Konferensi dan studi banding

This is a seminar, not a conference 🙂

Teman saya pernah bilang “hebat ya, sudah konferensi ke mana-mana. Banyak duit dong!” He just had no idea. Konferensi itu tidak membuat seorang peneliti banyak duit, percayalah. Salah-salah bisa jadi miskin.

Konferensi itu, dalam bahasa sederhana, adalah sebuah forum yang mempertemukan para peneliti untuk bisa menyampaikan temuan terbarunya. Konferensi itu diselenggarakan oleh asosiasi profesi/ilmiah sebagai wadah terjadi pertukaran gagasan. Misalnya, Anda sedang melakukan penelitian dan ingin agar kemajuan penelitian itu diketahui peneliti lain sekaligus untuk mendapat masukan, maka Anda datang ke konferensi. Partisipasi di sebuah konferensi biasanya ditandai dengan menyerahkan paper, presentasi oral atau presentasi poster. Yang lebih penting, partisipasi konferensi adalah keinginan sendiri dengan usaha sendiri dan terutama dengan biaya sendiri. Memang ada kemungkinan beberapa peserta konferensi terpilih dan didanai partisipasinya oleh penyelenggara tetapi ini sangat jarang. Jadi, umumnya konferensi itu terkait erat dengan menghabiskan uang, bukan mendapatkan uang.

Continue reading “Konferensi dan studi banding”

Angka-angka misterius

http://writemeout.wordpress.com/

Saya ingin bercerita soal angka-angka misterius. Ini tidak penting tetapi cukup menarik untuk diingat. Yang paling menarik adalah pertemuan saya dengan Asti pada tanggal 7/9/97. Asti Kelahiran 79 dan angkatan 97 di UGM. Hal menarik kedua adalah tentang angka yang terpampang di sebuah lemari. Tahun 2004 saya membeli sebuah lemari pakaian bekas di Sydney saat mulai sekolah. Di belakang lemari itu tertulis sebuah nomor empat angka. Lemari itu kami tempatkan sedemikian rupa sehingga bagian belakangnya menutupi tempat tidur. Setiap malam, angka itu kami pandangi, sengaja ataupun tidak. Beberapa saat kemudian kami membeli sepetak tanah dengan nomor sertifikat yang persis sama dengan angka yang tertera di belakang lemari itu. Cukup mengesankan.

Beberapa hari lalu saya memenangkan sebuah lomba penulisan esai di Belanda. Ternyata jumlah pesertanya 54 tulisan dari berbagai benua. Kemarin saya membaca-baca catatan saya tiga tahun lalu ketika memenangkan Olimpiade Karya Tulus Inovatif di Paris dan menemukan bahwa peserta lomba itu juga 54 tulisan. Kenyataan ini membuat saya tersenyum-senyum.

Apa artinya? Tidak ada makna yang serius. Hanya saja, misteri ini menarik untuk saya ingat dan membuat tersenyum di kala iseng. Tidak lebih tidak kurang. Adakah hal mirip yang terjadi pada hidup Anda? Oh satu lagi, saya menikah pada tanggal 14 April, tepat 91 tahun setelah Jack Dowson melukis Rose Dewitt Bukater di kapal Titanic 🙂

Panduan Menulis Proposal Penelitian

Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D. (biasa saya panggil Katirn), kawan saya di Unpar Bandung, berbaik hati mengompilasi berbagai bahan menjadi sebuah panduan menulis proposal penelitian (research proposal). Sebagian bahannya saya sumbangkan dari tulisan sebelumnya. Di tangan Katirn, tulisan ini jadi sangat cantik. Saya sarankan untuk membaca panduan ini bagi mereka yang akan membuat proposal penelitian, terutama bagi pejuang beasiswa luar negeri. Selain teori, ada juga contoh yang diambil dari sumber-sumber terpercaya. Meskipun beberapa contoh diambil dari Australia dan strukturnya menyesuaikan dengan proposal Beasiswa ADS, saya yakin Panduan Menulis Proposal Penelitian (pdf) bisa digunakan untuk kepentingan studi di manapun. Selamat membaca 🙂

Ide Juara yang Sederhana, Sebuah Ide untuk Jakarta

Saya mengikuti sebuah lomba penulisan esai bertema “Solusi untuk Jakarta” yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Indonesia (KMI) Belanda. Yang menarik tentu saja hasilnya. Saya menjadi juara dari 54 peserta di Asia, Australia, Amerika dan Eropa. Hasilnya sudah jelas, saya ingin mengungkap cerita di baliknya.

Continue reading “Ide Juara yang Sederhana, Sebuah Ide untuk Jakarta”

Learning English: Ibu Astini and the French Couple

http://luxagraf.net/

I was reading an inspiring story from my good friend, Subhan. He wrote about a student by the name of Sentot who studied English in Jakarta. I eventually discovered that the story is autobiographical and Sentot is in fact Subhan himself. The story reminds me of my own experience in learning English.

It was in 1990 when I started learning English in my Junior High School. To me, English is fascinating and I fell in love to the language the first day I started learning it. Ibu Astini, my English teacher, should be given the credit since she managed to captivate me with her charm on the first day of her class. I still remember, we learned numbers on that day. Since everybody seemed to be quite familiar with numbers, Ibu Astini started the class by asking us to spell out numbers and write them on the blackboard. Yes, we still used chalks and blackboard back then. I was amazed by the way English words are spelled out. How can one pronounce “one” as /wʌn/? It did not make any sense to me at the beginning but I liked it. Put simply, I feel in love with English that day.

Continue reading “Learning English: Ibu Astini and the French Couple”

Indonesia-Malaysia MoU, good news for fishermen

20120430-184311.jpg

Video kuliah online – tiada jarak di antara kita

Inilah video kuliah online yang saya lakukan dari Wollongong untuk Mahasiswa Master Teknik Industri ITS, seperti yang ulasannya saya tulis beberapa waktu lalu.

Video 1

Video 2

Tips dan Trik Presentasi

Saya pernah menulis di blog ini tentang tips presentasi. Saya mencoba meng-audio-visualkan posting tersebut dan saya bawakan dalam sebuah diskusi di fotum Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia Ranting Wollongong. Berikut adalah hasilnya:

Melihat dalam Kegelapan

from: tinypic.com

Selama dua hari terakhir, blog saya dikunjungi cukup banyak orang. Traffic blog yang biasanya berkisar pada angkat 200-300 pengunjung perhari, meningkat jadi di atas seribu bahkan lebih dari dua ribu. Tulisan terkait perjuangan Asti meraih Beasiswa ADS rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca blog, terutama pejuang beasiswa.

Hari ini saya memperoleh komentar dari seorang yang tidak biasa, bernama Taufiq Effendi. Saya berani tuliskan namanya karena beliau memberi komentar di blog ini dan artinya tidak keberatan jika namanya diketahui khalayak. Seperti yang beliau akui, Taufiq Effendi adalah seorang tuna netra, tidak bisa melihat.

Hal pertama yang membuat saya tertegun adalah bahwa tulisan saya ternyata dinikmati oleh sahabat yg tuna netra, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan apalagi persiapkan. Pertanyaan sederhana pertama yang muncul adalah “bagaimana teman-teman tuna netra bisa menikmati tulisan saya yang tidak bisa diraba?”

Continue reading “Melihat dalam Kegelapan”

Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran

Sore itu saya mengajak Lita, anak saya, pergi ke pancuran di dekat rumah di Tabanan Bali. Beji, orang Bali menyebutnya, sebagai tempat untuk mengambil air suci saat upacara di Pura yang ada di desa. Pancuran ini tidak pernah kering, selalu berlimpah air bahkan di musim kemarau yang paling panjang sekalipun. Konon ini sudah terjadi sejak zaman dahulu, seperti diceritakan oleh orang tertua di kampung kami.

Saya menelusuri jalan setapak yang kini berbeton kuat. Ingatan saya melayang ke suatu masa 20 tahun silam saat menyusuri jalan yang sama dengan sepeda gayung. Saat itu saya masih kelas 1 SMP, berusia sekitar 13 tahun. Jalanan waktu itu berlumpur dan ditumbuhi rumput yang liar. Lumpur dan rumpur di musim hujan adalah paduan sempurna yang tidak pernah membiarkan sepatu saya bersih sampai di sekolah. Sore itu saya termenung sendiri sambil menceritakan hal itu pada Lita. Dia mungkin mengerti ceritanya tetapi sepertinya tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan dulu. Di jalanan yang terjal dan licin seperti itu, sepeda lebih sering dituntun daripada dinaiki, itu pasti. Ingatan saya juga melayang ke SMP 2 Marga dan terutama guru-gurunya yang meletakkan landasan yang kuat bagi pengetahuan saya saat ini.

Continue reading “Putri Malu, Elin dan Ikan Kecil di Pancuran”