Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah novel: Negeri van Oranje. Saya kenal novel ini awal tahun 2009 dari seorang kawan, Muhi yang sedang sekolah di Melbourne. Dia secara tidak langsung mempromosikan novel ini karena kebetulan ditulis oleh kawannya.
Kilas Balik 2009
Sepertinya baru kemarin sore saya menulis sebuah posting dengan judul yang terakhir di blog ini untuk memperingati berakhirnya tahun 2008, sekarang tiba-tiba saya sudah harus menulis sebuah ‘rekap’ untuk tahun 2009. Waktu memang cepat sekali berlalu, kadang saya tidak sempat menikmatinya, apalagi memetik pelajaran. Meski mungkin tidak banyak yang terjadi, tahun 2009 tetap layak saya catat sebagai masa yang penting dalam hidup.
Takdir, Bajaj dan Gus Dur
“Gitu aja kok repot!” adalah sebuah ucapan tenar yang sering dikemukakan Gus Dur di masa hidupnya. Dari kalimat ini, jelas terlihat bahwa beliau adalah sosok yang blak-blakan, lugas, cuek dan berani berbeda. Meskipun kontroversial, Gus Dur adalah sosok istimewa yang perlu lebih banyak jumlahnya di Indonesia yang bhineka. Sebagai seorang muslim, Gus Dur adalah tokoh yang menjunjung pluralisme.
Kaca mata minoritas
https://madeandi.wordpress.com/2009/12/29/kaca-mata-minoritas/

Ketika Natal tiba seperti saat ini, saya lebih banyak menonton film Hollywood. Banyak sekali film bertema Natal yang diputar di TV dan tidak sedikit yang bagus meskipun sebagian besar sudah pernah ditonton. Meskipun kisahnya berbeda, ada yang selalu sama: Natal adalah musim dingin dan bersalju. Bagi anak-anak, Natal identik dengan Santa yang berpakaian serba merah dan tertutup layaknya pakaian musim dingin. Pengalaman saya melewati musim di dingin di New York tahun 2007 mengkonfirmasi pemahaman ini.
Mission:Impossible
Saya seperti hidup di dua dunia yang berbeda. Di saat tertentu saya pernah menikmati Time Square yang gemerlap di Manhattan atau tenggelam di kerumunan manusia pekerja workaholic di Tokyo yang metropolis. Di saat berbeda saya duduk bersila, khusuk melakukan pemujaan di depan sebuah lubang misterius tempat mengalirnya air suci di kawasan sebuah perbukitan di Bali Selatan. Jika kawan saya dari Kanada melihatnya, dia mungkin akan bertanya setengah mencibir “what are you doing here?“. Terutama jika melihat setelahnya saya akan menempelkan beras putih di kening saya, sebuah pemandangan yang bagi sebagian besar kawan saya ‘tidak biasa’.
Hidup berdampingan dengan kesalahan
Disadari atau tidak, diakui maupun tidak, setiap ‘aku’ telah hidup berdampingan dengan kesalahan yang bahkan sudah tidak dirasakan kejanggalannya. Demikianlah tanda-tanda kemerosotan peradaban.


Tukang Parkir Pasar Sukawati
https://madeandi.wordpress.com/2009/12/17/tukang-parkir-pasar-sukawati/
Pengalaman menyetir di Bali, bagi mereka yang terbiasa mengendarai mobil di negara maju, bisa jadi luar biasa. Orang yang tadinya sudah cukup terampil berkendara di Wollongong, misalnya, bisa jadi terlihat seperti orang yang baru belajar nyetir kalau harus berhadapan dengan medan jalanan di Denpasar dan sekitarnya. Inilah yang terjadi dengan Asti beberapa hari lalu. Kelihaiannya di Wollongong terlihat tidak berarti ketika harus mengendarai mobil dari Tabanan ke Gianyar melalui Denpasar. Setiap saat sport jantung karena selalu saja terjadi hal-hal yang tidak diduga: orang yang nyalip dari kiri, sepeda motor yang memotong jalan seenaknya, kendaraan yang melanggar lampu merah, klakson yang berbunyi tiada henti, jarak antar mobil yang hanya beberapa senti, dan sebagainya. Semua itu membuatnya tegang luar biasa. Tidak hanya Asti, saya yang duduk di sampingnya tidak henti-hentinya turut menginjak rem dalam angan-angan. Singkat kata, siang menjelang sore itu sangat menegangkan, melelahkan. Keringat bercucuran.
Vermak Jeans
Di Jatimulya, Bekasi, saya mampir di sebuah jasa Vermak Jeans di pinggir jalan untuk memotong celana jeans yang baru saja dibeli. Saya selalu mengatakan celana jeans itu kepanjangan, walaupun yang sesungguhnya terjadi adalah kaki saya yang kependekan. Tapi ini bukanlah cerita tentang ukuran tubuh, tetapi tentang abang yang bekerja sebagai tukang vermak jeans.
Natal, Bulan dan Laut
https://madeandi.wordpress.com/2009/12/12/natal-bulan-dan-laut/
Sebagai seorang blogger, saya sering merasa kehabisan ide dan kehilangan kata-kata untuk dituliskan. Sering sekali seperti tidak ada hal penting dalam hidup sehingga tidak ada yang layak ditulis. Sayapun sering menelantarkan blog ini, mati suri dalam waktu yang cukup lama.
Dalam interaksi saya dengan orang lain dan pengamatan saya terhadap lingkungan, saya kadang menemukan hal menakjubkan. Suatu saat saya berpikir tentang fenomena Natal. Hari keagamaan ini sudah dirayakan sekian tahun, lebih dari seribu tahun. Menariknya selalu saja ada film baru yang dibuat tentang tema Natal. Bagi yang menggali, Natal tidak pernah kering sebagai sumber inspirasi padahal dari dulu Natal tetaplah maknanya.
Fenomena lain adalah tentang bulan. Bulan berperilaku sama sejak jutaan tahun. Bagi mereka yang aktif, bulan tetap bisa menjadi puisi ketika usianya sudah tak terhitung. Di abad 21, tetap ada puisi tentang bulan seakan bulan baru muncul kemarin sore. Bagi orang yang kreatif, benda boleh sama perilakunya, tetapi inspirasi yang ditimbulkannya bisa senantiasa mengalir.
Laut juga serupa. Keberadaannya entah sudah berapa juta tahun. Tetap saja ada pelukis yang menjadikannya tema dan pujangga menjadikannya puisi. Laut, selama airnya masih ada, memang tidak akan pernah lelah menjadi sumber inspirasi.
Saya bertanya pada diri sendiri, betulkah saya kehabisan ide untuk sekedar mengisi blog yang sederhana ini?
Love Cartography
Bagi seorang pemuda normal yang biasa-biasa saja hidupnya seperti saya, lelaki yang paling menyeramkan adalah calon bapak mertua. Atau kalau mau disederhanakan, lelaki yang paling menakutkan adalah ayah dari gadis yang saya taksir. Begitulah keyakinan saya ketika masih muda, not a very long time ago.
Sore itu di penghujung tahun 1997, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Bapak Putu Gelgel, yang sekarang adalah kakeknya Lita. Karena hidup penuh rencana dan penuh target, saya membawa beban tersendiri ketika bertemu beliau pertama kali. Saat itulah saya merasa kualitas hidup saya benar-benar diuji, jauh melebihi sulitnya ujian Kartografi Dasar yang sebentar lagi saya lakukan. Saya adalah seorang pemuda tanggung yang belum genap 20 tahun dalam usia. Masih sangat belia, tergagap-gagap dan rupanya belum tahu apa-apa dalam hidup.

