Kemakmuran

Seorang perempuan berkebangsaan Cina yang sudah menjadi penduduk tetap Amerika di suatu sore bercakap-cakap dengan saya. “Apakah kamu ingin tinggal di Amerika?”, begitu salah satu pertanyaannya. Memang sudah seperti keniscayaan bahwa orang dari negara berkembang yang datang ke Amerika ingin menetap dan hidup di negara ini. Pertanyaan dan termasuk kecurigaan seperti ini sangat umum saya dengar selama satu setengah bulan terakhir.
Saya katakan bahwa saya akan pulang dan saya adalah pekerja pemerintah. “Tapi pemerintah tidak memberimu imbalan yang cukup kan?”, begitu dia melanjutkan. Ucapan perempuan inipun tidak salah. Istilah “cukup” tentu saja bisa diperdebatkan. Begitulah percakapan itu menjadi semakin hangat dan mengarah ‘panas’ terutama karena terlalu banyak kata-kata yang apriori dan terkesan meremehkan Indonesia. Yang menyedihkan, dia tidak tahu dan belum pernah ke Indonesia, tahu sedikit-sedikit saja, itupun dari CNN 🙂

“Kamu di sini punya rumah berapa?”, saya bertanya di suatu kesempatan. “Satu”, katanya. “Aku punya dua di Indonesia. Kamu punya tanah nggak di sini?”, saya lanjutkan. “Tidak” katanya. “Aku punya tidak kurang dari setengah hektar lahan pemukiman”, saya tambahkan lagi. “Kamu masak sendiri, nyuci sendiri, nyetrika sendiri, cuci piring sendiri, nyiram tanaman sendiri, jemur baju sendiri, nyapu rumah sendiri, kan?” entah dari mana datangnya pertanyaan beruntun itu dan dia mengiyakan. Saya bilang “Aku tidak pernah melakukan itu sendiri! Gajiku cukup untuk membayar orang lain dengan imbalan yang terhormat.”

Tidak sepenuhnya baik, apa yang saya sampaikan kepada perempuan Cina ini tetapi rasanya ingin juga memberi wawasan lain tentang Indonesia kita. Saya tidak tahu mana yang lebih baik, setidaknya saya tidak kecewa dengan hidup di Indonesia dan tidak pernah bermimpi hidup di Amerika untuk selamanya. Biarlah hanya sekali dua kali menyaksikan gemerlap kunang kunang di Manhattan dari megahnya Brooklyn Bridge. Itu sudah cukup bagi saya.

Don’t give up. Be like MacGyver

Air Terjun

Ketika masih terbisa berlari di pinggir sungai tanpa alas kaki dan terjun dari ketinggian menukit turun ke dalamnya sungai, air terjun dan gemercik air bukanlah cerita istimewa. Seorang Andi kecil berlari di pematang sawah, sumringah wajahnya menyaksikan telur tergelatak di tengah sawah di Subak Tegaljadi. Ini menjadi keseharian.

Ketika itu, berjalan di kota, menyaksikan ramainya kendaraan dan indahnya televisi berwarna adalah impian. Tidak pernah sekalipun membayangkan air terjun adalah tempat melepaskan diri dari kepenatan kerja dan rutinitas keseharian. Sungai, panas matahari riak air di sawah dan semilir angin yang membuat capung melayang-layang seakan terhempas adalah kenyataan hidup yang sama sekali tidak istimewa. Hal-hal sederhana itu tidak pernah menjadi hiburan, dia keniscayaan yang dengannya tidak ada perasaan baru dan tergugah.

Kini, ketika harus bergaul dengan mereka yang dari dunia lain, gemercik air menjadi jarang terdengar, capung tak lagi beterbangan, angin tak sempat menggoda daun pisang yang meliuk menebarkan desah. Di saat inilah air terjun menjadi tempat melepaskan kepenatan. Tidak saja tempatnya yang jauh dari keseharian, ia juga mahal. Seandainya saja 17 tahun yang lalu harus ke Niagara Falls, mungkin Andi kecil tidak akan pernah melihat hebatnya.

Duta Bangsa itu…

Ketika dinyatakan sebagai salah satu penerima United Nations – Nippon Foundation of Japan Fellowship, saya diselamati banyak orang. Menjadi satu dari hanya 10 orang di seluruh jagat yang mendapat anugerah ini tentu tidak berlebihan jika disambut senyum. Saya akan bergaul dengan orang-orang top dari berbagai negara, pasti sangat menyenangkan.

Ketika saya lihat lagi diri sendiri, saya berpikir lain. Orang biasa juga bisa mendapatkan fellowship ini. Itu kesimpulan saya pada akhirnya.

Seorang kawan dari Benin bergegas datang ke ruangan saya dengan Bahasa Inggris tak begitu jelas dan ‘terkontamininasi’ logat Prancis. “Andi, how can I move the pictures from my camera? I want to return it” Kawan dari Benin ini baru saja membeli kamera dan kini berniat mengembalikannya karena suatu alasan. Beberapa foto yang sudah direkamnya hendak disimpan. Untuk hal ini dia mendatangi saya.

“I don’t understand how these things work. Please help me move my report from the UN computer to my laptop. I could not do it” seorang teman dari Cameroon berkeluh kesah, belum lagi tuntas saya mendownload foto-foto dari si Benin.

Andi please help me find this article for my paper. I could not find it. You might be able to help since you are the master of Google”, seorang kolega dari Filipina menghampiri di suatu sore yang lengang, tepat ketika beberapa menit yang lalu saya memberi kuliah kepada kawan lain dari Thailand soal blogging.

Begitulah keseharian di gedung terhormat ini. Selalu saja ada yang tidak tahu hal “sederhana” dan selalu saja ada yang meminta pertolongan. Saya menikmati suasana begini. Ternyata tidak harus menjadi orang hebat untuk bisa berarti. Tidak harus juga menjadi pakar untuk dipandang di komunitas internasional. Yang terpenting adalah menguasai sesuatu yang bisa ditunjukkan ketika diperlukan.

Cukup tahu bagaimana membuat daftar gambar dan daftar tabel otomatis di microsoft word, Anda mungkin sudah bisa mengalahkan pamor Ronaldo di mata seorang berkebangsaan Brazil.

Berita kepada kawan

Kawan,

Tidak mudah ternyata menyimpan berita baik sendirian. Inilah kelemahan yang aku bawa sejak lahir, aku suka memamerkan apa yang kuraih. Ijinkan aku sekali lagi berbagi kegembiraan hari ini. Sebelum kuputuskan untuk menuliskan ini, aku menyadari bahwa berbagi kegembiraan tidak selalu menimbulkan kegembiraan pada pendengarnya. Ada kalanya cerita gembira dan keberhasilan akan terdengar sebagai kesombongan dan keangkuhan. Maka dari itu, seandainya ini nampak demikian, maafkanlah kawanmu yang muda ini.

Hari ini aku menerima berita gembira bahwa selain diputuskan sebagai penerima Australian Leadership Awards (ALA) untuk sekolah S3, aku juga dianugerahi Alison Sudradjat Awards (ASA). Perlu aku ceritakan sedikit bahwa ada 172 orang di 24 negara yang menerima ALA ini dan hanya 25 orang dari Indonesia. Yang istimewa, penerima ASA adalah empat orang terbaik penerima ALA di Indonesia.

Aku pribadi melihat ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Bukan saja karena aku akan mendapat kesempatan untuk training atau bekerja di institusi Australia selama menjalani kuliah S3, terutama karena kebanggaanku, sebagai seorang surveyor, bisa bersaing dengan orang-orang multi disiplin di tingkat nasional bahkan regional. Rasanya tidak salah kalau aku bersenang hati.

Aku berbagi cerita ini untuk mengajakmu turut merasakan ini sekaligus berterima kasih bahwa telah kuraih semua ini karena bertumbuh pada lahan yang sangat kondusif. Disadari ataupun tidak, harmoni yang tercipta telah membuatku nyaman untuk berkarya. Terima kasih untuk semua ini.

Pencapaian ini pastilah menjadi kebangganku, aku berharap ia juga bisa menjadi kebangganmu. Aku bermimpi, cerita ini bisa menggugah semangatmu karena aku yang pernah menjadi murid, teman, adik, kakak atau bimbingan skripsi-mu, kini mencapai sesuatu. Kalau dia bisa menjadi kebanggan buatku, dengan segala kerendahan hati, aku harap dia juga bisa menjadi kebanggaanmu.

Seperti ucapanku sebelumnya, jika ini terdengar sebagai suatu kesombongan, pastilah karena caraku yang tidak santun, dan maafkanlah. Doakanlah kawanmu agar mampu melewati kendala yang bahkan tidak bisa didoakan ketiadaannya.

Salam hangat dan terima kasih,
Andi

Dibaca di 100 negara

Ketika dibuat dan ditayangkan pertama kali pada bulan Februari 2004, blog ini tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi sesuatu yang istimewa, apalagi besar. Adalah posting seorang kawan ketika itu di milis yang saya ikuti, membahas tentang fenomena blog. Tanpa berpikir panjang saya langsung tertarik dan hari itu juga membuat blog. Tidak susah ternyata membuat sesuatu yang memang sangat diinginkan.

Kini setelah lebih dari tiga tahun, blog ini mungkin tetap bukanlah sesuatu yang besar, tidak juga istimewa. Setidaknya kini dia menjadi teman paling setia untuk mengungkapkan dan berdiskusi tentang apa saja termasuk berbagai rahasia yang hanya saya dan Tuhan yang tahu. Blog ini menjadi sedemikian penting artinya karena dengannya saya mencurahkan gagasan tentang apa saja. Blog ini juga yang di awal-awal masanya menjadi ajang uji coba tulisan-tulisan saya sebelum akhirnya bermunculan di media masa. Blog ini juga yang menjadi penampungan sementara berbagai gagasan yang akhirnya menjadi buku. Dengan blog, saya memperoleh banyak sekali teman dan saudara.

Pernah suatu saat ketika berada di sebuah gedung di Jakarta, saya dibuat terkejut karena ada seseorang yang mengenal saya lewat blog. Dia rupanya pembaca setia blog saya, entah karena alasan apa. Dengan blog juga, saya mendapat kesempatan berbagi cerita kepada banyak sekali orang di seluruh dunia, tentang apa saja.

Enam bulan yang lalu, saya memasang alat penghitung di sini dan minggu ini terlihat hasil yang sedikit mengejutkan. Alat penghitung ini menunjukkan kalau blog ini dibaca di 100 negara. Ya, SERATUS negara. Walaupun saya tahu bahwa hit ini juga bisa terjadi secara otomatis karena adanya robotic software yang bekerja, tanpa bermaksud overoptimistis, saya tetap yakin bahwa blog ini memang dibaca di banyak sekali tempat.

Saatnya saya berterima kasih kepada pembaca di manapun berada. Blog ini, dalam beberapa hal, memuat banyak sekali hal yang tidak penting tetapi dia tetap dikunjungi oleh banyak orang. Saya berterima kasih untuk itu. Saya tidak akan memberikan hadiah apapun tetapi apa yang ada di blog ini semoga bisa bercerita tentang kejujuran dan kelemahan saya yang bisa dipelajari oleh siapa saja untuk terhindar dari kesalahan yang sama. Selamat membaca.

SMS Gratis – FreeSMS

Orang-orang gelap

Pak Ujang asal Majalengka, bergumam sambil mengais-ngais sampah di riuhnya Manhattan. Di pojok lainnya Mas Jumono menggerakkan alat pel dengan tangkasnya. Mereka berdua bekerja untuk orang-orang yang menikmati keindahan kunang-kungan di Manhattan. Mereka adalah orang-orang gelap yang ketika kauinjak hak dan harga dirinya mereka memilih diam saja.

Made Sungkrug memainkan gitar tua di sebuah apartemen sederhana. Dihisapnya rokok sambil mendendangkan satu dua lagu tentang tanah kelahirannya. Made adalah satu saja dari orang-orang gelap, yang bila kautanya kapan pulang, akan menjawab dengan senyum getir. Mereka adalah orang-orang gelap yang entah kapan sempat kembali pulang. Bernyanyi dan menghisap rokok adalah hiburannya di sela kerja yang melelahkan.

Tengku Imam tertunduk dan tak berani mendongak tatkala tak sengaja menang lotre. Bukan lantaran agama yang melarangnya berjudi tetapi karena uangnya tak bisa dibelanjakannya. Tengku Imam adalah orang-orang gelap yang ketika ditanya social security number akan meringis. Orang-orang gelap ini berpakaian rapi, berpenghasilan tidak kurang tetapi tidak pernah ada. Tidak pernah tercatat dan tidak pernah dianggap dalam buku penting kehidupan negeri ini. Merekalah orang-orang gelap yang tidak penting tetapi penting.

Belajar Bahasa Inggris

Entah apa alasannya, banyak kawan yang bertanya pada saya, bagaimana cara belajar Bahasa Inggris. Seringkali saya tidak bisa menjawab dengan gamblang pertanyaan semacam ini karena memang tidak mudah. Belajar adalah seni, saya masih menganut kepercayaan ini.

Posting ini bukanlah tentang bagaimana cara belajar Bahasa Inggris tetapi kisah seorang Andi belajar Bahasa Inggris 17 tahun yang lalu di bangku SMP. Berbeda dengan anak sekarang yang belajar Bahasa Inggris sejak pra-TK, saya yang berasal dan besar di desa terpencil di Tabanan mulai belajar Bahasa Inggris di kelas 1 SMP. Sebelum itu, tidak ada satupun orang yang mengajarkan Bahasa Inggris pada saya walaupun sejak awal saya merasa suka dengan bahasa ini. Setidaknya melalui film kartun yang ditonton di rumah Pak Wayan Sukantra, guru agama kami, saya belajar satu dua tiga kata seperti yes, no, dan danger. Kata “danger” paling sering terlihat di film kartun, terutama di pesawat yang hampir jatuh :))

Layaknya belajar bahasa di Indonesia pada umumnya, mengenal abjad adalah langkah pertama. Hari itu adalah hari pertama kelas Bahasa Inggris. Guru saya bernama Ni Made Astini, guru favorit saya hingga hari ini. Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang saya masih sering mengunjungi beliau di Sekolah SMP dan beberapa kali menemani beliau mengajar di kelas. Sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi kami berdua.

“Sekarang kita belajar mengenal abjad dalam Bahasa Inggris”, begitu Ibu Astini memulai setelah menuliskan 26 abjad di papan tulis. “Ibu akan mengucapkan terlebih dahulu dan kalian mengikuti, ya?!” Muridpun menjawab serempak dan lantang “Ya Bu…”. Mulailah Bu Astini beraksi “ei, bi, si, di, i” dan seterusnya yang diikuti dengan cukup mudah oleh kami di kelas itu. Perlahan-lahan saya membangun pemahaman sendiri bahwa pengucapan abjad Bahasa Inggris mirip sekali dengan Bahasa Indonesia, cuma memang diucapkan dengan cara yang lebih “nggaya”. Semakin “nggaya” kita mengucapkan, semakin baiklah dia terdengar. Begitu saya berpendapat. Teman-teman sayapun nampak menikmati.

Namun kelancaran itu tidak belangsung lama, kesulitan mulai muncul ketika Ibu Astini sampai pada huruf “W”. Tentu saja semua orang berharap huruf “w” dibaca “wi” seperti halnya “d” dibaca “di”, “t” dibaca “ti”, “p” dibaca “pi” dan sebagainya. Kalaupun ada penyimpangan sedikit, pastilah tidak terlalu jauh, seperti “q” yang dibaca “qyu”, dan “r” yang dibaca “ar”. Tentu saja kami keliru karena kemudian Bu Astini menyebutkan “dabelyu”. Kontan saja anak-anak terdiam, tidak yakin kalau “w” benar-benar harus dibaca “dabelyu”. Ibu Astini rupanya mengerti dan mengulangnya sekali lagi sambil menghentakkan penggarisnya di papan, tepat mengenai huruf “w”. Kamipun mengerti dan menirukan “dabelyu”. Ibu Astini mengulang lagi dengan menyebut “dabelyu” karena mungkin menurut beliau kami masih kurang yakin sehingga tidak kompak. Kamipun dengan sangat yakin dan percaya diri berteriak “dabelyu”.

Ibu Astini tersenyum dan mengucapkan “wans egin” [once again]” sambil memandang kami. Dalam situasi seperti itu entah apa yang ada dalam pikiran kami, dengan yakin dan penuh percaya diri kami berujar “wans egin” yang membuat ibu guru tersentak kaget dan beberapa detik kemudian terpingkal-pingkal di kelas tidak kuasa menahan tawa. Kami yang di depannya terpana dan tidak mengerti apa yang terjadi. Nampak beberapa kawan saling pandang. Tidak satupun dari kami yang bersuara, apalagi tertawa. Semua diam, tidak mengerti mengapa guru kami terpingkal-pingkal di ruang kelas.

Dalam analisis kritis saya yang baru berusia 12 tahun saat itu, saya mengganggap apa yang kami katakan sudah persis seperti apa yang dikatakan Ibu Astini. Mengapa beliau tertawa? Yang saya sadari adalah bahwa pengucapan huruf-huruf terakhir dalam urutan abjad memang aneh, tidak sama atau tidak mirip dengan Bahasa Indonesia. Kalau huruf-huruf awal masih diucapkan mirip dengan Bahasa Indonesia, maka huruf-huruf di urutan terakhir sangatlah berbeda. Saya berpikir, kalau “w” saja bisa menjadi “dabelyu”, tentu saja “x” bisa jadi “wans egin”. Lama kami tidak mengerti sampai akhirnya Ibu Astini menjelaskan yang disambut riuh tawa saya dan teman-teman. Begitulan seorang Andi 17 tahun yang lalu.

Kalau saja dibiarkan pemahaman kami seperti itu, sangat mungkin “y” akan dibaca “kam on” dan “z” bisa menjadi “yu ar so fani”

Setelah Bercinta di Manhattan

Biarlah hanya saya yang mengerti makna tersembunyi di balik judul posting ini. Yang ingin saya sampaikan, Manhattan bukanlah Manhattan di New York, US walaupun saya memang sedang termenung di sebuah kamar di Queens, 40 menit dari Manhattan, New York. Manhattan dalam tulisan ini adalah Hotel Manhattan di Jakarta. Tanggal 10 September lalu saya memang dibawa oleh cinta menghabiskan malam di sebuah kamar di lantai 29 hotel itu. Ada pergulatan cinta juga memang, karena semua memang karena cinta. Cinta adalah satu-satunya alasan. Sebelum melanjutkan membaca cerita di bawah, kabar sebelumnya wajib Anda simak. Saya pernah bercerita tentang ALA dan Hotel Manhattan. Tanpanya, cerita saya ini tak kan bermakna.

Hari ini, setelah satu setengah bulan peristiwa itu, saya mendapat kabar baik. Saya dinyatakan sebagai salah satu penerima beasiswa ALA. Rasanya tidak henti-hentinya saya harus bersyukur karena kesempatan baik datang silih berganti. Tuhan memberi saya kesempatan yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ini luar biasa dan harus saya syukuri dengan ketulusan hati.

Pencapaian ini tentu saja tidak akan lepas dari bantuan dan doa banyak sekali orang baik di sekitar saya. Istri dan anak adalah pendukung utama keliaran pikiran dan gagasan saya yang dengan sabar membiarkan saya terbang sangat tinggi dan tetap tersenyum, pun ketika saya jatuh terhempas. Tiga pemberi rekomendasi: Subaryono, PhD, Prof. Chris Rizos dan Dr. Clive Schofield adalah pahlawan saya yang meberi dukungan luar biasa. Seorang kawan baik yang membantu saya menyelesaikan pendaftaran ‘jarak jauh’, Ruli Andaru, di Teknik Geodesi UGM adalah orang yang layak mendapat terima kasih saya. Begitulah, dalam sebuah pencapaian, selalu ada banyak orang yang terlibat. Tentu saja tidak hanya nama-nama di atas yang membantu saya. Ada banyak yang lain yang tidak mungkin saya sebut satu per satu. Meski tidak disebut, kepahlawanan mereka tidak akan pernah berkurang maknanya.

Selanjutnya adalah perjuangan sesungguhnya. Selamat berjuang diriku.