Daftar Kegagalan

Mari kita cerita soal pelajaran paling berharga: kegagalan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan dan kelakar beberapa kawan yang mengatakan “hidupmu sepertinya ga pernah gagal deh”.

  1. Semester V, IP saya 1,2. Ya, satu koma dua πŸ™‚ Tidak bangga tapi bersyukur pernah merasakan itu. Lebih maklum dengan mahasiswa sekarang πŸ™‚
  2. Di transkrip S1 ada nilai D! Sampai sekarang πŸ™‚
  3. Beasiswa Stuned tahun 2003, gagal di tahap akhir. Impian belajar ke Eropa luluh lantak! Syukur bisa bangkit dan ‘menerima’ Aussie
  4. Gagal mengenaskan di tahap wawancara beasiswa Chevening tahun 2003. Gagal ke UK, sempat mutung, patah arang.
  5. Sempat melamar beasiswa DAAD, bahkan tidak ada kabar berita. Pastilah lamaran saya terlalu buruk untuk diperhitungkan 😦
  6. Lamaran saya untuk fulbright sepertinya bahkan tidak dilihat. Tidak ada kabar diterima atau ditolak. Kenyang makan PHP πŸ™‚
  7. Saat kerja di perusahaan besar di Jakarta, secara tidak sengaja menghapus data super pernting yang membuat orang sekantor meriang seminggu lebih 😦
  8. Lomba menulis karangan Bahasa Inggris semester 4. Tidak masuk 50 besar sekalipun 😦 Teman bilang β€œartinya tulisanmu jelek banget Ndi” Sampai kini tidak terlupakan πŸ™‚
  9. Jumlah tulisan yang ditolak Kompas 10 kali lipat dibandingkan yang dimuat. Ini yang pembaca tidak tahu 😦
  10. Setelah konferensi di 5 benua, beberapa minggu lalu ditolak oleh sebuah konferensi di Makassar.
  11. Pernah ujian akhir datang terlambat gara-gara salah lihat jadwal. Nilai E! Dosen tidak mau mengampuni πŸ™‚
  12. Semangat melamar S3 di Jerman, ditolak beberapa menit setalah kirim lamaran 😦 itu tahun 2006!
  13. Pacaran pertama, bertahan cuma 3 bulan gara-gara gagal memahami perempuan 😦 Tidak menyesal tapi banyak belajar πŸ™‚
  14. Nembak cewek di SMA, tidak jelas, tidak pede, daaaaaan tidak diterima! 😦 itu tahun 1994
  15. Saat kerja di Unilever pernah disuruh push up pakai dasi di depan banyak orang gara-gara sok tahu dan salah jawab.
  16. Pernah melamar jadi asisten kuliah Bahasa Inggris di Geodesi UGM dan ditolak. Dosennya masih ada sekarang πŸ™‚
  17. Kirim abstrak ke konferensi lokal, ditolak. Yang diterima malah karya kawan junior πŸ™‚ Itu tahun 2007.
  18. Kirim karya ke @ubudwritersfest berharap menang, ternyata dapat email penolakan 😦 Merasa jadi penulis kacangan πŸ™‚
  19. Cerdas cermat saat SMA, mati kutu kalah telak oleh tim lawan yang maju tanpa persiapan karena gantikan tim utamanya yang berhalangan.
  20. Saat S1, tes di Astra dan gagal di tahap psikotest gara-gara tidak bisa menggambar. Itu tahun 2000 sebelum lulus.
  21. Pernah tes di Schulmberger, sudah sok aktif, sok banyak omong, bahkan tidak lolos saringan awal 😦
  22. Jadi ketua KMHD UGM tahun 1998, tidak didukung oleh teman-teman seangkatan karena dinilai tidak becus. Lelah-lelah harus konsolidasi. Pelajaran manis yang terasa pahit.
  23. Cerdas cermat matematika tahun 1995, kalau telak oleh team SMA ‘kemarin sore’ di penyisihan 😦 Gagal itu pahit, Kawan!
  24. Pernah melamar acara summer program di Eropa. Yakin dapat karena direkomendasikan oleh tokoh sakti, tahu-tahu hanya dapat ucapan terima kasih.
  25. Pernah melamar magang di lembaga peradilan internasional. Ada sinyal positif sehingga jadi GR, tahu-tahu ditolak dengan tega. Kenyang makan PHP.

Percayalah, daftar ini sebenarnya sangat amat panjang. Catatan kegagalan saya jauh lebih banyak dari rekamanan keberhasilan. Kalau meminjam kata-kata Mas Iwan Setiawan, hidup itu sudah lengkap jadi motivasi buat kamu, tidak perlu mencari motivasi di luar diri. Kegagalan saya yang banyak itu sudah cukup mengajarkan kepada saya sakit dan perihnya kegagalan maka saya merasa cukup motivasi untuk berusa keras menghindarkan diri dari kegagalan. Seperti kata orang bijak, bukan soal seberapa sering kamu jatuh tetapi seberapa sering kamu berusaha bangkit lagi.

Sebuah hari biasa

Sore masih muda, jalanan Jogja mulai memadat. Jika Kisanak ke Jogja di pertengahan tahun 90an dan datang lagi di tahun-tahun sekarang, Kisanak akan tahu bedanya. Kemacetan sudah bukan hanya milik Jakarta saja. Kami melaju mengendarai motor. Seperti banyak hari lainnya, Asti menjemput saya di kantor dan kami berkendara meliuk-liuk di antara mobil yang berderet dan bergerak lambat. Ini adalah hari biasa sepulag kerja. Hari yang tidak istimewa.

Continue reading “Sebuah hari biasa”

Rusak Semua

Transit di Doha, Qatar selama lebih dari tujuh jam membuat saya harus bersiasat. Pasalnya, airline tidak menyediakan hotel transit untuk istirahat. Alasannya memiriskan hati: tiket saya kategori promo. Sebenarnya perjalanan ini didanai sponsor dan saya tidak harus memesan tiket promo karena memang tidak ada plafon. Tapi sudahlah, memang sudah kebiasaan memilih tiket murah. Murah bukan berarti murahan. Meski murah itu sama dengan kenyamanan yang berkurang. Saya tidak bisa tidur nyenyak di Bandara Doha.

Continue reading “Rusak Semua”

Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?

Sore kemarin ada SMS masuk ke HP saya. Pengrimnya tak asing, beliau adalah kepala sekolah SMA 3 Denpasar, almamater saya sekitar dua puluh tahun silam. Nomornya masih sama dan sudah saya simpan dalam waktu sekitar lima tahun terakhir. Tanpa menunggu, SMS itu saya balas sambil bertanya. Beliau sedang ada di Jogja untuk suatu tugas dan dan saya segera menemui beliau di sebuah hotel lalu mengajaknya jalan-jalan menikmati Jogja di malam hari.

Continue reading “Kapan Terakhir Anda Menemui Guru Anda?”

Beasiswa Luar Negeri Itu …

Kisanak mungkin pernah bertanya, mengapa ada sebuah negara berbaik hati memberikan beasiswa kepada warga negara asing untuk belajar S1, S2 dan S3 di negera mereka. Kadang kita menduga bahwa negara-negara yang demikian itu sangat dermawan dan menduga bahwa seluruh urusan ruwet dalam negerinya sudah selesai. Maka dari itulah mereka punya cukup waktu dan sumberdaya keuangan untuk diberikan kepada warga negara asing. Kisanak mungkin masih berpikir demikian.

Continue reading “Beasiswa Luar Negeri Itu …”

Tips Sukses untuk Mahasiswa ala #KUChat

Beberapa waktu lalu, Kampus Update mewawancarai saya lewat twitter terkait pandangan saya tentang tips sukses bagi mahasiswa. Prosesnya sederhana, saya dimention oleh @KampusUpdate dengan pertanyaan dan saya kemudian mereply twit tersebut dengan menambahi tagar #KUChat. Prosesnya cukup seru. Saya tampilkan lagi jawaban saya di blog ini agar lebih mudah disimak. Semoga ada yang bermanfaat bagi pembaca.

  1. Halo Pak @madeandi, apa kabar? Sekarang sedang sibuk dalam kegiatan apa saja?
    Halo juga dan updaters, terima kasih. Saat ini saya mengajar di @geodesiugm dan menjadi Kepala @oiaugm Masih tetap meneliti, menulis dan ikut konferensi. Berbagi sama anak2 muda seperti para updaters juga jalan.
  2. Bisa ceritakan sedikit filosofi hidup yang Pak @madeandi pegang apa ya sampai bisa sukses keliling 4 benua?
    Lakukan dengan baik, percaya apa yang tidak mematikan kita akan menguatkan. Menyerah adalah kalah. Saya lahir di keluarga yang sederhana dengan Bapak dan Ibu hanya sekolah SD. Ini membuat saya mudah beryukur. Mudah bersyukur tidak berarti mudah puas. Saya percaya dengan prinsip dinamis: happy dengan keadaan tapi percaya perubahan. Btw, saya sudah ke lima benua. Sudah sempat ke Somalia juga di tahah Afrika hehe.
  3. Bisa jelaskan pentingnya pengembangan diri bagi mahasiswa?
    Sangat penting! Sekarang ini sesuatu laku karena fungsi tambahan, bukan fungsi utama. Mahasiswa juga begitu. Mahasiswa tidak bisa jual diri hanya karena IP tinggi, seperti HP tidak laku hanya karena bisa untuk nelpon. Anda tidak bisa jual HP dan bilang “ini bisa untuk nelpon” tapi β€œHP ini kameranya bagus, bisa FB, bisa twitter” dll. Pengembangan diri mahasiswa juga demikian. Semua dalam rangka mendapatkan kualitas tambahan untuk kompetisi. Terlalu mainstraim kalau bilang “saya alumni geodesi dan bisa GPS”. Coba “saya alumni geodesi dan pinter jadi MC”. Biasa saja kalau bilang “lulusan informatika dan pinter programming”. Coba “lulusan informatika dan jago negosiasi”. Intinya, pengembangan diri mahasiswa diperlukan untuk mendapat sesuatu yang bisa jadi nilai jual unik, tidak biasa.
  4. Bagaimana cara mahasiswa membangun pengembangan diri mereka?
    Pertama, mahasiswa harus merasa menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar sehingga peduli dan peka. Tidak asik sendiri. Mahasiswa perlu paham bahwa dia perlu kehadiran orang lain, perlu komunikasi, perlu organisasi, perlu kolaborasi. Maka mahasiswa perlu aktif di kegiatan kemahasiswaan. Perlu ikut kegiatan ekstra kurikuler, perlu jadi sukarelawan, keluar dari kotak. Tidak segan belajar hal baru, termasuk dari disiplin ilmu lain. Belajar menerima tanggung jawab besar. Berani menerima tantangan dengan ikut kompetisi. Dengan begitu kita mengukur diri. Perbayak membaca dan diskusi. Belajar menangani proyek atau pekerjaan sebenarnya sesuai bidang ilmu agar tahu dunia nyata dan risikonya. Menganggap bahasa Inggris adalah bahasa sendiri karena kita adalah penduduk sebuah desa yang bernama “Global Village”
  5. Kadang,mahasiswa belum memiliki personal brand & value cukup baik. Bagaimana agar mahasiswa mampu berkompetisi di global?
    Langkah pertama adalah menjadi ‘hebat’ pada apa yang seharusnya menjadi disiplin kita. Setelah itu, kenalkan. Untuk itu harus percaya bahwa tidak ada bim salabim. Yang ada adalah usaha serius dan doa yang tulus. Kerja keras. Agar efektif, kita perlu tahu kekuatan kita di mana, passion kita apa. Temukan, lalu cintai dengan sungguh2! Check: Apa yang sdh kamu lakukan dalam waktu lama dan tidak pernah bosan. Itu passion kamu! Tapi tetap rasional! Kompetisi global perlu bahasa global dan mental global. Ini harus ditumbuhkan! Jangan suka baca berita buruk! Kompetisi global dimulai dengan memanangkan kompetisi lokal. Kalau menghadapi teman kos saja minder, jangan mimpi! Sadari, Indonesia dibutuhkan dunia dan penting posisinya. Jangan hanya baca berita yang mengolok2 bangsa sendiri . Yang penting, kunjungilah tempat2 di dunia agar paham dengan jelas sebelum berkompetisi secara global. Sulit membayangkan akan β€˜menundukkan’ suatu negara jika tidak pernah merasakan udara mereka. Jelajahi dunia!
  6. Menurut Pak @madeandi apakah generasi muda saat ini siap bersaing dengann tenaga kerja dr ASEAN lainnya menjelang MEA 2015?
    Kita siap menghadapi MEA asal kita bekerja lebih keras lagi. Menjaga mental global dan optimis. Jangan hanya sibuk menahan mereka agar tidak masuk ke Indonesia tapi serius mengusahakan agar kita masuk ke mereka! Dari segi bahasa kita belum siap. Bahasa Inggris perlu ditingkatkan. Bahasa ASEAN belum kita pelajari dg serius 😦 Keterampilan teknis tidak cukup kalau tiba2 dapat proyek di sebuah desa terpencil di Vietnam kalau tidak bisa bahasa mereka. Kita sibuk belajar bahasa Inggris tetapi lupa belajar budaya Thailand, padahal mau kerja di sana kan. Intinya kesiapan kita menghadapi MEA memang ada tatapi dengan catatan yang cukup banyak. Tapi kita bisa. Optimis!
  7. Menurut Pak @madeandi penting manakah pengalaman magang atau pengalaman beasiswa kuliah di luar negeri?
    Saya orang yang β€˜rakus’ mungkin hehe. Saya bilang keduanya penting banget! Usahakan keduanya dapat! Tapi kalau harus memilih maka tergantung profesi. Mau profesional di industri mungkin bisa magang! Mau jadi peneliti di perguruan tinggi, mungkin bisa kuliah di LN. Ini salah satu opsi. Yang terpenting, kuliah di LN dengan beasiswa atau magang di perusahaan harus sama2 membuat diri bertumbuh. Untuk apa kuliah di LN dengan beasiswa kalau hanya membuat kita suka memaki2 bangsa sendiri dan tukang keluh! Untuk apa magang di perusahaan hebat kalau hanya membuat kita jadi materialistik dan kehilangan kepekaan sosial!
  8. Tahap2 apa aja yang baiknya dilakukan mahasiswa agar mereka dapat memiliki bekal yang cukup baik selepas lulus kuliah S1?
    Pertama, biasakan membaca skripsi dan melihat lowongan kerja sejak semester 1 agar tahu ‘masa depan’! Kedua, buatlah CV saat semester 1 dan bayangkan bahwa CV itu Anda tulis ketika lulus S1. Buat seindah mungkin! Pastikan CV yang Anda buat, memenuhi syarat lowongan kerja yang sudah Anda amati sebelumnya πŸ˜€ Lampaui, bila perlu! Tempel CV itu di kamar, lihat setiap hari! Di sepanjang waktu, pelan2 jadikan CV itu KENYATAAN! Kalau Anda tulis TOEFL 600 tapi belum tercapai, KURSUS! Nulis IP 3.5 di CV tapi blm tercapai, BELAJAR! Memulai dari akhir. Bayangkan saat Anda pakai toga dan siap memasuki dunia kerja, apa yang diperlukan, LAKUKAN!
  9. Terakhir, adakah tips untuk para mahasiswa agar mereka memiliki karir yang sesuai impian mereka
    Percaya bahwa langkah utama mewujudkan mimpi adalah bangun dari tidur! Bahwa semua perlu kerja keras. Bergaul dengan pekerjaan sejak dini. Jangan tunggu lulus baru lihat2 lowongan kerja. Lakukan sejak awal. Akrab akrab lah dengan industri melalui jalur organisasi mahasiswa sehingga tidak kagok dalam pergaulan nanti. Yang paling penting, bermimpilah setinggi langit. Kalaupun jatuh, kamu akan jatuh di antara bintang2.

Pasar Sambilegi

Kadang aku temukan pelajaran baru yang tercecer di pinggir jalan setapak desa yang berembun atau di lantai pasar rakyat yang jauh dari mewah. Di Pasar Sambilegi, Jogja, pelajaran bisa hadir lewat senyum para pedagang atau dari sekumpulan tukang parkir yang duduk santai seakan dunia tanpa masalah. Dari senyum mereka, tak ada tanda-tanda seorang presiden sedang dihina dengan terbuka di depan khalayak oleh seorang perempuan penjaga dapur. Dari senyum mereka, tak ada tanda perseteruan sebuah partai besar yang memegang teguh satu prinsip: oportunitas.

Continue reading “Pasar Sambilegi”

Kuliah di Jurusan atau Fakultas yang Tidak Populer? Santai Saja!

Saat ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa, saya ditanya terkait jurusan atau fakultas yang tidak populer. Singkatnya, mahasiswa ini merasa galau karena kuliah di tempat yang menurutnya tidak populer dan khawatir tidak akan bisa berperan optimal saat lulus nanti. Saya bisa memahami, pertanyaan seperti ini pasti juga disampaikan oleh banyak anak muda lain terkait jurusan atau fakultasnya. Ini jawaban saya yang sebelumnya disampaikan dalam bentuk kultwit di Twitter.

Continue reading “Kuliah di Jurusan atau Fakultas yang Tidak Populer? Santai Saja!”

Diplomasi Cabai

http://cdn.klimg.com/merdeka.com/

Ini cerita tentang cabai, bukan cabai cabaian. Cabai yang sebenarnya, cabai yang pedas. Sebagian orang menyebutnya cabe, sebagian lain mengatakan lombok. Berbeda nama tetapi toh rasanya sama: pedas. Pasalnya, tidak semua orang tahu bahwa cabai ini pedas. Itulah yang saya pahami dari interaksi saya dengan beberapa orang yang berasal dari luar Indonesia.

Kawan saya, seorang ahli hukum perikanan dari Australia, memberi saya pelajaran penting tetang cabai. Ketika itu, kami sama-sama berbicara di suatu forum di Bali. Panitia menyediakan gorengan dengan segala perlengkapannya. Tentu saja di dalam paket itu ada cabai hijau yang segar dan mengundang selera. Di antara gorengan itu ada tempe, ada bakwan, ada tahu dan segala rupa lainnya.

Continue reading “Diplomasi Cabai”

UNSW, setelah 11 tahun

Sydney, 14 Januari 2004

Hari sudah terang, pagi tak lagi muda karena matahari menghadirkan benderang yang cerah. Sydney kulihat pertama kali dari balik jendela pesawat yang baru saja menyentuhkan roda-rodanya di landasan Bandara Kingsford Smith. Inikah negeri Kangguru yang telah lama kusimpan dalam rasa penasaranku? Aku nyaris tidak percaya, hari itu datang juga. Sebentar lagi, pikirku, Negeri Kangguru tak lagi asing di mata dan terutama hatiku.

Kulihat dua lelaki bekerja giat di landasan Bandara. Keduanya mengenakan helm dan baju dengan rompi yang memendarkan sinar. Sepatunya nampak khusus untuk bekerja di lapangan dengan warna cokelat gelap. Yang menarik, keduanya mengenakan celana pendek, bukan sesuatu yang aku lihat setiap hari. Pekerja lapangan dengan sepatu berujung baja dan berhelm proyek yang berstandar, rasanya tidak cocok mengenakan celana pendek. Itulah Sydney dalam kesan pertamaku.

Yang paling aneh dari segala yang aneh, keduanya bule. Bukankah bule seharusnya bersenang-senang di Pantai Kuta sambil minum bir dan menikmati pijatan penjaja jasa keliling di atas pasir? Bukankah seorang bule seharusnya berselancar melawan deru ombak di pantai eksotis di Bali Utara dan bukan bekerja mengangkat kopor atau barang berat lainnya di sebuah bandara yang benderang? Pikiran konyol orang Bali yang hanya tahu Alas Kedaton, Kuta dan Tanah Lot, tidak bisa disembunyikan di saat begitu. Aku terheran-heran melihat bule bekerja karena kusangka selama ini tugas hidup mereka hanya melancong. Bule itu turis, kata tetua di kampungku.

Aku bergerak mengikuti antrian yang mengular. Perjalanan masih panjang meskipun aku sudah keluar dari pesawat. Kini antrian di bagian imigrasi dan bea cukai menunggu. Di tanganku ada pasporku dan sebuah kartu kedatangan yang sudah aku isi di pesawat tadi. Saat mengisi, penuh ketegangan, takut salah dan takut dimarahi. Yang paling menyeramkan, kalau-kalau kartunya salah aku isi dan diminta merevisi. Kartu kedatangan memang bukan skripsi tetapi apapun bisa terjadi, pikirku.

Tidak seserem yang aku duga, aku terbebas dan diizinkan memasuki Sydney. Dalam hati aku berteriak girang β€œAustralia, here I am”. Tentu saja tidak dengan logat Aussie yang malas dan terseret-seret. Betul, bicara dalam hatipun tentu ada logatnya. Kupandangi sekitar, koperku sudah terlihat berkeliling di conveyor belt, entah untuk keberapa kalinya. Kugamit pegangannya dan dalam sekejap aku sudah siap melanjutkan perjalan keluar dari bandara. Tentu saja harus melewati custom yang super ketat. Tidak boleh ada buah, tidak boleh ini tidak boleh itu. Singkat cerita, aku terbebas dengan mudah. Tentu saja. Tidak ada gunanya belajar cross culture understanding selama delapan minggu di IALF Jakarta jika aku masih belum paham apa yang boleh dan tidak boleh dibawa saat datang ke Australia.

Aku melihat wajah-wajah yang sumringah penuh senyum menyambutku. Ternyata mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sudah belajar di University of New South Wales (UNSW) terlebih dahulu. Kini aku menjadi junior mereka, siap menjadi adik kelas yang baik. Mereka adalah orang-orag baik hati. Satu per satu menyalami kami dan ternyata lebih banyak penjemput dibandingkan yang dijemput. Orang-orang baik yang pintar itu merelakan dirinya menjadi penjemput kami. Tidak saja itu, mereka menemani kami di kendaraan yang membawa kami ke Sydney sambil membicarakan hal-hal menarik yang menambah semangat. Ada banyak nama yang kuingat dan tidak akan aku lupakan.

Aku diantar ke sebuah rumah tinggal. Aku dititipkan di sebuah keluarga Indonesia yang istrinya sedang sekolah di UNSW. Aku memang tidak siap sebelumnya dan tidak mendapatkan akomodasi sebelum berangkat ke Sydney. Untunglah para senior menyediakan semua fasilitas itu dengan kerelaan hati. Aku membayar tentu saja. Kami semua mendapat beasiswa yang sama, tak ada alasan bagi yang satu untuk menghamba secara finansial kepada yang lain.

Menjelang siang, kami diantar ke International Students Service alias ISS alias Kantor Urusan Internasional UNSW. Tempat itu surga bagi mahasiswa asing. Ada komputer untuk dipakai mahasiswa asing, terutama yang baru bergabung seperti aku. Ada penganan kecil yang tersedia untuk para mahasiswa asing yang baru, ada lembaran-lembaran informasi akomodasi yang tersedia, ada berbagai brosur kegiatan mahasiswa di UNSW, ada konsultan yang siap sedia memberikan informasi dan banyak lagi.

Di berbagai pojok kulihat petugas yang tidak pernah berhenti mengumbar senyum seraya memberi penjelasan kepada mahasiswa asing yang baru saja tiba. Aku menunggu giliranku, sambil mencoba mengirimkan email kepada teman dan sanak famili di Jogja ketika itu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, aku mendapat giliran. Seorang perempuan muda yang ramah dan menarik hati menyapaku. β€œGood morning, thank you for waiting. How can I help you?”. Aku yang belum terbiasa mendengar Bahasa Inggris logat Australia sejenak tertegun, tidak begitu paham apa yang ditanyakan gadis itu. β€œPardon me” ada frase yang paling sering aku ulang. Syukurlah, pada akhirnya semua baik-baik saja. Memulai dengan senyum, gadis itu mengakhiri juga dengan senyum. Professional dan hangat. Tiba-tiba aku merasa di rumah sendiri. Aman, nyaman dan sangat diperhatikan. Itulah kesan pertama tetang kantor urusan internasional UNSW pada pagi itu.

Kutengok di sekelilingku, ada yang sedang konsultasi perihal memperoleh akomodasi. Ada yang curhat karena kopornya lenyap di pesawat atau bandara, ada yang sedang diajari cara menggunakan perangkat lunak tertentu. Ada juga seorang gadis lain yang khusus berkeliling memberikan penganan kecil. Aku dilayani begitu rupa, membuatku merasa di atas angin seperti raja. Sentuhan pertama office of international affairs UNSW itu memberikan kesan mendalam. Sentuhan personal dalam konteks professional menjadi kunci yang menyentuh hati. Dalam sekajap, aku sudah merasa jatuh cinta pada kampus UNSW ini. Terkesima oleh layanan yang memanusiakan.

Yogyakarta, 14 Januari 2015
Aku menatap wajah perempuan itu. Air mukanya tenang, sorot mata birunya tajam tapi tak mengancam. Dia menatapku dan berkata β€œSo, Pak Andi, thank you for making the time. We are so pleased to finally meet you. With your position as the Head of the Office of International Affairs at UGM, I am sure we can strengthen our relationship.”

Sambil mengangguk mantap, kulirik lagi kartu nama berwarna kuning yang baru saja diserahkannya. Kartu nama itu tiba-tiba seakan berubah menjadi layar TV yang memutar ulang peristiwa lama. Berkelebat wajah-wajah para senior yang menjemputku di Bandara Sydney 11 tahun silam, tersungging senyum yang hangat para pelayan mahasiswa baru, tercium aroma nasi goreng halal di Taste of Thai, Randwick, dan terngiang logat Bahasa Inggris Yew Kong Tam, petinggi kantor urusan internasional , yang tak lazim. Kusimak dengan seksama, pada sisi kiri kartu nama itu terukir logo yang aku kenal baik dan dibawahnya bertuliskan singkatan yang tidak asing lagi: UNSW. “Pleasure is mine!” kataku mantap!