Setelah Bercinta di Manhattan


Biarlah hanya saya yang mengerti makna tersembunyi di balik judul posting ini. Yang ingin saya sampaikan, Manhattan bukanlah Manhattan di New York, US walaupun saya memang sedang termenung di sebuah kamar di Queens, 40 menit dari Manhattan, New York. Manhattan dalam tulisan ini adalah Hotel Manhattan di Jakarta. Tanggal 10 September lalu saya memang dibawa oleh cinta menghabiskan malam di sebuah kamar di lantai 29 hotel itu. Ada pergulatan cinta juga memang, karena semua memang karena cinta. Cinta adalah satu-satunya alasan. Sebelum melanjutkan membaca cerita di bawah, kabar sebelumnya wajib Anda simak. Saya pernah bercerita tentang ALA dan Hotel Manhattan. Tanpanya, cerita saya ini tak kan bermakna.

Hari ini, setelah satu setengah bulan peristiwa itu, saya mendapat kabar baik. Saya dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa ALA. Rasanya tidak henti-hentinya saya harus bersyukur karena kesempatan baik datang silih berganti. Tuhan memberi saya kesempatan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ini luar biasa dan harus saya syukuri dengan ketulusan hati.

Pencapaian ini tentu saja tidak akan lepas dari bantuan dan doa banyak sekali orang baik di sekitar saya. Istri dan anak adalah pendukung utama keliaran pikiran dan gagasan saya yang dengan sabar membiarkan saya terbang sangat tinggi dan tetap tersenyum, pun ketika saya jatuh terhempas. Tiga pemberi rekomendasi: Subaryono, PhD, Prof. Chris Rizos dan Dr. Clive Schofield adalah pahlawan saya yang meberi dukungan luar biasa. Seorang kawan baik yang membantu saya menyelesaikan pendaftaran ‘jarak jauh’, Ruli Andaru, di Teknik Geodesi UGM adalah orang yang layak mendapat terima kasih saya. Begitulah, dalam sebuah pencapaian, selalu ada banyak orang yang terlibat. Tentu saja tidak hanya nama-nama di atas yang membantu saya. Ada banyak yang lain yang tidak mungkin saya sebut satu per satu. Meski tidak disebut, kepahlawanan mereka tidak akan pernah berkurang maknanya.

Selanjutnya adalah perjuangan sesungguhnya. Selamat berjuang diriku.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

5 thoughts on “Setelah Bercinta di Manhattan”

  1. Yup…memang sepertyi itu Bli..banyak hal yang tak terduga kadang kadang kita hadapi,either goodness or sadness….anyway saya juga harus berterimakasih sama Bli…yang sudah ajak saya di Astra dulu..kalo ngga,maybe saya belum’keluar’ dari UGM….Keep the fighting spirit Bli….Go Get It!!!!

  2. Selamat buat Mas Andi atas keberhasilannya memperoleh beasiswa ALA, semoga berkah ini akan membuat Mas Andi bersemangat dan semakin banyak karya ilmiah yang bisa dihasilkan.

  3. Terima kasih buat Loka, Mas Beni dan Bang Saut. Semoga saya bisa mengambil hikmah dan manfaat terbaik dari beasiswa ini.
    Terima kasih atas doanya.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s