
Lihat ceritanya di balebanjar

Lihat ceritanya di balebanjar

Jumat malam, 9 Oktober 2009
Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.
Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.
Gadis itu memakai baju terusan batik berwarna merah hati, rambutnya rapi tertata, kulitnya putih bersih. Sambil tersenyum dia menawarkan handuk kecil putih yang berasap. Aku baru pertama kali melihat pemandangan ini, aku yang udik tidak pernah melihat handuk panas berkepul asap yang baru saja disodorkan kepadaku. Untuk apa benda kecil ini? Ternyata itu adalah handuk untuk membersihkan tangan dan wajah. Memang segar rasanya setelah menyapu wajah dengan handuk panas itu. Pengalaman yang sangat berkesan. Pramugari muda yang cantik itu telah memberiku kenangan yang kuat.

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.
“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.

Bencana menjadi cerita keseharian. Dia tidak lagi menyeramkan seperti ketika aku berlari bertelanjang dada, resah membentur dinding rumah tua saat linuh kecil datang menghampiri di tahun 1980an. Di negeri ini, duka nestapa dan air mata tak lagi sakral, tak lagi berbisa untuk mengundang iba dan belas kasihan. Tangisan seperti suara angin yang mengalir tiada henti. Air mata yang membahasi wajah-wajah polos ataupun berdosa merambat pasti tak ubahnya parit kecil di desa Tegaljadi yang tak pernah berhenti. Dengan apa lagi harus kugambarkan duka ini, karena kata-kata sudah kehilangan ketajaman maknanya.

Saya jarang sekali posting masalah teknis di blog ini. Kali ini rasanya menarik untuk diceritakan karena terkait banyak hal lain yang tidak teknis. Semoga bermanfaat untuk pembaca.
Asti, istri saya, mendapat kesempatan menari Cendrawasih di sebuah acara penggalangan dana kanker payudara di University of Wollongong, Australia. Yang menarik diceritakan adalah Asti diminta menyiapkan gamelan (musik) dalam format mp3. Sedangkan kami hanya memiliki VCD tari Bali di rumah. Saya harus mencari akal dan mendapatkan mp3 dalam waktu beberapa hari. Jika mau membeli mungkin tidak sedikit yang menjualnya. Hanya saja masih saja ada rasa iseng mendapatkan sesuatu tanpa harus membeli. Sayapun mulai mencari-cari. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Tante Google, saya menemukan bahwa ada software gratis yang bernama Freez Sofware yang bisa mengubah video FLV menjadi mp3.

Made Kondang tak banyak paham soal psikologi hubungan mertua dan menantu. Yang pasti diketahuinya, Men Dagdag, tetangganya, dan menantunya sering ribut, bertengkar sampai menghebohkan seisi desa. Agak jauh dari rumahnya, Men Koplar tak beda perangainya dengan mantunya. Urusan uyah lengis tak urung jadi bahan pertengkaran. Sampai-sampai Kondang hampir percaya, mertua dan menantu mungkin memang seharusnya begitu.
Hari ini Lita berusia empat tahun. Usia saat mana makhluk manusia sedang menunjukkan apa yang orang Bali sebut sebagai guna. Sedeng meguna, demikian katanya. Lucunya sangat, cantiknya bernilai, senyumnya meluluhkan hati yang penuh amarah. Demikianlah anak di usia empat tahun. Begitulah anak yang sedeng meguna.
Hubungan kami sesungguhnya sudah lama. Tidak saja kami berpelukan dan berciuman serta berinteraksi fisik lainnya, ada emosi yang terlibat. Ini yang dinamakan cinta, aku yakin itu. Cinta yang kata orang tak bersyarat.
Ketika Asti tidak ada, aku memanjakannya. Aku jadikan diriku budak atas gagasan-gagasan nakalnya yang liar. Hari Jumat, kami menjadi penguasa rumah karena Asti tidak ada. Dapur, kamar mandi, kamar dan ruang tamu menjadi ajang eksplorasi kreativitas dan kenakalannya. [bersambung]…