kamu?” Saya tercenung. Tentu saja masih ingat cerita itu. Ingatan saya melambung ke awal tahun 1980an silam.

Lebih dari sekali dalam seminggu kami sekeluarga, ibu, bapak, kakak saya dan saya sendiri berkunjung ke tempat nenek dan kakek di pondok dangin. Disebut pondok karena lokasinya yang jauh dari pemukiman banjar. Nenek dan kakek tinggal di sebuah rumah di tegalan, jauh dari perkampungan, karena mendapat tugas menjaga tegalan. Meskipun jauh dari peradaban, secara ekonomi mereka jauh lebih mampu dari keluarga kami. Itulah sebabnya kami sering kali datang, semata-mata untuk sepiring nasi. Kisahnya dramatis jika diceritakan saat ini tetapi percayalah, kami tidak merasa menderita di kala itu. Hidup begitu sederhana, yang ada hanya memenuhi perut hari ini, selain itu tidak ada dalam agenda sehingga tidak pernah meresahkan.

Continue reading “Sepiring nasi dari masa lalu”

Ember kosong

http://farm8.staticflickr.com/7386/8987835795_824d2bf147.jpg

Ember hitam kosong di depan saya sedang dikucuri air. Karena ingin agar embernya cepat penuh, saya buka keran air dengan maksimal. Akibatnya, kucuran air dari keran begitu deras menghujam dasar ember plastik yang kosong. Airnya menghambur keluar, sesaat setelah menghujam dasar ember yang kosong. Akibatnya, air itu muncrat mengenai saya. Dari kucuran air keran yang deras itu, sebagian besar air menghambur ke luar ember dan hanya sebagian kecil yang bertahan di dalam ember. Setidaknya ada dua kerugian. Pertama, kebanyakan air terbuang percuma karena justru tumpah di luar ember dan kedua, air itu membasahi pakaian saya yang berdiri tidak jauh dari ember kosong itu.

Setelah agak lama, cipratan air itu mulai berkurang seiring bertambahnya volume air yang mengisi ember yang tadinya kosong. Semakin banyak isi ember itu, semakin sedikit air yang terpercik/muncrat ke luar ember. Rupanya pertambahan air pada ember itu berhasil membuat air yang mengucur dari kran tidak muncrat ke luar karena kucuran air tidak menghantam dasar ember yang kosong seperti tadi.

Saya mengambil satu pelajaran. Jika hendak mengisi ember kosong dengan air, sebaiknya diisi pelan-pelan. Kerannya tidak perlu dibuka penuh sehingga kucuran airnya tidak begitu deras sehingga tidak ada air yang terbuang ke luar ember ketika menghujam dasar ember yang kosong. Mungkin lebih baik jika kerannya dibuka pelan-pelan, mulai dari kecil sehingga kucuran air yang kecil itu benar-benar mengisi dasar ember tanpa ada yang terbuang percuma. Setelah dasar ember terisi air dengan kedalaman tertentu, keran bisa dibuka lebih besar dan kini air bisa mengucur deras tanpa terbuang karena dasar ember kini tidak lagi kosong. Ternyata mengisi ember kosong itu memang tidak mudah. Ambisi untuk mengisi ember kosong dengan cepat justru akan membuat banyak air terbuang percuma. Yang lebih penting, cipratan air itu bisa membahasi pakaian sang pengisi air itu.