Negeri van Oranje


Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah novel: Negeri van Oranje. Saya kenal novel ini awal tahun 2009 dari seorang kawan, Muhi yang sedang sekolah di Melbourne. Dia secara tidak langsung mempromosikan novel ini karena kebetulan ditulis oleh kawannya.

Novel ini adalah sebuah manifestasi buku panduan belajar di Belanda [Eropa] yang ditulis dengan sangat menarik. Berbeda dengan buku panduan yang biasanya kering dan kaku, Novel bisa menghadirkan sesuatu yang berbeda. Dengan membaca novel ini, orang bahkan tidak sadar telah banyak belajar hal-hal yang sangat teknis dan penting tentang bersekolah di Belanda. Jika saja semua informasi itu dibaca dalam dokumen formal seperti website atau buku panduan, saya membanyangkan betapa membosankannya.

Kelebihan novel ini adalah pada kerincian informasi yang disajikan. Penulis rupanya sangat serius dalam mengemas kisah dengan ramuan informasi penting tentang Belanda dan belajar di luar negeri. Terciptalah perpaduan yang sangat apik antara kisah yang menjerat emosi dan panduan yang kaya informasi. Dengan membaca novel ini, pembaca melakukan dua pekerjaan sekaligus: memanjakan otak kanan dengan kisah yang dramatis dan memuaskan otak kiri dengan informasi teknis.

Penjiwaan yang baik akan terjadi jika penulis menciptakan karakter yang dikenal baik. Dalam novel ini keempat penulis menciptakan karakter yang tidak terlalu jauh dari masing-masing penulis. Di dalamnya ada Daus yang adalah seorang Lawyer (Wahyu?), ada Lintang yang [akhirnya] bekerja di Deplu (Nisa? – habis siapa lagi yang cewek, coba!), Banjar yang seorang marketer (Adept?), dan Wicak seorang rimbawan (Rizki?). Lalu Geri siapa? Dugaan saya Geri adalah tokoh imajinatif yang diciptakan untuk membumbui dan melengkapi kisah. Dia tidak mewakili siapapun, tetapi mewakili ide dan gagasan tentang Belanda dari aspek yang tidak diwakili oleh keempat penulis. Oleh karena itulah, karena dia tidak mewakili orang/penulis sesungguhnya, karakter Geri menjadi tidak begitu kuat. Ini pastilah disengaja.

Tentu saja, selain bagus, ada hal-hal yang janggal misa tukar menukar tiket pesawat dg turis Amerika dan salah naik bus hingga ke Praha. Endingnya juga seperti agak dipaksakan dan tiba-tiba. Ada kesan kurang menyatu dengan dramatisnya kisah perjalanan mereka yang dikisahkan dengan sangat apik sebelumnya. Pilihan Lintang untuk menerima salah satu dari ketiga lelaki sahabatnya sebagai suami juga seperti tidak mendapat justifikasi yang memadai.

Di luar kelemahan minor itu, novel ini luar biasa dan sangat layak dibaca. Bagi mereka yang memiliki mimpi ke luar negeri, apalagi untuk sekolah ke Belanda atau Eropa, buku ini wajib hukumnya dibaca.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s