Bersimpati pada tetangga


Juli tahun 2004 silam, saya bercakap-cakap singkat dengan Jose Ramos Horta di sebuah gedung besar nan berwibawa di salah satu sudut Kota Sydney. Delimitasi batas maritim antara Indonesia dan Timor Leste adalah topik yang mendominasi ketika itu. Tiga setengah tahun kemudian, surat kabar, televisi, internet dan radio diriuhkan oleh berita tertembaknya Sang Presiden negeri muda ini. Tiga peluru tak tanggung-tanggung merobek tubuhnya dan terutama mengoyak dan nyaris menumbangkan keperkasaan pendirian politiknya. Dendam dan pembalasan adalah motif di balik kebengisan ini yang justru berbuah tewasnya Reinado sang pendendam. Dunia tertegun sejenak, semua melirik Timor Leste yang muda, ringkih, sekarat dan hampir binasa dalam sejarah bangsa-bangsa.

Tertembaknya Horta bukanlah hanya satu yang mencirikan ancaman atas negeri panas ini. Perdana Mentri Gusmao juga tak luput dari keberingasan timah-timah panas. Masih bersyukur, tubuhnya terlindung logam mobilnya yang menyelamatkan. Singkat kata, keresahan dan kegelisahan serta ancaman adalah keseharian yang menjadi sahabat tak terelakkan bagi Timor Leste. Di usia yang belum cukup untuk masuk SD, si kecil Timor Leste bagaikan bocah miskin kelaparan yang jangankan untuk sekolah, untuk minum seteguk air keruhpun harus berjuang.

Sejak memisahkan diri dari Indonesia, negara teranyar ini berharap banyak pada Laut Timor, tepatnya Celah Timor, untuk menghidupi dan menyejahterakan rakyatnya. Minyak dan gas bumi yang bersembungi di dasar Laut Timor menjadi satu dari sedikit harapan hidupnya. Menguasai dan mengusahakannya secara leluasa tentu saja harapan yang tidak berlebihan. Apa daya, negara kecil miskin sumberdaya manusia ini tak punya kuasa. Australia dengan “niat baik”, yang selalu berusaha diyakinkan oleh Perdana Menteri Howard, menyudutkan Timor Leste pada ruang tanpa pilihan. Batas maritim yang oleh Timor Leste diinginkan menganut prinsip garis tengah (median line), sehingga sebagian besar ladang minyak dan gas berada dalam yurisdiksi Timor Leste, ditolak pewujudannya oleh Australa. Alih-alih, diwujudkan kawasan pengusahaan petrolium bersama (Joint Petroleum Development Area, JPDA) di Laut Timor. Kedua tetangga ini berbagi hasil tambang di Laut Timor.

Masih bersyukur, tekanan dunia internasional dapat melahirkan suatu kompromi pembagian hasil yang tidak terlalu mengecewakan untuk keseluruhan kawasan JPDA dan sekitarnya. Pembagian 90% untuk Timor Leste dan 10% untuk Australia pada JPDA dan 50:50 untuk kawasan tertentu lainnya dianggap cukup layak dan adil bagi Timor Leste. Meski demikian, ada juga yang mengatakan bahwa bahwa pembagian itu masih terlalu banyak untuk Australia yang sesungguhnya “tidak berhak”.

Beberapa buah Sydney Buses yang disumbangkan pemerintah New South Wales, Australia dalam waktu yang tidak terlalu lama menjadi onggokan besi tua sarang nyamuk di bumi Timor Leste yang merana. Ketidakmampuannya yang terlalu, bahkan membuatnya tidak bertahan memelihara beberapa buah bus. Ekonomi yang tak kunjung baik dan pemakaian dolar sebagai alat tukar rupanya tidak menciptakan keadaan yang menyejahterakan. Sedemikian tragiskah konsekuensi kemerdekaan yang diperoleh dengan dramatis tahun 1999 silam dari seorang Ibu bernama Indonesia?

Dalam keterbaringan Horta, resahnya Gusmao dan tersingkirnya Al-Katiri, Timor Leste tetap hanya sebuah negara kecil yang muda, ringkih dan lemah. Bepalingnya dunia pada urusan yang lebih seru di Iran dan Irak membuat perhatian tak lagi selayaknya. Sang anak yang lapar dan dahaga kehilangan santunan dari malaikat dunia dan telah membuatnya terhempas ke sudut kegelapan masa depan yang pekat mengiris-iris perasaan.

Sementara itu, Indonesia adalah kini tetangga terdekat. Lepas dari suka dan duka yang pernah terjadi dan menjadi lembaran hitam atau emas dalam sejarah keduanya, Indonesia adalah negara, kepada siapa Timor Leste selayaknya menoleh. Indonesia adalah bangsa santun tak terkira dan meyakini bahwa dendam adalah kesalahan dalam hidup. Oleh karenanya Indonesia sudah sepatutnya bersimpati dan berempati kepada tetangga ringkihnya. Mengingat keadaannya yang sekarat, banyak yang mungkin bisa dilakukan Indonesia untuk Timor Leste yang pastilah, beberapa diantaranya, sudah diwujudkan.

Meski demikian, gundah dan gelisahnya Timor Leste tentu saja adalah juga ancaman tersendiri bagi Inonesia yang berbagi pulau dengannya. Letak geografis yang sangat dekat menjadikan Indonesia berpotensi sebagai penampung segala dampak kekacauan di Timor Leste. Sebagai bangsa yang awas, hal ini tentu sudah menjadi perhatian sejak lama dan membuat Indonesia berhati-hati. Selain itu, harus disadari bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi persoalannya sendiri yang sepertinya juga tak kunjung usai. Kekacauan politik, ganguan keamanan sosial dan beruntunnya bencana alam menjadikan Indonesia juga luluh lantak dan kelelahan. Tidak banyak sepertinya yang bisa disumbangkan bangsa yang besar tapi masih “flu” ini. Meski demikian, bukan berarti Indonesia tidak berbuat sesuatu. Sembari memerhatikan kesehatan sendiri yang semoga membaik, setidaknya Indonesia bisa bersimpati, mengatakan di dalam hati bahwa kita bersaudara. Bahwa kesejahteraanmu adalah doa bagiku. Semoga lekas Sembuh Timor Leste.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s