Beragama

Saya sudah lama tidak menulis sesuatu yang serius seperti ini. Itupun kalau ‘beragama’ memang dianggap lebih serius dari bunga yang mekar di ruangan kerja atau kisah suatu malam di New Jersey. Apapun itu, saya masih yakin bahwa berbicara soal agama berarti bicara sesuatu yang serius. Walaupun menurut pemahaman sederhana saya, Tuhan juga pasti suka hal-hal lucu. Mengingat ada beberapa pemuka agama yang meyakinkan saya bahwa Tuhan bisa marah kalau kita berbuat dosa, tentu Tuhan juga bisa tertawa kalau saya melucu. Bagi teman saya yang pelawak, Tuhan tentu saja adalah salah satu sumber inspirasi, dan doanya pastilah kira-kira berbunyi “Ya Tuhan, semoga hamba dikaruiniai kelucuan hari ini”.

Beberapa kawan bertanya “apakah saya menjalankan tradisi agama dengan baik?”. “Are you really practicing your Hinduism?”, tanya kawan lainnya. Dalam sebuah acara makan siang di kafetaria United Nations, pertanyaan seperti ini bisa saya jawab dengan mudah sambil berkelakar: “I am a believer, I believe in God“. Cerita panjang lebar tentang film Contact kemudian dengan mudah membuat diskusi tentang agama dan Tuhan menjadi seru, menarik dan tidak menyakiti. Jujur saja, ditanya seperti itu saya teringat kepada Jodie Foster di Contact. Seorang Forster yang tidak percaya Tuhan dianggap tidak layak mewakili umat manusia ketika berhadapan dengan makhluk lain (aliens). Di saat hal kritis terjadi, sebenarnya agak berlebihan menurut saya mempertanyaan apakah seseorang beragama atau tidak untuk bisa mewakili suatu kelompok dalam urusan yang tidak terkait agama. Namun begitu, perjalanan menuju pada pertanyaan ini yang sesungguhnya istimewa. Jika diikuti, tidak ada satupun yang sesungguhnya “ridiculous”.

Di kesempatan lain, pengunjung blog ini pernah bertanya mengapa saya tidak pernah menulis sesuatu berbau Hindu. Pertanyaan ini sebenarnya bisa diartikan sebagai wujud keraguan. Meragukan status agama saya, kehinduan saya. Mungkin memang saya perlu diragukan dari sisi ini, saya tidak pernah keberatan. Seperti yang saya pelajari dari Contact, seorang ilmuan yang menemukan alasan ilmiah sebuah kejadian tidak akan meniadakan Tuhan yang menjadi penyebab segala penyebab. Demikian pula para pemuka agama yang menemukan alasan spiritual atas setiap kejadian, tidaklah bijaksana jika menafikan perjuangan ilmu pengetahuan.

Ijinkan saya berbagi pandangan, bagaimana saya melihat agama. Ada tiga aspek utama yang saya pegang secara sederhana. Pertama adalah aspek sakralitas. Agama memiliki aspek sakral yang memang demikian adanya, tidak perlu didiskusikan dan tidak perlu diusik. Di tingkat ini pasti ada perbedaan antara agama yang satu dengan lainnya tetapi semestinya tidak perlu dibahas. Kalau saya menyebut Tuhan saya Hyang Widhi sementara yang lain dengan Allah atau lainnya, saya tidak pernah tertarik membahasnya.

Aspek kedua adalah spiritualitas. Masing-masing orang memiliki cara sendiri berhubungan dengan Tuhan. Jangankan agama berbeda, orang seagama pun bisa berbeda di tingkat ini. Spiritual adalah apresiasi individu yang ketika tidak diinstitusikan, tidak akan pernah menimbulkan masalah. Persoalan akan muncul ketika satu praktik spiritual mencoba menginstitusikan kelompoknya dan memaksakannya kepada yang lain. Sejauh ini ada di tingkat individu, tidak semestinya masalah spiritual muncul dan menghancurkan.

Aspek ketiga adalan moralitas. Menurut saya pribadi, ini yang sangat penting. Di tingkat ini, agama konon harus mampu membuat seseorang menjadi baik bagi orang lain. Bagi saya ini yang terpenting sekaligus sulit sekali. Bakti kepada Tuhan yang akhirnya menimbulkan permusuhan tak perlu dengan sesama manusia mungkin juga akan membuat Tuhan kecewa (itupun kalau Tuhan bisa kecewa). Di tingkat moralitas, saya tidak tertarik bertanya “apa agamamu?” karena sesungguhnya bukan itu alasan terjadinya kekerasan dan penindasan. Mengutip kalimat Einstein yang beredar melalui email, saya setuju bahwa kekacauan dan kejahatan tidak dibuat Tuhan, tetapi merupakan tanda ketiadaan Tuhan, setidaknya di hati manusia.

Jika ada yang bertanya apa agama saya, saya seorang Hindu. Menjadi Hindu tidak berarti menghalangi saya untuk mencintai mereka yang meneladani Muhammad, Yesus dan Budha. Saya yakin itu.

You had me at hello

Jerry: Hello. Hello. I’m looking for my wife.

Jerry: Wait. Okay, okay. Okay. If this is where it has to happen, then this is where it has to happen. I’m not letting you get rid of me. How about that? This used to be my specialty. You know, I was good in the living room. They’d send me in there, I’d do it alone. And now I just… I don’t know. But tonight, our little project, our company, had a very big night. A very, very big night. But it wasn’t complete, wasn’t nearly close to being in the same vicinity as complete, because I couldn’t share it with you. I couldn’t hear your voice, or laugh about it with you. I missed my wife. We live in a cynical world, a cynical, cynical world, and we work in a business of tough competitors. I love you. You complete me. And if I just had…

Dorothy: (interrupting) Shut up. Just shut up…..You had me at hello. You had me at hello.

Terbang

Begitulah kalau kita membiarkan keliaran imajinasi berkelana tanpa kendali. Kita memang bisa terbang. Tentu saja tidak dengan sayap seperti seekor merpati putih yang menaklukkan awan, tetapi seperti seorang manusia biasa yang seperti kata Hitch bahwa kita memang selalu bermimpi bisa terbang.

Saya baru saja terbebas dari sebuah tugas berat, menyelesaikan penelitian di United Nations, NY dengan hasil yang tidak mengecewakan. Presentasi sudah dilakukan dan mendapat respon yang sangat positif dari kolega maupun dari orang-orang PBB. Singkat kata, saya merasa layak untuk istirahat sebentar dan menyatakan kemerdekaan. Kemerdekaan ini ternyata bukanlah persoalan bebas melakukan apa saja, tetapi keberhasilan menyingkirkan beban dengan cara yang benar. Kemerdekaan bukanlah semata-mata berhenti melakukan tugas berat tetapi menyelesaikannya dengan baik dan hasil yang tidak mengecewakan. Dengan cara beginilah kebebasan dan kemerdekaan akan mendapatkan maknanya.

Di penghujung program, teman-teman dari 8 negara secara aklamasi memlih saya sebagai wakil mereka untuk menyampaikan pidato pernyataan terima kasih (vote of thanks) kepada petinggi Office of Legal Affairs United Nations. Kepercayaan ini adalah juga prestasi yang tidak bisa saya sembunyikan kebanggaan yang ditimbulkannya. Beberapa menit setelah saya menutup speech, koordinator program berkebangsaan Canada berbisik “It was really good”. Kalau saya memang bisa terbang, saya ingin terbang dengan sayap-sayap kebanggaan seperti ini.

Bunga

Keindahan dan keistimewaan memang sangat relatif. Mengingat cerita lama, kawanku selalu bilang “Cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak” katanya. Tentu saja ini lebih banyak ditujukan untuk gurauan, tetapi penggal pertama dari kelakar ini nampaknya benar.

Sejak minggu lalu, tanaman hias di ruanganku mulai berbunga. Di gedung PBB, kejadian seperti ini rupanya tidak sering sehingga menarik perhatian. Mencium aroma bunga yang semerbak dari ruanganku, hampir semua orang terusik dan penasaran. Setiap beberapa menit ada saja orang yang datang ke ruanganku untuk melihat bunga itu. Komentarnya senada, menunjukkan kekagumanan dan keheranan yang tinggi. Suatu saat Direktur Division for Ocean Affairs and Law of the Sea mampir dan menyatakan apresiasinya.

Ketika aku dan Sampan, perempuan Thailand yang seruangan denganku, tidak sedikitpun merasaan keistimewaan, orang-orang penting yang adalah petinggi PBB datang silih berganti menyaksikan kejadian “biasa” itu. Tentu saja memang tidak istimewa meyaksikan tanaman itu berbunga yang di kampung ada di mana saja dan bahkan menjadi tanaman pagar. Ketika sesuatu menjadi keseharian, dia bisa saja kehilangan keistimewaannya.

Setiap kali datang, masing-masing menyatakan apresiasinya yang serius. Ada yang membahas aspek biologisnya, ada yang mengulas Feng-Sui-nya sebagai tanaman keberuntungan, ada juga yang menyatakan keprihatinannya karena tanaman tersebut tidak berkembang leluasa karena sudah menyentuh langit-langit ruanganku.

Aku sendiri dan Sampan sering hanya tersenyum menyaksikan ulah para curator tanaman itu. Diam-diam belajar juga tentang makna keistimewaan dari sudut pandang berbeda. Mengapresiasi adalah satu dari kewajiban hidup yang tidak mudah dilakukan, ternyata.

Semalam di New Jersey

Dingin menusuk tulang, sepi seperti dunia yang mati dan malam seperti tak ingin ditemani. Gelap yang membungkam kota hanya membiarkan suara serangga mengusik lirih. New Jersey malam ini menggigil membiarkanku terabaikan di sebuah ruangan yang beku.
Dukuk di sofa merah mengarahkan pandangan ke TV yang dari tadi tidak bernyanyi sambil sesekali membuang pandangan ke luar membuat kesendirian nyata dan dalam terasa. Pohon natal yang baru saja dihias di sudut lainnya tak tersenyum sedikit jua. Christmas memang masih jauh untuk dibayangkan, walau lomba obral dan komersial sudah terasa sejak lama. Inilah makna natal yang paling terasa. Sale!

Laptop kesayangan setia bertengger di atas pangkuan, kini dia benar-benar sesuai namanya, on top of my lap, tidak seperti biasanya on top of the desk atau on top of the bed. Kasihan juga kalau harus menamainya bedtop, apalagi desktop, karena jelas-jelas yang terakhir sudah dimiliki pihak lain.

New Jersey malam ini merenggut kehangatan dan menyembunyikannya entah di mana. Tidak sedikitpun disisakannya untukku yang menggigil dan berharap kehangatan dari sapaan makhluk-makhluk manis penghuni dunia maya yang tak kunjung tiba.

Perempuan di layar kaca

Menikmati wajah itu di layar kaca, seperti bercermin di kolam yang jernih bening. Melihat matanya yang berbinar, pastilah bukan satu-satunya keindahan yang bisa dinikmati, pun dia bukan yang istimewa. Menyaksikan hamburan kecerdasan yang menari lewat kata-kata adalah kecemerlangan yang niscaya. Inilah yang menggetarkan hati.

Perempuan di layar kaca ini bukan sepupu, bukan juga anak sedarah. Dia bayang-bayang tinggi hasil rekayasa idealisme tentang keindahan dan kecerdasan. Begitulah dia yang indah tetapi seperti tidak terjangkau. Kepiawaian yang menjadi pergunjingan dan sorot mata yang bahkan melumpuhkan menjadi keniscayaan yang tidak terbantah.

Perempuan di layar kaca, manik-manik kecil menjadi bekal yang tak habis untuk dijarah. Pun ketika terik matahari mencoba mengeringkan hati. Kejayaannmu yang tak tergapai membuat tertunduk kesombongan ini, luruh dalam menyelusup di bawah langkahmu yang panjang.

Salju

Banyak sekali hal yang membuat orang terheran-heran bahkan terkagum-kagum. Yang menarik, hal yang sederhana bagi seseorang, bisa mencengangkan bagi yang lain, demikian pula sebaliknya.

Ketika masih pacaran, mengajak Asti pulang ke kampung di Bali adalah pengalaman menyenangkan. Bukan karena pacarannya [saja] tapi karena Asti sangat mudah terkesima dengan kejadian-kejadian kecil di desa. Bayu, sepupu umur 2 tahun yang terampil bermain perang-perangan di sawah bermandikan lumpur dan jerami yang busuk membuatnya terkesima. Tak pernah terbayang baginya ada anak sekecil itu bermandikan lumpur bau tanpa membuat orangtuanya khawatir.

Pengalaman lain banyak lagi. Bapak yang pernah ke Jakarta terkesima dengan jalan layang dan pencakar langit yang menjulang. Seandainya Bang Yos tahu itu, mungkin dia tersenyum geli. Begitulah hidup yang penuh rahasia. Tak mudah mengatakan sesuatu itu indah atau buruk karena selalu ada dua sisi yang berbeda.

Ketika salju mengguyur New York, saya adalah satu dari sedikit yang terkesima. Mungkin seperti anak Kota Jakarta yang terbengong-bengong melihat anak desa memandikan kerbau, saya pun demikian. Ketika seorang kawan dari Italy meledek, saya pun hanya meringis. Tapi berhasil membuatnya terkesima ketika saya ceritakan tentang seorang perempuan tua penambang batu padas yang mengantarkan anaknya berkantor di Gedung PBB. Jika pernah terkesima, nikmatilah dan tidak usah berpikir betapa sederhana dan memalukannya seorang saya ketika itu.

Gadis cantik

“Orang ini benar-benar lambat dan bodoh. Masak untuk urusan seperti itu saja tidak bisa. Katanya orang penting, katanya utusan negara, katanya pejabat, katanya satu dari yang terbaik, tetapi kenapa kenyataannya sangat tolol. Kalau untuk melakukan hal sederhana itu saja tidak bisa, tidak layak dia disebut orang pintar, apalagi berprestasi. Apa artinya prestasi. Omong kosong itu semua. Waktuku sejam habis untuk melayani ketololannya.” Kondang menumpahkan kekecewaannya lewat cacian tanpa henti membuat kawannya, Genjo, tidak sempat berkata apa-apa. Genjo melongo menyaksikan Kondang yang tidak biasanya mengumpat seperti itu.

Genjo kemudian bertanya, “apa kabar si cantik Bunga?” Pertanyaan itu spontan membuat Kondang terdiam. “Hey, kamu tahu Bunga. Dari mana?” Kondang curiga. “Ya orang secantik dia, siapa yang tidak tahu!” Genjo menambahkan.

“Dia luar biasa. Cantiknya membuat siapa saja lupa akan kesedihan. Aku menghabiskan waktu seharian dengannya kemarin, mengajari cara ngeprint, cara mengubah warna tulisan di microsoft word, cara meratakan paragraf…” Kondang bicara tanpa henti memamerkan pengalamannya mengajari Bunga hal-hal yang menurut Genjo sangat bodoh dan tidak perlu.

“Kamu seharian menghabiskan waktu dengannya untuk hal-hal sederhana itu? Genjo setengah tidak percaya. “Ya, kenapa?” Genjo segera menyambar, “Aku yang harus tanya, kenapa kamu bisa menghabiskan seharian untuk semua nonsense itu dengan Bunga sementara mengumpat ketika menghabiskan sejam untuk seorang teman?” Kondang menjawab ragu, “mungkin karena Bunga cantik!?!” Genjo terdiam…

Mantu kepada mertua

Ibu tersayang,

Saya hanyalah seorang manusia biasa yang penuh dengan kelemahan, tetapi saya adalah anakmu. Ibu sudah saya anggap sebagai Ibu sendiri, bukan hanya mertua. Saya menyadari saya memang dikarunia sifat buruk yaitu cepat emosi. Tidak sepantasya saya berkata keras kepada Ibu yang sudah berusaha membantu saya dengan sungguh-sungguh. Saya menyadari dan menyesal telah melakukan ini. Terimalah maaf anakmu yang penuh kelemahan ini.

Saya mengerti pasti Ibu sangat kecewa dengan saya dan tidak ingin bertegur sapa. Saya maklumi itu. Tapi saya mohon jangan pendam amarah lama-lama karena saya akan menderita karenanya. Berikanlah saya jalan untuk minta maaf dan bertobat karena saya tidak akan pernah tenang sebelum mendapatkan maaf dari Ibu. Seandainya saya ada di rumah saya akan berlutut mencium kaki Ibu pertanda saya menyesali kesalahan ini.

Silahkan Ibu memarahi saya, tetapi jangan menyiksa anakmu ini dengan dendam. Jalan saya bertemu Tuhan akan tertutup jika Ibu menyimpan amarah ini dan tidak memberi saya kesempatan bertobat. Maafkan anakmu ini Bu.

Salam sayang,
Saya

Hey there Delilah

Hey there Delilah
What’s it like in New York City?
I’m a thousand miles away
But girl tonight you look so pretty
Yes you do
Times Square can’t shine as bright as you
I swear it’s true

Hey there Delilah
Don’t you worry about the distance
I’m right there if you get lonely
Give this song another listen
Close your eyes
Listen to my voice it’s my disguise
I’m by your side

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me

Hey there Delilah
I know times are getting hard
But just believe me girl
Someday I’ll pay the bills with this guitar
We’ll have it good
We’ll have the life we knew we would
My word is good

Hey there Delilah
I’ve got so much left to say
If every simple song I wrote to you
Would take your breath away
I’d write it all
Even more in love with me you’d fall
We’d have it all

Oh it’s what you do to me
[Hey There Delilah lyrics on http://www.metrolyrics.com%5D

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me

A thousand miles seems pretty far
But they’ve got planes and trains and cars
I’d walk to you if I had no other way
Our friends would all make fun of us
and we’ll just laugh along because we know
That none of them have felt this way
Delilah I can promise you
That by the time we get through
The world will never ever be the same
And you’re to blame

Hey there Delilah
You be good and don’t you miss me
Two more years and you’ll be done with school
And I’ll be making history like I do
You know it’s all because of you
We can do whatever we want to
Hey there Delilah here’s to you
This ones for you

Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
Oh it’s what you do to me
What you do to me.

Oh oh
OOOoohhhh
Oh oh
Ooooooohhhhh
Oh Oh
OOOoohhhh
OOOOooohhhhh
Oh Oh