Dimensi Tiga


Cerpen I Made Andi Arsana

“Tit tit tit tit tit tit”, suara berisik itu membangunkanku dari tidur yang sesungguhnya tidak lelap. Sudah setahun ini tidurku mudah terjaga karena memang tidak pernah pulas. Dering yang jauh dari merdu itu mengalir dari weker tua di atas meja di sebelah dipanku. Aku amati dengan mata yang belum awas sempurna, jam 5.30 pagi dan hari masih gelap. Ada keengganan mengangkat tubuhku dari tempat tidur, tetapi tetap harus kulakukan. Ini bukan hari libur.

Tanganku dengan pasti meraih sebatang besi bediameter 1 cm dengan panjang tidak kurang dari 70 cm. Handuk sudah melilit di leher dan ember berisi sabun aku tenteng di tangan kiri. Aku pastikan anjing yang selalu menggangu ritual pagiku tidak berkutik hari ini. Aku melangkah pelan melintasi jalan setapak di sawah yang kering. Meskipun gelap, kakiku seperti bermata, tidak pernah salah langkah. Sepertinya aku tahu kapan saat melompat, kapan saat berjinjit pelan dan kapan berlari kecil meski tidak ada senter menerangi kegelapan subuh.

Melintasi halaman rumah gubuk Pan Koplar, aku melangkah pelan agar tidak berisik. Aku malas berurusan dengan anjingnya yang lamis, gemar menggonggong. Tidak hanya itu, anjing hitam besar itu juga tidak segan mengejarku dan dengan bernafsu ingin menggigit. Insiden ini rutin setiap subuh, membuatku benci ritual mandi pagi di Sungai Ayung. Apa daya, sepertinya aku tidak memiliki pilihan yang lebih baik.

“Guk guk guk”, aku terkejut, sadar dari keliaran pikiranku yang sempat berkelana entah ke mana. Belum sempat aku bersiap-siap, anjing yang selalu menjadi trauma pagiku menghambur mendekat, menyalak seperti tidak ingin memberi ampun. Dua bulan lalu, aku pasti sudah lari terbirit-birit mengindar, tetapi tidak untuk pagi ini. Aku menghadapinya dan tidak bergerak. Hanya tanganku yang dengan pasti menggenggam sebatang besi siap diayunkan. Jika si anjing tak tahu diri ini lebih dari sekedar menyalak, tak ayal lagi besi dingin ini akan menghantam badannya. Entah apa yang akan terjadi setelah itu dan entah apa yang akan dilakukan Pan Koplar kepadaku. Entahlah.

Anjing besar itu rupanya tahu apa yang aku siapkan. Sekitar satu meter di depanku dia berhenti tetapi tetap menggonggong beringas. Aku menatapnya tanpa lengah sedikitpun. Monster itu bergerak memutar, akupun mengikutinya. Aku berotasi dan menjadikan kakiku sebagai poros mengikuti gerakan anjing ini. Sedikitpun tak kulepaskan tatapanku dari matanya. Aku tahu ini tidak akan berlangsung lama, dia akan segera pergi karena Pan Koplar akan segera keluar dari rumah gubuknya dan menyelamatkan aku.

Gerit daun pintu melegakanku. Suara parau Pan Koplar yang berteriak memanggil Joni, anjing sialan ini, menjadi satu-satunya penyelamatku, seperti biasa. Selalu begitu setiap pagi, aku diselamatkan pak tua ini dengan mudahnya. Joni, anjing besar yang galak itu, tunduk oleh perintah majikannya, Pan Koplar. Memang sudah menjadi kecenderungan, nama anjing di Bali bahkan lebih bagus dari nama majikannya. Di desaku di Tabanan, ada anjing yang dinamai Reagen, Rony, Pussy dan sebagainya, sementara majikannya adalah Kocong, Bagong, Toblo atau Lecir. Itulah ”fenomena”, kata salah satu tokoh di Wayang Kulit Ceng Blonk yang populer itu.

Aku bergegas ke sungai setelah selamat dari ancaman anjing galak itu. Mandi, dan segala ritual lain dilakukan tanpa kesan istimewa. Yang ada dalam pikiranku adalah tiba di sekolah tanpa terlambat karena terlambat berarti push up di depan Pak Semar, sang kepala sekolah. Aku harus cepat-cepat.

”Kapan kita belajar di tempatmu? Sudah tiga bulan belajar kelompok, masa nggak pernah di tempatmu sih?” Oming mendesakku saat akan memutuskan tempat belajar kelompok sore itu. Suasana inilah yang paling aku benci. Aku selalu benci ketika teman-temanku ingin datang ke rumah untuk alasan apapun. Aku tidak pernah menginginkan mereka ada di rumahku yang tua, reot dan tak berlistrik. Berdindingkan gedeg yang ditutup koran Wiyata Mandala dan lantai yang berdebu adalah kesempurnaan sebuah rumah yang meruntuhkan rasa percaya diriku. Maka dari itu aku selalu menghindar ketika seorang teman ingin menemuiku di rumah. Aku tidak pernah mengijinkan mereka.

”Nanti saja, masih banyak kesibukan di rumah, nggak enak untuk belajar. Takutnya kita tidak bisa konsentrasi nanti.” begitu aku selalu menjawab, yang aku tahu tidak pernah memuaskan rasa penasaran mereka. Mereka tentu tidak mengerti. Tidak mudah menjadi anak yang hidup di rumah gedeg di jalur hijau Padang Galak, tak berlistrik, tanpa kamar mandi dan harus bersekolah di salah satu SMA terbaik di Bali. Situasi menjadi lebih sulit ketika ini terjadi di penghujung abad ke-20 saat anak SMA bahkan sudah mengendarai mobil untuk apel ke rumah pacarnya. Sama sekali tidak mudah. Jika ada yang tidak tahu persis bagaimana rasanya, tanyakanlah kepadaku.

”Kamu sombong amat sih, gak mau didatangi di rumah. Payah nih Andi!” seperti biasa Oming mengakhiri negosiasinya dengan putus asa dan aku sambut dengan diam. Aku memang cenderung mengindari diskusi soal rumah, pesta, ngumpul-ngumpul, bersenang-senang dan segala sesuatu yang terkait menikmati hidup ala remaja. Bukannya tidak mau, aku selalu merasa berada di tempat yang salah jika harus melakukan kegiatan semacam itu. Singkat kata, aku menderita penyakit minder yang akut. Bukan karena aku bodoh tetapi karena aku miskin. Sangat miskin. Pastilah tidak mudah menemukan seorang anak SMA di Denpasar yang belajar dengan lampu sentir dan mandi di sungai setiap pagi di penghujung milenium II. Aku yakin sekali bahwa hanya ada satu orang seperti itu di muka bumi ini dan akulah orangnya. Betapa istimewanya aku, dalam arti yang sangat mengenaskan.

”Sudahlah, kamu istirahat saja dulu di rumah. Badanmu panas sekali.” Ibuku berusaha meyakinkanku untuk tidak masuk sekolah. Bukannya aku anti membolos, aku tidak ingin teman-temanku mendengar aku sakit dan kemudian mencari-cariku. Jika ini terjadi, tidak sulit bagi mereka untuk muncul di kamarku yang sama sekali tidak layak untuk dipertontonkan ini. Aku bersikeras bangun dan bersiap melesat ke sekolah. Sayang sekali, sakitku rupanya tidak ringan. Aku terhuyung dan terhempas kembali di tempat tidurku yang kumal. Ibuku semakin yakin dengan nasihatnya dan akupun terkulai tak berdaya. Sepanjang hari aku tidak bisa memejamkan mataku walaupun sudah kupaksa. Aku gelisah. Gelisah membayangkan 15 orang sahabat baikku akan muncul di pintu kamarku yang kusam dan menyaksikan hidupku yang lusuh dan lantak tanpa harapan. Apa yang akan mereka pikirkan setelah itu? Masihkah mereka akan menerimaku sebagai bagian dari mereka? Berbagai pertanyaan itu membebani kepalaku dan menjadikan hari ini sangat panjang.

”Gus…gus… ada teman-temanmu datang” di tengah ketenggelamanku dalam lamunan yang dipenuhi kekhawatiran, rupanya aku tertidur sekaligus berpikir. Aku tersentak mendengar bisikan ibuku dan berharap itu hanyalah mimpi. Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, wajah cantik Oming menyembul dari pintu. ”Mati aku!” aku panik bukan kepalang dan mengumpat dalam hati. Tetapi terlambat sudah semuanya. Yus, Wulan, Cok, Ryan dan Ayu mengikuti di belakangnya dan menebarkan senyum termanisnya membuat hatiku kian miris. Dhar, Pre, Eddy, Iwan, Gung, Wahyu, Agus, Oka dan Victor bermunculan satu satu memenuhi kamarku yang tidak luas. Aku hanya menyambut dengan senyum getir. Mereka tentulah mengerti apa yang kurasakan siang itu.

Basa-basi yang sangat kaku pun terjadi. Adalah Oming yang selalu paling bisa memecah kebekuan. Dialah satu-satunya yang sepertinya tidak terpengaruh dengan suasana kamarku yang mengenaskan. Sementara itu, yang lain masih sesekali terpana dengan tempelan koran Wiyata Mandala di dinding kamarku. Tanpa sadar mereka bahkan mengamati dengan seksama wajah-wajah yang bertebaran di koran yang tertempel tak rapi di gedeg tua itu. Apa yang kurisaukan terjadi juga. Teman-temanku datang tanpa diundang dan mengungkap aib yang selama ini kurahasiakan. Kemiskinanku tertelanjangi sudah dan kini pasti menjadi konsumsi publik untuk dihina dan direndahkan. Itulah yang ada dalam pikiranku. Kedatangan mereka untuk menyemangatiku agar sembuh dari sakit sama sekali tidak mencapai tujuannya. Aku bertambah sakit. Sakit hati dan lantak oleh penyesalan karena dilahirkan sebagai orang miskin.

Aku terbayang rumah Oming yang seperti rumah sakit bersalin, putih, besar dan megah. Belajar berkelompok di rumahnya adalah aktivitas kesukaanku. Belum lagi habis teh hangat manis di poci keramik mahal yang boleh kami minum sepuasnya, Mbok Dek, pembantunya, sudah datang dengan sirup dingin rasa strawberi di siang yang panas. Aku merasa seperti putra-putra kerajaan Hastina Pura yang belajar dan disuguhi apa saja yang mereka mau. Alangkah kontrasnya situasi di rumah yang mirip rumah bersalin ini dengan gubuk reotku yang tua, lusuh dan jauh dari wibawa.

”Ndi, nanti sore aku ke rumah ya. Ajarin aku Dimensi Tiga.” Oming menodongku suatu pagi di sekolah. Selama ini aku selalu ke rumahnya untuk belajar (atau mungkin lebih tepat disebut mengajari) Matematika, Fisika, Bahasa Inggris dan bahkan Bahasa Indonesia. “Di tempatmu aja Ming, kan sekalian pulang sekolah” aku menolak bukan karena alasan efisiensi tetapi lagi-lagi karena aku masih tidak pe-de membiarkan gadis cantik ini memasuki rumahku. “Nggak ah, males di rumah terus. Pokoknya aku yang ke sana ya.” Biarpun cantik dan kelihatan keibuan, perempuan ini keras kepala kalau ada maunya. Aku tidak akan bisa menolaknya.

“Yang terpenting dalam belajar Dimensi Tiga adalah imajinasi, Ming. Pikiranmu harus liar, dan kuat dalam membayangkan yang tidak nampak.” aku mulai membuka kuliahku meskipun agak kaku. Tentu saja kaku, hari ini adalah saat pertama aku menerima Oming di kamarku untuk belajar Matematika. Sulit aku bayangkan hal ini sebelumnya. Teman baikku datang ke rumah rapuhku dan menyaksikan semua keterbatasanku secara ekonomi sementara aku harus mengajarinya Matematika. Apakah aku sedang bermimpi? Diam-diam aku memandang wajah seriusnya yang tidak lepas dari buku Matematika di depannya. Dia seperti bergumamam…

Excuse me… excuse me… could you please take my picture?” aku tersentak dari lamunan panjangku. Seorang gadis cantik Amerika Latin berdiri di depanku. “could you please do me a big favor? I really need my picture with the lady.” Gadis ini mengulangi permintaannya seraya menunjuk Patung Lady Liberty yang berdiri megah tidak jauh dariku. “Oh sure, no problem!” Aku menjawab cepat seraya meraih kamera digital yang disodorkannya padaku. Akupun memotret gadis cantik ini bersama patung kebanggaan Bangsa Amerika itu. Lady Liberty memang telah menjadi ciri khas tidak saja New York tetapi juga seluruh Negeri Paman Sam ini. Sangat tepat Prancis menghadiahkan ‘gadis’ ini kepada publik Amerika di penghujung abad ke-19.

Aku memandang jauh ke Manhattan menyaksikan pencakar langit yang angkuh namun anggun berebut memenuhi langit kota yang kian temaram. Berdiri di Liberty Island sore ini melambungkan ingatanku pada masa SMA yang penuh kekhawatiran. Aku ingat Oming yang rumahnya seperti rumah bersalin itu. Aku merindukan belajar Dimensi Tiga bersamanya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

2 thoughts on “Dimensi Tiga”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s