Menjadi Islami

Denpasar dinobatkan menjadi kota paling Islami di Indonesia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Maarif Institute (MI). Berita ini menggelitik saya dan ternyata juga menarik bagi banyak orang lainnya. Seorang sahabat bahkan secara khusus mention saya di Twitter terkait berita ini.

Continue reading “Menjadi Islami”

Mendadak Moderator

Chief Executive Office General Electric Indonesia, Dr. Handry Satriago, akan memberi kuliah umum di UGM. Saya sudah tahu agak lama. Yang merekomendasikan ini juga tidak main-main: Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Ambassador Blake. Bersiap sebagai moderator kuliah umum itu adalah orang yang tepat dan selevel: Direktur Pengembangan Usaha dan Inkubasi UGM, Dr. Hargo Utomo, seorang pakar dan praktisi bisnis mumpuni. Semua cocok dan klop. Ibarat panci ketemu tutupnya.

Continue reading “Mendadak Moderator”

Ada apa dengan Cinta 2: Sebuah Review

Aku pastilah diselimuti subyektivitas stadium tinggi saat berbicara soal film Ada Apa dengan Cinta 2. Aku seorang penggemar. Maka jangan jadikan review ini sebagai satu-satunya kiblat. Engkau mungkin tersesat.

Continue reading “Ada apa dengan Cinta 2: Sebuah Review”

Kehilangan Tas

Tas saya hilang, lenyap dicuri orang dari mobil saya pada tanggal 29 April 2016 lalu. Yang menyedihkan, itu tas baru, hadiah dari Asti, isteri saya, dan dibeli karena rasa kasihan melihat saya menggunakan tas gendong mutu rendahan pemberian panitia training.

Continue reading “Kehilangan Tas”

Inilah 25 Cara Menjelaskan Geodesi kepada Orang Awam

Salah satu masalah anak Teknik Geodesi adalah kesulitan mereka dalam menjelaskan ilmunya kepada orang lain. Jika kamu kesulitan menjelaskan Teknik Geodesi kepada gebetan kamu, atau kepada calon mertua, coba salah satu dari 25 contoh ini. Tapi ingat, risiko ditanggung sendiri. Kalau tiba-tiba disuruh cepat nikah oleh calon mertua, jangan tuntut diriku ya 🙂

Continue reading “Inilah 25 Cara Menjelaskan Geodesi kepada Orang Awam”

Apa Kabar Mahasiswa Aktivis Hari Ini?

Yogyakarta, 20 Mei ‘98

Terik matahari menikam kulit kami, para mahasiswa yang bergerak dari Grha Sabha Pramana menuju Alun-alum Yogyakarta. Jalan Malioboro penuh sesak oleh lautan manusia yang menyemut dan bergerak tenang. Spanduk berkelebat-kelebat dan ikat kepala menjadi identitas yang begitu khas. Koordinator lapangan mengumandangkan pesan-pesan kedamaian yang penuh semangat. Salah satu yang tidak akan pernah saya lupa adalah ketika seorang mahasiswa senior berteriak dengan megaphone mengingatkan agar tidak anarkis. Bahwa long march yang sedang kami lakukan itu adalah sebuah perjuangan mulia untuk sesuatu yang besar bernama Indonesia. Kami tidak membenci Indonesia. Kami hanya tidak senang dengan pemimpin tiran ketika itu. Maka jika kita menyerang, kami tidak sedang menyerang Indonesia, kami menyerang permasalahan yang membelenggu Indonesia.

“Waspadalah kawan kawan” kata lelaki itu. “Kita tidak akan terprovokasi melakukan tindakan anarkis. Kita pejuang dengan kebulatan tekad dan tujuan yang besar. Kita tidak akan menodai perjuangan ini dengan kerusuhan. Kita semua saudara, apapun latar belakang etnis dan agamanya. Mari kita jaga pergerakan ini dan jangan menodai dengan kerusuhan dan kekacauan.” Pesan itu kuat dan penting karena long march yang demikian bisa dengan mudah mengarah ada kekacauan seperti penjarahan atau perusakan. Toko-toko yang ada di sepanjang Jalan Malioboro sebagian dimiliki oleh sahabat Tionghoa yang ketika itu ada di posisi yang rawan. Kami, para mahasiswa di Yogyakarta waktu itu, dengan tegas menolak anggapan bahwa demonstrasi sebenarnya adalah kedok untuk merusak, seperti yang terjadi di beberapa tempat lain. Kami tidak merusak hari itu.

Continue reading “Apa Kabar Mahasiswa Aktivis Hari Ini?”

Tambal Ban

Mbak Jumirah meringkuk di pal depan warung yang sudah tutup paripurna. Nafasnya naik turun agak tergesa, pertanda tak pulas tidurnya. Sekali waktu kelopak matanya berkerjap-kerjap seiring riuh rendah suara mobil dan motor yang melintas beberapa meter darinya. Tak jauh dari situ, asap mengepul dari tumpukan kacang rebus dan jagung yang berdesakan berebut ruang di sebuah gerobak hijau yang nampak tua. Di sela-sela jagung dan kacang rebus itu, menyelusup talas rebus yang pucat pasi tak bergairah. Kepulan asap tipis itu begitu malas, semalas gerak kelopak mata Mbak Jumirah yang masih meringkuk tak terganggu. Remang cahaya lampu TL yang menggantung di bawah atap seng yang sudah tua mengenaskan, bersusah payah menerangi emperan warung yang kini berubah menjadi bengkel tambal ban.

Continue reading “Tambal Ban”

13 Tips Presentasi Efektif

Akademi Berbagi Bali (@AkBerBali) mengundang saya untuk mengisi sebuah acara berbagi pada akhir Juni 2013 silam. Saya langsung iyakan meskipun waktu itu topiknya belum pasti. Setelah berdiskusi lewat twitter dan email, saya dan Fahry, penggiat @AkBerBali, sepakat bahwa topik yang tepat adalah public speaking alias keterampilan berbicara di depan umum. Saya bukan pakar public speaking karena tidak pernah menekuni bidang ini secara formal tetapi memiliki cukup pengalaman. Fahry rupanya tahu, saya cukup sering presentasi di berbagai forum dan @AkBerBali ingin saya berbagi pengalaman itu. Saya pun bersedia.

Pagi-pagi subuh tanggal 30 Juni 2013, saya terbangun di sebuah hotel sederhana di Singapura karena beberapa hari lalunya saya mengikuti sebuah diskusi meja bundar dan memberi kuliah di sebuah institusi di Singapura. Saya harus bergegas ke Kuala Lumpur untuk meneruskan perjalanan ke Bali. Hari itu, apa yang menjadi kelakar di masa lalu, akhirnya menjadi kenyataan. Saya sarapan di Singapura, makan siang di Kuala Lumpur dan menikmati makan malam di Bali.

Sore hari saya tiba di Bandara Ngurah Rai dan langsung menuju ke Kopi Kultur, tempat dilangsungkannya acara berbagi public speaking itu. Meskipun itu bukan acara formal, mereka tetap menyebutnya dengan istilah kelas. Saya sebut nama acara itu “Kelas #16 @AkBerBali #PublicSpeaking”. Kopi Kultur bukan tempat minum kopi biasa. Itu adalah tempat pergulatan ide. Saya menganggapnya demikian karena minum kopi di sana biasanya diiringi dengan aktivitas bertukar gagasan.

Ini adalah kali pertama saya mengajar ditemani Ibu, Bapak, kakak dan adik saya. Yang istimwa, Lita, anak saya yang sedang ada di Bali juga menjadi bagian dari acara itu. Percayalah, sehebat apapun seorang presenter, ketegangannya meningkat saat disaksikan orang tuanya. Itulah yang terjadi pada saya sore itu. Meski demikain, the show must go on.
Peserta cukup banyak dann kata Fahry adalah salah satu yang terbanyak sepanjang sejarah @AkBerBali. Acara dibuka oleh Milly, ibu kepala sekolah @AkBerBali. Ibu kepala sekolah ini tentu saja tidak galak dan tidak tua. Milly masih muda, enerjik dan gaul tentu saja.

Saya membuka dengan satu kelakar bahwa di masa kecil saya sering dimarahi ibu saya karena terlalu banyak bermain di luar rumah. Saya ingat pernah dimarahi karena mandi di sungai di banjar (dusun) tetangga. Ibu saya berucap “masak mandi saja di dusun tetangga? Terus kalau mau makan di mana? Mau ke Tabanan?” Itu saya katakan untuk menggambarkan betapa ibu saya tidak suka saya melakukan aktivitas keseharian di tempat-tempat yang jauh. Saya lalu lanjutkan “hati-hati apa yang Anda katakan pada anak suatu hari karena kita tidak tahu kalau 25 tahun kemudian dia akan sarapan di Singapura, makan siang di Malaysia dan makan malam di Indonesia dalam waktu satu hari”. Hadirin mulai terbawa kelakar saya.

Meski judulnya adalah belajar public speaking, saya tidak segera mulai dengan langkah satu, dua, dan tiga. Saya paham, belajar public speaking yang terbaik adalah dengan melihat contoh. Saya sampaikan, di antara semua kuliah atau presentasi yang saya bawakan, yang paling menantang adalah ketika membawakan materi public speaking. Mengapa menantang? Karena peserta bisa secara langsung menyimak pelajaran dari cara saya memberi kuliah itu. Akan sangat tidak elok jika saya bisa berbusa-busa mejelaskan teknik presentasi yang bagus padahal presentasi saya saat itu sama sekali tidak menarik. Maka saya serahkan pada penyimak ketika itu, jangan percaya apa yang saya sampaikan tetapi simak apa yang saya lakukan dalam 1,5 jam ke depan. Jika ada, maka ambilah pelajaran dari tindakan saya, baik itu pelajaran baik maupun buruk. Jika dirasa baik, belajarlah untuk meniru dan melakukannya, tetapi jika saya tampil buruk, belajarlah hal-hal yang tidak boleh dilakukan ketika presentasi. Dengan mengucapkan itu, saya juga membebaskan diri saya dari beban besar dalam memberi kuliah.

Di ruangan itu saya juga menyapa sebanyak mungkin hadirin untuk mengakrabkan diri. Saya perkenalkan keluarga dan terutama Lita, anak saya, yang rupanya sudah diketahui beberapa orang dari media sosial karena saya kadang bercerita tetang Lita. Selepas berbasa basi tibalah saatnya memulai materi public speaking hari itu dan saya menyampaikan 13 hal penting dalam public speaking.

1. Nervous? Nikmatilah.
Saya selalu yakin, orang yang grogi atau berdebar-debar ketika melakukan sesuatu adalah orang yang serius. Seorang remaja grogi jika bertemu orang yang ditaksirnya karena dia ingin tampil baik dan takut mengecewakan. public speaking juga demikian. Grogi terjadi karena kita serius ingin tampil baik. Tidak perlu terlalu khawatir karena itu hal biasa. Tips saya, yang juga diajarkan oleh Larry King, sampaikan saja kekhawatiran itu pada pendengar. Misalnya, saat memulai kelas di @AkBerBali saya menyampaikan bahwa mengajar public speaking itu sulit karena kualitas public speaking pembicara dipertaruhkan saat itu juga. Pengajarannya berhasil bukan dari tips yang disampaikannya tetapi dari penampilannya saat itu. Kekhawatiran perlu disampaikan agar secara psikologis pendengar memaklumi atau bahkan berpihak kita kita.

Meski demikian, perlu diingat bahwa kita tidak cukup mengatakan bahwa kita grogi atau ‘baru belajar’ atau ‘belum apa-apa’ karena pendengar bisa kehilangan ketertarikan dan terutama kepercayaan. Setelah menyampaikan kekhawatiran, sampaikan juga bahwa Anda akan melakukan yang terbaik.

2. Mulai dengan Intermezzo
Intermezzo itu penting. Kalau sering melihat Jokowi pidato atau memberi materi, dia sering menyampaikan kejadian lucu ketika dia upacara bendera pertama kali sebagai bupati. Waktu itu dia lupa menurunkan tangannya duluan saat menghormat sehingga pemimpin upacara tidak berani memberi aba-aba “tegak grak”. Bisa dibayangkan apa akibatnya. Lelucon lain yang dia sampaikan adalah perihal ajudannya yang lebih ganteng dan lebih gagah dari dirinya dan itu sering menjadi masalah. Intermezzo ini sering juga dipakai oleh Dino Patti Djalal yang di awal pidatonya biasa menceritakan supirnya yang lebih tampan dari dirinya sehingga sering kali para tamu menjabat tangan sopirnya dan menyerahkan kunci mobil kepadanya. Lepas dari cerita yang agak dilebih-lebihkan, intermezzo seperti ini selalu berhasil mencairkan suasana. Saya biasanya berintermezzo tentang nama saya yang jika dibaca dengan pelafalan Bahasa Inggris “I made Andi Arsana” berarti “saya membuat Andi Arsana”. Cerita ini selalu berhasil membuat suasana tegang jadi segar dan santai.

3. Menemukan kesamaan dengan audiens
Dalam pidatonya, Obama selalu memulai dengan satu cerita bahwa dia dan audiens itu sama. Dia cerita tetang perjuangannya saat kuliah dengan pinjaman dari pemerintah, dia cerita tentang sulitnya melunasi hutang bahkan sampai dia menikah. Cara lain untuk menemukan kesamaan misalnya dengan bertanya “ada yang jadi followers saya di Twitter?” sehingga para pendengar yang utamanya anak muda akan merasa ‘satu frekuensi’ dengan saya sebagai pembicara. Kelakar ini biasanya saya lanjutkan dengan ucapan “yang bukan followers saya boleh keluar” dan biasanya hadirin selalu tertawa dan suasana jadi cair.

4. Mengatasi dilemma anak muda
Di Indonesia, menjadi muda dan pintar itu tidak mudah kadang. Orang masih melihat penampilan untuk bisa percaya. Makanya anak muda kadang dilematis jika harus presentasi di depan orang-orang yang lebih tua. Di satu sisi dia harus tampil bagus sekali agar dipercaya tetapi dengan berusaha tampil baik kadang menjadi terkesan sombong dan berlebihan. Hal ini perlu disadari anak muda, belajar berkomunikasi dengan menyeimbangkan tujuan agar dianggap mampu dengan tidak dituduh sombong. Memberikan pengakuan kepada beberapa orang audiens senior adalah salah satu caranya. Aneis Baswedan sering melakukan ini ketika diminta berpidato di depan hadirin yang bahkan adalah gurunya ketika muda. Dia selalu memuji gurunya atau bahkan menyampaikan ketidaklayakannya meggurui gurunya. Meski demikian, penting untuk menunjukkan kesiapan, misalnya dengan mengatakan “saya merasa terhormat sekali bisa berbicara di depan guru-guru saya, membawakan materi yang saya pelajari dari Ibu Bapak sekalian di masa lalu.”

5. Kekuatan cerita
Gagasan besar seringkali lebih mudah diterima lewat cerita sehari-hari yang sederhana. Ketika menyampaikan perlunya universal health care, Obama selalu mulai dengan menceritakan kehidupan sebuah keluarga di suatu kawasan di Amerika yang ditemuinya. Dia menegaskan betapa berat perjuangan mereka tanpa kehadiran negara. Saat bercerita tentang betapa pentingnya menjadi bagian dari sejarah, dia bercerita tentang seorang perempuan yang berumur di atas 100 tahun dan telah melewati naik turunnya Amerika. Saya juga ceritakan di @AkBerBali bahwa Lita, anak saya, mau menuruti nasihat saya jika disampaikan lewat cerita yang akrab dengan dunianya. Pernah suatu kali Lita membuat keonaran di sekolahnya karena suka menangkap serangga dan tidak ada satu nasihatpun yang mempan sebelum akhirnya saya membuatkan sebuah cerita fabel. Lita perlu diposisikan sebagai serangga untuk bisa menerima nasihat saya. public speaking juga demikian.

6. Menggunakan animasi
Hampir semua pembaca tulisan ini bisa menggunakan perangkat lunak presentasi seperti power point. Sayangnya tidak sedikit yang masih menggunakan power point seperti layaknya overhead projector di masa lalu, hanya untuk menayangkan huruf dan angka. Pertama, kita harus ingat bahwa gambar itu bernilai seribu kata dan animasi itu bisa lebih dari gambar. Jika tidak bisa animasi, setidaknya bisa memastikan tampilnya obyek presentasi secara berurutan yang membantu alur cerita. Di bidang saya yang mempelajari pemetaan dan batas maritim, visualisasi dan animasi ini menjadi sangat amat penting. Dalam presentasi di @AkBerBali saya juga contohkan bahwa animasi itu juga bisa digunakan ole disiplin sosial seperti sejarah dan pengajaran bahasa.

7. Menguasai materi dengan baik
Ini nasihat standar, siapapun sudah memahaminya. Jangan tampil tanpa menguasai materi.

8. Berlatih untuk menjadi sempurna
Saya tidak pernah bisa tampil dengan baik tanpa latihan. Ada yang kadang mengatakan “masa’ perlu latihan lagi, kan sudah bagus?” Dia tidak tahu, seseorang bisa bagus, justru karena latihan. Ada orang yang tidak percaya kalau saya selalu latihan sebelum presentasi di sebuah forum bahkan berkali-kali. Kalau saya mengatakan “jika latihan 30 kali belum bagus, lakukan 70 kali” itu memang benar adanya. Bukan lelucon. Saya berlatih dengan membuat naskah lengkap, menghafalkannya dan mensimulasikannya berkali-kali seakan sudah presentasi sebenarnya.

9. Memanfaatkan waktu dengan baik
Tidak ada yang lebih mengganggu dari presentasi yang melebihi waktu yang ditetapkan, terutama ketika presentasinya juga tidak menarik. Tidak jarang ini terjadi pada para pakar karena terlalu banyak ilmu yang dikuasai sehingga banyak yang ingin disampaikan. Bagaimana mengatasi ini? Lakukan latihan dengan simulasi waktu yang ketat. Jangan berhenti berlatih sebelum bisa tepat waktu. Jangan berharap bisa tepat waktu saat tampil sebenarnya jika saat latihan saja masih belepotan. Kalaupun hal ini bisa terjadi pada sementara orang, itu pasti keberuntungan tingkat tinggi dan kita tidak bisa terus-terusan berharap pada keberuntungan saja.

10. Menjaga kontak mata
Komunikasi yang efektif bisa tercapai dengan kontak mata. Dalam banyak hal, kontak mata sering membantu bahkan menggantikan komunikasi verbal. Keseriusan mata dalam memandang dan kontak dengan audiens bisa menguatkan pesan yang ingin disampaikan. Bagaimana kalau risih menatap mata? Tatap keningnya.

11. Melakukan interaksi
Sekali waktu perlu melakukan interaksi dengan pendengar atau bahkan pembicara sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan dengan bertanya, atau sekedar menyebut nama salah satu audiens. Misalnya, “di sini juga ada Pak X yang memiliki pemahaman yang baik tentang isu ini” atau “teman-teman dari jurusan anu yang ada di ruangan ini mungkin mengetahui perkara ini dengan lebih baik.” Jika merasa percaya diri, bisa melakukan interaksi berupa tanya jawab. Akan baik juga jika bisa mengaitkan materi presentasi kita dengan materi presenter sebelumnya sambil menyampaikan pujian. Bukan kritik.

12. Mengutamakan kejujuran dan kebenaran
Di @AkBerBali saya mencontohkan pidato Michelle Obama saat mendukung nominasi suaminya, Barak Obama, sebagai presiden AS periode kedua. Michelle menyampaikan pidatonya tanpa kata-kata sulit, tidak juga berapi-api tetapi dengan kejujuran yang begitu menyentuh. Michelle berhasil membius pendengar, bukan dari gaya retorikanya yang membahana tetapi karena dia mengungkap sisi kemanusiaan dari Obama. Semua itu menghadirkan kejujuran, menunjukkan kebenaran. Pidato yang baik adalah yang benar dan jujur meski disampaikan dengan sederhana. Saya kutip sebuah ungkapan saat di Bali bahwa “the truth might be ugly, but easy to defend”. Kebenaran itu kadang menyakitkan tetapi mudah untuk dipertahankan dan dibela.

13. Mengakhiri dengan cara yang mengesankan
Sebuah pidato harus diakhir dengan mengesankan. Usahakan ada hal penting sebagai penutup agar penonton merasa justru ada di puncak ketertarikan bukan di puncak kebosanan. Maka dari itu, sebaiknya pidato tidak terlalu panjang agar penonton tidak kehilangan ketertarikan. Selain itu, sampaikan penutup dengan satu ucapan menggelitik, pertanyaan atau bahkan pernyataan yang mengundang reaksi atau perenungan. Saat menyampaikan pemanfaatan power point untuk presentasi, saya menutup dengan satu ucapan “we use power point to make our points more powerful, not because we don’t have power neither point”.

Hadirian bertepuk tangan begitu saya mengakhir sesi public speaking di @AkBerBali dan kamipun segera hanyut dalam diskusi yang hangat dan mencerahkan. Dalam perjalanan pulang dari Kopi Kultur ke Tabanan, saya mendapat koreksi dari Lita “Ayah, it’s not nervous, it’s nervous”. “What Lita?” “You made a mistake during the presentation. You said nérves. It’s nerves Ayah, not nérves.” Ternyata tanpa sengaja saya mengatakan nervous dengan “ne” diucapkan seperti pada kata “menembak” padahal seharusnya seperti pada kata “menelan”. Begitulah, Lita. Masih bagus dia tidak mengoreksi saya di depan peserta kelas @AkBerBali. Dia tidak ingin mempermalukan ayahnya.

Tips Wawancara: Mengambil Hati Pewawancara

Dalam sebuah obrolan santai dengan seorang kawan yang sedang berjuang mencari beasiswa luar negeri, muncul pertanyaan menarik. “Bagaimana caranya mengambil hati pewawancara saat kita menjalani wawancara?” Para pemberi nasihat memang umum mengatakan “yang penting kita harus pintar-pintar mengambil hati pewawancara”. Mudah dikatakan tetapi masih banyak yang bingung menerjemahkannya menjadi langkah teknis.

Tidak jarang kita menyaksikan, ada teman yang sangat pintar, penuh prestasi dan cemerlang tetapi gagal meraih beasiswa atau mendapat pekerjaan karena tidak lolos di tahap wawancara. Mungkin persoalannya adalah karena dia gagal mengambil hati pewawacara. Berikut ini adalah pemahaman saya berdasarkan pengalaman sebagai pewawancara maupun sebagai kandidat yang diwawancarai.

11257780_10153504170494274_2589873336183324193_n

Saya tahu [betapa hebatnya] Anda
Seringkali pelamar beasiswa sudah tahu nama pewawancaranya sebelum wawancara terjadi. Kadang nama pewawancara ini disampaikan dalam surat pemberitahuan resmi saat kandidat diundang untuk mengikuti wawancara. Jika demikian halnya, wajib hukumnya bagi kandidat untuk mencari tahu segala sesuatu tentang pewawancaranya itu. Pewawancara sebuah beasiswa yang ternama umumnya orang yang punya profil bagus. Pewawancara beasiswa LPDP, misalnya, biasanya berasal dari kalangan akademisi yang berprestasi di Indonesia. Tentu saja orang yang demikian mudah dicari informasi profilnya. Seorang dosen di UGM yang menjadi pewawancara beasiswa LPDP tentu dengan mudah dipelajari sepak terjang akademisnya melalui internet. Ini sekedar contoh.

Maka carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pewawancara ini dan usahakan dalami beberapa hal penting yang akan terkait dengan proses wawancara atau bidang ilmu yang Anda dalami. Sebagai contoh, pahamilah bidang ilmu dan penelitiannya dan apa kaitannya dengan bidang Anda. Jika tidak ada kaitannya, coba siapkan bagaimana Anda bisa menjadikan beliau sebagai contoh nanti saat wawancara. Misalnya dengan mengatakan “bidang saya ini berbeda dengan bidang X yang Bapak dalami tetapi memiliki pola dan karakter kontribusi bagi Indonesia yang mirip. Jika Bapak bisa membuat Y lewat penelitian Bapak di Universitas Anu pada tahun sekian, maka penelitian saya juga punya potensi untuk menyumbangkan Z pada Indonesia dan itu bersifat saling melengkapi dengan penelitan Bapak.” Dalam Bahasa Inggris, Anda bisa mengatakan “I have come across one of your research on X and am fascinated by your finding and how it contributes to the development of science. I am hoping that my research on Y will also be able to produce something useful.”

Pengetahuan lain terkiat hal-hal non akademik tentang pewawancara juga menarik diungkapkan. Misalnya “ketika saya kuliah di luar negeri nanti, saya ingin sekali terlibat di PPI, seperti halnya Bapak yang pernah aktif sebagai Kepala Departemen Kajian Strategis di PPI XYZ. Kiprah Bapak itu menjadi inspirasi bahwa kuliah di luar negeri seharusnya membuat kita peduli pada Indonesia, tidak hanya berkutat di dunia akademik.” Jika orang ini seorang blogger maka cerita-cerita kehidupan dan perjuangan beliau bisa dikutip dalam wawancara. Dalam Bahasa Inggris Anda bisa mengatakan “I have been an activist since I was in SMP. I also know that you were also a student activist when you studied in the UK and it enlightens me that being a good student and activist can actually mix.”

Meski demikian, penyampaiannya harus elegan agar tidak terkesan ‘menjilat’ atau ‘asal bapak senang’. Pada prinsipnya, yang terpenting adalah sikap penghargaan dan peduli akan keberadaan orang lain, terutama beliau sebagai pewawancara. Terutama, katakan itu karena memang Anda ingin mengatakannya, bukan karena harus mengatakannya.

Bagaimana jika Anda tidak mengetahui nama pewawancara sebelum proses wawancara? Memang agak susah jika demikian tetapi tetap bisa diusahakan. Jika Anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang diwawancarai dalam satu kelompok/shift/ maka Anda bisa tahu nama pewawancaranya dari orang yang sudah terlebih dahulu mengikuti proses wawancara. Setelah itu, gunakan gadget untuk melakukan penelusuran di internet. Waktu sepuluh menit harus bisa dimanfaatkan untuk mengenal pewawancara. Caranya, jangan berusaha untuk menguasai semua informasi tentang beliau tetapi pilih tiga atau lima informasi penting yang cukup unik untuk diungkapkan. Yang paling baik tentu adalah informasi yang menunjukkan kehebatan pewawancara dan bisa menjadi inspirasi.

Tugas selanjutnya adalah mengungkap satu atau dua kehebatan pewawancara dan dikaitkan dengan apa yang akan Anda lakukan nanti setelah mendapat beasiswa atau setelah pulang dari sekolah di luar negeri. Cara menyatakan kehebatan pewawancara ini sebaiknya senatural mungkin. Lakukan karena memang Anda anggap itu bagus dan layak diteladani, bukan hanya karena ingin dia senang dan berbunga-bunga. Menyampaikan hal-hal detil tentang pewawancara membuat mereka merasa senang. Misalnya, jika Anda tahu dia adalah seorang yang rajin mengikuti konferensi, maka bisa Anda sampaikan bahwa bahwa Anda tertarik untuk nanti membangun jejaring di dunia akademik dengan cara mengikuti konferensi yang relevan. Misalnya, Anda bisa bilang “I understand that you also did that during your PhD study. I am inspired.”

Saya muda dan enerjik, Anda senior dan bijaksana
Tampil muda dan berenergi kadang membuat kita terlihat hyperactive, terlalu bersemangat, dan tanpa sengaja mendominasi interaksi. Hal ini juga bisa membuat kita terlihat terlalu PeDe serta ‘lupa belajar’ dari yang lebih senior. Penting untuk terlihat muda dan enerjik tetapi dengan tetap menghargai keberadaan pewawancara sebagai orang yang lebih senior dan bijaksana.

Hal ini bisa diwujudkan dari jawaban-jawaban atas pertanyaan dalam wawancara. Penting untuk membuat pewawancara merasa nyaman dan ditempatkan sebagai senior yang bijaksana dengan tetap menampilkan diri sebagai anak muda yang optimis, penuh harapan, kreatif dan semangat bekerja keras. Ketika ditanya soal keadaan negara, misalnya, penting untuk meyakinkan pewawancara bahwa Anda adalah orang yang memiliki banyak ide cemerlang untuk memperbaiki keadaan tanpa terjebak hanya menjelek-jelekkan keadaan sekarang. Bagaimanapun juga, pewawancara bisa jadi adalah pihak yang berkontribusi pada apa yang terjadi sekarang. Akan terdengar bijaksana jika Anda mengatakan “banyak hal yang sudah sangat bagus sekarang ini dan itu adalah hasil kerja keras generasi senior seperti Ibu dan kolega. Meski demikian, saya merasa optimis bahwa hal-hal yang baik ini perlu kerja keras untuk mempertahankan dan meningkatkannya. Itu menjadi tanggung jawab generasi saya untuk belajar dan bekerja lebih baik lagi.” Anak muda sering terjebak menyampaikan idealism dan kecerdasannya dengan cara berapi-api, lupa bahwa ekspresi yang demikian bisa terdengar seperti keluhan dan kecenderungan untuk menyalahkan. Generasi senior, apalagi yang terlibat dalam proses bernegara, mungkin tidak suka hal seperti ini. Ingat, siapapun perlu diapresiasi.

Prinsip saya, jika tidak berhasil menemukan tiga hal yang bisa dipuji, sebaiknya tidak mengkritik, apalagi menyalahkan. Sampaikan apa yang bisa diapresiasi dari keadaan sekarang ini dan itu adalah buah kerja baik dari generasi senior, sebelum menyampaikan keburukan yang ada. Jika harus menyampaikan keburukan, sebaiknya tidak berhenti pada deskripsi keburukan dan ekspresi tidak puas tetapi harus dilanjutkan dengan gagasan perbaikan. Pada intinya, pewawaancara harus bisa melihat Anda sebagai generasi muda yang enrjik sekaligus bisa merasakan penghargaan bahwa beliau adalah seorang senior yang diakui kebijaksanaannya.

Saya pintar dan cerdas, Anda matang dan kaya pengalaman
Umum sekali kita mendengar orang mengatakan “saya ingin generasi sekarang lebih baik dari generasi saya.” Kenyataannya, tidak semua generasi senior bisa menerima dengan lapang hati kalau melihat generasi penerusnya lebih dipuji dari dirinya. Seorang bupati yang sudah lengser, secara alami, tetap senang mendengar kalimat “bupati sekarang tidak seperti Bapak. Bapak jauh lebih baik.” Dia mungkin kurang senang mendengar berita “bupati sekarang lebih dicintai rakyat dibandingkan bupati yang dulu”, meskipun itu artinya ‘keberhasilan’ karena terjadi perbaikan generasi. Hal ini juga terjadi pada hampir semua orang, terutama jika generasi berbeda itu tidak ada hubungan darah. Seorang ayah mungkin tetap bangga jika anaknya dianggap lebih berhasil dari dirinya, entah mereka sama-sama bupati atau dosen.

Bagaimana menyiasati hal ini? Mirip dengan poin kedua di atas, penting bagi Anda untuk memastikan tampil pintar dan cerdas sekaligus mengakui bahwa pewawancara adalah generasi yang matang dan kaya pengalaman. “Saya merasa punya pengetahuan yang memadai untuk melakukan suatu perubahan di kantor saya tetapi tetap harus menimba pengalaman dari generasi senior dalam implementasinya. Saya yakin para senior memiliki niat yang sama baiknya untuk menghadirkan perubahan tetapi ternyata tidak semudah itu. Pengalaman para senior itu perlu kami jadikan cermin dan pelajaran penting sehingga gagasan yang kami anggap cemerlang itu bisa terlaksana dengan baik. Kerelaan untuk belajar dari pengalaman para senior menjadi kunci sehingga gagasan generasi saya tidak menemui kegagalan yang sama.” Intinya adalah Anda harus mampu menunjukkan bahwa kecerdasan anak muda yang ada pada diri Anda tidak bisa menghasilkan sesuatu yang optimal jika mengabaikan pengalaman (baik keberhasilan maupun kegagalan) para senior. Ingat, menjadi cerdas dan mumpuni tidak berarti harus menghina dan menghujat generasi sebelumnya yang mungkin menurut Anda tidak lebih baik. Sejelek-jeleknya generasi senior, tetap akan terusik mendengar kalimat “sudah saatnya terjadi pemotongan generasi dan saatnya generasi kami menggantikan generasi Anda karena generasi Anda terbukti tidak becus bekerja!”

Pewawancara juga [bisa] minder lho
Kandidat beasiswa atau pelamar pekerjaan sering lupa interaksi psikologis dengan pewawancara itu sangatlah penting. Karena merasa perlu menunjukkan kualitas, Anda mungkin terlalu semangat menunjukkan kehebatan yang sebenarnya bisa membuat pewawancara tidak nyaman. Usaha menunjukkan kehebatan itu bisa diterima sebagai usaha untuk menyombongkan diri. Ingat, tidak semua pewawancara itu lebih hebat dari Anda sehingga menyaksikan ‘pameran’ kehebatan bisa jadi membuat mereka merasa ‘terancam’ dan bahkan minder. Orang yang minder bisa menjadi tidak rasional.

Usaha untuk tampil baik ini sebenarnya masuk akal dan wajar. Hanya saja, banyak yang tidak sadar akan hal ini dan berubah menjadi mengancam. Bahwa untuk bisa tambil hebat itu diartikan sebagai usaha untuk mengalahkan orang lain. Kandidat sering menghadapi pewawancara dengan naluri mengalahkan, bahwa dia hebat dan tidak bisa ditundukkan. Kandidat datang ke pewawancara dengan niat untuk menunjukkan dia lebih hebat dari pewawancara, karena sebenarnya dia takut diremehkan, takut dianggap tidak bagus. Coba baca pengalaman saya di sini saat mewawancarai kandidat yang demikian.

Bagaimana cara mengatasi ini? Nada bicara, pemilihan kata-kata, intonasi, air muka, senyum, gerakan alis dan mata, anggukan kepala, gerakan tangan, semua itu bisa digunakan sedemikian rupa agar Anda terliat cerdas tetapi tidak sombong. Perhatikan kalimat ini: “saya merasa beruntung sekali mendapat kesempatan menjadi ketua delegasi Indonesia saat mengikuti Youth Economic Forum di Amerika Serikat. Amanah itu memberi saya pelajaran luar biasa, lebih dari yang saya duga. Dengan pengalaman ini saya semakin yakin bahwa niat yang teguh serta kerja keras bisa mendatangkan keberhasilan yang baik”. Lalu perhatikan kalimat ini: “dari seratus orang yang berkompetisi saya berhasil mengalahkan semuanya sehingga saya terpilih menjadi ketua delegasi Indonesia di Youth Economic Forum di Amerika. Ini membuktikan bahwa saya memiliki kemampuan lebih dari yang lain.” Anda tentu bisa melihat perbedaan kalimat tersebut dan memilih yang lebih tepat.

Untuk menghindari ‘tragedi’ akibat pewawancara merasa ‘minder’, penting sekali mengetahui jati diri pewawancara dan terutama mengetahui prestasi yang pernah diraihnya. Dengan mengetahui itu, Anda bisa fokus pada satu atau dua prestasi yang pernah diraihnya dan mengaitkan prestasi Anda dengan prestasi itu. Tentu lebih baik jika Anda bisa menunjukkan bahwa Anda berprestasi sambil menunjukkan apresiasi atas prestasi yang dicapai oleh pewawancara.

Membayangkan diri jadi pewawancara
Inti dari semua tips di atas adalah kemampuan untuk membayangkan diri Anda sebagai pewawancara. Coba bayangkan dengan serius jika yang duduk di kursi pewawancara adalah Anda sendiri dan yang ada di kursi Anda saat itu adalah orang lain. Membayangkan diri sebagai pewawancara membuat Anda bisa memahami dengan lebih baik kualitas kandidat yang Anda cari. Tentu saja Anda ingin mencari kandidat yang baik, pintar, cerdas, tanggap dan sebagainya. Anda suka mendapatkan kandidat yang cerdas tetapi mungkin tidak begitu suka jika kecerdasan itu membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terancam. Anda tentu suka mendapatkan kandidat yang penuh inisiatif tetapi mungkin merasa kurang nyaman jika semua kualitas itu muncul dalam bentuk kesombongan. Singkatnya, mencoba membayangkan diri jadi pewawancara akan membuat Anda bisa memilih sikap yang tepat sebagai orang yang diwawancarai.

Semua informasi dan tips di atas hanyalah hasil pengalaman dan pengamatan, tidak berdasarkan teori dan ilmu-ilmu tinggi. Silakan digunakan dengan cermat dan cerdas. Selamat bersiap-siap menghadapi wawancara.

Yang kamu benci [mungkin] akan menolongmu

Suasana di sebuah ruangan rapat di Hotel JS Luwansa Jakarta pada hari itu cukup mencekam. Di depan saya duduk lima orang India yang nampak senior dari segi usia. Tidak saja itu, dua di antara mereka adalah pensiunan perwira tinggi angkatan darat dan angkatan laut negara Jambu Dwipa itu. Tiga lainnya, masing-masing adalah akademisi sekaligus purnakarya duta besar dan petinggi asosiasi pengusaha di India. Singkat kata, mereka orang ternama yang berkaliber mumpuni.

Continue reading “Yang kamu benci [mungkin] akan menolongmu”