Sekitar bulan Juni tahun 2005, saya bertugas menjemput mahasiswa baru dari Indonesia yang akan melanjutkan sekolah di University of New South Wales (UNSW) di Sydney. Tradisi jemput menjemput ini memang sudah turun temurun di UNSW, terutama bagi mahasiswa dengan beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) ketika itu.
Author: Andi Arsana
Tempat paling nyaman
Kisahkanlah padaku tempat yang paling nyaman di muka bumi. Adakah tempat yang lebih aman di muka bumi selain malam yang tenang, tidur diapit oleh ayah dan ibu yang nafasnya teratur turun naik? Nafas yang menjaga dari segala marabahaya sambil berbisik: “bahkan para Dewapun sudah kuajak bersekutu untuk memastikan jalanmu. Jika saja kaurelakan tubuhmu tergeletak diantara tubuh-tubuh tua kami dengan segenap penerimaan.” Selamat Valentine.
Jok Mobil

Saat pulang ke Bali Desember 2009 lalu, kami sempat dipinjami mobil untuk jalan-jalan menjelajahi Bali. Begitulah kalau jarang-jarang pulang bertemu keluarga, yang tampak dan terasa hanya manis-manisnya saja, mobilpun dipinjami, bebas dipakai ke mana saja. Yang paling terasa ketika duduk di belakang stir pertama kali adalah jok mobil yang empuk, enak sekali. Memang beda, kalau mobil baru. Beda jauh dengan Suzuki Alto ’95 kami di Wollongong yang kalau dirupiahkan tidak lebih dari 12 juta rupiah saja. Betul, lebih murah dari sebuah Vario baru di Indonesia. Tapi ini bukan cerita tentang harga mobil, tetapi jok mobil, jadi kita lupakan saja.
Cinta sederhana

Peluncuran CMBS di Sydney

Bocoran Cincin Merah di Barat Sonne
Banyak yang mengaku penasaran dengan buku Cincin Merah di Barat Sonne. Yang di luar negeri lebih lagi, ingin membaca tetapi belum bisa karena tidak ada yang dititipi. Untuk mengobati (atau justru memperparah) rasa penasaran itu, saya tampilan beberapa cuplikan buku Cincin Merah di Barat Sonne.
Yang aneh
Kadang aku ngeri membayangkan diriku terjebak di kedalaman sedemikian. Tentu aku akan tinggal nama, kecuali ada ratu penguasa laut yang berbaik hati merafalkan mantra-mantra sakti sehingga aku bisa bernafas seperti layaknya di darat. Ratu ini kemudian jatuh cinta padaku dan ingin agar aku menikahinya. Aku yang berhutang budi tentu tak bisa menolak tawaran itu. Kamipun menikah. Pelaminanku adalah kura-kura raksasa berumur 300 tahun dan mahkotaku terbuat dari mutiara. Kerlip lampu di sekitar pelaminan adalah ikan-ikan dasar laut yang memiliki lampu di ujung antenanya. Aku tidak bisa membayangkan makanan apa yang akan disuguhkan. Yang jelas, pastilah bukan ikan bumbu rujak atau cumi-cumi goreng mentega. Tidak mungkin.
Wawancara dg Radio SBS Australia
Cincin Merah di Barat Sonne tampil di Radio SBS Australia
Penghargaan akan datang
Tahun 2003, saya resmi memulai karir sebagai seorang guru. Saya menjadi dosen di almamater saya di UGM setelah memutuskan sebuah pilihan sulit di Jakarta. Saya datang ke kampus setelah sedikit diracuni oleh dunia swasta berupa ilmu marketing seadanya dari Unilever dan kesaktian teknologi informasi dari Astra. Tanpa harus disengaja, saya memang terpengaruh dan barangkali ingin menerapkannya di kampus, meski sebisanya.
Para Sahabat
Bocah itu berlari sekencang-kencangnya, keringatnya bercucuran membasahi baju seragam SD putih merah yang sudah lusuh. Di kepalanya bertengger sehelai topi berlambang Tut Wuri Handayani, lusuh tak terkira. Sepatu hitamnya tak kalah mengenaskan, berdebu dan sedikit camping.
Dia mendapati apit surang rumahnya dan mulai mendesis. Sejurus kemudian melompatlah seekor tupai mungil dari balik rerimbunan kembang kertas. Mahkluk kecil itu berlari dan memanjat kaki sang bocah, mencengkramkan kuku-kukunya di kaos kaki, lalu ke lutut, ke celana merah hatinya dan akhirnya bertengger di bahu. Tupai itu mengendus-endus seakan hendak mencium.
Belum puas melepas rindu dengan si tupai, sang bocah bersiul siul seperti memanggil ke arah pohon kamboja di jaba sanggah tak jauh dari apit surang. Melesatlah dari sebatang dahan, seekor burung tekukur nan jinak. Belum sempat disadari, kakinya sudah bertengger di kepala si bocah yang masih ditutup topi lusuhnya. Dua binatang itu adalah sahabatnya.
Ide-ide cemerlang yang mandul
Memiliki ide cemerlang adalah satu hal. Kemampuan menggagas sesuatu yang hebat patutlah dipuji dan disyukuri. Meski demikian, mewujudkan ide cemerlang itu menjadi sebuah tindakan nyata atau hasil yang berfaedah adalah hal yang lain.
Perjalanan saya yang masih belum seberapa menunjukkan bahwa saya memiliki kemampuan untuk merencanakan yang jauh lebih hebat dari kemampuan mewujudkan rencana. Tidak jarang saya harus berpuas diri menyaksikan ide saya terserak tak berguna dan tidak menghasilkan apa-apa. Saya sering berdalih semua itu karena situasi dan waktu tetapi sesungguhnya itu karena ketidakdisiplinan diri sendiri, tidak lain tidak bukan.


