Saya telah lama terjebak dalam dunia ‘kanan’, berperan sebagai anak yang baik-baik saja. Saat tumbuh menjadi seorang anak kecil di desa yang letaknya bahkan tak tercatat di peta nasional, ukuran kebaikan seorang anak di desa saya sangatlah sederhana. Kalau sisiran rambut saya rapi, dibelah samping dan licin mengkilat oleh minyak kelapa lalu baju dimasukkan rapi, meskipun tidak sedang sekolah, maka saya sudah layak disebut anak baik. Jika saya menyapa orang yang saya temui di jalan dan menyalami mereka yang mampir ke rumah, maka saya sudah layak disebut anak teladan. Jika saya bertamu ke rumah orang atau berkunjung ke tempat-tempat umum (termasuk rumah sakit) dan menaggalkan sendal jepit lusuh saya lalu bertelanjang kaki menapaki lantai, maka saya sudah bisa disebut disiplin. Begitulan ukuran kebaikan dan keteladanan seorang anak kecil yang tumbuh di Desa Tegaljadi di tahun 1980an.
She is nobody
The leader is a woman. This woman is nobody. She was born and raised in a forgotten corner of the world. She is not a politician, not a public figure. She is not a famous one either. She is an ordinary woman but she is the rock of her family. She is a strong woman. She is a literally strong woman. In the 70s and early 80s, she worked in a traditional rock mining somewhere you could not even see in the premium Google Earth.
Early in the morning at around 4 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice field as if she learned the footpath by hearth. She walked, she jumped, she ran in the darkness and she never fell down. Her feet had eyes that can see in the darkness. She did it everyday for the live of her family. She is a persistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday.
Selamat Jalan
Ibu saya, meskipun jauh dari dunia glamor musik modern ternyata menaruh perhatian terhadap selera musik anaknya. “Idolamu meninggal, kasihan ya!” demikian kata beliau saat mendengar Michael Jackson berpulang.
Mungkin saya bukanlah fans fanatik Michael Jackson tetapi saya adalah orang yang secara sadar angkat topi untuk dia. Dia mengajarkan bahwa peran bisa dijalankan lewat apa saja. Yang terpenting adalah totalitas. Meski tidak semua kiprahnya menginspirasi, saatnya berfokus pada kebaikannya karena porsi untuk menghakimi kini bukan lagi milik kita. Selamat jalan Michael.
Netral

Made Kondang pening kepalanya memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dia yang kisah hidupnya tak pernah istimewa, tiba-tiba menjadi perhatian. Entah apa alasannya, Made Kondang terpilih menjadi Kelian Banjar, sebuah profesi yang bahkan tak pernah dimimpikan oleh leluhurnya akan disandang oleh anak cucu mereka. Singkat kata, Kondang yang adalah rakyat jelata, lahir dari rahim ibu yang tak kenal kata ‘leadership’ kini tergagap-gagap menjadi pejabat.
Semangat baru
Teman-teman Mahasiswa Indonesia,

Dari awal saya berkeyakinan bahwa kita, mahasiswa Indonesia, yang ada di University of Wollongong memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu yang baik. Di sisi lain, kita memiliki kerinduan yang sama untuk menjaga persahabatan di negeri rantau. Kemarin, Jumat tanggal 5 Juni 2009, sekitar 45 orang mahasiswa berkumpul dan telah mengambil satu langkah maju.
Saya berterima kasih kepada semua pihak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) UoW periode 2009-2010. Kepercayaan ini bagi saya adalah amanah yang harus dijunjung tinggi. Melihat antusiasme teman-teman dalam acara kemarin, saya optimis kita akan mampu bekerjasama menghasilkan sesuatu yang baik. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Sdr. Yudhistira Rifki atas pengabdiannya sebagai Presiden PPIA periode lalu.
Beda satu huruf

Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.
Ambalat

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.
Ulang Tahun
Tiga puluh satu tahun lalu, lembar pertama buku sejarah diri saya dimulai. Dilahirkan di sebuah keluarga sederhana di Desa Tegaljadi, tak banyak mimpi yang digantungkan tentang saya oleh orang tua dan kerabat ketika itu. Kelahiran saya jauh dari persiapan menghadapi masa depan dengan asuransi, jauh juga dari kerlip blitz kamera karena memang bukan bagian dari kehidupan orang tua saya. Kelahiran saya, seperti halnya kelahiran bayi-bayi lain di desa itu, adalah satu saja dari sekian banyak. Sama sekali tidak istimewa.
Tak terhitung banyaknya hal yang terjadi dalam hidup saya hingga kini. Tak semuanya istimewa, tak semuanya layak dicatat. Saat usia beranjak dewasa dan akhirnya tua, rasanya tak salah mengingat-ingat apa yang berkesan dan menjadikan saya hingga hari ini.
23 Tahun Bersekolah
Suatu pagi di tahun 1984, saya berdiri di halaman SD 1 Tegaljadi bersama 4 orang lain yang sebaya usianya. “Coba ambil batu 5 biji!“, demikian Pak Ketut Merta memerintahkan. Beliau adalah kepala sekolah. Sejurus kemudian, meluncur dari mulut bijaksana beliau “coba lari ke barat!“. Saya pun mengikuti setiap perintah itu, jujur saja, dengan perasaan sedikit dongkol. Berkecamuk antara pikiran excited dan ego yang seperti dikoyak dan direndahkan. Hari itu adalah pendaftaran masuk SD, dan saya diragukan akan bisa memenuhi syarat oleh kepala sekolah. Itulah sebabnya beliau perlu membuktikan bahwa saya dapat membedakan arah timur dan barat dan terutama bisa berhitung. Di masyarakat kami di desa terpencil di Bali, tahu arah timur dan barat adalah salah satu ciri kepintaran. Karena itulah mereka yang lemah daya pikirnya dijuluki orang yang tidak tahu ‘kangin (timur) kauh (barat)’.
