Mengumbar cinta


Ada orang yang dilahirkan dengan bakat mampu menyatakan cinta dengan kata-kata. Saat cinta diperingati di hari valentine seperti sekarang, orang sekelas ini akan bangun di pagi hari dengan puisi-puisi cinta. Atau setidaknya mereka akan menyenandungkan musikalisasi puisi tenar seperti “Aku ingin”-nya Sapardi Djoko Damono di kamar mandi. Berbahagialah orang yang bisa bercerita tentang cinta karena cerita adalah hal paling eksplisit yang sering kali tidak memerlukan kemampuan menebak untuk memahaminya.

Sementara itu, ada sebagian orang yang tidak dilahirkan dengan bakat verbal tentang cinta. Jangankan untuk mengungkapkan cinta yang sudah mulai tua umurnya, untuk mengungkapkan cinta pertama yang akan mengubah hidup pun, orang seperti ini bisa kehilangan kata. Begitulah manusia, berbeda-beda bakat dan kemampuannya. Meski demikian, dinyatakan ataupun tidak, cinta selalu ada. Dia seperti angin, tak terlihat tapi terasa, seperti gula yang manisnya tak kasat mata tetapi diyakini. Seperti Tuhan, dia tidak memerlukan kepercayaan untuk membuat hukumNya bekerja sempurna. Hukum digdayanya yang tanpa cela, berlaku kepada yang percaya maupun kepada yang tidak, kepada yang memuja maupun memaki. Demikianlah juga cinta.

Apakah itu artinya cinta tidak perlu dinyatakan? Aku adalah orang yang selalu setuju bahwa cinta harus dikatakan, lagi dan lagi. Memang harus diakui bahwa getaran yang terasa ketika bertemu pertama kali dengan perempuan pujaan berbeda dengan getaran yang menjelma setelah anak dua dan kontrakan rumah sudah jatuh tempo sementara uang di tabungan tak lagi menjanjikan. Kenyataan hidup yang tidak selalu seindah mimpi, membuat pernyataan cinta sering kali tidak lagi menempati urutan tertinggi. Meski demikian, tidak menyatakan bukan berarti lupa dan kehilangan rasa cinta. Cinta yang kuat dan kepada siapa saja, ada meski dalam kebisuan yang dalam.

Genjo yang surveyor tetap memiliki cinta pada teodolit tua dalam kebisuannya. Yan Koplar yang minder menyimpan cinta dalam langkah hidupnya yang penuh keraguan. Made Kondang yang pengumbar cinta menyatakan cinta kepada istri dan anak dalam puisinya yang kadang singkat karena kesibukan. Nyoman Sumi berlinang air mata dalam diamnya untuk menyatakan cinta pada ibu tuanya. Ayah, Ibu, Saudara dan semua orang di muka bumi, saling mencintai dengan diam, kata mapun tindakan. Selamat hari Valentine.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

4 thoughts on “Mengumbar cinta”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s