Belajar Bahasa Inggris


Entah apa alasannya, banyak kawan yang bertanya pada saya, bagaimana cara belajar Bahasa Inggris. Seringkali saya tidak bisa menjawab dengan gamblang pertanyaan semacam ini karena memang tidak mudah. Belajar adalah seni, saya masih menganut kepercayaan ini.

Posting ini bukanlah tentang bagaimana cara belajar Bahasa Inggris tetapi kisah seorang Andi belajar Bahasa Inggris 17 tahun yang lalu di bangku SMP. Berbeda dengan anak sekarang yang belajar Bahasa Inggris sejak pra-TK, saya yang berasal dan besar di desa terpencil di Tabanan mulai belajar Bahasa Inggris di kelas 1 SMP. Sebelum itu, tidak ada satupun orang yang mengajarkan Bahasa Inggris pada saya walaupun sejak awal saya merasa suka dengan bahasa ini. Setidaknya melalui film kartun yang ditonton di rumah Pak Wayan Sukantra, guru agama kami, saya belajar satu dua tiga kata seperti yes, no, dan danger. Kata “danger” paling sering terlihat di film kartun, terutama di pesawat yang hampir jatuh :))

Layaknya belajar bahasa di Indonesia pada umumnya, mengenal abjad adalah langkah pertama. Hari itu adalah hari pertama kelas Bahasa Inggris. Guru saya bernama Ni Made Astini, guru favorit saya hingga hari ini. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang saya masih sering mengunjungi beliau di Sekolah SMP dan beberapa kali menemani beliau mengajar di kelas. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami berdua.

“Sekarang kita belajar mengenal abjad dalam Bahasa Inggris”, begitu Ibu Astini memulai setelah menuliskan 26 abjad di papan tulis. “Ibu akan mengucapkan terlebih dahulu dan kalian mengikuti, ya?!” Muridpun menjawab serempak dan lantang “Ya Bu…”. Mulailah Bu Astini beraksi “ei, bi, si, di, i” dan seterusnya yang diikuti dengan cukup mudah oleh kami di kelas itu. Perlahan-lahan saya membangun pemahaman sendiri bahwa pengucapan abjad Bahasa Inggris mirip sekali dengan Bahasa Indonesia, cuma memang diucapkan dengan cara yang lebih “nggaya”. Semakin “nggaya” kita mengucapkan, semakin baiklah dia terdengar. Begitu saya berpendapat. Teman-teman sayapun nampak menikmati.

Namun kelancaran itu tidak belangsung lama, kesulitan mulai muncul ketika Ibu Astini sampai pada huruf “W”. Tentu saja semua orang berharap huruf “w” dibaca “wi” seperti halnya “d” dibaca “di”, “t” dibaca “ti”, “p” dibaca “pi” dan sebagainya. Kalaupun ada penyimpangan sedikit, pastilah tidak terlalu jauh, seperti “q” yang dibaca “qyu”, dan “r” yang dibaca “ar”. Tentu saja kami keliru karena kemudian Bu Astini menyebutkan “dabelyu”. Kontan saja anak-anak terdiam, tidak yakin kalau “w” benar-benar harus dibaca “dabelyu”. Ibu Astini rupanya mengerti dan mengulangnya sekali lagi sambil menghentakkan penggarisnya di papan, tepat mengenai huruf “w”. Kamipun mengerti dan menirukan “dabelyu”. Ibu Astini mengulang lagi dengan menyebut “dabelyu” karena mungkin menurut beliau kami masih kurang yakin sehingga tidak kompak. Kamipun dengan sangat yakin dan percaya diri berteriak “dabelyu”.

Ibu Astini tersenyum dan mengucapkan “wans egin” [once again]” sambil memandang kami. Dalam situasi seperti itu entah apa yang ada dalam pikiran kami, dengan yakin dan penuh percaya diri kami berujar “wans egin” yang membuat ibu guru tersentak kaget dan beberapa detik kemudian terpingkal-pingkal di kelas tidak kuasa menahan tawa. Kami yang di depannya terpana dan tidak mengerti apa yang terjadi. Nampak beberapa kawan saling pandang. Tidak satupun dari kami yang bersuara, apalagi tertawa. Semua diam, tidak mengerti mengapa guru kami terpingkal-pingkal di ruang kelas.

Dalam analisis kritis saya yang baru berusia 12 tahun saat itu, saya mengganggap apa yang kami katakan sudah persis seperti apa yang dikatakan Ibu Astini. Mengapa beliau tertawa? Yang saya sadari adalah bahwa pengucapan huruf-huruf terakhir dalam urutan abjad memang aneh, tidak sama atau tidak mirip dengan Bahasa Indonesia. Kalau huruf-huruf awal masih diucapkan mirip dengan Bahasa Indonesia, maka huruf-huruf di urutan terakhir sangatlah berbeda. Saya berpikir, kalau “w” saja bisa menjadi “dabelyu”, tentu saja “x” bisa jadi “wans egin”. Lama kami tidak mengerti sampai akhirnya Ibu Astini menjelaskan yang disambut riuh tawa saya dan teman-teman. Begitulan seorang Andi 17 tahun yang lalu.

Kalau saja dibiarkan pemahaman kami seperti itu, sangat mungkin “y” akan dibaca “kam on” dan “z” bisa menjadi “yu ar so fani”

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

13 thoughts on “Belajar Bahasa Inggris”

  1. Hahaha.. Nice.. emang sih belajar bahasa susah2 gampang..
    Btw, danger emang sering ada di felem kartun ya.. macem tom & jerry gitu, hehehe..

  2. aduuuuh belajr bahasa inggris memang susah yah……..

    how to learn english…………………..i don;t now

    aduuuuh klo ada yg bisa tolong ajrin aku yah………………………………..
    pokoknya truz learn to english

    :p

    good luck to english

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s