Sempurna


Calon alumni muda ini kecewa. Dari sorot matanya saya bisa menduga. “Pak Andi juga mikir dulu to buat translate judul skripsi saya” katanya memecah perenungan saya yang agak dalam. Saya, seperti biasa, diminta membantu mahasiswa yang sudah menyelesaikan seminar skripsi untuk menerjemahkan judul skripsinya ke dalam Bahasa Inggris. Entah bagaimana ceritanya, saya seperti menjadi petugas penerjemah tanpa lisensi, plus tanpa SK, apalagi gaji 🙂 Tapi saya nikmati betul pekerjaan ini.

Kali ini judulnya cukup istimewa sehingga saya berpikir agak lama dan rupanya membuat calon alumni di depan saya meragukan saya, dan kecewa. Kalimat spontannya mengisyaratkan semuanya. Saya hanya tersenyum singkat dan kemudian menyelesaikan tugas saya. Percakapan berakhir dan semua menjadi sejarah yang entah akan diingat entah tidak.

Di kesempatan lain, salah seorang sahabat sejawat berkomentar “Masa sih Pak Andi perlu latihan dulu sebelum presentasi?” Tidak mudah meyakinkan teman kalau saya tidak pernah bisa dan tidak mau presentasi tanpa latihan. Saya berlatih materinya, berlatih susunan kalimat, berlatih intonasi, memilih dan memilah istilah yang tepat dan yang terpenting berlatih menggunakan waktu agar tidak melebihi yang disediakan. Sampai hari ini pun, saat saya sudah presentasi bahkah hingga markas besar PBB, dan menjadi presenter terbaik di sebuah forum internasional, saya tetap berlatih.

Komentar calon alumni dan kawan sejawat saya ini memiliki benang merah. Di satu sisi, bisa jadi ini terdengar seperti sanjungan tetapi yang saya tangkap justru sesuatu yang berbahaya. Bahaya karena saya dianggap bisa sesuatu karena memang sudah bisa, bahaya karena di situ tidak ada apresiasi terhadap proses berusaha dan belajar. Mengapa harus heran melihat saya berpikir dan mengapa harus terkejut melihat saya berlatih? Rupanya mereka salah menduga, saya hanyalah orang biasa yang bisa sesuatu bukan karena keturunan, tidak juga karena hasil meditasi, tetapi hasil berpikir dan berlatih. Kalau harus ada penghargaan, saya kira lebih baik diberikan kepada mereka yang bodoh tapi menjadi pintar karena berusaha dengan semangat, bukan kepada mereka yang ketika lahir sudah sempurna, dan bahkan tidak tahu jalan menuju sempurna.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s