Orang-orang gelap


Pak Ujang asal Majalengka, bergumam sambil mengais-ngais sampah di riuhnya Manhattan. Di pojok lainnya Mas Jumono menggerakkan alat pel dengan tangkasnya. Mereka berdua bekerja untuk orang-orang yang menikmati keindahan kunang-kungan di Manhattan. Mereka adalah orang-orang gelap yang ketika kauinjak hak dan harga dirinya mereka memilih diam saja.

Made Sungkrug memainkan gitar tua di sebuah apartemen sederhana. Dihisapnya rokok sambil mendendangkan satu dua lagu tentang tanah kelahirannya. Made adalah satu saja dari orang-orang gelap, yang bila kautanya kapan pulang, akan menjawab dengan senyum getir. Mereka adalah orang-orang gelap yang entah kapan sempat kembali pulang. Bernyanyi dan menghisap rokok adalah hiburannya di sela kerja yang melelahkan.

Tengku Imam tertunduk dan tak berani mendongak tatkala tak sengaja menang lotre. Bukan lantaran agama yang melarangnya berjudi tetapi karena uangnya tak bisa dibelanjakannya. Tengku Imam adalah orang-orang gelap yang ketika ditanya social security number akan meringis. Orang-orang gelap ini berpakaian rapi, berpenghasilan tidak kurang tetapi tidak pernah ada. Tidak pernah tercatat dan tidak pernah dianggap dalam buku penting kehidupan negeri ini. Merekalah orang-orang gelap yang tidak penting tetapi penting.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s