Suasana desa…


Kembali ke desa adalah kembali ke masa lalu yang tidak pernah hilang indahnya. Desa yang entah berapa tahun sudah ditinggalkan tidak banyak berubah, ternyata. Kunjunganku kali ini bukan kunjungan biasa karena kali ini aku datang dari tempat yang jauh. Tempat yang bahkan malam di sini menjadi siang dan terang di sini menjadi gelap di sana.

Menyusuri pematang sawah menuju Pura atau meniyisiri kali menuju muara yang tak pernah dijumpai adalah pengalaman yang sesungguhnya tidak baru. Kali ini terasa berbeda. Berbeda karena teman-teman yang dulu kecil kini sudah menggendong anaknya. Berbeda karena jalanan yang dulu berlumpur kini rapi berlapiskan beton. Inilah manifestasi kemajuan, kata mereka. Danau kecil di sebelah desa yang dulu dicapai dengan kaki telanjang, kini dengan kuda besi. Sang kuda yang dibeli dari Jepang, akrab dengan jalan yang sudah berlapiskan beton. Apakah hidup di desa sudah berubah? Tentu saja berubah. Bukankah perubahan adalah satu-satunya yang tetap dalam hidup ini?

Yang Koplar kini bermobil kijang, setelah bebrapa saat menjadi pemborong bangunan style Bali. Dia memiliki banyak karyawan dan tubuhnya pun gemuk, tidak sekurus dulu. Nang Cubling kini bersandal Carvil, tidak lagi bertelanjang kaki seperti dulu. Mereka yang ke Pura sumringah karena di tangan kanannya ada jam tangan merek Citizen, bukan lagi gelang akar bahar seperti jaman dulu. Kehidupan memang telah berubah. Semoga saja ini pertanda kemajuan dan pencerahan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s