Sekali kreatif, tetap [dipaksa harus] kreatif

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menawarkan cara-cara baru dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Tidak saja dalam urusan kerja, TIK bahkan mempengaruhi cara kita menjaga persahabatan. Selain itu, cara bersilaturahmi atau menjaga hubungan kekerabatanpun berkembang karena TIK. Mengucapkan selamat hari raya kini berbeda caranya dibandingkan 15 tahun lalu. Jarang orang menggunakan kartu ucapan yang dikirim oleh Pak Pos. Ucapan selamat disampaikan dengan sms atau email. Kalaupun ada kartu, itu pastilah kartu elektronik alias e-card.
Kini, mengucapkan selamat hari raya bukanlah sesutu yang istimewa karena usaha yang diperlukan sangat minimal. Hanya dengan sekali klik, ucapan sudah diterima oleh kolega yang terpisah bahkan di seberang benua. Oleh karena itulah saya kadang merasa bahwa sekedar mengirim ucapan, sudah tidak istimewa lagi. Kalau pengiriman ucapan selamat sangatlah mudah dilakukan, maka isi ucapan itu yang harus dibuat istimewa.
Continue reading “Sekali kreatif, tetap [dipaksa harus] kreatif”
Telur Colombus

Di sebuah kamar kecil berukuran tak lebih dari 2,5 meter kali 2,5 meter, saya melihat seorang kawan sedang tertegun melihat setumpukan kertas di atas meja. Saya tidak melihat wajahnya terpesona apalagi terkesima. Dari air mukanya dan mimiknya yang hambar, saya bisa meyakini bahwa dia tidak bergitu kagum pada apa yang dilihatnya.
“Mung koyo ngene iki kok bisa menang, Ndi!” demikian katanya yang kira-kira berarti tulisan jelek begini kok bisa menang! Dia baru saja menyelesaikan membaca tulisan saya yang berjudul “Menggugat Korea” yang dinyatakan sebagai salah satu pemenang lomba Essay tentang Korea bulan Oktober tahun 2000. Kawan saya ini tidak salah, tulisan saya memang tidak istimewa. Dia tidak lebih dari sekedar gumaman seorang manusia biasa yang melihat kenyataan dan kemudian menuliskannya. Tulisan itu bukanlah analisis seorang pakar, tak juga terlihat pintar dengan berbagai istilah yang sulit. Tulisan itu adalah ungkapan jujur yang sederhana, tidak lebih tidak kurang.
Kuningan di Sydney

Lihat ceritanya di balebanjar
Jalan Panjang ke Paris

Jumat malam, 9 Oktober 2009
Singapura sudah gelap, yang nampak hanya cahaya lampu berpijar seperti jutaan kunang-kunang yang bertengger di gedung-gedung pencakar langit. Tak banyak yang bisa aku nikmati di Bandara Changi, meskipun luasnya memang hampir menyamai Desa Tegaljadi, tempat kelahiranku. Aku lelah setelah tujuh jam termangu-mangu di salah satu kursi pesawat SQ nan besar A380-800 yang dua tingkat itu. Meskipun makanan berlimpah dan senyum pramugari nan cantik tak pernah kering, perjalanan tujuh jam tetap saja menyisakan kelelahan.
Aku tercenung, duduk di sebuah bangku di dekat pintu B17, menunggu pintu dibuka. Semakin kubayangkan, semakin jelas rasa enggan datang. Perjalananku sebentar lagi tidak akan kurang dari 14 jam dari Singapura ke Paris. Tempat duduk kelas ekonomi di pesawat komersil yang konon paling besar di dunia dan dioperasikan oleh salah satu penerbangan terbaik di muka bumi tetap tidak akan bisa menghindarkanku dari lelah dan bosan. Perjalanan ini pastilah akan terasa lama.
Sepuluh tahun mengenal dunia
Gadis itu memakai baju terusan batik berwarna merah hati, rambutnya rapi tertata, kulitnya putih bersih. Sambil tersenyum dia menawarkan handuk kecil putih yang berasap. Aku baru pertama kali melihat pemandangan ini, aku yang udik tidak pernah melihat handuk panas berkepul asap yang baru saja disodorkan kepadaku. Untuk apa benda kecil ini? Ternyata itu adalah handuk untuk membersihkan tangan dan wajah. Memang segar rasanya setelah menyapu wajah dengan handuk panas itu. Pengalaman yang sangat berkesan. Pramugari muda yang cantik itu telah memberiku kenangan yang kuat.
Selamat Galungan & Kuningan
Menuliskan Sejarah

Dalam kegalauan hati yang tidak sempat saya pahami, sayapun beranjak menuju podium itu. Samar-samar beberapa menit lalu saya mendengar nama saya dipanggil dan harus menyampaikan sambutan. Sayapun berdiri, menundukkan kepala tidak memandang audiens dan menatap kosong ke arah yang tak bertuan. Saya mulai berucap sangat lirih.
“Tadi malam saya bermimpi” dan saya diam sejenak sehinga hadirin pun diam tenang, menunggu-nunggu kelanjutan cerita saya. “Saya bermimpi didatangi Siti Nurhalisa!” Hadirin pun tergelak hebat, teringat dengan presentasi saya kemarin, barangkali. Sejenak kemudian semua diam dan saya pun melanjutkan.
Bertahanlah Indonesia!

Bencana menjadi cerita keseharian. Dia tidak lagi menyeramkan seperti ketika aku berlari bertelanjang dada, resah membentur dinding rumah tua saat linuh kecil datang menghampiri di tahun 1980an. Di negeri ini, duka nestapa dan air mata tak lagi sakral, tak lagi berbisa untuk mengundang iba dan belas kasihan. Tangisan seperti suara angin yang mengalir tiada henti. Air mata yang membahasi wajah-wajah polos ataupun berdosa merambat pasti tak ubahnya parit kecil di desa Tegaljadi yang tak pernah berhenti. Dengan apa lagi harus kugambarkan duka ini, karena kata-kata sudah kehilangan ketajaman maknanya.
Membuat MP3 dari Video Youtube

Saya jarang sekali posting masalah teknis di blog ini. Kali ini rasanya menarik untuk diceritakan karena terkait banyak hal lain yang tidak teknis. Semoga bermanfaat untuk pembaca.
Asti, istri saya, mendapat kesempatan menari Cendrawasih di sebuah acara penggalangan dana kanker payudara di University of Wollongong, Australia. Yang menarik diceritakan adalah Asti diminta menyiapkan gamelan (musik) dalam format mp3. Sedangkan kami hanya memiliki VCD tari Bali di rumah. Saya harus mencari akal dan mendapatkan mp3 dalam waktu beberapa hari. Jika mau membeli mungkin tidak sedikit yang menjualnya. Hanya saja masih saja ada rasa iseng mendapatkan sesuatu tanpa harus membeli. Sayapun mulai mencari-cari. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Tante Google, saya menemukan bahwa ada software gratis yang bernama Freez Sofware yang bisa mengubah video FLV menjadi mp3.
