Sempurna

Calon alumni muda ini kecewa. Dari sorot matanya saya bisa menduga. “Pak Andi juga mikir dulu to buat translate judul skripsi saya” katanya memecah perenungan saya yang agak dalam. Saya, seperti biasa, diminta membantu mahasiswa yang sudah menyelesaikan seminar skripsi untuk menerjemahkan judul skripsinya ke dalam Bahasa Inggris. Entah bagaimana ceritanya, saya seperti menjadi petugas penerjemah tanpa lisensi, plus tanpa SK, apalagi gaji 🙂 Tapi saya nikmati betul pekerjaan ini.

Kali ini judulnya cukup istimewa sehingga saya berpikir agak lama dan rupanya membuat calon alumni di depan saya meragukan saya, dan kecewa. Kalimat spontannya mengisyaratkan semuanya. Saya hanya tersenyum singkat dan kemudian menyelesaikan tugas saya. Percakapan berakhir dan semua menjadi sejarah yang entah akan diingat entah tidak.

Di kesempatan lain, salah seorang sahabat sejawat berkomentar “Masa sih Pak Andi perlu latihan dulu sebelum presentasi?” Tidak mudah meyakinkan teman kalau saya tidak pernah bisa dan tidak mau presentasi tanpa latihan. Saya berlatih materinya, berlatih susunan kalimat, berlatih intonasi, memilih dan memilah istilah yang tepat dan yang terpenting berlatih menggunakan waktu agar tidak melebihi yang disediakan. Sampai hari ini pun, saat saya sudah presentasi bahkah hingga markas besar PBB, dan menjadi presenter terbaik di sebuah forum internasional, saya tetap berlatih.

Komentar calon alumni dan kawan sejawat saya ini memiliki benang merah. Di satu sisi, bisa jadi ini terdengar seperti sanjungan tetapi yang saya tangkap justru sesuatu yang berbahaya. Bahaya karena saya dianggap bisa sesuatu karena memang sudah bisa, bahaya karena di situ tidak ada apresiasi terhadap proses berusaha dan belajar. Mengapa harus heran melihat saya berpikir dan mengapa harus terkejut melihat saya berlatih? Rupanya mereka salah menduga, saya hanyalah orang biasa yang bisa sesuatu bukan karena keturunan, tidak juga karena hasil meditasi, tetapi hasil berpikir dan berlatih. Kalau harus ada penghargaan, saya kira lebih baik diberikan kepada mereka yang bodoh tapi menjadi pintar karena berusaha dengan semangat, bukan kepada mereka yang ketika lahir sudah sempurna, dan bahkan tidak tahu jalan menuju sempurna.

Kesalahan kecil

Tulisan ini tidak untuk menghujat, tidak juga menyalahkan. Yang terpenting, tulisan ini dibuat dengan kesadaran bahwa kesalahan adalah pertanda kemanusiawian, dan manusia memang katanya adalah tempatnya salah dan dosa. Tulisan inipun, meski dibuat untuk membahas kesalahan, bisa jadi tidak lepas dari kesalahan.

Memperhatikan iklan, selebaran, pengumuman, spanduk, baliho dan banyak hal di negeri ini memberikan pengalaman yang sangat menarik untuk diceritakan. Dalam media semacam itu, kesalahan kecil mudah sekali ditemukan. Lihat saja beberapa gambar yang barangkali sudah sering Anda lihat di internet atau beredar lewat milis. Cukup menggelitik, betapa mudahnya kesalahan kecil itu muncul dalam media publik di Indonesia. Bolehkan saya dan Anda berkata, betapa teledornya mereka yang membuat tulisan dalam media tersebut?

Untuk kesalahan pemakaian tanda baca pada “No! Corruption for better living”, alasan apa yang dapat membenarkanya? Tanda baca adalah pergaulan sehari-hari orang yang bisa membaca dan menulis. Untuk kesalahan Bahasa Inggris, mungkin bisa ditoleransi karena tidak semua orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dengan baik. Apakah ini alasan yang cukup untuk membuat kesalahan kecil yang fatal pada sebuah baliho? Saya tidak tahu persis tapi rasa-rasanya tidak. Ke mana budaya kekeluargaan kita yang terbiasa bertanya pada teman atau bahkan orang yang tidak kita kenal? Konon kita lebih suka bertanya pada orang ketika ingin mencari alamat dibandingkan membaca peta. Mengapa untuk kasus Bahasa Inggris ini, kebiasaan bertanya menjadi kehilangan jati dirinya?

Masalah yang ada di balik kesalahan kecil ini sesungguhnya besar. Amat besar. Artinya, saya dan mungkin juga Anda adalah orang yang tidak serius dalam menghadapi dan menunaikan tugas. Seorang kawan pernah menasihati saya. Jika kamu memperlihatkan terlalu banyak kesalahan kecil, akan timbul persepsi pada orang lain bahwa kamu adalah orang yang teledor. Saat ada persepsi seperti ini maka keseluruhan karyamu akan dinilai secara teledor pula. Hal baik yang telah kamu usahakan bisa jadi tidak bermakna karena orang lain cenderung menganggapmu tidak serius dalam menyelesaikan sesuatu. Kerja baikmu menjadi sia-sia.

Wajarkah seseorang meragukan keberhasilan Visit Indonesia Year 2008 karena ketika membuat logo dan slogan saja, bangsa ini membuat kesalahan grammar dalam Bahasa Inggrisnya? Bolehkah saya mencibir tentang hukuman bagi calo tiket ketika melihat kalimat peringatannya saja salah tulis? Saya adalah orang yang dipenuhi kesalahan dan kekeliruan tapi rasanya wajar kalau saya tersenyum geli ketika mendengar pengumuman otomatis di busway Jakarta yang mengatakan “cheks your belonging“. Dari mana datangnya huruf ‘s’ dalam kata checks, saya tidak mengerti.

Kalau untuk hal-hal kecil saja bangsa ini melakukan kesalahan dengan mudah, optimiskah bangsa ini akan terjadinya perbaikan yang lebih besar? Jika kesalahan dan keteledoran ini sudah menjadi milik semua orang di negeri ini, pastilah saya yang telah ikut berkontribusi bagi keterpurukannya yang tak kunjung sembuh. Salam Indonesia.

Rethinking our borders with Malaysia

An Opinion in by I Made Andi Arsana (20/02/08)

The border issue between Indonesia and Malaysia has been an interesting topic lately. This is what, at least, has indicated by news in Indonesia’s mass media. The issue of Askar Wataniah has been a topic almost all media have covered in the last two weeks.

Commission I of the Indonesian House of Representative revealed that Indonesian people are recruited as members of Malaysia’s Askar Wataniah in the border area of Kalimantan. This has sparked controversy and questions of nationality and economic development. While the issue is yet to be confirmed, this reminds us the Indonesian government should pay more attention to those people residing along border areas.

Standing on the side of Niagara River in the edge of New York and staring at Canada on the other side was an interesting experience. It shows how physical and economic development in a border area does really matter. People living in New York can easily see the face of Canada and observe how well-developed Canada is.

Suara Adzan

Aku terjaga dari kelelapan tidur di sebuah kamar hotel di Jakarta Selatan. Aktivitas yang penuh ketegangan beberapa hari ini membuat aku selalu terkapar di tempat tidur, lelap sebelum waktunya dan bahkan tanpa mimpi. Terjaga di pagi buta oleh gelegar suara yang cukup asing tentulah bukan pengalaman yang menggembirakan. Adzan subuh tengah berkumandang, aku mengusap-usap mataku yang belum terjaga sempurna. Aku terduduk di tempat tidur dan memandang kosong dalam kamar yang gelap. Perlahan-lahan aku menyadari keadaan. Adzan subuh sedang berkumandang. Aku kini meyakini apa yang terjadi.

Aku tidak pernah sholat subuh dan memang tidak harus sholat subuh. Meski begitu, Adzan berlaku sama bagi siapa saja yang mendengarnya. Gelegarnya yang sekian desibel memang mampu membangunkan siapa saja, termasuk aku yang tidak harus sholat subuh. Dalam keterjagaan yang tidak sempurna aku berpikir. Apa yang harus aku lakukan sepagi ini? Tidak ada. Pertanyaanku aku reduksi menjadi “apa yang harus aku katakan pagi ini?” Ternyata juga tidak ada. Apa yang harus aku pikirkan mendengar Adzan ini?

Entah dari mana bisikan itu, aku harus memikirkan toleransi. Toleransi yang sempurna, karena ini adalah toleransi yang tidak dilihat orang, tidak ditonton siapapun dan tidak ditujukan kepada orang-orang yang aku kenal, apalagi kepada atasan. Aku memilih untuk tersenyum sambil mendokan mereka yang sholat subuh agar diberi senyum yang paling indah pagi ini. Dalam mantram Gayatri-ku pagi ini, aku beri ruang untuk kumandang Adzan yang tidak lagi memekakkan telinga, tetapi merdu mendayu-dayu. Begitulah indahnya toleransi.

Pelajaran Moral

Kenakalan Ikal di Laskar Pelangi adalah kreativitas yang mengejutkan. Caranya menarik pelajaran moral dari sebuah kejadian seringkali ganjil, tidak biasa tetapi tak diragukan, kreatif dan “out of the box“. Ketika Ibu Mus, guru kesayangannya, bercerita bahwa orang yang tidak rajin sholat nanti akan diterjang banjir bandang, Ikal menarik pelajaran moral yang istimewa. Saat Ibu Mus, hampir dipastikan, ingin agar anak didiknya rajin sholat, Ikal menyimpulkan bahwa kalau dia tidak rajin sholat maka harus pandai berenang.

Menjadi seorang guru, dosen atau mentor kadang penuh risiko. Mereka kadang percaya pada niat baik dan sedikit naif. Merasa apa yang diajarkan atau diceritakan adalah kebaikan, para pendidik ini umumnya percaya bahwa para siswanya menerima itu sebagai kebaikan. Padahal kenyataan kadang berbeda. Murid memiliki sudut pandang sendiri, pemahaman sendiri, dan bahkan harapan sendiri. Tidak jarang interpretasi yang dilakukan anak didik didasarkan pada ekspektasinya terhadap sebuah pelajaran atau kejadian. Ikal yang dalam jiwanya terdapat naluri petualangan yang liar, tidak memandang cerita Bu Mus sebagai ajakan untuk rajin sholat, tetapi justru untuk belajar berenang. Salahkan Ikal? Mungkin saja tidak.

Kesimpulannya, memang penting seberapa baik niat seorang guru, yang lebih penting lagi adalah bagaimana mengkomunikasikan niat itu dan menjamin murid bisa menerima persis seperti yang diinginkan guru. Menerima makna, tentu saja tidak serta merta berarti menjalankan. Tidak semua hal yang dikatakan guru, dosen, pendidik itu harus dilaksanakan tanpa dikaji terlebih dulu. Kalau murid jadi rajin sholat, semoga sholatnya karena kesadaran. Jika memilih untuk belajar berenang, semoga berenangnya gagah berani dan tanpa rasa takut.

Laskar Pelangi

Bagi banyak orang, buku yang akan saya ulas ini sama sekali tidak baru. Buku ini telah diterbitkan lama dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Dia bahkan disebut sebagai Indonesia’s most powerfull book. Sangar sekali.

Seperti biasa, saya bukanlah orang yang gandrung membaca buku. Tidak mudah mencari motivasi untuk membuka lembaran-lembaran buku, apalagi yang setebal Laskar Pelangi (LP) tanpa alasan yang sangat kuat. Adalah Kick Andy yang akhirnya mengantarkan saya kepada LP. Saya juga harus berterima kasih kepada Gede Prama yang memang secara tidak langsung merekomendasikan buku itu dalam acara tersebut. Sayapun memulai pengembaraan dalam lorong-lorong sastra realita yang disuguhkan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. Tidak seperti biasanya, buku setebal itu saya habiskan dalam waktu kurang dari seminggu tanpa pernah merasa mengantuk. Sekedar informasi, saya sangat mudah tertidur membaca buku, betatapun seriusnya buku itu, dan betapapun pentingnya 🙂

Membaca LP dan tetraloginya bagi saya adalah seperti membaca kisah sendiri. Kehidupan kampung yang sederhana, sekolah yang memprihatinkan dan kemiskinan yang sangat akrab adalah pantulan masa lalu yang bahkan mungkin belum tuntas berakhir. Kekuatan LP ada pada kejujurannya. Menulis sesuatu yang jujur jauh lebih mudah dan lebih memikat dibandingkan khayalan, itu keyakinan saya pribadi. Kekuatan lain tentu saja adalah kekayaan informasinya. Sebagai orang yang senang menulis, saya mendapatkan diri tenggelam di lautan dalam ciptaan Andrea Hirata yang bertabur informasi tak bertepi. Karya ini adalah sebuah ciptaan serius yang telah membuat pengarangnya menjelajahi banyak tempat, menembus waktu dan menggali informasi hingga titik dalam yang bahkan mungkin tidak dikunjungi orang lain. Kefasihannya mengungkapkan nama latin setiap tumbuhan yang dideskripsikannya dalam novel tersebut, misalnya, adalah pertanda keseriusannya dalam berkarya.

Karya yang besar memang adalah karya yang dibuat sepenuh hati, dengan pengabdian yang tulus dan idealnya tanpa dibelenggu oleh batasan-batasan imbalan, apalagi komersialisasi yang menuntut. Saya menduga, LP diciptakan dalam nuansa hati seperti ini. Gede Prama menegaskan, ini adalah perwujudan cinta. Cinta seorang murid pada gurunya.

LP saya lahap dengan tawa geli seperti tersindir oleh masa lalu, dengan uraian air mata karena kesedihan mengaru biru, dan dengan getar hati yang menggelora karena tebaran semangat yang membuncah perasaan. Membaca LP memang seperti menyaksikan diri sendiri walaupun dalam banyak hal sangatlah berbeda. Saya, seperti halnya saya, tidak akan mengatakan buku ini sangat bagus, tidak juga merekomendasikannya kepada siapapun. Jika kebetulan ada, cobalah tengok 5 atau 10 halaman pertamanya. Selanjutnya adalah kekuasaan Anda yang kemudian memutuskan apakah Anda akan berenang dalam lautan sastra realita yang memikat seperti yang saya alami atau berkata “terima kasih, saya tidak tertarik”. Selamat memutuskan.

Mengumbar cinta

Ada orang yang dilahirkan dengan bakat mampu menyatakan cinta dengan kata-kata. Saat cinta diperingati di hari valentine seperti sekarang, orang sekelas ini akan bangun di pagi hari dengan puisi-puisi cinta. Atau setidaknya mereka akan menyenandungkan musikalisasi puisi tenar seperti “Aku ingin”-nya Sapardi Djoko Damono di kamar mandi. Berbahagialah orang yang bisa bercerita tentang cinta karena cerita adalah hal paling eksplisit yang sering kali tidak memerlukan kemampuan menebak untuk memahaminya.

Sementara itu, ada sebagian orang yang tidak dilahirkan dengan bakat verbal tentang cinta. Jangankan untuk mengungkapkan cinta yang sudah mulai tua umurnya, untuk mengungkapkan cinta pertama yang akan mengubah hidup pun, orang seperti ini bisa kehilangan kata. Begitulah manusia, berbeda-beda bakat dan kemampuannya. Meski demikian, dinyatakan ataupun tidak, cinta selalu ada. Dia seperti angin, tak terlihat tapi terasa, seperti gula yang manisnya tak kasat mata tetapi diyakini. Seperti Tuhan, dia tidak memerlukan kepercayaan untuk membuat hukumNya bekerja sempurna. Hukum digdayanya yang tanpa cela, berlaku kepada yang percaya maupun kepada yang tidak, kepada yang memuja maupun memaki. Demikianlah juga cinta.

Apakah itu artinya cinta tidak perlu dinyatakan? Aku adalah orang yang selalu setuju bahwa cinta harus dikatakan, lagi dan lagi. Memang harus diakui bahwa getaran yang terasa ketika bertemu pertama kali dengan perempuan pujaan berbeda dengan getaran yang menjelma setelah anak dua dan kontrakan rumah sudah jatuh tempo sementara uang di tabungan tak lagi menjanjikan. Kenyataan hidup yang tidak selalu seindah mimpi, membuat pernyataan cinta sering kali tidak lagi menempati urutan tertinggi. Meski demikian, tidak menyatakan bukan berarti lupa dan kehilangan rasa cinta. Cinta yang kuat dan kepada siapa saja, ada meski dalam kebisuan yang dalam.

Genjo yang surveyor tetap memiliki cinta pada teodolit tua dalam kebisuannya. Yan Koplar yang minder menyimpan cinta dalam langkah hidupnya yang penuh keraguan. Made Kondang yang pengumbar cinta menyatakan cinta kepada istri dan anak dalam puisinya yang kadang singkat karena kesibukan. Nyoman Sumi berlinang air mata dalam diamnya untuk menyatakan cinta pada ibu tuanya. Ayah, Ibu, Saudara dan semua orang di muka bumi, saling mencintai dengan diam, kata mapun tindakan. Selamat hari Valentine.

Bersimpati pada tetangga

Juli tahun 2004 silam, saya bercakap-cakap singkat dengan Jose Ramos Horta di sebuah gedung besar nan berwibawa di salah satu sudut Kota Sydney. Delimitasi batas maritim antara Indonesia dan Timor Leste adalah topik yang mendominasi ketika itu. Tiga setengah tahun kemudian, surat kabar, televisi, internet dan radio diriuhkan oleh berita tertembaknya Sang Presiden negeri muda ini. Tiga peluru tak tanggung-tanggung merobek tubuhnya dan terutama mengoyak dan nyaris menumbangkan keperkasaan pendirian politiknya. Dendam dan pembalasan adalah motif di balik kebengisan ini yang justru berbuah tewasnya Reinado sang pendendam. Dunia tertegun sejenak, semua melirik Timor Leste yang muda, ringkih, sekarat dan hampir binasa dalam sejarah bangsa-bangsa.

Tertembaknya Horta bukanlah hanya satu yang mencirikan ancaman atas negeri panas ini. Perdana Mentri Gusmao juga tak luput dari keberingasan timah-timah panas. Masih bersyukur, tubuhnya terlindung logam mobilnya yang menyelamatkan. Singkat kata, keresahan dan kegelisahan serta ancaman adalah keseharian yang menjadi sahabat tak terelakkan bagi Timor Leste. Di usia yang belum cukup untuk masuk SD, si kecil Timor Leste bagaikan bocah miskin kelaparan yang jangankan untuk sekolah, untuk minum seteguk air keruhpun harus berjuang.

Sejak memisahkan diri dari Indonesia, negara teranyar ini berharap banyak pada Laut Timor, tepatnya Celah Timor, untuk menghidupi dan menyejahterakan rakyatnya. Minyak dan gas bumi yang bersembungi di dasar Laut Timor menjadi satu dari sedikit harapan hidupnya. Menguasai dan mengusahakannya secara leluasa tentu saja harapan yang tidak berlebihan. Apa daya, negara kecil miskin sumberdaya manusia ini tak punya kuasa. Australia dengan “niat baik”, yang selalu berusaha diyakinkan oleh Perdana Menteri Howard, menyudutkan Timor Leste pada ruang tanpa pilihan. Batas maritim yang oleh Timor Leste diinginkan menganut prinsip garis tengah (median line), sehingga sebagian besar ladang minyak dan gas berada dalam yurisdiksi Timor Leste, ditolak pewujudannya oleh Australa. Alih-alih, diwujudkan kawasan pengusahaan petrolium bersama (Joint Petroleum Development Area, JPDA) di Laut Timor. Kedua tetangga ini berbagi hasil tambang di Laut Timor.

Masih bersyukur, tekanan dunia internasional dapat melahirkan suatu kompromi pembagian hasil yang tidak terlalu mengecewakan untuk keseluruhan kawasan JPDA dan sekitarnya. Pembagian 90% untuk Timor Leste dan 10% untuk Australia pada JPDA dan 50:50 untuk kawasan tertentu lainnya dianggap cukup layak dan adil bagi Timor Leste. Meski demikian, ada juga yang mengatakan bahwa bahwa pembagian itu masih terlalu banyak untuk Australia yang sesungguhnya “tidak berhak”.

Beberapa buah Sydney Buses yang disumbangkan pemerintah New South Wales, Australia dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi onggokan besi tua sarang nyamuk di bumi Timor Leste yang merana. Ketidakmampuannya yang terlalu, bahkan membuatnya tidak bertahan memelihara beberapa buah bus. Ekonomi yang tak kunjung baik dan pemakaian dolar sebagai alat tukar rupanya tidak menciptakan keadaan yang menyejahterakan. Sedemikian tragiskah konsekuensi kemerdekaan yang diperoleh dengan dramatis tahun 1999 silam dari seorang Ibu bernama Indonesia?

Dalam keterbaringan Horta, resahnya Gusmao dan tersingkirnya Al-Katiri, Timor Leste tetap hanya sebuah negara kecil yang muda, ringkih dan lemah. Bepalingnya dunia pada urusan yang lebih seru di Iran dan Irak membuat perhatian tak lagi selayaknya. Sang anak yang lapar dan dahaga kehilangan santunan dari malaikat dunia dan telah membuatnya terhempas ke sudut kegelapan masa depan yang pekat mengiris-iris perasaan.

Sementara itu, Indonesia adalah kini tetangga terdekat. Lepas dari suka dan duka yang pernah terjadi dan menjadi lembaran hitam atau emas dalam sejarah keduanya, Indonesia adalah negara, kepada siapa Timor Leste selayaknya menoleh. Indonesia adalah bangsa santun tak terkira dan meyakini bahwa dendam adalah kesalahan dalam hidup. Oleh karenanya Indonesia sudah sepatutnya bersimpati dan berempati kepada tetangga ringkihnya. Mengingat keadaannya yang sekarat, banyak yang mungkin bisa dilakukan Indonesia untuk Timor Leste yang pastilah, beberapa diantaranya, sudah diwujudkan.

Meski demikian, gundah dan gelisahnya Timor Leste tentu saja adalah juga ancaman tersendiri bagi Inonesia yang berbagi pulau dengannya. Letak geografis yang sangat dekat menjadikan Indonesia berpotensi sebagai penampung segala dampak kekacauan di Timor Leste. Sebagai bangsa yang awas, hal ini tentu sudah menjadi perhatian sejak lama dan membuat Indonesia berhati-hati. Selain itu, harus disadari bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalannya sendiri yang sepertinya juga tak kunjung usai. Kekacauan politik, ganguan keamanan sosial dan beruntunnya bencana alam menjadikan Indonesia juga luluh lantak dan kelelahan. Tidak banyak sepertinya yang bisa disumbangkan bangsa yang besar tapi masih “flu” ini. Meski demikian, bukan berarti Indonesia tidak berbuat sesuatu. Sembari memerhatikan kesehatan sendiri yang semoga membaik, setidaknya Indonesia bisa bersimpati, mengatakan di dalam hati bahwa kita bersaudara. Bahwa kesejahteraanmu adalah doa bagiku. Semoga lekas Sembuh Timor Leste.

No plastic bag please :)

Ketika membayar sebuah novel di kasir Gramedia, saya menolak dikasih tas plastik. Alasannya sederhana saja, saya ingin langsung membacanya. Kali ini bukan karena saya tidak mau seperti orang lain yang membaca di Gramedia tanpa mau membeli bukunya, semata-mata karena tidak satupun novel yang saya inginkan itu bisa ditemui dalam keadaan terbuka. Maklum novel tersebut tidak ada di rak biasa tetapi di meja bundar dekat kasir karena konon termasuk buku best seller. Ada juga yang menyebutnya the most powerful book in Indonesia. Tapi posting ini bukan tentang novelnya, melainkan tentang tas plastiknya.

Mas penjaga kasir memandang bengong agak bingung. Apakah memang aneh tidak meminta tas plastik ketika berbelanja? Saya jadi ingat tulisannya Dewi Lestari beberapa waktu lalu, betapa tidak efisiennya hidup kita dan betapa banyaknya sampah yang kita hasilkan dari kegiatan harian kita. Walaupun bukan termasuk “a big fan of climate change issue” rasanya ada hal kecil yang bisa saya lakukan. Menolak satu tas plastik dari Gramedia tentu tidak bisa serta merta menghentikan derasnya laju perubahan iklim, tetapi memang itu yang bisa dilakukan saat ini.

Saya jadi ingat puisi Taufik Ismail yang pernah dikirimkan Astri pada saya. Memang ada kalanya kita tidak bisa menjadi beringin. Setidaknya kita bisa menjadi belukar yang tumbuh di tepi danau atau bahkan rumput, tetapi rumput yang menguatkan tanggul jalan. Meski tidak bisa seperti Andrew Shepherd di American President yang dengan lantang mengatakan bahwa Gedung Putih akan mengirim Resolusi 455 kepada Kongres yang mensyaratkan pengurangan 20% emisi minyak fosil dalam 10 tahun, setidaknya saya bisa katakan “No plastic bag please.”

Suasana hati

Dalam sebuah perhentian setelah didera hujan badai, saya bercakap-cakap dengan Asti, istri saya. Saya berkelakar tentang apa yang baru saja terjadi. Kalau sepuluh tahuh yang lalu, saya termasuk menyukai hujan. Bukan karena hujan membawa kesuburan tetapi karena itu artinya saya akan menjemput pacar dari kampus dan harus menggunakan satu jas hujan berdua. Saya mengendarai motor satu tangan sementara satu tangan lagi bertugas entah di mana 🙂 Bagi pemuda penyandang status mahasiswa tak kaya, tidak ada momen yang lebih romantis dari ini. Berkendara berdua menembus hujan dengan satu jas hujan adalah saat-saat yang tidak mudah dihilangkan dari ingatan. Istri saya tersenyum geli ketika mendengar kisah itu diputar ulang.
Kini, saya tanya, apakah hujan masih menghadirkan sensasi yang sama? Kami termenung sesaat dan tertawa lebar. Sambil bergurau saya katakan, kalau dulu hujan membawa sensasi romantika, sekarang hujan mengingatkan kita bahwa motor ternyata tidak cukup, terutama di musim hujan. Ketika saya tanyakan apakah kebahagiaannya berkurang dengan suasana ini, beginilah kira-kira jawabannya yang saya bahasakan ulang.

Yang terpenting ternyata adalah pikiran kita. Saat kita tidak merasa miskin, pikiran kita memang tidak gelisah. Situasi ini adalah satu persinggahan hidup kita yang tidak akan selamanya seperti ini. Ini adalah soal kapan kita mau berhenti dan hidup “layak” seperti yang diinginkan lingkungan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita memang akan berhenti di sini dan hidup ‘makmur’ atau masih meneruskan perjalanan dan rela bersahabat dengan perjuangan yang memang hampir selalu tidak nyaman. Saat ini kita merasa cukup. Memang seperti inilah semestinya hidup kita sekarang. Berkendara di tengah hujan yang mengguyur tetap terasa menyenangkan karena pikiran kita telah dibius oleh keyakinan bahwa hidup kita sesungguhnya lebih dari ini. Kaya atau miskin ternyata adalah persoalan pikiran juga. Seandainya saja kita hidup tanpa harapan, berkendara di derasnya hujan dengan satu mantel seperti ini memang bisa jadi menimbulkan kegelisahan.

Seperti kata Gede Prama, sesungguhnya kita bisa hidup sejahtera selamanya dan menemukan kedamaian di setiap kejadian. Begitulah hidup itu semestinya.