Menarik sekali menyimak daftar orang terkaya di Indonesia yang juga dilansir Kompas beberapa waktu lalu. Yang lebih menarik, tidak satupun dari orang terkaya itu berprofesi sebagai penulis, tidak juga guru atau dosen.
Konon untuk berhasil dalam hidup, kita harus memiliki keahlian. Kata lainnya adalah pintar. Di sisi lain, semestinya diterima cukup umum bahwa seorang dosen atau guru adalah orang pintar, setidaknya berada di jajaran menegah ke atas di angkatannya ketika bersekolah, misalnya. Begitulah umumnya walaupun anomali terhadap ini pastilah ada. Teori ini membuat daftar orang terkaya itu menjadi menarik. Orang yang dikenal pintar ternyata tidak menjadi kaya, walaupun itu jelas tidak untuk mengatakan bahwa yang termasuk dalam daftar orang terkaya itu tidaklah pintar.
Saya (sebagai dosen) tidak tertarik membahas kekayaan, mungkin juga karena sudah terlanjur merasa tidak akan bisa kaya 🙂 Atau mungkin juga karena memang tidak terlalu memaksa diri agar menjadi kaya. Tidak mudah untuk menerima argumentasi seperti ini. Apapun itu, saya lebih tertarik berbicara tentang J. K. Rowling yang adalah penulis dan menjadi salah satu orang terkaya kareana Harry Potter-nya. Penulis juga bisa kaya ternyata. Apakah penulis Indonesia juga bisa kaya? Pertanyaan ini yang kadang menggelitik saya. Saya akan bercerita sedikit tentang penulis di Indonesia, terutama dari sudut pandang penulis pemula seperti saya.
Banyak teman berkelakar, “wah jadi millioner nih sekarang. Sudah menulis buku sih!”. Saya hanya bisa tersenyum. Begini hitung-hitungannya. Penerbit umumnya memberikan 10% royalti dari harga jual buku. Untuk buku Google, misalnya penulis mendapat kira-kira 2000 rupiah per eksemplar. Sementara itu buku dicetak 2000 eksemplar, artinya saya akan mendapat 4 juta secara keseluruhan. Di awal penerbitan, royalti diberikan 25% dari total yang artinya sebesar 1 juta. Setelah dipotong pajak, tinggal 800 ribu sekian. Karena saya menulis buku tersebut bersama orang lain, maka wajar kalau royalti dibagi dua. Alhasil, saya memperoleh 400 ribu rupiah sekian di rekening saya.
Perlu diceritakan sedikit bahwa 400 ribu rupiah ini adalah hasil kerja keras selama sekitar 3 bulan yang isinya adalah begadang, sewa internet, diskusi, revisi draft, layout, komunikasi dengan pernerbit dan lain sebagainya. Singkat kata, 400 ribu itu adalah sesuatu yang sangat berharga dan mahal. Meskipun berharga, ketika saya harus membeli susu utuk Lita, tetap saja 400 ribu itu hanya berhasil ditukar dengan beberapa kotak susu yang dilahap Lita dengan sangat cepat. Ketika harus ditukar dengan realita, royalti yang berharga dan saya banggakan itu ternyata tidak banyak membantu.
Dalam kondisi yang menarik ini, saya seringkali mendapat kesempatan dan peluang yang sangat menggoda. Ketika berada di Sydney, misalnya, cuci piring semalam bisa menghasilkan 100 dolar alias hampir 800 ribu rupiah. Kalau mau ngepel lantai dan bangun pagi, bisa menghasilkan hampir dua kalinya. Kesempatan beginilah yang sering mengancam kreativitas saya dalam menghasilkan karya ideal. Apakah saya menyesal atau meratapi nasib yang tidak bisa kaya karena menulis? Saya tidak perlu menjawab ini. Mungkin Anda harus membaca seluruh tulisan dalam blog ini atau membaca biografi saya yang belum terbit (belum juga ditulis) untuk mendapat jawaban yang sebenarnya.
Satu hal yang penting, tidak selalu mudah memilih ketika menulis karya bermutu harus dibandingkan dengan cuci piring. Saya punya pilihan sendiri, tetapi akan sangat memaklumi jika ada yang memilih mencuci piring sebagai kebanggaannya.

Anda mungkin sudah menonton atau setidaknya pernah mendengar perihal film Ben Stiller: 

Banyak yang bertanya pada saya “Bagaimana New York?” atau “Dibandingkan Sydney, bagus New York nggak?”. Tidak mudah menjawab pertanyaan ini secara instan. Pertama karena saya baru seminggu di sini, kedua memang keduanya bagi saya sangat mirip. Maju, tertata. Kalau dipaksa untuk menunjukkan perbedaan atau menilai mana yang labih bagus, saya akan sampaikan laporan pandangan mata selama seminggu ini.