Laskar Pelangi


Bagi banyak orang, buku yang akan saya ulas ini sama sekali tidak baru. Buku ini telah diterbitkan lama dan menjadi pembicaraan di mana-mana. Dia bahkan disebut sebagai Indonesia’s most powerfull book. Sangar sekali.

Seperti biasa, saya bukanlah orang yang gandrung membaca buku. Tidak mudah mencari motivasi untuk membuka lembaran-lembaran buku, apalagi yang setebal Laskar Pelangi (LP) tanpa alasan yang sangat kuat. Adalah Kick Andy yang akhirnya mengantarkan saya kepada LP. Saya juga harus berterima kasih kepada Gede Prama yang memang secara tidak langsung merekomendasikan buku itu dalam acara tersebut. Sayapun memulai pengembaraan dalam lorong-lorong sastra realita yang disuguhkan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. Tidak seperti biasanya, buku setebal itu saya habiskan dalam waktu kurang dari seminggu tanpa pernah merasa mengantuk. Sekedar informasi, saya sangat mudah tertidur membaca buku, betatapun seriusnya buku itu, dan betapapun pentingnya 🙂

Membaca LP dan tetraloginya bagi saya adalah seperti membaca kisah sendiri. Kehidupan kampung yang sederhana, sekolah yang memprihatinkan dan kemiskinan yang sangat akrab adalah pantulan masa lalu yang bahkan mungkin belum tuntas berakhir. Kekuatan LP ada pada kejujurannya. Menulis sesuatu yang jujur jauh lebih mudah dan lebih memikat dibandingkan khayalan, itu keyakinan saya pribadi. Kekuatan lain tentu saja adalah kekayaan informasinya. Sebagai orang yang senang menulis, saya mendapatkan diri tenggelam di lautan dalam ciptaan Andrea Hirata yang bertabur informasi tak bertepi. Karya ini adalah sebuah ciptaan serius yang telah membuat pengarangnya menjelajahi banyak tempat, menembus waktu dan menggali informasi hingga titik dalam yang bahkan mungkin tidak dikunjungi orang lain. Kefasihannya mengungkapkan nama latin setiap tumbuhan yang dideskripsikannya dalam novel tersebut, misalnya, adalah pertanda keseriusannya dalam berkarya.

Karya yang besar memang adalah karya yang dibuat sepenuh hati, dengan pengabdian yang tulus dan idealnya tanpa dibelenggu oleh batasan-batasan imbalan, apalagi komersialisasi yang menuntut. Saya menduga, LP diciptakan dalam nuansa hati seperti ini. Gede Prama menegaskan, ini adalah perwujudan cinta. Cinta seorang murid pada gurunya.

LP saya lahap dengan tawa geli seperti tersindir oleh masa lalu, dengan uraian air mata karena kesedihan mengaru biru, dan dengan getar hati yang menggelora karena tebaran semangat yang membuncah perasaan. Membaca LP memang seperti menyaksikan diri sendiri walaupun dalam banyak hal sangatlah berbeda. Saya, seperti halnya saya, tidak akan mengatakan buku ini sangat bagus, tidak juga merekomendasikannya kepada siapapun. Jika kebetulan ada, cobalah tengok 5 atau 10 halaman pertamanya. Selanjutnya adalah kekuasaan Anda yang kemudian memutuskan apakah Anda akan berenang dalam lautan sastra realita yang memikat seperti yang saya alami atau berkata “terima kasih, saya tidak tertarik”. Selamat memutuskan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

1 thought on “Laskar Pelangi”

  1. SEPAKAT!
    Saya pernah tertipu oleh hingar bingar best seller Ayat2 Cinta, tapi begitu baca 3 bab pertama saya muaaakksss!! Untuk kisah, okelah, tapi bahasa? Kering kerontang.
    Nah untuk LP, saya sempat keukeuh tidak mau tersentuh tipu daya yang sama: BEST SELLER (puh!apapula itu..).
    Tapi, masya Allah, ketika saya nekat minjem dan baca 1 bab pertama…saya bilang: INILAH MASTERPIECE!!!! Langsung saya buru Sang Pemimpi dan Edensor ke Gramedia, kini sedang nunggu Maryamah Karpov.

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s