Tidak mudah memilih satu dari dua yang baik. Yang satu sangat prestisius walaupun tidak terlalu mewah secara duniawi, yang satu mewah namun pamornya sedikit di bawah. Tidak sedikit kawan saya yang menyarankan, “pilih saja yang bikin kaya”, katanya. Apa benar beasiswa bisa membuat kaya? Saya sendiri tidak tahu mungkin bisa tanyakan kepada orang yang baru pulang dari sekolah di luar negeri lalu bisa beli mobil, beli tanah, beli rumah terus menikah. Saya tidak tahu rahasianya.
Kembali kepada pilihan, saya belum memutuskan. Namun begitu, sudah ada tanda-tanda bahwa saya tidak berjodoh dengan pilihan yang membuat kaya. Sudah terlalu sering saya membuktikan bahwa pilihan bersahaja membuat hidup saya lebih berwarna dan jadi lebih banyak tersenyum. Saya masih ingat dengan jelas ketika meninggalkan Unilever menuju Astra dengan gaji yang turun hingga hampir 800 ribu. Ini pilihan aneh, kata teman saya. Tapi tidak terlalu aneh menurut saya. Senada dengan itu, saya juga masih ingat ketika memutuskan jadi dosen dengan gaji sepersekian dari Astra, Bapak saya menangis terisak dan tak bisa berkata apa-apa menyaksikan pilihan ‘bodoh’ anak kesayangannya.
Begitulah hidup, penuh pilihan yang adalah pilihan ganda. Kadang kita harus juga mengandalkan naluri untuk mendapatkan yang terbaik, tanpa meremehkan peran logika. Selamat memilih, dan terutama selamat membangun pilihan.
PS. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih ALA. Berikut surat ‘penolakan’ saya untuk Endeavour





