Saya pernah menulis tentang sebuah buku yang dihadiahkan Asti saat ulang tahun saya yang ke-30. Buku itu berkisah tentang memetik kebaikan dari segala sesuatu. Saya setuju bahwa semua hal memiliki sisi baik dan buruk. Bukanlah seberapa baik sesuatu itu, tetapi seberapa mampu saya mengambil kebaikan dari sesuatu itu yang lebih penting. Kitab sucipun, menurut saya, ada kelemahannya. Meski demikian, itu bukanlah alasan untuk ditinggalkan.
Banyak orang menjadikan anak kecil sebagai contoh atau simbol kebaikan. Seorang kawan vegetarian kerap mencontohkan begini: coba berikan dua pilihan “anak ayam” dan “coklat” kepada anak berumur satu tahun. Pasti dia akan mengambil coklat dan memakannya. Dia tidak akan memakan anak ayam. Artinya, secara naluri, kita bukanlah karnivora. Seorang kawan lain juga menjadikan anak kecil sebagai contoh naluri perdamaian: kumpulkanlah beberapa anak kecil umur 2-5 tahun tahun dari berbeda etnis dan agama. Mereka akan asik bermain, tidak mepersoalkan warna kulit, apalagi agama. Ini pelajaran untuk kita semua tentang perdamaian dan hidup bersama.
Continue reading “Melihat kebaikan”