Duta Bangsa itu…

Ketika dinyatakan sebagai salah satu penerima United Nations – Nippon Foundation of Japan Fellowship, saya diselamati banyak orang. Menjadi satu dari hanya 10 orang di seluruh jagat yang mendapat anugerah ini tentu tidak berlebihan jika disambut senyum. Saya akan bergaul dengan orang-orang top dari berbagai negara, pasti sangat menyenangkan.

Ketika saya lihat lagi diri sendiri, saya berpikir lain. Orang biasa juga bisa mendapatkan fellowship ini. Itu kesimpulan saya pada akhirnya.

Seorang kawan dari Benin bergegas datang ke ruangan saya dengan Bahasa Inggris tak begitu jelas dan ‘terkontamininasi’ logat Prancis. “Andi, how can I move the pictures from my camera? I want to return it” Kawan dari Benin ini baru saja membeli kamera dan kini berniat mengembalikannya karena suatu alasan. Beberapa foto yang sudah direkamnya hendak disimpan. Untuk hal ini dia mendatangi saya.

“I don’t understand how these things work. Please help me move my report from the UN computer to my laptop. I could not do it” seorang teman dari Cameroon berkeluh kesah, belum lagi tuntas saya mendownload foto-foto dari si Benin.

“Andi please help me find this article for my paper. I could not find it. You might be able to help since you are the master of Google”, seorang kolega dari Filipina menghampiri di suatu sore yang lengang, tepat ketika beberapa menit yang lalu saya memberi kuliah kepada kawan lain dari Thailand soal blogging.

Begitulah keseharian di gedung terhormat ini. Selalu saja ada yang tidak tahu hal “sederhana” dan selalu saja ada yang meminta pertolongan. Saya menikmati suasana begini. Ternyata tidak harus menjadi orang hebat untuk bisa berarti. Tidak harus juga menjadi pakar untuk dipandang di komunitas internasional. Yang terpenting adalah menguasai sesuatu yang bisa ditunjukkan ketika diperlukan.

Cukup tahu bagaimana membuat daftar gambar dan daftar tabel otomatis di microsoft word, Anda mungkin sudah bisa mengalahkan pamor Ronaldo di mata seorang berkebangsaan Brazil.

Berita kepada kawan

Kawan,

Tidak mudah ternyata menyimpan berita baik sendirian. Inilah kelemahan yang aku bawa sejak lahir, aku suka memamerkan apa yang kuraih. Ijinkan aku sekali lagi berbagi kegembiraan hari ini. Sebelum kuputuskan untuk menuliskan ini, aku menyadari bahwa berbagi kegembiraan tidak selalu menimbulkan kegembiraan pada pendengarnya. Ada kalanya cerita gembira dan keberhasilan akan terdengar sebagai kesombongan dan keangkuhan. Maka dari itu, seandainya ini nampak demikian, maafkanlah kawanmu yang muda ini.

Hari ini aku menerima berita gembira bahwa selain diputuskan sebagai penerima Australian Leadership Awards (ALA) untuk sekolah S3, aku juga dianugerahi Alison Sudradjat Awards (ASA). Perlu aku ceritakan sedikit bahwa ada 172 orang di 24 negara yang menerima ALA ini dan hanya 25 orang dari Indonesia. Yang istimewa, penerima ASA adalah empat orang terbaik penerima ALA di Indonesia.

Aku pribadi melihat ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Bukan saja karena aku akan mendapat kesempatan untuk training atau bekerja di institusi Australia selama menjalani kuliah S3, terutama karena kebanggaanku, sebagai seorang surveyor, bisa bersaing dengan orang-orang multi disiplin di tingkat nasional bahkan regional. Rasanya tidak salah kalau aku bersenang hati.

Aku berbagi cerita ini untuk mengajakmu turut merasakan ini sekaligus berterima kasih bahwa telah kuraih semua ini karena bertumbuh pada lahan yang sangat kondusif. Disadari ataupun tidak, harmoni yang tercipta telah membuatku nyaman untuk berkarya. Terima kasih untuk semua ini.

Pencapaian ini pastilah menjadi kebangganku, aku berharap ia juga bisa menjadi kebangganmu. Aku bermimpi, cerita ini bisa menggugah semangatmu karena aku yang pernah menjadi murid, teman, adik, kakak atau bimbingan skripsi-mu, kini mencapai sesuatu. Kalau dia bisa menjadi kebanggan buatku, dengan segala kerendahan hati, aku harap dia juga bisa menjadi kebanggaanmu.

Seperti ucapanku sebelumnya, jika ini terdengar sebagai suatu kesombongan, pastilah karena caraku yang tidak santun, dan maafkanlah. Doakanlah kawanmu agar mampu melewati kendala yang bahkan tidak bisa didoakan ketiadaannya.

Salam hangat dan terima kasih,
Andi

Dibaca di 100 negara

Ketika dibuat dan ditayangkan pertama kali pada bulan Februari 2004, blog ini tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang istimewa, apalagi besar. Adalah posting seorang kawan ketika itu di milis yang saya ikuti, membahas tentang fenomena blog. Tanpa berpikir panjang saya langsung tertarik dan hari itu juga membuat blog. Tidak susah ternyata membuat sesuatu yang memang sangat diinginkan.

Kini setelah lebih dari tiga tahun, blog ini mungkin tetap bukanlah sesuatu yang besar, tidak juga istimewa. Setidaknya kini dia menjadi teman paling setia untuk mengungkapkan dan berdiskusi tentang apa saja termasuk berbagai rahasia yang hanya saya dan Tuhan yang tahu. Blog ini menjadi sedemikian penting artinya karena dengannya saya mencurahkan gagasan tentang apa saja. Blog ini juga yang di awal-awal masanya menjadi ajang uji coba tulisan-tulisan saya sebelum akhirnya bermunculan di media masa. Blog ini juga yang menjadi penampungan sementara berbagai gagasan yang akhirnya menjadi buku. Dengan blog, saya memperoleh banyak sekali teman dan saudara.

Pernah suatu saat ketika berada di sebuah gedung di Jakarta, saya dibuat terkejut karena ada seseorang yang mengenal saya lewat blog. Dia rupanya pembaca setia blog saya, entah karena alasan apa. Dengan blog juga, saya mendapat kesempatan berbagi cerita kepada banyak sekali orang di seluruh dunia, tentang apa saja.

Enam bulan yang lalu, saya memasang alat penghitung di sini dan minggu ini terlihat hasil yang sedikit mengejutkan. Alat penghitung ini menunjukkan kalau blog ini dibaca di 100 negara. Ya, SERATUS negara. Walaupun saya tahu bahwa hit ini juga bisa terjadi secara otomatis karena adanya robotic software yang bekerja, tanpa bermaksud overoptimistis, saya tetap yakin bahwa blog ini memang dibaca di banyak sekali tempat.

Saatnya saya berterima kasih kepada pembaca di manapun berada. Blog ini, dalam beberapa hal, memuat banyak sekali hal yang tidak penting tetapi dia tetap dikunjungi oleh banyak orang. Saya berterima kasih untuk itu. Saya tidak akan memberikan hadiah apapun tetapi apa yang ada di blog ini semoga bisa bercerita tentang kejujuran dan kelemahan saya yang bisa dipelajari oleh siapa saja untuk terhindar dari kesalahan yang sama. Selamat membaca.

SMS Gratis – FreeSMS

Orang-orang gelap

Pak Ujang asal Majalengka, bergumam sambil mengais-ngais sampah di riuhnya Manhattan. Di pojok lainnya Mas Jumono menggerakkan alat pel dengan tangkasnya. Mereka berdua bekerja untuk orang-orang yang menikmati keindahan kunang-kungan di Manhattan. Mereka adalah orang-orang gelap yang ketika kauinjak hak dan harga dirinya mereka memilih diam saja.

Made Sungkrug memainkan gitar tua di sebuah apartemen sederhana. Dihisapnya rokok sambil mendendangkan satu dua lagu tentang tanah kelahirannya. Made adalah satu saja dari orang-orang gelap, yang bila kautanya kapan pulang, akan menjawab dengan senyum getir. Mereka adalah orang-orang gelap yang entah kapan sempat kembali pulang. Bernyanyi dan menghisap rokok adalah hiburannya di sela kerja yang melelahkan.

Tengku Imam tertunduk dan tak berani mendongak tatkala tak sengaja menang lotre. Bukan lantaran agama yang melarangnya berjudi tetapi karena uangnya tak bisa dibelanjakannya. Tengku Imam adalah orang-orang gelap yang ketika ditanya social security number akan meringis. Orang-orang gelap ini berpakaian rapi, berpenghasilan tidak kurang tetapi tidak pernah ada. Tidak pernah tercatat dan tidak pernah dianggap dalam buku penting kehidupan negeri ini. Merekalah orang-orang gelap yang tidak penting tetapi penting.

Belajar Bahasa Inggris

Entah apa alasannya, banyak kawan yang bertanya pada saya, bagaimana cara belajar Bahasa Inggris. Seringkali saya tidak bisa menjawab dengan gamblang pertanyaan semacam ini karena memang tidak mudah. Belajar adalah seni, saya masih menganut kepercayaan ini.

Posting ini bukanlah tentang bagaimana cara belajar Bahasa Inggris tetapi kisah seorang Andi belajar Bahasa Inggris 17 tahun yang lalu di bangku SMP. Berbeda dengan anak sekarang yang belajar Bahasa Inggris sejak pra-TK, saya yang berasal dan besar di desa terpencil di Tabanan mulai belajar Bahasa Inggris di kelas 1 SMP. Sebelum itu, tidak ada satupun orang yang mengajarkan Bahasa Inggris pada saya walaupun sejak awal saya merasa suka dengan bahasa ini. Setidaknya melalui film kartun yang ditonton di rumah Pak Wayan Sukantra, guru agama kami, saya belajar satu dua tiga kata seperti yes, no, dan danger. Kata “danger” paling sering terlihat di film kartun, terutama di pesawat yang hampir jatuh :))

Layaknya belajar bahasa di Indonesia pada umumnya, mengenal abjad adalah langkah pertama. Hari itu adalah hari pertama kelas Bahasa Inggris. Guru saya bernama Ni Made Astini, guru favorit saya hingga hari ini. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang saya masih sering mengunjungi beliau di Sekolah SMP dan beberapa kali menemani beliau mengajar di kelas. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami berdua.

“Sekarang kita belajar mengenal abjad dalam Bahasa Inggris”, begitu Ibu Astini memulai setelah menuliskan 26 abjad di papan tulis. “Ibu akan mengucapkan terlebih dahulu dan kalian mengikuti, ya?!” Muridpun menjawab serempak dan lantang “Ya Bu…”. Mulailah Bu Astini beraksi “ei, bi, si, di, i” dan seterusnya yang diikuti dengan cukup mudah oleh kami di kelas itu. Perlahan-lahan saya membangun pemahaman sendiri bahwa pengucapan abjad Bahasa Inggris mirip sekali dengan Bahasa Indonesia, cuma memang diucapkan dengan cara yang lebih “nggaya”. Semakin “nggaya” kita mengucapkan, semakin baiklah dia terdengar. Begitu saya berpendapat. Teman-teman sayapun nampak menikmati.

Namun kelancaran itu tidak belangsung lama, kesulitan mulai muncul ketika Ibu Astini sampai pada huruf “W”. Tentu saja semua orang berharap huruf “w” dibaca “wi” seperti halnya “d” dibaca “di”, “t” dibaca “ti”, “p” dibaca “pi” dan sebagainya. Kalaupun ada penyimpangan sedikit, pastilah tidak terlalu jauh, seperti “q” yang dibaca “qyu”, dan “r” yang dibaca “ar”. Tentu saja kami keliru karena kemudian Bu Astini menyebutkan “dabelyu”. Kontan saja anak-anak terdiam, tidak yakin kalau “w” benar-benar harus dibaca “dabelyu”. Ibu Astini rupanya mengerti dan mengulangnya sekali lagi sambil menghentakkan penggarisnya di papan, tepat mengenai huruf “w”. Kamipun mengerti dan menirukan “dabelyu”. Ibu Astini mengulang lagi dengan menyebut “dabelyu” karena mungkin menurut beliau kami masih kurang yakin sehingga tidak kompak. Kamipun dengan sangat yakin dan percaya diri berteriak “dabelyu”.

Ibu Astini tersenyum dan mengucapkan “wans egin” [once again]” sambil memandang kami. Dalam situasi seperti itu entah apa yang ada dalam pikiran kami, dengan yakin dan penuh percaya diri kami berujar “wans egin” yang membuat ibu guru tersentak kaget dan beberapa detik kemudian terpingkal-pingkal di kelas tidak kuasa menahan tawa. Kami yang di depannya terpana dan tidak mengerti apa yang terjadi. Nampak beberapa kawan saling pandang. Tidak satupun dari kami yang bersuara, apalagi tertawa. Semua diam, tidak mengerti mengapa guru kami terpingkal-pingkal di ruang kelas.

Dalam analisis kritis saya yang baru berusia 12 tahun saat itu, saya mengganggap apa yang kami katakan sudah persis seperti apa yang dikatakan Ibu Astini. Mengapa beliau tertawa? Yang saya sadari adalah bahwa pengucapan huruf-huruf terakhir dalam urutan abjad memang aneh, tidak sama atau tidak mirip dengan Bahasa Indonesia. Kalau huruf-huruf awal masih diucapkan mirip dengan Bahasa Indonesia, maka huruf-huruf di urutan terakhir sangatlah berbeda. Saya berpikir, kalau “w” saja bisa menjadi “dabelyu”, tentu saja “x” bisa jadi “wans egin”. Lama kami tidak mengerti sampai akhirnya Ibu Astini menjelaskan yang disambut riuh tawa saya dan teman-teman. Begitulan seorang Andi 17 tahun yang lalu.

Kalau saja dibiarkan pemahaman kami seperti itu, sangat mungkin “y” akan dibaca “kam on” dan “z” bisa menjadi “yu ar so fani”

Setelah Bercinta di Manhattan

Biarlah hanya saya yang mengerti makna tersembunyi di balik judul posting ini. Yang ingin saya sampaikan, Manhattan bukanlah Manhattan di New York, US walaupun saya memang sedang termenung di sebuah kamar di Queens, 40 menit dari Manhattan, New York. Manhattan dalam tulisan ini adalah Hotel Manhattan di Jakarta. Tanggal 10 September lalu saya memang dibawa oleh cinta menghabiskan malam di sebuah kamar di lantai 29 hotel itu. Ada pergulatan cinta juga memang, karena semua memang karena cinta. Cinta adalah satu-satunya alasan. Sebelum melanjutkan membaca cerita di bawah, kabar sebelumnya wajib Anda simak. Saya pernah bercerita tentang ALA dan Hotel Manhattan. Tanpanya, cerita saya ini tak kan bermakna.

Hari ini, setelah satu setengah bulan peristiwa itu, saya mendapat kabar baik. Saya dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa ALA. Rasanya tidak henti-hentinya saya harus bersyukur karena kesempatan baik datang silih berganti. Tuhan memberi saya kesempatan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ini luar biasa dan harus saya syukuri dengan ketulusan hati.

Pencapaian ini tentu saja tidak akan lepas dari bantuan dan doa banyak sekali orang baik di sekitar saya. Istri dan anak adalah pendukung utama keliaran pikiran dan gagasan saya yang dengan sabar membiarkan saya terbang sangat tinggi dan tetap tersenyum, pun ketika saya jatuh terhempas. Tiga pemberi rekomendasi: Subaryono, PhD, Prof. Chris Rizos dan Dr. Clive Schofield adalah pahlawan saya yang meberi dukungan luar biasa. Seorang kawan baik yang membantu saya menyelesaikan pendaftaran ‘jarak jauh’, Ruli Andaru, di Teknik Geodesi UGM adalah orang yang layak mendapat terima kasih saya. Begitulah, dalam sebuah pencapaian, selalu ada banyak orang yang terlibat. Tentu saja tidak hanya nama-nama di atas yang membantu saya. Ada banyak yang lain yang tidak mungkin saya sebut satu per satu. Meski tidak disebut, kepahlawanan mereka tidak akan pernah berkurang maknanya.

Selanjutnya adalah perjuangan sesungguhnya. Selamat berjuang diriku.

Sendiri

Ketika masih berumur belasan tahun bahkan hingga awal 20-an, saya sering terheran-heran dengan beberapa orang yang saya kenal telah berkelana ke berbagai negara. Ada kawan SMA yang ikut pertukaran pelajar dan ada seorang kenalan lain di awal tahun 1998 telah berkeliling dunia karena menjadi ‘sales’ perangkat lunak GIS. Saya mengatakan pada ibu saya “Mungkin anak pedagang pasir ini akan pernah ke luar negeri suatu saat” yang disambut senyum beliau yang entah apa maknanya saat itu.

Berjalan menyusuri 44th Street di Manhattan dari Grand Central menuju United Nations Plaza sering menenggelamkan saya dalam lamunan mendalam. Lamunan itu bisa berkunjung justru di tengah kebisingan kota dan ramainya lalu lalang pejalan kaki yang berangkat kerja. Kesepian perasaan itu memang bisa saja datang di tengah keriuhan. Hal yang sama bisa terasa ketika melewati Fifth Avenue di sebelah Central Park yang terkenal itu atau Time Square yang ketika malam bermandikan gemerlap lampu. Belantara gedung tinggi yang mengangkasa, tata ruang kota yang seperti lukisan dan ramainya kendaraan kadang tidak bisa mengusir rasa sepi.

Saya tidak sedang bersedih, tetapi sedang mengalami kesepian yang mendalam. Keindahan dunia ternyata tidak berarti apa-apa ketika saya tidak bisa membagi ceritanya kepada siapapun. Menikmati gemerlap lampu sendirian dan angkuhnya New York tanpa teman tidaklah memberi kesan berarti. Saya semakin sadar, dilahirkan sebagai orang dengan sifat buruk suka memamerkan sesuatu. Saya tidak pernah merasa bahagia sebelum menunjukkan kegembiraan, kegundahan dan bahkan kegelisahan kepada orang-orang yang dekat di hati. Istri dan anak yang jauh di belahan dunia lainnya membuat hidup menjadi sepi. Penemuan demi penemuan yang tersusun sebagai pengalaman individu tidak memberi banyak makna dalam perjalanan.

Ternyata, yang penting bukanlah ke mana saya melangkah. Jauh di atas itu adalah seberapa banyak yang bisa saya bagi dengan orang-orang yang yang dengan antusias menyimak pergulatan batin saya. Kepada orang-orang tercinta di belahan dunia lainnya, saya mengajak bayangan mereka untuk membunuh kesendirian ini agar menjadi bermakna. Kini saya memahami makna senyum ibu saya di masa lalu. Anak pedagang pasir itu telah melangkah jauh, tetapi tercecer hatinya di damainya desa dan riuhnya tawa mereka yang suka menyimak cerita.

Cinta terakhir

Tak semestinya
Ku merasa sepi
Kau dan aku
Di tempat berbeda
Seribu satu alasan
Melemahkan , tubuh ini

Aku disini
Mengingat dirimu
Ku menangis tanpa air mata
Bagai bintang tak bersinar
Redup hati ini

Dan ku mengerti sekarang
Ternyata kita menyatu
Di dalam kasih yg suci
Kuakui kamulah cinta terakhir (cintaku)

Maaf

Saya sedang di depan kelas menghadapi sejumlah mahasiswa yang baru saja menikmati libur lebaran. Saya tahu, mereka belum sepenuhnya berkonsentrasi pada kuliah. Karena kebaikan hati dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa saja, mereka berada di hadapan saya. Sebenarnya cukup “bisa diterima” juga kalaupun mereka masih ada di kampung menikmati suasana lebaran saat itu.

Melihat mahasiswa yang tidak 100% siap menyimak pelajaran, saya mengerti. Bukan hanya mahasiswa, saya pun masih menikmati liburan lebaran. Tiak adil juga kalau saya tidak mau tahu dan langsung mengguyur mereka dengan materi Batas Wilayah yang tentu tidak cukup menarik di hari pertama kuliah.

“Selamat idul fitri ya, Minal Aidin Wal Faidzin, maafkan lahir dan bathin, selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”, begitu saya membuka kuliah yang disambut senyum mahasiswa. Senang melihat mereka tersenyum di hari pertama kuliah. Adalah kebiasaan saya, tidak langsung mulai materi serius ketika kuliah. Pasti ada saja cerita di luar kuliah yang mengisi 5 menit pertama. Film, berita di koran, gosip hangat seputar kampus, cerita lucu, kisah menyentuh atau sebangsanya adalah beberapa contoh kesukaan saya. Mahasiswa nampak menikmatinya. Kali ini saya bahkan berniat untuk tidak mengisi kuliah, sekedar ngobrol saja.

“Apa sih arti memaafkan saat lebaran?” saya memulai kisah saya dengan bertanya secara retorik. Tidak untuk dijawab. Berkembanglah obrolan khas saya dengan mahasiswa yang diselingi derai tawa. Saya merindukan saat-saat seperti ini.

Bagaimana sesungguhnya kita harus memaknai maaf? Tidak mudah menjawabnya. Persoalannya, ketika kesempatan meminta maaf pasti datang setiap tahun dan waktu “menghapus dosa” juga dengan pasti disediakan, saya khawatir maaf menjadi kehilangan maknanya. Maaf jangan-jangan jadi seperti makan nasi 3 kali sehari yang kadang dilakukan sambil mengetik tugas atau menyelesaikan pekerjaan kantor saking sibuknya. Makan menjadi tidak istimewa karena rutinitas. Akankah maaf menjadi seperti itu?

Anda dan saya pasti bersepakat bahwa dimaafkan tidaklah sama dengan diberi kesempatan untuk mengulang kesalahan. Hanya karena ada Ramadhan di tahun depan, bukan berarti kita bebas untuk berbuat salah di saat ini. Tapi seandainya seseorang memang berniat berbuat dosa dan dengan sadar menikmatinya, ini adalah perihal lain. Kita tidak sedang membicarakan hal ini.

Saya bertanya kepada mahasiswa waktu itu ”kalau saya tidak marah saat ada yang datang terlambat itu artinya saya maafkan. Apa arti maaf saya ini?” saya kemudian mencoba membagi gagasan saya bahwa maaf seperti itu adalah dalam rangka pemberian kesempatan untuk berbuat lebih baik di minggu berikutnya. Maaf adalah kesempatan, itu intinya. Akan sangat sayang jika maaf ini diartikan bahwa saya tidak bisa marah dan tidak akan marah kalau ada yang terlambat. Sangat tidak sesuai tujuannya kalau kemudian mahasiswa berpikir ”Gampang sama Pak Andi, telat gak dimarahin kok, so santai aja”. Maaf dalam konteks ini telah membuahkan petaka. Bukan kepada saya sendiri tetapi kepada mahasiswa, kepada karirnya dan kepada masa depannya. Alangkah tidak terpujinya maaf itu, kalau dia bisa menjerumuskan seorang mahasiswa pada perilaku yang tidak semestinya. Maaf tidak menemukan sasarannya. Maaf menjadi tidak bermakna.

Saya tambahkan, ”jika maaf yang saya berikan akhirnya membuat generasi muda seperti Anda menjadi lemah, tidak disiplin dan cenderung tidak serius pada diri sendiri, saatnya saya katakan “tidak” dan maaf mungkin tidak harus saya berikan.” Tentu saja saya mengucapkannya sambil tersenyum, jauh dari kesan galak karena saya memang tidak bisa galak. Pengalaman ini sangat berkesan.

Maaf yang ditebar saat Idul Fitri adalah wujud kesempatan. Bukan gratisan yang membuat seorang ”saya” bisa berkelakar dan menyiapkan tumpukan dosa untuk dilebur tahun depan dalam Ramadhan. Kalaupun ada dosa yang harus dilebur lagi, biarlah itu sisa kelupaan dan kekhilafan, bukan kesengajaan karena ”saya” berpikir cadangan maaf masih banyak untuk ”saya”.

Biarlah maaf ini menjadi sesuatu yang alami mengalir seperti air yang menembus bebatuan tanpa merusaknya. Biarlah maaf ini membuat semua orang menjadi lebih sabar dan lebih mudah tersenyum.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin. Terima kasih telah memberi kesempatan.