Ambalat


Batas Maritim
Batas Maritim

September tahun 2005, ketika saya memperkenalkan putri pertama kami kepada khalayak, sebagian besar menuduh secara positif bahwa kata “Ambalita” pada Putu Ambalita Pitaloka Arsana diilhami oleh “Ambalat”. Meski dengan segala kecerdasan saya mengait-ngaitkan Ambalita dengan Dewi Amba dari Kerajaan Kasi, yang akhirnya menitis dalam reinkarnasinya menjadi Srikandi, tetap saja banyak yang tersenyum geli. Menariknya, kawan-kawan saya ini memang tidak salah. Harus diakui bahwa Ambalita memang sedikit tidak diilhami oleh Ambalat.

Sebagai catatan penting untuk negeri ini, Ambalat memang menjadi bagian dari sejarah karir saya. Ambalat adalah ilham penting yang menemani saya membuat keputusan saat dihadapkan pada pertanyaan ‘kepakaran’. Tidak mudah memilih jalur kepakaran, terutama saat menjadi generasi yang memulai sejarah karir di tahun 2000-an. Saat memulai sekolah, saya merasa semua bidang ilmu sudah ada pakarnya dan semua pakar sudah mumpuni dengan keahliannya. Seperti tidak ada cukup ruang untuk saya menyelipkan diri yang masih ringkih tanpa postur. Begitulah situasi dilematis saya ketika itu.

Jika bangsa ini pernah dibuat mencekam karena Ambalat, saya adalah salah satu yang tanpa sengaja menjadikannya moment bermakna. Apa yang saya capai saat ini, tidak lepas dari Ambalat. Satu tulisan pertama saya muncul di Jakarta Post pada bulan April 2005. Tawaran berdiskusi mulai muncul dan berbagai makalah saya hasilkan dengan topik tersebut. Saat itulah kawan-kawan saya mulai mengidentikkan saya dengan kasus perbatasan.

Setelah lebih dari 5 tahun berlalu, saat Lita kini berumur hampir empat tahun, Ambalat muncul lagi. Meski selama lima tahun ini, Ambalat memang mencuat beberapa kali ke permukaan, kali ini termasuk yang paling serius sejak 2005. Saya tidak tertarik untuk membahas duduk perkaranya di sini. Saya sudah mencurahkan energi saya untuk membahasnya di Antara. Satu makalah populer juga sudah saya dedikasikan untuk banyak orang.

Lebih dari sekedar kasus perbatasan, Ambalat bagi saya adalah sebuah indikator perjalanan karir kepakaran, sekaligus cermin nasionalisme bagi diri sendiri. Membaca tulisan saya lima tahun lalu, jujur saja ada perasaan tak nyaman. Pasalnya, ada beberapa hal tidak akurat yang mengisi tulisan tersebut. Ini adalah refleksi evolusi pemahaman saya terhadap bidang yang saya geluti. Sekarang saya bisa mengejek masa lalu karena mendapati diri berpengetahuan seadanya. Meski ada rasa malu, ada juga rasa syukur. Pasalnya, jika kita melihat masa lalu dan mengejek, artinya masa kini lebih baik. Semoga saya memang mencapai kemajuan.

Dari sisi nasionalisme, tulisan saya juga merekam sebuah nilai penting. Tulisan yang dulu menghadirkan kesan emosi yang lebih meledak-ledak. Ada suatu kebanggaan ketika itu jika sempat menghujat dan menyalahkan pemerintah. Di saat yang sama, dengan pengetahuan seadanya, saya sesungguhnya tidak memberi kontribusi yang berarti, kecuali menjadi sedikit populer karena berseberangan dengan kekuasaan. Mendapati diri telah melalui jalan yang lebih panjang dan berkenalan dengan lebih banyak orang, saya melihat tulisan saya sekarang lebih jinak, tanpa kehilangan ketajamannya.

Satu hal yang saya sudah jadikan keputusan adalah bahwa saya ingin menjadi seorang pemikir yang lentur dan mudah didekati. Sebagai akademisi, saya tidak menabukan kedekatan dengan kekuasaan, meskipun menolak untuk berselingkuh. Perjalanan saya mengajarkan, ada banyak sekali ilmu dan kebijaksanaan di meja penguasa yang memperkaya pemikiran. Saya ingin menjadi orang yang mengatakan “tidak”, dengan terlebih dahulu membaca prasasti ilmiah sekaligus mendengar keluh kesah dan kebijaksanaan mereka yang duduk di belakang meja kekuasaan. Saya tidak ingin menjadi kerabat para pemburu ilmu, tetapi menjadi hantu bagi para penguasa. Saya ingin berteman baik dengan keduanya, mencicipi kemilau pengetahuan di menara gading sambil menenggak anggur di perjamuan para birokrat.

Tentulah tak mudah berada di dua dunia. Namun sudah saya putuskan. Ambalat telah saya ukir abadikan dalam trah generasi saya, saya harus belajar darinya. Belajar mengawinkan kebijaksanaan para pelaku dengan kecemerlangan para pemikir. Semoga saya bisa.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

14 thoughts on “Ambalat”

  1. Aku yakin,,,,,,,,andi pasti bisa,,,,,,,karena aku tak bisa berbuat banyak soal ambalat kecuali mendengar dari media, selamat berjuang………..

  2. What a great article..
    kalau saya: “ingin berteman baik dengan keduanya, menenggak anggur di perjamuan para birokrat sambil mencicipi kemilau pengetahuan di menara gading.”..
    namun impian saya adalah “mengadakan jamuan minum anggur para birokrat di menara gading pengetahuan, dimana tidak ada jeruji besi membatasi antara para birokrat dgn para empu menara gading itu sendiri”…

  3. Apapun yang telah Andi torehkan, lima tahun lalu, sekarang ini, bagi saya yang terpenting adalah Ambalat tidak menjadi “Sipadan dan Ligitan” ke-dua. Harapan saya kita sebagai sebuah bangsa lebih mempunyai harga diri, lebih dari sekedar kesantunan tanpa pijakan keyakinan mempertahankan hak dan kedaulatan bangsa. Ayo… bli… kita nyatakan mimpi mimpi kita…

  4. Om Swastyastu Pak Made,

    saya tertarik sekali dengan buku bapak ini. Karena saya punya perhatian khusus untuk batas2 wilayah maritim indonesia. kalau saya boleh tahu, dimana kiranya saya bisa mendapatkan buku bapak. terima kasih sebelumnya

    Salam
    Kaniacke

  5. Wah, forumnya bukan kelas Bapak sama sekali (topix) di sana (banyak sampahnya) dan saya pun akan kesulitan mencari thread yang saya lihat kemarin. (tidak bisa dipertanggungjawabkan).

    Intinya kira-kira, orang Malaysia di situ berargumen bahwa posisi Indonesia mengklaim Ambalat lebih lemah daripada Malaysia.

    Dan untuk mendukung argumen mereka, dikasih link ke blog ini dan ke wikipedia tentang Ambalat.

    Saya cari-cari, dan yang saya temukan di Wiki Answer ini :
    “With Sipadan- Ligitan a new Malaysia’s territory and archipelagic base line it is worth noting that the ICJ’s decision to grant Sipadan and Ligitan to Malaysia may change the configuration of Malaysia’s baseline thus, could theoretically put Indonesia in a worse position to claim Ambalat”.

    Pertanyaan saya, benarkah pernyataan di atas dari Bapak?

    terima kasih

  6. Please let me know if you’re looking for a article writer
    for your site. You have some really great articles and I feel I would be a good asset.
    If you ever want to take some of the load off, I’d love to write some articles
    for your blog in exchange for a link back to mine.

    Please shoot me an email if interested. Thank you!

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s