Tips Wawancara: Mengambil Hati Pewawancara


Dalam sebuah obrolan santai dengan seorang kawan yang sedang berjuang mencari beasiswa luar negeri, muncul pertanyaan menarik. “Bagaimana caranya mengambil hati pewawancara saat kita menjalani wawancara?” Para pemberi nasihat memang umum mengatakan “yang penting kita harus pintar-pintar mengambil hati pewawancara”. Mudah dikatakan tetapi masih banyak yang bingung menerjemahkannya menjadi langkah teknis.

Tidak jarang kita menyaksikan, ada teman yang sangat pintar, penuh prestasi dan cemerlang tetapi gagal meraih beasiswa atau mendapat pekerjaan karena tidak lolos di tahap wawancara. Mungkin persoalannya adalah karena dia gagal mengambil hati pewawacara. Berikut ini adalah pemahaman saya berdasarkan pengalaman sebagai pewawancara maupun sebagai kandidat yang diwawancarai.

11257780_10153504170494274_2589873336183324193_n

Saya tahu [betapa hebatnya] Anda
Seringkali pelamar beasiswa sudah tahu nama pewawancaranya sebelum wawancara terjadi. Kadang nama pewawancara ini disampaikan dalam surat pemberitahuan resmi saat kandidat diundang untuk mengikuti wawancara. Jika demikian halnya, wajib hukumnya bagi kandidat untuk mencari tahu segala sesuatu tentang pewawancaranya itu. Pewawancara sebuah beasiswa yang ternama umumnya orang yang punya profil bagus. Pewawancara beasiswa LPDP, misalnya, biasanya berasal dari kalangan akademisi yang berprestasi di Indonesia. Tentu saja orang yang demikian mudah dicari informasi profilnya. Seorang dosen di UGM yang menjadi pewawancara beasiswa LPDP tentu dengan mudah dipelajari sepak terjang akademisnya melalui internet. Ini sekedar contoh.

Maka carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang pewawancara ini dan usahakan dalami beberapa hal penting yang akan terkait dengan proses wawancara atau bidang ilmu yang Anda dalami. Sebagai contoh, pahamilah bidang ilmu dan penelitiannya dan apa kaitannya dengan bidang Anda. Jika tidak ada kaitannya, coba siapkan bagaimana Anda bisa menjadikan beliau sebagai contoh nanti saat wawancara. Misalnya dengan mengatakan “bidang saya ini berbeda dengan bidang X yang Bapak dalami tetapi memiliki pola dan karakter kontribusi bagi Indonesia yang mirip. Jika Bapak bisa membuat Y lewat penelitian Bapak di Universitas Anu pada tahun sekian, maka penelitian saya juga punya potensi untuk menyumbangkan Z pada Indonesia dan itu bersifat saling melengkapi dengan penelitan Bapak.” Dalam Bahasa Inggris, Anda bisa mengatakan “I have come across one of your research on X and am fascinated by your finding and how it contributes to the development of science. I am hoping that my research on Y will also be able to produce something useful.”

Pengetahuan lain terkiat hal-hal non akademik tentang pewawancara juga menarik diungkapkan. Misalnya “ketika saya kuliah di luar negeri nanti, saya ingin sekali terlibat di PPI, seperti halnya Bapak yang pernah aktif sebagai Kepala Departemen Kajian Strategis di PPI XYZ. Kiprah Bapak itu menjadi inspirasi bahwa kuliah di luar negeri seharusnya membuat kita peduli pada Indonesia, tidak hanya berkutat di dunia akademik.” Jika orang ini seorang blogger maka cerita-cerita kehidupan dan perjuangan beliau bisa dikutip dalam wawancara. Dalam Bahasa Inggris Anda bisa mengatakan “I have been an activist since I was in SMP. I also know that you were also a student activist when you studied in the UK and it enlightens me that being a good student and activist can actually mix.”

Meski demikian, penyampaiannya harus elegan agar tidak terkesan ‘menjilat’ atau ‘asal bapak senang’. Pada prinsipnya, yang terpenting adalah sikap penghargaan dan peduli akan keberadaan orang lain, terutama beliau sebagai pewawancara. Terutama, katakan itu karena memang Anda ingin mengatakannya, bukan karena harus mengatakannya.

Bagaimana jika Anda tidak mengetahui nama pewawancara sebelum proses wawancara? Memang agak susah jika demikian tetapi tetap bisa diusahakan. Jika Anda adalah salah satu dari sekian banyak orang yang diwawancarai dalam satu kelompok/shift/ maka Anda bisa tahu nama pewawancaranya dari orang yang sudah terlebih dahulu mengikuti proses wawancara. Setelah itu, gunakan gadget untuk melakukan penelusuran di internet. Waktu sepuluh menit harus bisa dimanfaatkan untuk mengenal pewawancara. Caranya, jangan berusaha untuk menguasai semua informasi tentang beliau tetapi pilih tiga atau lima informasi penting yang cukup unik untuk diungkapkan. Yang paling baik tentu adalah informasi yang menunjukkan kehebatan pewawancara dan bisa menjadi inspirasi.

Tugas selanjutnya adalah mengungkap satu atau dua kehebatan pewawancara dan dikaitkan dengan apa yang akan Anda lakukan nanti setelah mendapat beasiswa atau setelah pulang dari sekolah di luar negeri. Cara menyatakan kehebatan pewawancara ini sebaiknya senatural mungkin. Lakukan karena memang Anda anggap itu bagus dan layak diteladani, bukan hanya karena ingin dia senang dan berbunga-bunga. Menyampaikan hal-hal detil tentang pewawancara membuat mereka merasa senang. Misalnya, jika Anda tahu dia adalah seorang yang rajin mengikuti konferensi, maka bisa Anda sampaikan bahwa bahwa Anda tertarik untuk nanti membangun jejaring di dunia akademik dengan cara mengikuti konferensi yang relevan. Misalnya, Anda bisa bilang “I understand that you also did that during your PhD study. I am inspired.”

Saya muda dan enerjik, Anda senior dan bijaksana
Tampil muda dan berenergi kadang membuat kita terlihat hyperactive, terlalu bersemangat, dan tanpa sengaja mendominasi interaksi. Hal ini juga bisa membuat kita terlihat terlalu PeDe serta ‘lupa belajar’ dari yang lebih senior. Penting untuk terlihat muda dan enerjik tetapi dengan tetap menghargai keberadaan pewawancara sebagai orang yang lebih senior dan bijaksana.

Hal ini bisa diwujudkan dari jawaban-jawaban atas pertanyaan dalam wawancara. Penting untuk membuat pewawancara merasa nyaman dan ditempatkan sebagai senior yang bijaksana dengan tetap menampilkan diri sebagai anak muda yang optimis, penuh harapan, kreatif dan semangat bekerja keras. Ketika ditanya soal keadaan negara, misalnya, penting untuk meyakinkan pewawancara bahwa Anda adalah orang yang memiliki banyak ide cemerlang untuk memperbaiki keadaan tanpa terjebak hanya menjelek-jelekkan keadaan sekarang. Bagaimanapun juga, pewawancara bisa jadi adalah pihak yang berkontribusi pada apa yang terjadi sekarang. Akan terdengar bijaksana jika Anda mengatakan “banyak hal yang sudah sangat bagus sekarang ini dan itu adalah hasil kerja keras generasi senior seperti Ibu dan kolega. Meski demikian, saya merasa optimis bahwa hal-hal yang baik ini perlu kerja keras untuk mempertahankan dan meningkatkannya. Itu menjadi tanggung jawab generasi saya untuk belajar dan bekerja lebih baik lagi.” Anak muda sering terjebak menyampaikan idealism dan kecerdasannya dengan cara berapi-api, lupa bahwa ekspresi yang demikian bisa terdengar seperti keluhan dan kecenderungan untuk menyalahkan. Generasi senior, apalagi yang terlibat dalam proses bernegara, mungkin tidak suka hal seperti ini. Ingat, siapapun perlu diapresiasi.

Prinsip saya, jika tidak berhasil menemukan tiga hal yang bisa dipuji, sebaiknya tidak mengkritik, apalagi menyalahkan. Sampaikan apa yang bisa diapresiasi dari keadaan sekarang ini dan itu adalah buah kerja baik dari generasi senior, sebelum menyampaikan keburukan yang ada. Jika harus menyampaikan keburukan, sebaiknya tidak berhenti pada deskripsi keburukan dan ekspresi tidak puas tetapi harus dilanjutkan dengan gagasan perbaikan. Pada intinya, pewawaancara harus bisa melihat Anda sebagai generasi muda yang enrjik sekaligus bisa merasakan penghargaan bahwa beliau adalah seorang senior yang diakui kebijaksanaannya.

Saya pintar dan cerdas, Anda matang dan kaya pengalaman
Umum sekali kita mendengar orang mengatakan “saya ingin generasi sekarang lebih baik dari generasi saya.” Kenyataannya, tidak semua generasi senior bisa menerima dengan lapang hati kalau melihat generasi penerusnya lebih dipuji dari dirinya. Seorang bupati yang sudah lengser, secara alami, tetap senang mendengar kalimat “bupati sekarang tidak seperti Bapak. Bapak jauh lebih baik.” Dia mungkin kurang senang mendengar berita “bupati sekarang lebih dicintai rakyat dibandingkan bupati yang dulu”, meskipun itu artinya ‘keberhasilan’ karena terjadi perbaikan generasi. Hal ini juga terjadi pada hampir semua orang, terutama jika generasi berbeda itu tidak ada hubungan darah. Seorang ayah mungkin tetap bangga jika anaknya dianggap lebih berhasil dari dirinya, entah mereka sama-sama bupati atau dosen.

Bagaimana menyiasati hal ini? Mirip dengan poin kedua di atas, penting bagi Anda untuk memastikan tampil pintar dan cerdas sekaligus mengakui bahwa pewawancara adalah generasi yang matang dan kaya pengalaman. “Saya merasa punya pengetahuan yang memadai untuk melakukan suatu perubahan di kantor saya tetapi tetap harus menimba pengalaman dari generasi senior dalam implementasinya. Saya yakin para senior memiliki niat yang sama baiknya untuk menghadirkan perubahan tetapi ternyata tidak semudah itu. Pengalaman para senior itu perlu kami jadikan cermin dan pelajaran penting sehingga gagasan yang kami anggap cemerlang itu bisa terlaksana dengan baik. Kerelaan untuk belajar dari pengalaman para senior menjadi kunci sehingga gagasan generasi saya tidak menemui kegagalan yang sama.” Intinya adalah Anda harus mampu menunjukkan bahwa kecerdasan anak muda yang ada pada diri Anda tidak bisa menghasilkan sesuatu yang optimal jika mengabaikan pengalaman (baik keberhasilan maupun kegagalan) para senior. Ingat, menjadi cerdas dan mumpuni tidak berarti harus menghina dan menghujat generasi sebelumnya yang mungkin menurut Anda tidak lebih baik. Sejelek-jeleknya generasi senior, tetap akan terusik mendengar kalimat “sudah saatnya terjadi pemotongan generasi dan saatnya generasi kami menggantikan generasi Anda karena generasi Anda terbukti tidak becus bekerja!”

Pewawancara juga [bisa] minder lho
Kandidat beasiswa atau pelamar pekerjaan sering lupa interaksi psikologis dengan pewawancara itu sangatlah penting. Karena merasa perlu menunjukkan kualitas, Anda mungkin terlalu semangat menunjukkan kehebatan yang sebenarnya bisa membuat pewawancara tidak nyaman. Usaha menunjukkan kehebatan itu bisa diterima sebagai usaha untuk menyombongkan diri. Ingat, tidak semua pewawancara itu lebih hebat dari Anda sehingga menyaksikan ‘pameran’ kehebatan bisa jadi membuat mereka merasa ‘terancam’ dan bahkan minder. Orang yang minder bisa menjadi tidak rasional.

Usaha untuk tampil baik ini sebenarnya masuk akal dan wajar. Hanya saja, banyak yang tidak sadar akan hal ini dan berubah menjadi mengancam. Bahwa untuk bisa tambil hebat itu diartikan sebagai usaha untuk mengalahkan orang lain. Kandidat sering menghadapi pewawancara dengan naluri mengalahkan, bahwa dia hebat dan tidak bisa ditundukkan. Kandidat datang ke pewawancara dengan niat untuk menunjukkan dia lebih hebat dari pewawancara, karena sebenarnya dia takut diremehkan, takut dianggap tidak bagus. Coba baca pengalaman saya di sini saat mewawancarai kandidat yang demikian.

Bagaimana cara mengatasi ini? Nada bicara, pemilihan kata-kata, intonasi, air muka, senyum, gerakan alis dan mata, anggukan kepala, gerakan tangan, semua itu bisa digunakan sedemikian rupa agar Anda terliat cerdas tetapi tidak sombong. Perhatikan kalimat ini: “saya merasa beruntung sekali mendapat kesempatan menjadi ketua delegasi Indonesia saat mengikuti Youth Economic Forum di Amerika Serikat. Amanah itu memberi saya pelajaran luar biasa, lebih dari yang saya duga. Dengan pengalaman ini saya semakin yakin bahwa niat yang teguh serta kerja keras bisa mendatangkan keberhasilan yang baik”. Lalu perhatikan kalimat ini: “dari seratus orang yang berkompetisi saya berhasil mengalahkan semuanya sehingga saya terpilih menjadi ketua delegasi Indonesia di Youth Economic Forum di Amerika. Ini membuktikan bahwa saya memiliki kemampuan lebih dari yang lain.” Anda tentu bisa melihat perbedaan kalimat tersebut dan memilih yang lebih tepat.

Untuk menghindari ‘tragedi’ akibat pewawancara merasa ‘minder’, penting sekali mengetahui jati diri pewawancara dan terutama mengetahui prestasi yang pernah diraihnya. Dengan mengetahui itu, Anda bisa fokus pada satu atau dua prestasi yang pernah diraihnya dan mengaitkan prestasi Anda dengan prestasi itu. Tentu lebih baik jika Anda bisa menunjukkan bahwa Anda berprestasi sambil menunjukkan apresiasi atas prestasi yang dicapai oleh pewawancara.

Membayangkan diri jadi pewawancara
Inti dari semua tips di atas adalah kemampuan untuk membayangkan diri Anda sebagai pewawancara. Coba bayangkan dengan serius jika yang duduk di kursi pewawancara adalah Anda sendiri dan yang ada di kursi Anda saat itu adalah orang lain. Membayangkan diri sebagai pewawancara membuat Anda bisa memahami dengan lebih baik kualitas kandidat yang Anda cari. Tentu saja Anda ingin mencari kandidat yang baik, pintar, cerdas, tanggap dan sebagainya. Anda suka mendapatkan kandidat yang cerdas tetapi mungkin tidak begitu suka jika kecerdasan itu membuat orang lain merasa tidak nyaman atau terancam. Anda tentu suka mendapatkan kandidat yang penuh inisiatif tetapi mungkin merasa kurang nyaman jika semua kualitas itu muncul dalam bentuk kesombongan. Singkatnya, mencoba membayangkan diri jadi pewawancara akan membuat Anda bisa memilih sikap yang tepat sebagai orang yang diwawancarai.

Semua informasi dan tips di atas hanyalah hasil pengalaman dan pengamatan, tidak berdasarkan teori dan ilmu-ilmu tinggi. Silakan digunakan dengan cermat dan cerdas. Selamat bersiap-siap menghadapi wawancara.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

6 thoughts on “Tips Wawancara: Mengambil Hati Pewawancara”

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s