Mengubah kebiasaan


Tinggal di New York selama beberapa hari pertama membuat saya tersadar sesuatu. Tidak mudah ternyata untuk mengubah kebiasaan. Pertama, saya mengalami jet lag yang cukup hebat. Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari dan bangun terlalu cepat. Tubuh belum ‘ngeh’ kapan siang kapan malam karena tertukar dengan Indonesia. Yang kedua, saya selalu salah jalan ketika berpapasan dengan orang. Secara otomatis saya biasanya ambil jalur kiri dan di sini adalah kesalahan. Seperti halnya mobil, lintasan ada di kanan. Lagi-lagi terbalik dengan Indonesia. Seminggu di sini, saya belum bisa menjalani dengan tanpa perlu berpikir.

Mengubah kebiasaan memang tidak mudah ternyata. Jangankan untuk sesuatu yang besar dan akan menyebabkan bangsa ini menjadi maju, untuk hal kecil saja saya ternyata resisten. Pengetahuan saja memang pastilah tidak cukup. Dia tidak akan menjadi apa-apa sebelum diwujudkan dalam bentuk tindakan.

Maka ketika banyak orang berpengetahuan selalu mengeluh tentang negeri ini, saya kadang berpikir sendiri. Saya tidak mau terjebak untuk menyalahkan mereka, tidak juga ingin menjadi seperti mereka yang memenuhi hidup dengan tumpukan kekecewaan. Saya ingin melihat lebih jauh lagi ke dalam diri. Pastilah saya juga adalah bagian dari kesalahan dan kenistaan ini. Jika ada yang harus diubah untuk sesuatu yang lebih baik, maka pastilah diri ini yang pertama harus mendapatkan girilannya.

Advertisements

Author: Andi Arsana

I am a lecturer and a full-time student of the universe

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s