Maaf


Saya sedang di depan kelas menghadapi sejumlah mahasiswa yang baru saja menikmati libur lebaran. Saya tahu, mereka belum sepenuhnya berkonsentrasi pada kuliah. Karena kebaikan hati dan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa saja, mereka berada di hadapan saya. Sebenarnya cukup “bisa diterima” juga kalaupun mereka masih ada di kampung menikmati suasana lebaran saat itu.

Melihat mahasiswa yang tidak 100% siap menyimak pelajaran, saya mengerti. Bukan hanya mahasiswa, saya pun masih menikmati liburan lebaran. Tiak adil juga kalau saya tidak mau tahu dan langsung mengguyur mereka dengan materi Batas Wilayah yang tentu tidak cukup menarik di hari pertama kuliah.

“Selamat idul fitri ya, Minal Aidin Wal Faidzin, maafkan lahir dan bathin, selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin”, begitu saya membuka kuliah yang disambut senyum mahasiswa. Senang melihat mereka tersenyum di hari pertama kuliah. Adalah kebiasaan saya, tidak langsung mulai materi serius ketika kuliah. Pasti ada saja cerita di luar kuliah yang mengisi 5 menit pertama. Film, berita di koran, gosip hangat seputar kampus, cerita lucu, kisah menyentuh atau sebangsanya adalah beberapa contoh kesukaan saya. Mahasiswa nampak menikmatinya. Kali ini saya bahkan berniat untuk tidak mengisi kuliah, sekedar ngobrol saja.

“Apa sih arti memaafkan saat lebaran?” saya memulai kisah saya dengan bertanya secara retorik. Tidak untuk dijawab. Berkembanglah obrolan khas saya dengan mahasiswa yang diselingi derai tawa. Saya merindukan saat-saat seperti ini.

Bagaimana sesungguhnya kita harus memaknai maaf? Tidak mudah menjawabnya. Persoalannya, ketika kesempatan meminta maaf pasti datang setiap tahun dan waktu “menghapus dosa” juga dengan pasti disediakan, saya khawatir maaf menjadi kehilangan maknanya. Maaf jangan-jangan jadi seperti makan nasi 3 kali sehari yang kadang dilakukan sambil mengetik tugas atau menyelesaikan pekerjaan kantor saking sibuknya. Makan menjadi tidak istimewa karena rutinitas. Akankah maaf menjadi seperti itu?

Anda dan saya pasti bersepakat bahwa dimaafkan tidaklah sama dengan diberi kesempatan untuk mengulang kesalahan. Hanya karena ada Ramadhan di tahun depan, bukan berarti kita bebas untuk berbuat salah di saat ini. Tapi seandainya seseorang memang berniat berbuat dosa dan dengan sadar menikmatinya, ini adalah perihal lain. Kita tidak sedang membicarakan hal ini.

Saya bertanya kepada mahasiswa waktu itu ”kalau saya tidak marah saat ada yang datang terlambat itu artinya saya maafkan. Apa arti maaf saya ini?” saya kemudian mencoba membagi gagasan saya bahwa maaf seperti itu adalah dalam rangka pemberian kesempatan untuk berbuat lebih baik di minggu berikutnya. Maaf adalah kesempatan, itu intinya. Akan sangat sayang jika maaf ini diartikan bahwa saya tidak bisa marah dan tidak akan marah kalau ada yang terlambat. Sangat tidak sesuai tujuannya kalau kemudian mahasiswa berpikir ”Gampang sama Pak Andi, telat gak dimarahin kok, so santai aja”. Maaf dalam konteks ini telah membuahkan petaka. Bukan kepada saya sendiri tetapi kepada mahasiswa, kepada karirnya dan kepada masa depannya. Alangkah tidak terpujinya maaf itu, kalau dia bisa menjerumuskan seorang mahasiswa pada perilaku yang tidak semestinya. Maaf tidak menemukan sasarannya. Maaf menjadi tidak bermakna.

Saya tambahkan, ”jika maaf yang saya berikan akhirnya membuat generasi muda seperti Anda menjadi lemah, tidak disiplin dan cenderung tidak serius pada diri sendiri, saatnya saya katakan “tidak” dan maaf mungkin tidak harus saya berikan.” Tentu saja saya mengucapkannya sambil tersenyum, jauh dari kesan galak karena saya memang tidak bisa galak. Pengalaman ini sangat berkesan.

Maaf yang ditebar saat Idul Fitri adalah wujud kesempatan. Bukan gratisan yang membuat seorang ”saya” bisa berkelakar dan menyiapkan tumpukan dosa untuk dilebur tahun depan dalam Ramadhan. Kalaupun ada dosa yang harus dilebur lagi, biarlah itu sisa kelupaan dan kekhilafan, bukan kesengajaan karena ”saya” berpikir cadangan maaf masih banyak untuk ”saya”.

Biarlah maaf ini menjadi sesuatu yang alami mengalir seperti air yang menembus bebatuan tanpa merusaknya. Biarlah maaf ini membuat semua orang menjadi lebih sabar dan lebih mudah tersenyum.

Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan bathin. Terima kasih telah memberi kesempatan.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s