Asti sudah lenyap sejak jam 6 pagi saat hari masih berkabut dan dingin seperti tak kenal belas kasihan. Aku mendapati diri hanya berdua dengannya. Dia masih terkulai lemas di sofa, masih dengan selimut oranye dan bantal putih berbunga merah menyala. Matanya sayu dan nampak malas.
Setelah merayunya, akhirnya dia menuruti keinginanku. Berjalan ia menuju kamar mandi lalu diangkatnya tangannya menyerahkan diri sepenuhnya. Aku melukari pakaiannya satu persatu dengan perlahan. Inilah ritual hampir setiap pagi ketika Asti tidak ada dan tidak melihat kami… [bersambung]
Kadang orang bisa kehabisan kata untuk menuturkan sesuatu yang sesungguhnya hebat tetapi terjadi berulang-ulang dan menjadi rutinitas. Di saat Tukul muncul dengan gaya khasnya di Empat Mata, hampir semua orang berbicara tentangnya. Saat stasiun televisi memutuskan untuk menayangkan Empat Mata setiap hari, lambat laun orang menjadi kehilangan gairahnya. Hampir tidak ada lagi kejutan, hampir tidak ada lagi sesuatu yang baru, meskipun sebenarnya Tukul tetaplah lucu. Sesuatu yang menjadi rutinitas kadang bisa menimbulkan kebosanan, betapapun hebatnya.
Tujuh September tahun ini tepat duabelas tahun lalu saya bertemu Asti untuk pertama kalinya. Sebagai anak muda yang dilanda cinta ketika itu kami biasa memperingati hari penting ini bahkan hampir setiap bulan 🙂 Kini, ketika cinta beranjak dewasa, saat pelukan bukan lagi sesuatu yang layak disembunyikan dan saat bercinta bukan lagi sebuah larangan, kadang kami lupa. Lupa dengan gairah lama, karena rutinitas yang mendesak. Mungkin terlalu sedikit waktu tersedia untuk saling memuji, cinta dan kemesraan juga diinvasi oleh kewajiban-kewajiban teknis memandikan Lita, menyuapi makannya, mengantar sekolah, masak, nyuci, bersih-bersih rumah.
Sabtu malam, Asti sudah terlelap di sampingku yang masih terjaga. Kulihat lampu di ruang tamu nampak temaram. Samar-samar terdengar suara percakapan dari sebuah film di TV. Aku tahu, masih ada seorang perempuan yang menikmati acara TV di luar sana. Aku bangun hati-hati, Asti tak terjaga. Tanpa takut membuat gaduh, aku jalan ke luar ruangan tanpa perlu berjingkat. Aku yakin Asti tidak akan bangun.
Hari Jumat jam 3 sore, tidak seperti biasa, Asti, istriku, sudah pulang kerja. Langkah-langkah yang sedikit terburu dengan hentakan sepatu menginjak tangga terdengar hingga ke dalam rumah. Kami berdua yang masih di kamar menyadari hal ini. Dia menarik tubuhku dengan wajah panik dan mengajakku bersembunyi di balik selimut. “Let’s hide!” katanya.
Ijinkan hamba menyampaikan secarik kertas ini yang bertuliskan kata-kata sederhana. Kalimat-kalimat ini bukanlah sloka para pujangga yang akan membuai hati paduka yang sedang lara. Dia juga bukanlah mantra-mantra sakti mandraguna yang serta merta mencipta semburat senyum di wajah paduka yang telah lama dirundung nestapa. Untaian kalimat itu bukan obat yang diperolah baginda raja dari hasil bertapa di bawah pohon jakaranda. Dia tidak mengobati seketika.
Made Kondang, lelaki berotak desa itu tak henti-hentinya dirundung bingung. Dasar otaknya yang mungkin hanya separuh volume otak teman-temannya, tak banyak perkara yang mampu dia cerna dengan seksama. Kali ini adalah perihal awig-awig, aturan adat di Banjar Selem, banjar tetangganya.
Saya sedang terjebak dalam dunia sempit saya, tidak peduli pada sekitar karena sedang punya karya yang menyenangkan. Dua kawan dekat saya datang menghampiri dan hampir tidak saya ketahui. Mereka heran bertanya, apa yang sedang saya lakukan. Di tangan saya ada setumpuk kertas minyak tembus pandang, warnanya merah, ada juga yang putih. Potongannya kecil kurus menjuntai seperti rumbai-rumbai. Sementara itu di sebelahnya terdapat tumpukan kertas merah dan putih yang sama, namun dengan potongan yang berpola. Di sebelahnya lagi terongok sekaleng lem kertas yang tutupnya terbuka. Mereka tidak mengerti apa yang akan saya lakukan dengan perangkat dan bahan itu.
Tinggal dan besar di sebuah desa di Bali di tahun 1980an kadang membuat dunia terasa sempit. Terkait dengan seni, tidak banyak hal yang bisa dieksplorasi kecuali seni khas Bali yang sudah ada dan diwariskan turun temurun. Metetabuhan (gamelan) adalah salah satu hal yang tidak pernah mati di desa saya, Tegaljadi dan menjadi satu dari sangat sedikit alternatif seni yang bisa dinikmati dan dipentaskan.
Aku ingin menulis sesuatu yang abadi, seperti halnya yang tertuang dalam kitab-kitab suci yang mewarnai peradaban manusia. Aku ingin menulis sesuatu yang ketika dibaca esok hari tidak menimbulkan malu, sekaligus tetap bercahaya seratus tahun kemudian. Seperti itulah aku ingin menceritakan pertemuan kita pagi tadi. Ingin kuceritakan dengan bahasa yang tidak lekang oleh waktu dan hanya dimengerti oleh jiwa yang terbuka. Seperti halnya ayat-ayat suci yang selalu menyisakan ruang penafsiran sehingga tidak termakan waktu.
Made Kondang tidak mau masuk surga, apalagi mencapai moksa. Dia jelas tidak mau. Selain karena yakin dirinya tidak layak untuk surga, Made Kondang masih punya mimpi yang di kehidupannya sekarang belum tercapai. Saat reinkarnasi nanti, Kondang ingin memperbaiki kehidupannya. Dia ingin menjalani apa yang sekarang tidak bisa dijalaninya.
Made Kondang punya mimpi-mimpi yang indah. Yang jelas dia bosan dengan kehidupannya sekarang yang monoton dan tidak berguna. Dia memimpikan sebuah kehidupan yang dinamis, bergairah dan heboh. Ingin sekali dia mewarnai dunia dan namanya disebut-sebut dalam kasus yang menggetarkan bangsa-bangsa. Apa daya, Kondang hanyalah seorang petani penggarap. Dia hanya bisa bermimpi.