Perempuan


Duduk menghadapi hidangan yang jelas bukan yang biasa dimakan bersama keluarga di desa dan merasakan dinginnya AC yang semilir pelan tapi merasuk sampai tulang, membuat percakapan sore itu menyisakan kesan. Berkesan bukan karena makanan di atas meja yang sesungguhnya terasa aneh, tetapi aliran percakapan yang sepertinya liar, menembuh sekat-sekat yang oleh para leluhur terlalnjut dibuat dan dipercaya.

Sore itu aku mendengar suara perempuan yang diucapkan dengan kedalaman hati dan kejujuran yang tidak akan pernah bisa lebih telanjang dari itu. “Kalau aku dan kamu sudah saling mengerti bahwa kita hidup di jaman yang sama, sekolah di sistem pendidikan yang sama, sama-sama bekerja di dunia swasta, dengan umur yang tidak terlalu jauh berbeda, mengapa aku harus lebih tahu alasan anak kita menangis daripada kamu? Kalau kamu yang dengan kecerdasan yang tidak jauh beda denganku tidak mengerti apa yang terjadi pada anak kita, mengapa aku harus tahu?

Begitulah perempuan-perempuan jujur berucap pada belahan jiwanya yang oleh kaum adam mungkin terdengar seperti halilintar. Tapi sore itu, aku tidak mendengarnya seperti itu. Aku mendengar suara itu sebagai kejujuran paling polos dan adalah hak suara dari makhluk Tuhan bernama perempuan. Apakah aku yang bijaksana atau semata-mata karena dia bukan istriku? Aku tidak tahu…

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s