Kaca mata minoritas

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

http://i.dailymail.co.uk

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.

Continue reading “Kaca mata minoritas”

Mission:Impossible

Saya seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Di saat tertentu saya pernah menikmati Time Square yang gemerlap di Manhattan atau tenggelam di kerumunan manusia pekerja workaholic di Tokyo yang metropolis. Di saat berbeda saya duduk bersila, khusuk melakukan pemujaan di depan sebuah lubang misterius tempat mengalirnya air suci di kawasan sebuah perbukitan di Bali Selatan. Jika kawan saya dari Kanada melihatnya, dia mungkin akan bertanya setengah mencibir “what are you doing here?“. Terutama jika melihat setelahnya saya akan menempelkan beras putih di kening saya, sebuah pemandangan yang bagi sebagian besar kawan saya ‘tidak biasa’.

Continue reading “Mission:Impossible”

Hidup berdampingan dengan kesalahan

Disadari atau tidak, diakui maupun tidak, setiap ‘aku’ telah hidup berdampingan dengan kesalahan yang bahkan sudah tidak dirasakan kejanggalannya. Demikianlah tanda-tanda kemerosotan peradaban.

Tukang Parkir Pasar Sukawati

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/17/tukang-parkir-pasar-sukawati/

Pengalaman menyetir di Bali, bagi mereka yang terbiasa mengendarai mobil di negara maju, bisa jadi luar biasa. Orang yang tadinya sudah cukup terampil berkendara di Wollongong, misalnya, bisa jadi terlihat seperti orang yang baru belajar nyetir kalau harus berhadapan dengan medan jalanan di Denpasar dan sekitarnya. Inilah yang terjadi dengan Asti beberapa hari lalu. Kelihaiannya di Wollongong terlihat tidak berarti ketika harus mengendarai mobil dari Tabanan ke Gianyar melalui Denpasar. Setiap saat sport jantung karena selalu saja terjadi hal-hal yang tidak diduga: orang yang nyalip dari kiri, sepeda motor yang memotong jalan seenaknya, kendaraan yang melanggar lampu merah, klakson yang berbunyi tiada henti, jarak antar mobil yang hanya beberapa senti, dan sebagainya. Semua itu membuatnya tegang luar biasa. Tidak hanya Asti, saya yang duduk di sampingnya tidak henti-hentinya turut menginjak rem dalam angan-angan. Singkat kata, siang menjelang sore itu sangat menegangkan, melelahkan. Keringat bercucuran.

Continue reading “Tukang Parkir Pasar Sukawati”

Vermak Jeans

Di Jatimulya, Bekasi, saya mampir di sebuah jasa Vermak Jeans di pinggir jalan untuk memotong celana jeans yang baru saja dibeli. Saya selalu mengatakan celana jeans itu kepanjangan, walaupun yang sesungguhnya terjadi adalah kaki saya yang kependekan. Tapi ini bukanlah cerita tentang ukuran tubuh, tetapi tentang abang yang bekerja sebagai tukang vermak jeans.

Continue reading “Vermak Jeans”

Natal, Bulan dan Laut

https://madeandi.wordpress.com/2009/12/12/natal-bulan-dan-laut/

Sebagai seorang blogger, saya sering merasa kehabisan ide dan kehilangan kata-kata untuk dituliskan. Sering sekali seperti tidak ada hal penting dalam hidup sehingga tidak ada yang layak ditulis.  Sayapun sering menelantarkan blog ini, mati suri dalam waktu yang cukup lama.

Dalam interaksi saya dengan orang lain dan pengamatan saya terhadap lingkungan, saya kadang menemukan hal menakjubkan. Suatu saat saya berpikir tentang fenomena Natal. Hari keagamaan ini sudah dirayakan sekian tahun, lebih dari seribu tahun. Menariknya selalu saja ada film baru yang dibuat tentang tema Natal. Bagi yang menggali, Natal tidak pernah kering sebagai sumber inspirasi padahal dari dulu Natal tetaplah maknanya.

Fenomena lain adalah tentang bulan. Bulan berperilaku sama sejak jutaan tahun. Bagi mereka yang aktif, bulan tetap bisa menjadi puisi ketika usianya sudah tak terhitung. Di abad 21, tetap ada puisi tentang bulan seakan bulan baru muncul kemarin sore. Bagi orang yang kreatif, benda boleh sama perilakunya, tetapi inspirasi yang ditimbulkannya bisa senantiasa mengalir.

Laut juga serupa. Keberadaannya entah sudah berapa juta tahun. Tetap saja ada pelukis yang menjadikannya tema dan pujangga menjadikannya puisi. Laut, selama airnya masih ada, memang tidak akan pernah lelah menjadi sumber inspirasi.

Saya bertanya pada diri sendiri, betulkah saya kehabisan ide untuk sekedar mengisi blog yang sederhana ini?

Love Cartography

Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.

Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.

Continue reading “Love Cartography”

Friday the 13th

Sekali kreatif, tetap [dipaksa harus] kreatif

itorganization2017.wordpress.com

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi  (TIK) menawarkan cara-cara baru dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak saja dalam urusan kerja, TIK bahkan mempengaruhi cara kita menjaga persahabatan. Selain itu, cara bersilaturahmi atau menjaga hubungan kekerabatanpun berkembang karena TIK. Mengucapkan selamat hari raya kini berbeda caranya dibandingkan 15 tahun lalu. Jarang orang menggunakan kartu ucapan yang dikirim oleh Pak Pos. Ucapan selamat disampaikan dengan sms atau email. Kalaupun ada kartu, itu pastilah kartu elektronik alias e-card.

Kini, mengucapkan selamat hari raya bukanlah sesutu yang istimewa karena usaha yang diperlukan sangat minimal. Hanya dengan sekali klik, ucapan sudah diterima oleh kolega yang terpisah bahkan di seberang benua. Oleh karena itulah saya kadang merasa bahwa sekedar mengirim ucapan, sudah tidak istimewa lagi. Kalau pengiriman ucapan selamat sangatlah mudah dilakukan, maka isi ucapan itu yang harus dibuat istimewa.

Continue reading “Sekali kreatif, tetap [dipaksa harus] kreatif”

Telur Colombus


columbus_egg
http://www.gutenberg.org

Di sebuah kamar kecil berukuran tak lebih dari 2,5 meter kali 2,5 meter, saya melihat seorang kawan sedang tertegun melihat setumpukan kertas di atas meja. Saya tidak melihat wajahnya terpesona apalagi terkesima. Dari air mukanya dan mimiknya yang hambar, saya bisa meyakini bahwa dia tidak bergitu kagum pada apa yang dilihatnya.

“Mung koyo ngene iki kok bisa menang, Ndi!” demikian katanya yang kira-kira berarti tulisan jelek begini kok bisa menang! Dia baru saja menyelesaikan membaca tulisan saya yang berjudul “Menggugat Korea” yang dinyatakan sebagai salah satu pemenang lomba Essay tentang Korea bulan Oktober tahun 2000. Kawan saya ini tidak salah, tulisan saya memang tidak istimewa. Dia tidak lebih dari sekedar gumaman seorang manusia biasa yang melihat kenyataan dan kemudian menuliskannya. Tulisan itu bukanlah analisis seorang pakar, tak juga terlihat pintar dengan berbagai istilah yang sulit. Tulisan itu adalah ungkapan jujur yang sederhana, tidak lebih tidak kurang.

Continue reading “Telur Colombus”