Bakat

Tinggal dan besar di sebuah desa di Bali di tahun 1980an kadang membuat dunia terasa sempit. Terkait dengan seni, tidak banyak hal yang bisa dieksplorasi kecuali seni khas Bali yang sudah ada dan diwariskan turun temurun. Metetabuhan (gamelan) adalah salah satu hal yang tidak pernah mati di desa saya, Tegaljadi dan menjadi satu dari sangat sedikit alternatif seni yang bisa dinikmati dan dipentaskan.

Continue reading “Bakat”

Pertemuan kembali

Aku ingin menulis sesuatu yang abadi, seperti halnya yang tertuang dalam kitab-kitab suci yang mewarnai peradaban manusia. Aku ingin menulis sesuatu yang ketika dibaca esok hari tidak menimbulkan malu, sekaligus tetap bercahaya seratus tahun kemudian. Seperti itulah aku ingin menceritakan pertemuan kita pagi tadi. Ingin kuceritakan dengan bahasa yang tidak lekang oleh waktu dan hanya dimengerti oleh jiwa yang terbuka. Seperti halnya ayat-ayat suci yang selalu menyisakan ruang penafsiran sehingga tidak termakan waktu.

Continue reading “Pertemuan kembali”

Reinkarnasi

reluctant-messenger.com
reluctant-messenger.com

Made Kondang tidak mau masuk surga, apalagi mencapai moksa. Dia jelas tidak mau. Selain karena yakin dirinya tidak layak untuk surga, Made Kondang masih punya mimpi yang di kehidupannya sekarang belum tercapai. Saat reinkarnasi nanti, Kondang ingin memperbaiki kehidupannya. Dia ingin menjalani apa yang sekarang tidak bisa dijalaninya.

Made Kondang punya mimpi-mimpi yang indah. Yang jelas dia bosan dengan kehidupannya sekarang yang monoton dan tidak berguna. Dia memimpikan sebuah kehidupan yang dinamis, bergairah dan heboh. Ingin sekali dia mewarnai dunia dan namanya disebut-sebut dalam kasus yang menggetarkan bangsa-bangsa. Apa daya, Kondang hanyalah seorang petani penggarap. Dia hanya bisa bermimpi.

Continue reading “Reinkarnasi”

Moon Walk

Saya telah lama terjebak dalam dunia ‘kanan’, berperan sebagai anak yang baik-baik saja. Saat tumbuh menjadi seorang anak kecil di desa yang letaknya bahkan tak tercatat di peta nasional, ukuran kebaikan seorang anak di desa saya sangatlah sederhana. Kalau sisiran rambut saya rapi, dibelah samping dan licin mengkilat oleh minyak kelapa lalu baju dimasukkan rapi, meskipun tidak sedang sekolah, maka saya sudah layak disebut anak baik. Jika saya menyapa orang yang saya temui di jalan dan menyalami mereka yang mampir ke rumah, maka saya sudah layak disebut anak teladan. Jika saya bertamu ke rumah orang atau berkunjung ke tempat-tempat umum (termasuk rumah sakit) dan menaggalkan sendal jepit lusuh saya lalu bertelanjang kaki menapaki lantai, maka saya sudah bisa disebut disiplin. Begitulan ukuran kebaikan dan keteladanan seorang anak kecil yang tumbuh di Desa Tegaljadi di tahun 1980an.

Continue reading “Moon Walk”

She is nobody

She is nobody
She is nobody

The leader is a woman. This woman is nobody. She was born and raised in a forgotten corner of the world. She is not a politician, not a public figure. She is not a famous one either. She is an ordinary woman but she is the rock of her family. She is a strong woman. She is a literally strong woman. In the 70s and early 80s, she worked in a traditional rock mining somewhere you could not even see in the premium Google Earth.

Early in the morning at around 4 am, she woke up. She took her sleeping son on her back, covered him with an old fragile towel. She travelled a long distance in the darkness breaking the foggy cold dark morning. She started the day with spirit. She went to the mining field. She passed the rice field as if she learned the footpath by hearth. She walked, she jumped, she ran in the darkness and she never fell down. Her feet had eyes that can see in the darkness. She did it everyday for the live of her family. She is a persistent woman. Her only son was always with her and she did not want him to be a rock miner, someday.

Continue reading “She is nobody”

Selamat Jalan

Ibu saya, meskipun jauh dari dunia glamor musik modern ternyata menaruh perhatian terhadap selera musik anaknya. “Idolamu meninggal, kasihan ya!” demikian kata beliau saat mendengar Michael Jackson berpulang.

Mungkin saya bukanlah fans fanatik Michael Jackson tetapi saya adalah orang yang secara sadar angkat topi untuk dia. Dia mengajarkan bahwa peran bisa dijalankan lewat apa saja. Yang terpenting adalah totalitas. Meski tidak semua kiprahnya menginspirasi, saatnya berfokus pada kebaikannya karena porsi untuk menghakimi kini bukan lagi milik kita. Selamat jalan Michael.

Netral

eggi168.wordpress.com
eggi168.wordpress.com

Made Kondang pening kepalanya memikirkan apa yang baru saja terjadi. Dia yang kisah hidupnya tak pernah istimewa, tiba-tiba menjadi perhatian. Entah apa alasannya, Made Kondang terpilih menjadi Kelian Banjar, sebuah profesi yang bahkan tak pernah dimimpikan oleh leluhurnya akan disandang oleh anak cucu mereka. Singkat kata, Kondang yang adalah rakyat jelata, lahir dari rahim ibu yang tak kenal kata ‘leadership’ kini tergagap-gagap menjadi pejabat.

Continue reading “Netral”

Semangat baru

Teman-teman Mahasiswa Indonesia,

Delivering a speech
Delivering a speech

Dari awal saya berkeyakinan bahwa kita, mahasiswa Indonesia, yang ada di University of Wollongong memiliki potensi untuk berkembang dan menghasilkan sesuatu yang baik. Di sisi lain, kita memiliki kerinduan yang sama untuk menjaga persahabatan di negeri rantau. Kemarin, Jumat tanggal 5 Juni 2009, sekitar 45 orang mahasiswa berkumpul dan telah mengambil satu langkah maju.

Saya berterima kasih kepada semua pihak atas kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) UoW periode 2009-2010. Kepercayaan ini bagi saya adalah amanah yang harus dijunjung tinggi. Melihat antusiasme teman-teman dalam acara kemarin, saya optimis kita akan mampu bekerjasama menghasilkan sesuatu yang baik. Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Sdr. Yudhistira Rifki atas pengabdiannya sebagai Presiden PPIA periode lalu.

Continue reading “Semangat baru”

Beda satu huruf

Ambalat di Kompas
Ambalat di Kompas

Ibu saya, meskipun hanya tamat SD, cerdasnya membuat saya kagum. Ketika saya kecil, beliau sering bercerita tentang pentingnya satu huruf atau satu tanda baca dalam kalimat. Beliau memulai ceritanya dengan adegan di pengadilan. Suatu saat, seorang terdakwa divonis hukuman mati. Surat keputusan itu berbunyi “Hukum bunuh tidak boleh ampun“. Nasib terdakwa ini sudah dapat dipastikan, dalam beberapa saat dia akan ke alam baka. Meski demikian, hakim yang akan membacakan putusan ini ternyata menaruh belas kasihan kepada terdakwa. Muncul idenya untuk mengutak atik surat putusan itu. Melihat kalimat putusan itu tanpa tanda baca, diapun mengubahnya menjadi “Hukum bunuh tidak, boleh ampun.” Ada tanda koma yang disisipkannya di antara kata “tidak” dan “boleh” sehingga kalimat itupun akhirnya dipahami dengan makna berbeda. Si terdakwa tidak dihukum bunuh, melainkan diampuni. “Satu tanda baca berharga satu nyawa” demikian ibu saya menutup ceritanya.

Continue reading “Beda satu huruf”

Ambalat

Batas Maritim
Batas Maritim

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.

Continue reading “Ambalat”