Dimensi Tiga

Cerpen I Made Andi Arsana

“Tit tit tit tit tit tit”, suara berisik itu membangunkanku dari tidur yang sesungguhnya tidak lelap. Sudah setahun ini tidurku mudah terjaga karena memang tidak pernah pulas. Dering yang jauh dari merdu itu mengalir dari weker tua di atas meja di sebelah dipanku. Aku amati dengan mata yang belum awas sempurna, jam 5.30 pagi dan hari masih gelap. Ada keengganan mengangkat tubuhku dari tempat tidur, tetapi tetap harus kulakukan. Ini bukan hari libur.

Tanganku dengan pasti meraih sebatang besi bediameter 1 cm dengan panjang tidak kurang dari 70 cm. Handuk sudah melilit di leher dan ember berisi sabun aku tenteng di tangan kiri. Aku pastikan anjing yang selalu menggangu ritual pagiku tidak berkutik hari ini. Aku melangkah pelan melintasi jalan setapak di sawah yang kering. Meskipun gelap, kakiku seperti bermata, tidak pernah salah langkah. Sepertinya aku tahu kapan saat melompat, kapan saat berjinjit pelan dan kapan berlari kecil meski tidak ada senter menerangi kegelapan subuh.

Melintasi halaman rumah gubuk Pan Koplar, aku melangkah pelan agar tidak berisik. Aku malas berurusan dengan anjingnya yang lamis, gemar menggonggong. Tidak hanya itu, anjing hitam besar itu juga tidak segan mengejarku dan dengan bernafsu ingin menggigit. Insiden ini rutin setiap subuh, membuatku benci ritual mandi pagi di Sungai Ayung. Apa daya, sepertinya aku tidak memiliki pilihan yang lebih baik.

“Guk guk guk”, aku terkejut, sadar dari keliaran pikiranku yang sempat berkelana entah ke mana. Belum sempat aku bersiap-siap, anjing yang selalu menjadi trauma pagiku menghambur mendekat, menyalak seperti tidak ingin memberi ampun. Dua bulan lalu, aku pasti sudah lari terbirit-birit mengindar, tetapi tidak untuk pagi ini. Aku menghadapinya dan tidak bergerak. Hanya tanganku yang dengan pasti menggenggam sebatang besi siap diayunkan. Jika si anjing tak tahu diri ini lebih dari sekedar menyalak, tak ayal lagi besi dingin ini akan menghantam badannya. Entah apa yang akan terjadi setelah itu dan entah apa yang akan dilakukan Pan Koplar kepadaku. Entahlah.

Anjing besar itu rupanya tahu apa yang aku siapkan. Sekitar satu meter di depanku dia berhenti tetapi tetap menggonggong beringas. Aku menatapnya tanpa lengah sedikitpun. Monster itu bergerak memutar, akupun mengikutinya. Aku berotasi dan menjadikan kakiku sebagai poros mengikuti gerakan anjing ini. Sedikitpun tak kulepaskan tatapanku dari matanya. Aku tahu ini tidak akan berlangsung lama, dia akan segera pergi karena Pan Koplar akan segera keluar dari rumah gubuknya dan menyelamatkan aku.

Gerit daun pintu melegakanku. Suara parau Pan Koplar yang berteriak memanggil Joni, anjing sialan ini, menjadi satu-satunya penyelamatku, seperti biasa. Selalu begitu setiap pagi, aku diselamatkan pak tua ini dengan mudahnya. Joni, anjing besar yang galak itu, tunduk oleh perintah majikannya, Pan Koplar. Memang sudah menjadi kecenderungan, nama anjing di Bali bahkan lebih bagus dari nama majikannya. Di desaku di Tabanan, ada anjing yang dinamai Reagen, Rony, Pussy dan sebagainya, sementara majikannya adalah Kocong, Bagong, Toblo atau Lecir. Itulah ”fenomena”, kata salah satu tokoh di Wayang Kulit Ceng Blonk yang populer itu.

Aku bergegas ke sungai setelah selamat dari ancaman anjing galak itu. Mandi, dan segala ritual lain dilakukan tanpa kesan istimewa. Yang ada dalam pikiranku adalah tiba di sekolah tanpa terlambat karena terlambat berarti push up di depan Pak Semar, sang kepala sekolah. Aku harus cepat-cepat.

”Kapan kita belajar di tempatmu? Sudah tiga bulan belajar kelompok, masa nggak pernah di tempatmu sih?” Oming mendesakku saat akan memutuskan tempat belajar kelompok sore itu. Suasana inilah yang paling aku benci. Aku selalu benci ketika teman-temanku ingin datang ke rumah untuk alasan apapun. Aku tidak pernah menginginkan mereka ada di rumahku yang tua, reot dan tak berlistrik. Berdindingkan gedeg yang ditutup koran Wiyata Mandala dan lantai yang berdebu adalah kesempurnaan sebuah rumah yang meruntuhkan rasa percaya diriku. Maka dari itu aku selalu menghindar ketika seorang teman ingin menemuiku di rumah. Aku tidak pernah mengijinkan mereka.

”Nanti saja, masih banyak kesibukan di rumah, nggak enak untuk belajar. Takutnya kita tidak bisa konsentrasi nanti.” begitu aku selalu menjawab, yang aku tahu tidak pernah memuaskan rasa penasaran mereka. Mereka tentu tidak mengerti. Tidak mudah menjadi anak yang hidup di rumah gedeg di jalur hijau Padang Galak, tak berlistrik, tanpa kamar mandi dan harus bersekolah di salah satu SMA terbaik di Bali. Situasi menjadi lebih sulit ketika ini terjadi di penghujung abad ke-20 saat anak SMA bahkan sudah mengendarai mobil untuk apel ke rumah pacarnya. Sama sekali tidak mudah. Jika ada yang tidak tahu persis bagaimana rasanya, tanyakanlah kepadaku.

”Kamu sombong amat sih, gak mau didatangi di rumah. Payah nih Andi!” seperti biasa Oming mengakhiri negosiasinya dengan putus asa dan aku sambut dengan diam. Aku memang cenderung mengindari diskusi soal rumah, pesta, ngumpul-ngumpul, bersenang-senang dan segala sesuatu yang terkait menikmati hidup ala remaja. Bukannya tidak mau, aku selalu merasa berada di tempat yang salah jika harus melakukan kegiatan semacam itu. Singkat kata, aku menderita penyakit minder yang akut. Bukan karena aku bodoh tetapi karena aku miskin. Sangat miskin. Pastilah tidak mudah menemukan seorang anak SMA di Denpasar yang belajar dengan lampu sentir dan mandi di sungai setiap pagi di penghujung milenium II. Aku yakin sekali bahwa hanya ada satu orang seperti itu di muka bumi ini dan akulah orangnya. Betapa istimewanya aku, dalam arti yang sangat mengenaskan.

”Sudahlah, kamu istirahat saja dulu di rumah. Badanmu panas sekali.” Ibuku berusaha meyakinkanku untuk tidak masuk sekolah. Bukannya aku anti membolos, aku tidak ingin teman-temanku mendengar aku sakit dan kemudian mencari-cariku. Jika ini terjadi, tidak sulit bagi mereka untuk muncul di kamarku yang sama sekali tidak layak untuk dipertontonkan ini. Aku bersikeras bangun dan bersiap melesat ke sekolah. Sayang sekali, sakitku rupanya tidak ringan. Aku terhuyung dan terhempas kembali di tempat tidurku yang kumal. Ibuku semakin yakin dengan nasihatnya dan akupun terkulai tak berdaya. Sepanjang hari aku tidak bisa memejamkan mataku walaupun sudah kupaksa. Aku gelisah. Gelisah membayangkan 15 orang sahabat baikku akan muncul di pintu kamarku yang kusam dan menyaksikan hidupku yang lusuh dan lantak tanpa harapan. Apa yang akan mereka pikirkan setelah itu? Masihkah mereka akan menerimaku sebagai bagian dari mereka? Berbagai pertanyaan itu membebani kepalaku dan menjadikan hari ini sangat panjang.

”Gus…gus… ada teman-temanmu datang” di tengah ketenggelamanku dalam lamunan yang dipenuhi kekhawatiran, rupanya aku tertidur sekaligus berpikir. Aku tersentak mendengar bisikan ibuku dan berharap itu hanyalah mimpi. Belum sempat aku menyadari apa yang terjadi, wajah cantik Oming menyembul dari pintu. ”Mati aku!” aku panik bukan kepalang dan mengumpat dalam hati. Tetapi terlambat sudah semuanya. Yus, Wulan, Cok, Ryan dan Ayu mengikuti di belakangnya dan menebarkan senyum termanisnya membuat hatiku kian miris. Dhar, Pre, Eddy, Iwan, Gung, Wahyu, Agus, Oka dan Victor bermunculan satu satu memenuhi kamarku yang tidak luas. Aku hanya menyambut dengan senyum getir. Mereka tentulah mengerti apa yang kurasakan siang itu.

Basa-basi yang sangat kaku pun terjadi. Adalah Oming yang selalu paling bisa memecah kebekuan. Dialah satu-satunya yang sepertinya tidak terpengaruh dengan suasana kamarku yang mengenaskan. Sementara itu, yang lain masih sesekali terpana dengan tempelan koran Wiyata Mandala di dinding kamarku. Tanpa sadar mereka bahkan mengamati dengan seksama wajah-wajah yang bertebaran di koran yang tertempel tak rapi di gedeg tua itu. Apa yang kurisaukan terjadi juga. Teman-temanku datang tanpa diundang dan mengungkap aib yang selama ini kurahasiakan. Kemiskinanku tertelanjangi sudah dan kini pasti menjadi konsumsi publik untuk dihina dan direndahkan. Itulah yang ada dalam pikiranku. Kedatangan mereka untuk menyemangatiku agar sembuh dari sakit sama sekali tidak mencapai tujuannya. Aku bertambah sakit. Sakit hati dan lantak oleh penyesalan karena dilahirkan sebagai orang miskin.

Aku terbayang rumah Oming yang seperti rumah sakit bersalin, putih, besar dan megah. Belajar berkelompok di rumahnya adalah aktivitas kesukaanku. Belum lagi habis teh hangat manis di poci keramik mahal yang boleh kami minum sepuasnya, Mbok Dek, pembantunya, sudah datang dengan sirup dingin rasa strawberi di siang yang panas. Aku merasa seperti putra-putra kerajaan Hastina Pura yang belajar dan disuguhi apa saja yang mereka mau. Alangkah kontrasnya situasi di rumah yang mirip rumah bersalin ini dengan gubuk reotku yang tua, lusuh dan jauh dari wibawa.

”Ndi, nanti sore aku ke rumah ya. Ajarin aku Dimensi Tiga.” Oming menodongku suatu pagi di sekolah. Selama ini aku selalu ke rumahnya untuk belajar (atau mungkin lebih tepat disebut mengajari) Matematika, Fisika, Bahasa Inggris dan bahkan Bahasa Indonesia. “Di tempatmu aja Ming, kan sekalian pulang sekolah” aku menolak bukan karena alasan efisiensi tetapi lagi-lagi karena aku masih tidak pe-de membiarkan gadis cantik ini memasuki rumahku. “Nggak ah, males di rumah terus. Pokoknya aku yang ke sana ya.” Biarpun cantik dan kelihatan keibuan, perempuan ini keras kepala kalau ada maunya. Aku tidak akan bisa menolaknya.

“Yang terpenting dalam belajar Dimensi Tiga adalah imajinasi, Ming. Pikiranmu harus liar, dan kuat dalam membayangkan yang tidak nampak.” aku mulai membuka kuliahku meskipun agak kaku. Tentu saja kaku, hari ini adalah saat pertama aku menerima Oming di kamarku untuk belajar Matematika. Sulit aku bayangkan hal ini sebelumnya. Teman baikku datang ke rumah rapuhku dan menyaksikan semua keterbatasanku secara ekonomi sementara aku harus mengajarinya Matematika. Apakah aku sedang bermimpi? Diam-diam aku memandang wajah seriusnya yang tidak lepas dari buku Matematika di depannya. Dia seperti bergumamam…

“Excuse me… excuse me… could you please take my picture?” aku tersentak dari lamunan panjangku. Seorang gadis cantik Amerika Latin berdiri di depanku. “could you please do me a big favor? I really need my picture with the lady.” Gadis ini mengulangi permintaannya seraya menunjuk Patung Lady Liberty yang berdiri megah tidak jauh dariku. “Oh sure, no problem!” Aku menjawab cepat seraya meraih kamera digital yang disodorkannya padaku. Akupun memotret gadis cantik ini bersama patung kebanggaan Bangsa Amerika itu. Lady Liberty memang telah menjadi ciri khas tidak saja New York tetapi juga seluruh Negeri Paman Sam ini. Sangat tepat Prancis menghadiahkan ‘gadis’ ini kepada publik Amerika di penghujung abad ke-19.

Aku memandang jauh ke Manhattan menyaksikan pencakar langit yang angkuh namun anggun berebut memenuhi langit kota yang kian temaram. Berdiri di Liberty Island sore ini melambungkan ingatanku pada masa SMA yang penuh kekhawatiran. Aku ingat Oming yang rumahnya seperti rumah bersalin itu. Aku merindukan belajar Dimensi Tiga bersamanya.

ADS 2008: LIST OF SUCCESSFULL AWARDEES

Hampir 300 wajah generasi muda terbaik Indonesia hari ini boleh berseri karena berhasil mendapatkan beasiwa Australian Development Scholarship (ADS). Sementara itu, mungkin ada tidak kurang dari 4000 wajah harus sedikit murung karena belum berhasil tahun ini. Ada yang bahkan hingga 12 kali mendaftar baru lolos, jadi jangan pernah menyerah. Kata orang yang agak bijaksana, kita tidak tahu berapa kali kita akan jatuh. Yang terpenting adalah berapa kali kita bisa bangun. Adalah ketika kita bangun akan menjadi sejarah yang dibicarakan.

Selamat kepada para pemanang tahun ini. Dapatkan informasinya dari:

  1. Situs ADS Jakarta
  2. Server UGM
  3. WordPress
  4. Rapidshare

Semoga bermanfaat 🙂

Perjalanan

Ada perjalanan terencana, ada juga yang tidak. Yang pertama kata orang bijaksana lebih baik karena hasilnya terukur dan terantisipasi. Begitulah pendapat, bisa saja beragam dan tidak harus disetujui.

Betapapun terencananya, selalu saja dalam perjalanan ada sesuatu yang tidak terduga. Ada kesedihan, ada juga kejutan yang memacu adrenalin. Ada kegembiraan yang tak terduga, ada juga bahkan bibit kemakmuran dan kemasyuran yang bertumbuh subur dalam sebuah perjalanan. Bagiku semua itu istimwa. Perjalanan kali ini bahkan adalah penemua sang diri yang telah lama dicari dan sedikit dikesampingkan. Selamat bertemu kembali diriku.

Tambal ban

Perasaanku lega menyaksikan ada ban tergantung di batang kayu di depanku bertuliskan “tambal ban.” Syukurlah ada yang masih bersedia memberi pelayanan tambal ban di waktu yang sudah larut seperti ini. Setelah menuntun motor dengan ban bocor selama beberapa saat, kini perasaanku lebih tenang.
Lelaki tua di atas 60 tahun menyapa dengan ramah. “Monggo Mas, dijok’ke mriki mawon“, sambil menunjuk tempat di mana dia ingin aku parkir sepeda motor malang itu. Dengan tenaga tuanya si bapak mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Nampak jelas beliau sudah tidak cekatan lagi. Pandangannya juga sudah kabur, terbukti dengan berkali-kali salah menempatkan kunci ketika harus membuka baut roda. Ada perasaan tidak sejahtera menyaksikan pemandangan itu.

“Dugi jam pinten le buka Pak?” aku bertanya mengusik kebekuan malam yang ditemani hujan. “Kula teng riki kok Mas, nggih jam pinten mawon kula tandangi” katanya menegaskan bahwa lelaki tua ini memang tidur di bengkelnya dan buka 24 jam. Aku menebar pandangan. Papan-papan tua disusun menjadi tempat tidur, di sebelahnya ada tungku dengan beberapa onggok kayu bakar berserakan tak rapi. Lelaki usur ini memang tinggal dan hidup di bengkelnya yang juga berfungsi sebagai rumah. Serakan bawang merah, botol kecap dan perabotan dapur yang kumal semakin menjelaskan hal ini. Aku menyaksikan semuanya dengan seksama sambil tetap memerhatikan cara kerja pak tua yang pelan karena usianya. Sementara itu, hujan masih menghadirkan suara berisik dari atap gubuk reotnya yang terbuat dari terpal, seng dan berbagai bahan lain yang berhasil didapatnya entah di mana.

“Nyuwun sewu Pak“, seorang lelaki menuntun sepeda yang dilengkapi kotak dagangan tahu goreng mendekat dan bertanya. “Gadah pompa dingge sepeda mboten nggih?” Lelaki setengah baya ini menanyakan pompa. Rupanya ban sepeda tuanya yang menjadi tumpuan bisnisnya juga bocor/kempes dan perlu dipompa. Sayang sekali bengkel tua ini tidak punya pompa sepeda sehingga lelaki penjual tahu goreng ini harus melangkah gontai tanpa harapan. Tubuhnya yang kurus kumal menghilang di kegelapan malam menuju tempat yang dia pun pasti tak yakin akan bisa menolongnya.

Lelaki kurus itu berwajah putus asa karena sepeda tua yang menjadi harapannya tidak bisa beroperasi. Di malam yang larut seperti ini, aku membayangkan dagangannya masih banyak dan dia pun pasti masih jauh dari rumah. Entah berapa nyawa yang setia menunggu di rumah dengan harap-harap cemas. Lelaki pahlawan keluarga ini pasti akan meresahkan keluarganya karena tidak pulang tepat waktu. Selain itu, pendapatannya pun tentu tidak sebagus biasanya. Ini akan membawa konsekuensi tersendiri pada keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

Aku pernah becita-cita jadi presiden. Malam ini aku pikirkan lagi. Menjadi presiden rupanya terlalu sulit karena untuk menolong kedua lelaki malang di depan mataku saat ini pun aku tak kuasa. Aku pandangi punggung lelaki kurus yang menghilang di depanku tanpa bisa berkata sepatah katapun. Aku spontan merogoh kantong celana, hatiku teriris bukan kepalang, di kantongku tak ada sepeserpun untuk melegakannya. Sementara itu lelaki yang menyelamatkanku malam ini dengan ban dalam barunya, mungkin masih tidur di bawah gubuk reot beratap seng yang berisik hingga waktu yang akupun tidak tahu. Aku harus memikirkan ulang cita-citaku…

Makmur

Seorang kawan datang mendekati dan berucap “Baru dari Amerika kok kamu masih naik motor? Gak level dong! Minimal Jazz lah harusnya!” Kawan ini memang suka bercanda dan tentu apa yang dikatakannya adalah kelakar biasa. Kelakar yang ringan tetapi kadang cukup telak menghujam perasaan, terutama jika tidak siap dan tidak tahu kebiasaannya.
Meskipun diucapkan dengan kelakar, saya yakin ujaran kawan ini mewakili perasaan dan pemikiran banyak sekali orang di sekitar saya. Jangankan orang lain, kata-kata semacam ini bisa jadi bahkan juga mewakili apa yang dicita-citakan orang tua atau mertua saya. Mungkin saja dalam hati kadang mereka bertanya “Katanya sudah hebat, katanya sudah melanglang buana, apa hasilnya? Mana mobilnya? Kok tidak seperti Pan Koplar yang cuma pemborong bangunan style Bali tetapi Kijangnya dua?“

Hidup di antara manusia dengan opini beragam memang harus siap dengan berbagai pandangan, terutama pandangan yang tidak sama dengan filosofi hidup kita. Saya secara pribadi tidak pernah menyalahkan sedikit juga pandangan dan pertanyaan seperti ini. Adalah kejadian yang sangat umum jika orang mengaitkan keberhasilan dan kesuksesan dengan materi. Memang tidak mudah untuk menerima bahwa seseorang dikatakan berhasil dan sukses dalam karirnya kalau ternyata tidak terbukti dengan keberadaan materi. Jikapun ada, nampaknya masih sangat sedikit yang bisa menerima bahwa kesuksesan karir tidak harus selalu dikaitkan dengan mobil dan uang banyak. Ketika menuliskan inipun saya tersenyum geli, merasa menjadi orang yang paling naif sedunia, bahkan sedikit munafik 🙂

Saya tidak akan berpanjang-panjang untuk mendebatkan ini karena kita memang memiliki pandangan yang pastilah tidak sama. Yang jelas, siapapun di muka bumi ini sebaiknya paham betul kebutuhannya akan materi. Harus jelas dimengerti seberapa banyak kebutuhan, termasuk seberapa besar keinginan. Yang lebih penting lagi, saya yakin bahwa kita harus menyempatkan diri untuk memilah mana kebutuhan dan mana keinginan. Saya tahu, saya mulai terdengar berteori dan sok bijaksana. Kawan saya tadi pasti dengan segera menyambar dengan kelakar khasnya “Kamu ngomong gitu kan untuk menutupi ketidakmampuanmu!” Teman saya ini juga tidak [sepenuhnya] salah. Tapi jika saya katakan bahwa saya tidak tertarik membeli mobil karena secara serius ingin berpartisipasi mengurangi emisi karbon, saya khawatir jawaban tersebut terdengar lebih memuakkan lagi.

Tanpa bermaksud memperseterukan pandangan yang memang beragam, kenikmatan hidup bagi saya adalah adanya kesempatan memilih secara sadar dari berbagai pilihan yang ada. Kenikmatan berjalan kaki mungkin akan meningkat jika jalan kaki itu adalah pilihan sadar, justru ketika kita mampu membeli mobil, misalnya. Menjadi dosen yang katanya gajinya kecil adalah juga kenikmatan tiada tara, terutama jika itu dipilih dengan sadar justru ketika banyak perusahaan swasta memperebutkan Anda. Bagi seorang presenter seperti Najwa Shihab, misalnya, bersekolah di negeri orang mungkin bukan pilihan yang menguntungkan secara materi. Meski begitu, pilihan yang tidak nyaman ini akan menjadi bermakna jika bersekolah ini adalah pilihan sadar justru saat berbagai tawaran memandu acara deras berdatangan. Itulah, menurut saya, yang disebut kenikmatan.

Dalam kebuntuan pemikiran dan kegelapan tanpa solusi bernas, saya biasanya kembali kepada prinsip sederhana: Hidup adalah tumpukan pilihan. Seperti nasihat Ibu saya di masa kecil, “memiliki kalung emas adalah untuk diri sendiri. Ketika memakainya, pakailah di dalam dan tertutup baju, tidak usah dikeluarkan dengan sengaja. Biarlah kalung itu membuat kita tenang dan bangga di dalam hati saja.” Saya tidak tahu persis makna nasihat itu, tetapi sepertinya saya bisa menerka-nerka maksudnya, terutama ketika kawan saya bertanya tentang Jazz 🙂

Seandainya….

Seandainya saya bekerja di Google salah satu hal yang saya usulkan kepada Larry dan Serge adalah memasang logo Google bertema Galungan dan Kuningan seperti gambar di atas. Saya akan jelaskan pada Larry dan Serge bahwa Galungan dan Kuningan adalah juga hari yang istimewa seperti halnya Lebaran, Natal, dan Waisak bagi sahabat-sahabat saya.

Bukan untuk sekedar gaya-gaya-an, logo ini untuk mengingatkan siapa saja bahwa pada hari terntentu, ada beberapa gelintir umat manusia di muka bumi, walaupun tidak seheboh mereka yang merayakan Natal dan Lebaran, yang bersuka cita dan menundukkan kepala dalam-dalam menyembah kebesaran Tuhan dan memperingati kemengan dharma atas adharma. Logo ini saya tampilkan agar ada lebih banyak orang belajar tentang toleransi dan tentang keunikan orang lain. Atau setidaknya agar tidak terjadi lagi kelucuan seperti yang terjadi beberapa saat lalu di Jakarta ketika sopir taxi Blue Bird tidak tahu membedakan Pura atau Wihara. Jika toleransi menjadi penting, maka mengetahui tempat suci agama-agama dan hari besarnya mungkin adalah salah satu langkah yang bisa dimulai.

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan bagi siapa saja yang merayakan.

Cewek Cantik itu Bernama Mary

Sejak menyaksikan iklan sinema unggulan di Indosiar yang berjudul “Cewek Cantik itu Bernama Sarah” (selanjutnya disebut “Sarah” saja, tayang 14 Januari 2008), saya langsung merasakan ada yang aneh. Keanehan muncul karena adegan yang ada di film tersebut sudah pernah saya lihat di film lainnya. ‘There’s Something About Mary’ (selanjutnya disebut “Mary” saja), itulah judul film berbahasa Inggris yang memuat banyak sekali adegan yang persis sama dengan Sarah. Saya tidak merasa perlu memaparkan adegan mana saja yang sama. Jika Anda pernah menonton Mary dan juga melihat Sarah di Indosiar, Anda akan tahu apa yang saya maksud. Tidak sulit untuk menuduh siapa yang menjiplak, mengingat Mary sudah ditayangkan tahun 1998 dan menjadi salah satu film laris di jamannya. Film ini dibintangi Ben Stiller dan Cameroon Diaz dengan kisah yang sangat amat mirip dengan Sarah.

Sangat sering sebenarnya ada film yang meniru adegan film lain atau setidaknya membuat parodinya. Dalam Shrek, misalnya adegan Pinocchio dalam menyelamatkan Shrek meniru adegan Mission Impossible, lengkap dengan ilustrasi musiknya. Adegan Matrix juga ada yang ditiru dalam Shrek. Dalam film ini ada unsur kesengajaan dan terutama keterbukaan kepada penonton. Ada kesan bahwa ini memang sengaja dilakukan untuk menawarkan kelucuan.

Ketika hal serupa terjadi pada “Sarah”, saya menangkap kesan yang kurang positif. Pertama karena yang terjadi adalah penjiplakan ide cerita (gagasan) dan yang kedua adalah banyak sekali adegan teknis yang persis sama, termasuk kata-kata yang diucapkan. Bedanya, Mary berbahasa Inggris dan Sarah berbahasa Indonesia. Hal lain adalah saya tidak melihat adanya permakluman bahwa Sarah memang diilhami oleh Mary. Bisa saja kemiripan ini dianggap kebetulan, tetapi mungkin hanya sedikit orang yang akan mempercayainya. Atau ini memang sebuah parodi?

Ketika ini dilihat sebagai kelucuan yang sederhana dan tidak penting, barangkali memang tidak harus dipersoalkan. Meski demikian, jika dilihat dari sudut pandang lain seperti proses kreatif dan kaidah atau etika hak cipta, ini bisa menjadi persoalan yang serius. Apakah sineas Indonesia memang telah mati kreativitasnya sehingga merasa perlu melakukan penjiplakan gagasan seperti itu dan menayangkannya di stasiun televisi sekelas Indosiar? Saya termasuk orang yang mengagumi Indosiar dengan hiburan yang disodorkannya. Usia yang ketiga belas beberapa hari lalu yang disemarakkan berbagai tayangan menarik bagi saya adalah sesuatu yang baik. Kemunculan Sarah di layar kaca Indosiar terus terang saja mengecewakan.

Tulisan ini tidaklah untuk menuntut Indosiar, tidak juga untuk menghujat tanpa memahami duduk perkara yang jelas. Tulisan ini adalah introspeksi kecil untuk Indosiar dan terutama untuk saya pribadi. Jadi teringat, betapa marahnya kita ketika lagu kita diakui bangsa lain. Apa yang sudah kita lakukan? Entahlah!

11 Januari

Sebelas Januari Bertemu
Menjalani Kisah Cinta Ini
Naluri Berkata Engkaulah Milikku
Bahagia Selalu Dimiliki
Bertahun Menjalani Bersamamu
Kunyatakan bahwa Engkaulah jiwakuAkulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Pernahku Menyakiti Hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua Karena kita ini manusia

Akulah Penjagamu
Akulah Pelindungmu
Akulah Pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Chorus:
Kau bawa diriku
Kedalam hidupmu
Kau basuh diriku
Dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah Hidupku
Kau sentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

Perempuan

Duduk menghadapi hidangan yang jelas bukan yang biasa dimakan bersama keluarga di desa dan merasakan dinginnya AC yang semilir pelan tapi merasuk sampai tulang, membuat percakapan sore itu menyisakan kesan. Berkesan bukan karena makanan di atas meja yang sesungguhnya terasa aneh, tetapi aliran percakapan yang sepertinya liar, menembuh sekat-sekat yang oleh para leluhur terlalnjut dibuat dan dipercaya.

Sore itu aku mendengar suara perempuan yang diucapkan dengan kedalaman hati dan kejujuran yang tidak akan pernah bisa lebih telanjang dari itu. “Kalau aku dan kamu sudah saling mengerti bahwa kita hidup di jaman yang sama, sekolah di sistem pendidikan yang sama, sama-sama bekerja di dunia swasta, dengan umur yang tidak terlalu jauh berbeda, mengapa aku harus lebih tahu alasan anak kita menangis daripada kamu? Kalau kamu yang dengan kecerdasan yang tidak jauh beda denganku tidak mengerti apa yang terjadi pada anak kita, mengapa aku harus tahu?“

Begitulah perempuan-perempuan jujur berucap pada belahan jiwanya yang oleh kaum adam mungkin terdengar seperti halilintar. Tapi sore itu, aku tidak mendengarnya seperti itu. Aku mendengar suara itu sebagai kejujuran paling polos dan adalah hak suara dari makhluk Tuhan bernama perempuan. Apakah aku yang bijaksana atau semata-mata karena dia bukan istriku? Aku tidak tahu…

Najwa Shihab

Bagi yang mengikuti Metro TV seharusnya tahu Today’s Dialogue dan pastinya tahu siapa Najwa Shihab. Nana, begitu dia dipanggil, memang seorang presenter top di Indonesia. Kesempatan bertemu dan berdiskusi dengannya pastilah bukan sesuatu yang biasa. karena itulah aku tuliskan di sini, seperti halnya aku mendokumentasikan pertemuan dengan tokoh populer lainnya seperti Marty Natalegawa, Hasjim Djalal, Mohamad Sobary, dan bahkan Ramos Horta. Meskipun kesemua tokoh itu akhirnya mungkin lupa pernah bertemu denganku, setidaknya bagiku ada pelajaran dan kesan tersediri.

Harus diakui, Nana, selain cantik, juga pintar. Being a very prominent presenter, kemampuan komunikasi oralnya mumpuni. Seorang kawan berkomentar, itulah bedanya menghadapi Najwa Shihab dan Dewi Persik. Kesan yang timbul akan berbeda setelah berbicara 🙂

Lepas dari urusan akan ke Australia bareng karena mendapatkan beasiswa yang sama, sore itu aku tetap merasa menjadi seorang fans biasa. Tentu saja foto ini adalah gagasanku. Gagasan seorang fans he he eh. Tak mugkinlah seorang Najwa Shihab meminta foto denganku 😦 Atau kalaupun dia ingin, pastilah akan ditahannya [bener gak Na?]. Pertemuan singkat itu bagiku berkesan. Sayang buku Batas Maritim Antarnegara tidak ada di tangan waktu itu. Seharusnya satu eksemplar aku hadiahkan dan ada fotonya memegang buku biru itu, seperti beberapa tokoh terkenal lainya.

Btw, penggemar Najwa Shihab mungkin akan kehilangannya untuk beberapa saat karena sang presenter kini sedang di Australia menyelesaikan master di University of Melbourne dengan beasiswa ALA dan ASA. Kita tunggu saja apakah Dewi Talk Show ini akan kembali untuk PilPres tahun 2009 ke layar kaca 🙂