Air Terjun


Ketika masih terbisa berlari di pinggir sungai tanpa alas kaki dan terjun dari ketinggian menukit turun ke dalamnya sungai, air terjun dan gemercik air bukanlah cerita istimewa. Seorang Andi kecil berlari di pematang sawah, sumringah wajahnya menyaksikan telur tergelatak di tengah sawah di Subak Tegaljadi. Ini menjadi keseharian.

Ketika itu, berjalan di kota, menyaksikan ramainya kendaraan dan indahnya televisi berwarna adalah impian. Tidak pernah sekalipun membayangkan air terjun adalah tempat melepaskan diri dari kepenatan kerja dan rutinitas keseharian. Sungai, panas matahari riak air di sawah dan semilir angin yang membuat capung melayang-layang seakan terhempas adalah kenyataan hidup yang sama sekali tidak istimewa. Hal-hal sederhana itu tidak pernah menjadi hiburan, dia keniscayaan yang dengannya tidak ada perasaan baru dan tergugah.

Kini, ketika harus bergaul dengan mereka yang dari dunia lain, gemercik air menjadi jarang terdengar, capung tak lagi beterbangan, angin tak sempat menggoda daun pisang yang meliuk menebarkan desah. Di saat inilah air terjun menjadi tempat melepaskan kepenatan. Tidak saja tempatnya yang jauh dari keseharian, ia juga mahal. Seandainya saja 17 tahun yang lalu harus ke Niagara Falls, mungkin Andi kecil tidak akan pernah melihat hebatnya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s