Bocoran Cincin Merah di Barat Sonne


Banyak yang mengaku penasaran dengan buku Cincin Merah di Barat Sonne. Yang di luar negeri lebih lagi, ingin membaca tetapi belum bisa karena tidak ada yang dititipi. Untuk mengobati (atau justru memperparah) rasa penasaran itu, saya tampilan beberapa cuplikan buku Cincin Merah di Barat Sonne.

Yang aneh

Kadang aku ngeri membayangkan diriku terjebak di kedalaman sedemikian. Tentu aku akan tinggal nama, kecuali ada ratu penguasa laut yang berbaik hati merafalkan mantra-mantra sakti sehingga aku bisa bernafas seperti layaknya di darat. Ratu ini kemudian jatuh cinta padaku dan ingin agar aku menikahinya. Aku yang berhutang budi tentu tak bisa menolak tawaran itu. Kamipun menikah. Pelaminanku adalah kura-kura raksasa berumur 300 tahun dan mahkotaku terbuat dari mutiara. Kerlip lampu di sekitar pelaminan adalah ikan-ikan dasar laut yang memiliki lampu di ujung antenanya. Aku tidak bisa membayangkan makanan apa yang akan disuguhkan. Yang jelas, pastilah bukan ikan bumbu rujak atau cumi-cumi goreng mentega. Tidak mungkin.

Yang mengenaskan

Aku berlari sekencangnya sambil terhuyung-huyung dan terantuk kiri kanan akibat goyangan kapal dari lantai dua menuju geladak satu. Aku segera membuka pintu kabinku dan untuk ketiga kalinya aku muntah semuntah-muntahnya. Hanya cairan pahit yang keluar. Badanku lemas, pikiranku tak waras, jiwaku sakit, perasaanku malu, kakiku gemetar, wajahku lesu. Aku lantak binasa bertekuk lutut di ketiak samudra yang perkasa. Kesombonganku runtuh, aku menyerah.

Pelan-pelan, dengan sisa tenaga yang ada, aku lakukan petunjuk Anke Walther. Sejurus kemudian aku seret kakiku ke tempat tidur. Jauh sekali rasanya kamar mandi dengan tempat tidurku, seperti memerlukan waktu sebulan untuk segera merebahkan diri. Aku sudah tidak bisa berpikir panjang lagi. Aku terkulai lemas tak berdaya, tenggelam di bawah selimut putih tebal. Aku melayang-layang mengikuti ayunan kapal dan akhirnya tertidur dalam keadaan letih sempurna. Aku tidur bersama kesombonganku untuk menaklukkan Samudra Hindia yang kini nampaknya telah binasa.

Yang seru

Di saat seperti ini, orang pertama yang terlintas di pikiranku adalah ibuku kemudian bapakku. Wajah mereka membayang, mengingatkanku akan kesalahan-kesalahan dan segala yang menyusahkan mereka. Wajah-wajah yang tidak hendak menghukum tapi sanggup membuatku menyesal dan menangis dalam hati. Anakmu sedang menyabung nyawa, ampunilah. Perlahan wajah mereka berganti dengan Asti dan Lita yang mengingatkanku akan kewajiban-kewajiban yang belum sempat dituntaskan. Ada rasa penyesalah muncul karena meninggalkan keluarga dan kemarahan pada diri sendiri karena terlalu banyak waktu yang terlewatkan tanpa mereka. Tiba-tiba aku merasa bersalah dan menyesal sedalam-dalamnya. Hatiku meraung menangis melihat wajah kecil Lita tersenyum getir seperti mengucapkan selamat tinggal.

Di tengah kesedihan yang begitu dalam, apa yang kukhawatirkan terjadi. Tiba-tiba simbahan air mengguyur dari lubang di atas kepalaku. Sebagian dari kami basah kuyup. Olaf seperti tidak yakin dengan apa yang seharusnya dilakukannya kini. ”Olaf, do we need to put our safety jacket on?” aku berteriak menyadari keraguannya. Pertanyaanku diikuti oleh yang lain dengan berbagai komentar. Wayne memiliki pendapat lain. Dia menegaskan safety jacket hanya untuk di air. Kami akan kepanasan kalau mengenakan safety jacket di dalam life boat, katanya. Aku tahu teori ini tetapi siraman air dari atas kepalaku yang kian deras mengisyaratkan hal yang lain. Aku duga life boat ini tidak akan bisa menahan kami dan pintu harus segera dibuka. Sebentar lagi kami akan terapung-apung di tengah Samudra Hindia. Subuh masih jauh dari terang, aku tidak bisa membayangkan terapung di air yang dingin dan gelap tanpa safety jacket.

Yang nyastro

Ingin kusentuh teripang-teripang yang dipanennya dari dasar laut dan ditukarnya dengan guci-guci oriental dari daratan Tiongkok. Ada kebanggaan dan ketangkasan di raut wajahnya yang tenang tak terkira. Ada keberanian di pandangan matanya yang sayu. Keberanian yang tak saja meluluhlantakkan rasa mual dan pening kepala hingga tak berani datang tetapi juga menjinakkan gelombang laut selatan yang keganasannya membabi buta. Aku tenggelam dalam mimpi. Mimpi ingin kembali menjadi pelaut yang ulung, mengarungi luasnya samudra tak bertepi.

Aku yang terpejam di buritan, bermimpi di siang hari. Mungkin aku tak kan menjadi pelaut ulung hanya dengan bermimpi. Setidaknya aku ingin mewarisi kejantanan Jack Dawson yang mendekap mesra Rose Dewit Bukater di pelukannya. Dia mengajaknya bermimpi terbang saat merasakan desiran angin di ujung Kapal Titanic yang menyibakkan rambutnya. Aku mungkin hanyalah generasi kelas teri yang akan cukup bahagia hanya dengan mendengar teriakan manja ”Jack, I am flying!” Akankah aku seperti Jack yang berlari mengajak Rose menikmati geladak bawah dan masuk menjelajah di ruang-ruang bertemaram lampu untuk kemudian tenggelam memandang tangan-tangan mereka yang mengelepar menggapai kaca-kaca yang berembun?

Yang geospasial

Penentuan posisi menggunakan GPS mirip dengan apa yang dilakukan pamanku dua puluh tahun silam. Intinya adalah menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik-titik yang sudah diketahui posisinya. Dalam hal ini posisi menjala ikan adalah yang ingin ditentukan sedangkan bintang-bintang mewakili titik-titik tetap yang diketahui posisinya. Dalam GPS, yang berlaku sebagai bintang adalah satelit buatan manusia yang orbit dan posisinya diketahui setiap saat. Satelit ini memang tidak diam seperti halnya bintang yang terlihat di malam hari melainkan berputar mengelilingi bumi. Namun karena orbit dan koordinat satelit itu diketahui setiap saat maka dapat dikatakan bahwa satelit ini ”tetap” posisinya. Penggunaan istilah ”tetap” di sini bukan berarti diam melainkan ”diketahui posisinya setiap saat.”

Untuk mengamati satelit itu, kita tidak menggunakan mata telanjang seperti halnya saat pamanku mengamati bintang melainkan dengan alat penerima sinyal yang disebut receiver GPS. Alat penerima sinyal inilah yang lebih dikenal kawan-kawanku dengan GPS itu sendiri. Dalam hal ini, sudah ada dua komponen GPS yang nampak yaitu satelit dan receiver. Satelit ini disebut sebagai segmen angkasa dan receiver adalah segmen pengguna. Orang-orang pintar menyebutnya sebagai space segment dan user segment. Selain itu ada satu lagi komponen lain yang disebut sebagai segmen pengendali atau control segment. Komponen ini bertugas untuk menghitung posisi atau koordinat satelit dan memberitahukan kepada satelit untuk kemudian diumumkan ke seluruh jagat raya. Informasi posisi ini dikirimkan lewat sinyal-sinyal yang dipancarkannya dan akhirnya ditangkap oleh receiver.

Yang idealis

Tak terasa jam tiga sore, aku harus kembali ke kabinku. Kutinggalkan Steve dan Yasmin yang masih bercakap-cakap seru tentang banyak hal. Saatnya untukku tidur menyiapkan shifku nanti malam. Aku ingin bermimpi tentang hidup seorang dosen yang sederhana bersahaja dan meneliti tanpa perlu memikirkan tinggalnya yang masih di rumah mertua atau mobilnya yang masih belum terbeli. Aku ingin bermimpi tidak perlu menulis laporan keuangan dana penelitian tetapi hanya menulis buku dan jurnal berbobot. Aku ingin bermimpi berpelukan dengan penelitian tanpa pernah berharap dia membuatku kaya sekaligus juga tidak khawatir apakah anak-anakku kelak bisa bersekolah seperti ayahnya. Setidaknya aku bermimpi ingin merayakan ulang tahun pernikahan yang bersahaja tanpa harus ketar-ketir akan menghabiskan uang honor jaga ujian. Mungkin saja ini hanyalah mimpi, itupun di siang hari. Namun, bukankah banyak hal besar dimulai dari mimpi?

Yang ilmiah

Tiba-tiba ujung rantai yang tadi muncul kini bercabang, pertanda kantong rantai besi beberapa detik lagi akan muncul. Wajah-wajah para penunggu kelahiran putra pertama ini semakin tegang, seakan mendengar kabar istrinya sudah bukaan sepuluh. Jam 3.27 pagi, sebuah kantong rantai besi muncul. Di dalamnya nampak bebatuan warna putih terperangkap sesak karena jumlahnya memenuhi kantong itu. Di kiri kanan rantai di bagian bawah menjuntai dua tabung besi yang belum nampak isinya. Di tabung besi itulah, orang-orang seperti Bonnie, Sophie, dan Mathew berharap adanya lumpur yang bisa memberi mereka harapan.

Melihat pengambilan sampel itu berhasil, semua nampak girang dan spontan bertepuk tangan. Wajah mereka yang dari tadi tegang kini sudah jauh lebih santai. Mereka tertawa saling menyelamati satu sama lain dan mulai berkelakar. Kelakar yang khas, kontekstual dan sangat spesifik ilmuan yang aku tidak bisa tangkap kelucuannya. Mereka, terutama Bonnie, Jack dan Sophie, sudah tidak sabar ingin menyentuh bebatuan dan lumpur yang terangkat itu. Kini wajah mereka tidak lagi seperti para suami yang menunggu kelahiran putra pertama tetapi lebih mirip dengan wajah gelisah seorang lelaki yang sudah tidak sabar menyentuh istrinya di malam pertama.

Demikianlah gairah para peneliti ini, setara dengan gairah untuk memadu kasih. Wajarlah kalau ilmu dan teknologi mereka berkembang baik karena mereka tidak melakukannya karena sekedar tugas, tetapi dengan gairah yang menyala-nyala. Ini rupanya yang dimaksud oleh orang Yunani ketika bertanya ”Do you have passion?”

Saya tidak ingin jadi penulis yang spoiller dengan menceritakan semua isi buku di sini. Saya belum sampaikan yang lucu, yang mengharukan, yang menyedihkan dan banyak lagi. Sekarang saatnya Anda memutuskan, beli atau tidak? Lihat juga komentar mereka yang sudah membaca di sini.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Bocoran Cincin Merah di Barat Sonne”

  1. wah sukses mas..akhirnya bisa juga menceritakan sesuatu pengalaman keilmuan dlm versi novel..selamat…memang benar katanya kalo yg bisa bercerita seperti ini berarti sdh pakar bener, biasanya kepakaran identik dengan banyaknya pengalaman, pengamalan dan penghayatan……(he2x..ini versi saya lho..) pokoknya huebat….spt stephen hawking ato carl sagan. 🙂 bravo mas…

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s