Sendiri


Ketika masih berumur belasan tahun bahkan hingga awal 20-an, saya sering terheran-heran dengan beberapa orang yang saya kenal telah berkelana ke berbagai negara. Ada kawan SMA yang ikut pertukaran pelajar dan ada seorang kenalan lain di awal tahun 1998 telah berkeliling dunia karena menjadi ‘sales’ perangkat lunak GIS. Saya mengatakan pada ibu saya “Mungkin anak pedagang pasir ini akan pernah ke luar negeri suatu saat” yang disambut senyum beliau yang entah apa maknanya saat itu.

Berjalan menyusuri 44th Street di Manhattan dari Grand Central menuju United Nations Plaza sering menenggelamkan saya dalam lamunan mendalam. Lamunan itu bisa berkunjung justru di tengah kebisingan kota dan ramainya lalu lalang pejalan kaki yang berangkat kerja. Kesepian perasaan itu memang bisa saja datang di tengah keriuhan. Hal yang sama bisa terasa ketika melewati Fifth Avenue di sebelah Central Park yang terkenal itu atau Time Square yang ketika malam bermandikan gemerlap lampu. Belantara gedung tinggi yang mengangkasa, tata ruang kota yang seperti lukisan dan ramainya kendaraan kadang tidak bisa mengusir rasa sepi.

Saya tidak sedang bersedih, tetapi sedang mengalami kesepian yang mendalam. Keindahan dunia ternyata tidak berarti apa-apa ketika saya tidak bisa membagi ceritanya kepada siapapun. Menikmati gemerlap lampu sendirian dan angkuhnya New York tanpa teman tidaklah memberi kesan berarti. Saya semakin sadar, dilahirkan sebagai orang dengan sifat buruk suka memamerkan sesuatu. Saya tidak pernah merasa bahagia sebelum menunjukkan kegembiraan, kegundahan dan bahkan kegelisahan kepada orang-orang yang dekat di hati. Istri dan anak yang jauh di belahan dunia lainnya membuat hidup menjadi sepi. Penemuan demi penemuan yang tersusun sebagai pengalaman individu tidak memberi banyak makna dalam perjalanan.

Ternyata, yang penting bukanlah ke mana saya melangkah. Jauh di atas itu adalah seberapa banyak yang bisa saya bagi dengan orang-orang yang yang dengan antusias menyimak pergulatan batin saya. Kepada orang-orang tercinta di belahan dunia lainnya, saya mengajak bayangan mereka untuk membunuh kesendirian ini agar menjadi bermakna. Kini saya memahami makna senyum ibu saya di masa lalu. Anak pedagang pasir itu telah melangkah jauh, tetapi tercecer hatinya di damainya desa dan riuhnya tawa mereka yang suka menyimak cerita.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Sendiri”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s