Yang istimewa dan yang tidak

Bebengan

Meski tidak terlalu suka komik, saya pernah membaca cerita Donald Bebek yang terkenal di tahun 80-90an. Satu cerita yang berkesan adalah tentang petualangan Paman Gober (atau tokoh lain, saya sudah lupa) ke Planet Mas. Dia diundang ke Mas untuk membantu penduduk Mas menemukan tanah di planet mereka. Berdasarkan penelitian para penghuni Mas itu, tanah yang ada di Bumi sangatlah bagus untuk bercocok tanam dan menjadi sumber kehidupan. Mereka berpikir, kalau saja mereka berhasil menemukan tanah di Planet Mas tentu saja sangat bermanfaat untuk kehidupan mereka.

Continue reading “Yang istimewa dan yang tidak”

Gayatri

“Om bhur bhuva svaha tat savitur varenyam bhargo devasya dheemahi dhi yo yonah prachodayat”. Aku mendengar mantra-mantra itu dilantunkan saat malam di puncak keheningannya. Angin berdesir lirih di luar jendela menghadirkan nuansa yang sangat tenang tenteram. Samar-samar Mantram Gayatri itu menyelinap ke kamarku, berasal dari unit nomor 4 di lantai bawah. Bharata, istri dan bayi kecil mereka menghuni unit nomor 4 entah sejak kapan. Mereka berkebangsaan India dan Bharata menjadi peneliti di University of Wollongong, tempatku belajar. Sudah beberapa hari ini aku mendengar lantunan Mantram Gayatri, doa Hindu yang paling utama dalam sebuah puja, dilantunkan lirih tepat jam 12 malam.

Continue reading “Gayatri”

KulOn: waktu nyata, daring dan murah

Bagi sebagian pihak, telekonferensi bisa jadi merupakan sesuatu yang tidak mudah. Kenyataannya, telekonferensi sudah sangat umum dilakukan dan bisa jadi tidak mahal. Setidaknya, ini menjadi hal yang tidak luar biasa bagi sebagian dosen dan mahasiswa Teknik Geodesi, Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pada tanggal 26 Mei 2011, untuk kedua kalinya saya mengadakan kuliah dalam jaringan, daring (online) untuk mahasiswa Teknik Geodesi UGM di Yogyakarta. Kuliah pertama kali saya lakukan dari New York hampir empat tahun silam dan kuliah kedua dari Wollongong, Australia. Kali ini saya membahas aspek hukum dan teknis batas maritim antarnegara. Sangat menyenangkan bisa tetap berbagi dengan mahasiswa meskipun terpisah oleh jarak dan waktu. Perbedaan waktu tiga jam dan jarak yang terbentang hampir 5000 kilometer tidak menghalangi interaksi saya dengan teman-teman Mahasiswa di Yogyakarta.

Continue reading “KulOn: waktu nyata, daring dan murah”

No Fly Zone in Iceland

Karena latusan Gunung Grímsvötn di Islandia, pihak berwenang menetapkan zona larangan penerbangan yang berjarak 120 mil laut dari puncak gunung yang meletus itu. Berikut adalah peta zona larangan terbang yang saya buat dengan Google Maps, menggunakan bantuan FreeMapsTools. Kalau mau tahu cara membuat peta yang sama atau lebih bagus dari ini, silakan baca posting saya tentang membuat peta.

Sarjana satu dekade

Wisuda Master of Engineering di UNSW

Ketika saya berdiri di depan Pak Ketut Merta, Kepala Sekolah Dasar 1 Tegaljadi, di suatu pagi yang cerah di pertengahan 1984, saya tidak berpikir jauh. Yang pasti tidak lebih jauh dari teritori Kabupaten Tabanan yang ketika itu terasa sangat luas. Dalam pikiran saya, dunia sesederhana ujian masuk SD yang berlaku khusus untuk saya ketika itu yaitu menghitung sampai lima dan mengetahui arah mata angin. Tahun 1984, kesederhanaan itu terasa begitu rumitnya.

Continue reading “Sarjana satu dekade”

Kartini Sekartaji

Kartini telah lama tiada ketika perempuan usia hampir tigapuluh tahun itu bergegas di suatu sore, menyusuri Tukad Sekartaji di pedalaman Tabanan. Kartini pastilah tidak tahu, kaumnya sedang berkejaran dengan gelap dan tak ingin terjebak dalam perjalanan panjang tanpa cahaya. Digendongnya seorang bocah belia yang belum paham akan keberadaan dan bahkan belum cakap membedakan tangan kiri dan kanan. Disusurinya senja yang temaram itu, berpacu dengan laju air di Tukad Sekartaji yang berlalu tak peduli.

Era delapanpuluhan masih belia dalam usia, perempuan itu hidup berjauhan dengan kemewahan dan bahkan tidak akrab dengan kecukupan. Desa Piling di Penebel dan Tegaljadi di Marga kerap ditempuhnya dengan lebih banyak berjalan kaki. Senja itu tiada istimewa karena perjalanan itu tidak terlalu jauh urusannya dari menggali atau membayar hutang atau menuai belas kasihan yang ditukar dengan sarapan pagi keluarga.
Continue reading “Kartini Sekartaji”

Enam tahun, 40 tulisan

The 40th

Musim gugur di Sydney tahun 2005 ketika itu, saya adalah mahasiswa master di tahun kedua. Indonesia dihebohkan oleh sebuah kasus yang di telinga saya terdengar asing: Ambalat. Saya yang adalah pemula di bidang batas maritim seperti mendapat mainan baru dan terutama alasan yang lebih baik bahwa bidang yang saya pelajari ini sangat menarik. Apa yang saya lakukan ternyata terkait erat dengan interaksi bangsa-bangsa yang dinamikanya sangat menantang, menarik dan menaikkan adrenalin. Mempelajari batas maritim adalah mempelajari sesuatu yang bisa menjadi alasan bagi bangas-bangsa untuk berdamai atau bahkan berperang. Istimewa sekali.

Continue reading “Enam tahun, 40 tulisan”

Insiden Selat Malaka

Ingin tahu duduk perkara insiden Selat Malaka yang melibatkan Indonesia dan Malaysia? Silakan kunjungi analisis saya www.borderstudies.info
Keterangan: Peta ini dibuat dengan Google Maps, menggunakan data koordinat yang dilansir oleh Mukhtar A.Pi. M.Si untuk tujuan ilustratif semata.

Anak zaman sekarang

http://www.moviebase.info/

Antingnya tidak saja di telinga, tetapi juga di hidung. Di panas terik, lelaki itu bertelanjang dada dengan celana yang melorot memperlihatkan sebagian celana dalamnya. Keringatnya mengucur melintasi gambar tato yang melingkar-lingkar di dada hingga punggungnya. Lengannya yang putih juga berhias tato semacam rantai atau kawat berduri yang melilit. Tangan kanannya memegang jepitan dan sibuk membolak-balik daging sapi yang dipanggang di atas kompor BBQ, sementara tangan kirinya memegang sebotol bir merek Tohey yang cukup terkenal di Australia. Mulutnya secara konstan melontarkan berbagai kalimat diselingi tegukan bir yang nampak begitu nikmatnya.

Continue reading “Anak zaman sekarang”

Mengenang Godfather Geodesi-Geomatika Indonesia


Prof. Rais

Ketika Presiden SBY dinobatkan menjadi salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia oleh Majalah Time, Anwar Ibrahim yang mendapat kesempatan menuliskan ulasannya. Obama, yang juga terpilih dari seratus itu, dibahas oleh Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown. Yang mengulas dan diulas memiliki kapasitas yang sebanding, demikian saya melihatnya. Menuliskan tentang SBY atau Obama, tentu banyak yang bisa dan bahkan mungkin lebih baik dari yang mampu ditulis oleh Anwar Ibrahim atau Gordon Brown. Persoalannya tentu tidak sesederhana itu. Tulisan itu mewakili sebuah atoritas, maka penulisnya disebut author. Menulis adalah persoalan authorship, persoalan legitimasi pengetahuan dan ‘pemegang hak’ yang layak dan diakui berpendapat tentang sesuatu.

Ketika Prof. Jacub Rais berpulang menghadap Sang Khalik, saya menunggu-nunggu seorang dengan otoritas yang cukup untuk menuliskan tentang beliau. Saya ingin sekali membaca sebuah obituari tentang Sang Perintis Geodesi Indonesia itu oleh seseorang yang punya otoritas. Siapa yang berhak menulis tetang Prof. Rais? Sekali lagi, siapapun bisa menulis, yang mempunyai ‘otoritas’ keilmuan ini yang penting, karena yang berpulang adalah seorang Ilmuwan. Seperti SBY yang disetarakan dengan Anwar Ibrahim dan Obama yang disejajarkan dengan Gordon Brown, maka Prof. Rais tentu punya padanannya. Jika ditanya satu persatu, mudah ditebak tidak akan ada yang dengan lantang mengakui kesetaraan itu. Bukan perkara kebiasaan orang Nusantara yang memang malu-malu menonjolkan diri, Prof. Rais memang sulit dicarikan padanannya di tanah air tercinta. Di kepala saya, sebagai orang muda di bidang geodesi-geomatika, sebenarnya mampir beberapa nama yang sekiranya layak menuliskan obituary ini. Akan saya simpan sendiri sebelum harapan itu menjadi kenyataan.

Continue reading “Mengenang Godfather Geodesi-Geomatika Indonesia”