Tidak berharap


Made Kondang yang tumben melihat dunia luar kembali ke desa dengan kecewa. “Ada apa, dari kota kok malah cemberut?” seorang tetua desa menangkap kegundahan hatinya. “Kota ternyata tidak seindah yang saya kira Pak”, Kondang menjawab tandas dan ketus. Begitulah Kondang, dia kecewa karena sebelum melihat kota dia berharap banyak. Iklan di televisi dan promosi orang-orang membuat dia percaya bahwa kota memang adalah surga.

“Kamu salah!”, seorang tetua lainnya menasihati Kondang. “Jangan berharap terlalu tinggi sebelum kamu bertemu atau berhadapan langsung dengan sesuatu. Itu kuncinya supaya kamu tidak kecewa.” Kondang berpikir, benar juga apa yang disampaikan Pak Tua ini. Kalau kita tidak berharap, kita akan lepas dari penghakiman, begitu kira-kira maksudnya seperti kata-kata tinggi yang sesekali dilihatnya di televisi. Tapi sebentar dulu, Kondang merenung lagi.

“Mengapa kita kita tidak boleh berharap Pak?” Kondang bertanya serius. Dengan ringan Sang Bapak Tua menjawab “Dengan harapan, kamu tidak akan kecewa!” Kondang tersenyum kecut dalam hati. “Apa bedanya?” gumamnya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s