Suasana hati


Dalam sebuah perhentian setelah didera hujan badai, saya bercakap-cakap dengan Asti, istri saya. Saya berkelakar tentang apa yang baru saja terjadi. Kalau sepuluh tahuh yang lalu, saya termasuk menyukai hujan. Bukan karena hujan membawa kesuburan tetapi karena itu artinya saya akan menjemput pacar dari kampus dan harus menggunakan satu jas hujan berdua. Saya mengendarai motor satu tangan sementara satu tangan lagi bertugas entah di mana 🙂 Bagi pemuda penyandang status mahasiswa tak kaya, tidak ada momen yang lebih romantis dari ini. Berkendara berdua menembus hujan dengan satu jas hujan adalah saat-saat yang tidak mudah dihilangkan dari ingatan. Istri saya tersenyum geli ketika mendengar kisah itu diputar ulang.
Kini, saya tanya, apakah hujan masih menghadirkan sensasi yang sama? Kami termenung sesaat dan tertawa lebar. Sambil bergurau saya katakan, kalau dulu hujan membawa sensasi romantika, sekarang hujan mengingatkan kita bahwa motor ternyata tidak cukup, terutama di musim hujan. Ketika saya tanyakan apakah kebahagiaannya berkurang dengan suasana ini, beginilah kira-kira jawabannya yang saya bahasakan ulang.

Yang terpenting ternyata adalah pikiran kita. Saat kita tidak merasa miskin, pikiran kita memang tidak gelisah. Situasi ini adalah satu persinggahan hidup kita yang tidak akan selamanya seperti ini. Ini adalah soal kapan kita mau berhenti dan hidup “layak” seperti yang diinginkan lingkungan kita. Pertanyaannya adalah apakah kita memang akan berhenti di sini dan hidup ‘makmur’ atau masih meneruskan perjalanan dan rela bersahabat dengan perjuangan yang memang hampir selalu tidak nyaman. Saat ini kita merasa cukup. Memang seperti inilah semestinya hidup kita sekarang. Berkendara di tengah hujan yang mengguyur tetap terasa menyenangkan karena pikiran kita telah dibius oleh keyakinan bahwa hidup kita sesungguhnya lebih dari ini. Kaya atau miskin ternyata adalah persoalan pikiran juga. Seandainya saja kita hidup tanpa harapan, berkendara di derasnya hujan dengan satu mantel seperti ini memang bisa jadi menimbulkan kegelisahan.

Seperti kata Gede Prama, sesungguhnya kita bisa hidup sejahtera selamanya dan menemukan kedamaian di setiap kejadian. Begitulah hidup itu semestinya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s