Sarjana satu dekade


Wisuda Master of Engineering di UNSW

Ketika saya berdiri di depan Pak Ketut Merta, Kepala Sekolah Dasar 1 Tegaljadi, di suatu pagi yang cerah di pertengahan 1984, saya tidak berpikir jauh. Yang pasti tidak lebih jauh dari teritori Kabupaten Tabanan yang ketika itu terasa sangat luas. Dalam pikiran saya, dunia sesederhana ujian masuk SD yang berlaku khusus untuk saya ketika itu yaitu menghitung sampai lima dan mengetahui arah mata angin. Tahun 1984, kesederhanaan itu terasa begitu rumitnya.

Sesungguhnya saya sempat tersinggung ketika diminta mengambil lima biji kerikil dan diminta lari ke Barat oleh bapak kepala sekolah karena ujian itu hanya berlaku untuk saya. Teman-teman yang kebetulan berbadan lebih besar tidak diminta menjalani tes, mereka diterima masuk SD dengan mudah tanpa ujian. Rupanya Bapak Ketut Merta tidak teryakinkan oleh tampang dan perawakan saya yang kecil. Beliau merasa perlu untuk menjamin saya akan bisa mengikuti pelajaran. Itulah alasannya mengapa saya diminta memungut lima biji kerikil dan berlari ke arah Barat. Rupanya, bisa menghitung dan tahu arah mata angin adalah dua indikator kemampuan akademik seorang calon murid ketika itu. Di Bali, orang yang tidak tahu adat dan aturan disebut “sing nawang kangin kauh” alias tidak tahu timur barat jika diterjemahkan secara literal. Sementara itu, bapak saya yang mengantarkan saya ke sekolah untuk pertama kalinya hanya tersenyum-senyum getir. Beliau sekedar menjalankan kebiasaan orang tua di desa, mendaftarkan anaknya masuk SD ketika sudah bisa menyenyuh kuping kiri dengan tangan kanan yang dilingkarkan di atas kepala.

Pak Ketut Merta pasti tidak menduga, 17 tahun setelah ujian yang istimewa itu, Dekan Fakultas Teknik UGM memindahkan gantungan toga saya sedemikian rupa sebagai pertanda saya telah sarjana. Jangankan Pak Ketut Merta, bapak sayapun mungkin juga tidak menduga. Lebih parah lagi, saya sendiri tidak pernah tersentuh oleh cita-cita menjadi sarjana di pagi tahun 1984 itu. Yang saya sukai hanya satu: saya bisa diterima bersekolah di SD, meskipun badan saya tidak sebesar teman-teman lain. Tentulah ini karena sesuatu yang istimewa, seistimewa memungut lima biji kerikil dan berlari ke arah Barat.

Tanggal 19 Mei 2001, sepuluh tahun lalu, saya wisuda S1 di UGM. Bagi ibu saya yang hanya berhasil wisuda SD dan bapak yang tidak menuntaskan kelas 4-nya, wisuda ini tentulah membanggakan. Bagi ibu bapak saya, itu adalah wisuda kedua setelah kakak saya. Di kalangan teman-teman seangkatan di Teknik Geodesi UGM, saya juga bukanlah yang pertama, bukan peraih IP tertinggi dan tidak cumlaude. Tidak ada yang istimewa. Yang membuat saya senang ketika itu adalah kenyataan bahwa saya sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan multinasional bahkan tiga bulan sebelum wisuda. Saya menandatangani kontrak kerja bulan Februari 2001 dengan Unilever Indonesia, sebuah perusahaan yang katanya cukup bonafid, walaupun tidak ada kaitannya dengan ijazah S1 saya. Namun seperti yang saya bilang pada teman-teman ketika itu “geodesy is my ideology”. Bahwa geodesi adalah ideologi yang akan memberi warna pada tindakan saya, meskipun saya jadi penjual sabun di Unilever.

Setelah sepuluh tahun, saya iseng-iseng bertanya sejenak. “Apa yang sudah saya lakukan dengan kesarjanaan ini selama sepuluh tahun terakhir?” Atau pertanyaannya mungkin harus dimodifikasi menjadi “jika saja saya tidak sarjana, apakah ada yang berbeda (lebih baik atau lebih buruk) dalam kehidupan saya?” Biarlah tulisan ini berakhir dengan pertanyaan, berharap saya berkesempatan merenungkannya dan mendapat wangsit untuk menjadi lebih baik. Selamat wisuda generasi muda UGM.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

One thought on “Sarjana satu dekade”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s