Wajahnya sederhana dengan jaket yang sepertinya sudah bebal dengan tikaman sinar matahari. Dia seorang pemuda bermotor yang ada dalam jangkauan saya ketika tragedi itu terjadi. Mobil saya mogok karena alasan kebodohan yang teramat memalukan: bensinnya habis. Tentu bukan lantaran tidak punya uang untuk membeli bensin. Prahara itu terjadi semata-mata karena teledor dan ceroboh tidak segera membeli bensin meskipun indikator bensin sudah memberi peringatan sejak kemarinnya. Inilah buah kemalasan dan ‘salah fokus’ yang akut dan berlebihan.
Category: Renungan
Kamu punya Mental Beasiswa?
- Meraih Beasiswa LN itu, selain soal akademik, soal mental juga. Saya akan share hasil interaksi dengan orang-orang yang punya atau tidak punya Mental Beasiswa.
- Jika takut jadi minoritas, takut budaya baru, takut tidak alim lagi hanya gara-gara dikelilingi orang yang bergaul bebas, mungkin beasiswa luar negeri bukan untuk kamu.
- Jika syarat beasiswa saja kamu tidak berhasil dapatkan di website resminya artinya Mental Beasiswa kamu belum mencukupi 🙂
- Jika setiap kali kesulitan mengisi formulir kamu tidak segera baca panduan tapi langsung kirim email dan tanya, kamu tidak punya Mental Beasiswa.
- Jika meliat buku panduan beasiswa yang tebal kamu sudah pusing dan buru-buru tanya teman. Jangan daftar beasiswa!
- Saat melihat formulir beasiswa, kamu merasa tertantang atau gentar? Ini soal Mental Beasiswa bukan soal akademik.
- Kalau masih mikir ‘mendingan tanya langsung daripada baca artikel/buku panduan‘, kamu nggak punya Mental Beasiswa.
- Sebelum tanya, coba pikir ‘masa’ sih soal begini gak dijelaskan di website resminya?’ Mungkin kamu nggak jadi tanya. Ini soal Mental Beasiswa.
- Jika untuk menelusuri info di website resmi saja kamu merasa kerepotan dan gentar, yakin mau daftar beasiswa?!
- Ada ribuan orang yang memenuhi syarat beasiswa. Hanya orang dengan Mental Beasiswa yang cukup yang akan menang. Yang cemen, minggir aja!
Mengingatkan, diingatkan
Malam kemarin, saya pulang agak malam dari kantor. Di jalan menuju tempat parkir ada sekelompok mahasiswa duduk diskusi sebanyak 20 orang atau mungkin lebih. Dari jauh saya amati, diskusinya akrab dan seru. Saking serunya, mereka seperti tidak memperhatikan sekitar. Yang lebih menarik, mereka duduk di jalan, sebuah koridor sempit di Gedung Pusat UGM. Kian mendekat, saya berharap para mahasiswa ini menyadari bahwa mereka menghalangi jalan. Ternyata tidak. Mereka masih asyik berdiskusi dan tidak peduli dengan orang yang akan melewati jalan yang sedang mereka kuasai.
Presentasi saya di Monash University
Pada tanggal 15 Februari lalu saya diundang oleh Monash University bekerjasama dengan Swinburne University di Australia untuk memaparkan pandangan saya terkait batas maritim di Laut Timor. Sebuah kehormatan diundang untuk memberikan pidato kunci bersama tiga orang hebat: Prof. D Rothwell (ANU), Prof. D. Anton (Griffith) dan Ambassador Guterres (Timor Leste).
Presentasi ini divideokan oleh Monash University dan bisa dinikmati di Vimeo. Sialakan menikmati sajian berikut.
Ini adalah acara tanya jawab:
Berita Baik, Berita Buruk
Saya masih duduk di atas motor selepas menurunkan Lita di sekolahnya pagi itu. Setelah salim, Lita segera melesat, hilang di tengah kerumunan teman-temanya. Di depan saya, ada seorang lelaki bermotor baru saja menurunkan dua anak kecil yang juga sekolah di sana. Lelaki itu nampak keren dan sangat lelaki. Jaketnya sporty dengan perawakan tinggi besar. Beliau tidak turun dari motor tetapi dengan tertib memastikan dua anak kecil itu turun dan siap melesat menuju kelas mereka.
Doa Malam
Wahai gelap gulita, berdoalah bersamaku. Cakupkan tanganmu di atas ubun-ubun atau lakukanlah seperti yang diajarkan leluhur kepadamu. Kita bertumbuh dari akar yang sama tetapi ritualmu mungkin berbeda. Berdoalah bersamaku dengan caramu karena yang kupentingkan bukan tata cara tetapi makna.
Tragedi di Bandara
Puluhan mobil tidak bergerak di depan kami. Sejauh mata memandang, deretan kendaraan terjebak dalam kemacetan yang parah. Ring Road Utara, Jogja, yang seharusnya membawa kami ke Bandara Adi Sucipto benar-benar padat. Sementara waktu bergerak cepat, seakan lebih cepat dari seharusnya. Saya yang nyetir menjadi gelisah dan tidak sabar. Berkali-kali saya lihat jam tangan dan waktu boarding kian dekat. Kurang dari satu jam waktu boarding, kami masih terjebak di tengah kemacetan yang parah luar biasa. Asti, isteri saya, yang duduk di sebelah kiri saya berusaha tenang meskipun tentu gelisah. Beberapa menit lagi, kami pasti ketinggalan pesawat ke Surabaya.
MEA itu apa sih?
Bayangkan, besok setelah kamu menyandang gelar sarjana, seorang berkebangsaan Filipina yang bekerja di sebuah institusi di Singapura menelpon kamu yang tinggal di Sleman, Jogja. Orang itu menawarkan sebuah proyek pemberdayaan masyarakat di sebuah desa pedalaman di Myanmar bagian utara. kamu dihubungi karena melihat CV kamu di Linked In atau Facebook. Jika tertarik menangani proyek itu, kamu diharuskan membentuk tim yang terdiri dari orang Malaysia, Thailand dan Vietnam. Bayangkan, seminggu kemudian kamu ditunggu di sebuah desa di Myanmar dengan tim kamu. Demikianlah Masyarakat Ekonomi ASEAN alias MEA alias ASEAN Economic Society alias AEC.
Payung dari UGM
Belakangan ini, Jogja diguyur hujan hampir setiap sore. Tidak terkecuali sore itu ketika saya pulang kantor saat hari sudah mulai gelap. Hujan turun konstan meskipun tidak lebat. Saya pikir saya bisa menuju parkir mobil tanpa payung meskipun mungkin akan sedikit basah. Saya berjalan dengan langkah mantap di Balairung UGM menuju parkir mobil, bersiap-siap untuk melesat ke rumah.
Saat melewati pos keamanan kampus, ada seorang petugas keamanan perempuan yang mengejar saya. “Pak, hujan lo Pak” kata perempuan itu sopan. “Ya, nih. Tapi nggap apa-apa, saya harus segera pulang” demikian saya menjawab. “Pakai payung saja Pak” katanya sambil dengan sigap mengambilkan payung yang ada di situ dan menyodorkannya pada saya. Petugas ini nampaknya tidak mengenal saya dengan baik tetapi dia merasa perlu melakukan semua itu. “Tapi nanti gimana payungna ini?” saya bertanya karena tidak paham bagaimana saya bisa mengembalikan payung itu. “Bawa saja Pak, besok Bapak kembalikan ke sini” katanya sopan namun jelas dan tegas. Ada senyum dalam penjelasan itu.
Saya selalu bangga dengan UGM. Saya bangga dengan prestasi dan reputasinya yang tinggi dan mendunia. Sore itu saya seperti diingatkan bahwa kepedulian yang tulus seperti ini yang sejatinya menjadi karakter universitas kerakyatan ini. Seraya kita berjuang keras untuk menarik perhatian dan pengakuan dunia, saya senang UGM tidak lupa meneruskan tradisi kebaikan-kebaikan kecil saat diperlukan. Saya rasa itulah sifat UGM yang sesungguhnya. Sederhana, penuh cinta dan peduli. Seperti kata Bung Karno, “Gadjah Mada adalah sumbermu. Gadjah Mada adalah mata airmu. Mengalirlah ke laut pengabdian kepada Rakyat. Bukan kepada kemuktian Diri.” Lewat payung UGM yang melindungi saya sore itu, saya seperti mendengar sayup-sayup petuah dari Sang Proklamator itu.
Lelaki Penakut
Jika kautanya pada geromboloan burung gereja yang bertengger malas di bubungan bale bengong atau yang nakal trenginas mencuri setangkup nasi setengah basi yang terpapar di bawah pohon kamboja, mungkin kamu akan dapatkan jawaban biasa. Mereka pasti akan bersorak satu kata bahwa aku adalah lelaki periang yang tak kenal takut. Mereka mungkin akan mengumandangkan satu mantera tentang aku yang percaya diri, tenang dan tak gentar akan hiruk pikuk dunia. Burung-burung itu mungkin salah.